Pramoedya Ananta Toer

NAMA         : HADDAD AL FARISI

PRODI         : TEKNOLOGI INFORMASI

NIM             : 1002230030

MAKTUL    : B.INDONESIA 


// Encoder Notes:

// Di versi ini setiap baris yang dipisahkan

// oleh baris kosong sebenarnya ialah satu paragraf

// Direkomendasikan mengaktifkan fitur Word Wrap.

// Cara mengaktifkan fitur Word Wrap berbeda-beda,

// tergantung reader anda masing-masing.

// Pada Notepad(Windows) cara mengaktifkannya:

// Klik Format -> Word Wrap.

// Selamat Membaca

// - Aaron Purnomo M.

//======================================================

// Jika ada kesalahan kata atau yang lainnya email ke:

// purnomoaaron@gmail.com

// *beserta paragraf lengkap terjadinya kesalahan tsb.

//======================================================

// NOT FOR SALE - NO COPYRIGHT INFRINGEMENT INTENDED

//======================================================

Bumi Manusia - Pramoedy a

ORANG MEMANGGIL AKU: MINKE

Namaku sendiri.... Sementara ini tak perlu kusebutkan. Bukan karena gila mysteri. Telah aku

timbang: belum perlu benar tampilkan diri dihadapan mata orang lain.

Pada mulanya catatan pendek ini aku tulis dalam masa berkabung: dia telah tinggalkan aku, entah

untuk sementara entah tidak. (Waktu itu aku tak tahu bagaimana bakal jadinya). Hari depan yang

selalu menggoda!


Mysteri! Setiap pribadi akan datang padanya—mau-tak-mau, dengan seluruh jiwa dan raganya.

Dan terlalu sering dia terny ata maharaja zalim. Juga akhirnya aku datang padany a bakalnya.

Adakah dia dewa pemurah atau jahil, itulah memang urusan dia: manusia terlalu sering bertepuk

hany a sebelah tangan....

Tigabelas tahun kemudian catatan pendek ini kubacai dan kupelajari kembali, kupadu dengan

impian, khayal. Memang menjadi’ lain dari aslinya. Tak kepalang tanggung. Dan begini kemudian

jadinya: DALAM HIDUPKU, BARU SEUMUR JAGUNG. Sudah dapat kurasai: ilmu

pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya.

Sekali direktur sekolahku bilang didepan kias: yang disampaikan oleh tuan-tuan guru di bidang

pengetahuan umum sudah cukup luas, jauh lebih luas daripada yang dapat diketahui oleh para

pelajar setingkat di banyak negeri di Eropa sendiri.

Tentu dada ini menjadi gembung. Aku belum pernah ke Eropa.

Benar-tidaknya ucapan tuan Direktur aku tak tahu. Hany a karena menyenangkan aku cenderung

mempercayainya. Lagi pula semua guruku kelahiran sana, dididik disana pula. Rasanya tak layak

tak mempercay ai guru. Orang tuaku telah mempercayakan diriku pada mereka. Oleh masyarakat

terpelajar Eropa dan Indo dianggap terbaik dan tertinggi nilainya di seluruh Hindia Belanda. Maka

aku hairus mempercayainya.

Ilmu dan pengetahuan, yang kudapatkan dari sekolah dan kusaksikan sendiri pernyataannya dalam

hidup, telah membikin pribadiku menjadi agak berbeda dari sebangsaku pada umumnya.

Menyalahi wujudku sebagai orang Jawa atau tidak aku pun tidak tahu. Dan justru pengalaman

hidup sebagai orang Jawa berilmu pengetahuan Eropa yang mendorong aku suka mencatat-ck-tat.

Suatu kali akan berguna, seperti sekarang ini.

Salah satu hasil ilmu-pengetahuan yang tak habis-habis kukagumi adalah percetakan, terutama

zincografi. Coba, orang sudah dapat memperbanyak potret berpuluh ribu lembar dalam sehari.

Gambar pemandangan, orang besar dan penting, mesin baru, gedung-gedung pencakar langit

Amerika, semua dan dari seluruh dunia — kini dapat aku saksikan sendiri dari lembaran-lembaran

kertas cetak. Sungguh merugi generasi sebelum aku — generasi y ang sudah puas dengan

bany aknya jejak-langkah sendiri di lorong-lorong kampungnya itu. Betapa aku berterimakasih

pada semua dan setiap orang yang telah berjerih-pay ah untuk melahirkan keajaiban baru itu.

Lima tahun yang lalu belum lagi ada gambar tercetak beredar dalam lingkungan hidupku.

Memang ada cetakan cukilan kayu atau batu, namun belum lagi dapat mewakili kenyataan

sesungguhnya.

Berita-berita dari Eropa dan Amerika banyak mewartakan penemuan-penemuan terbaru.

Kehebatannya menandingi kesaktian para satria dan dewa nenek-moyangku dalam cerita

way ang. Keretapi — kereta tanpa kuda, tanpa sapi, tanpa kerbau — be lasan tahun telah disaksikan


sebangsaku. Dan masih juga ada keheranan dalam hati mereka sampai sekarang!

Betawi-Surabaya telah dapat ditempuh dalam tiga hari. Diramalkan akan cuma seharmal*!

Hany a seharmal! Deretan panjang gerbong sebesar rumah, penuh barang dan orang pula, ditarik

oleh kekuatan air semata! Kalau Stevenson pernah aku temui dalam hidupku akan

kupersembahkan padany a karangan bunga, sepenuhny a dari anggrek. Jaringan jalan keretapi

telah membelah-belah pulauku, Jawa. Kepulan asapnya mewarnai langit tanahairku dengan garis

hitam, semakin pudar untuk hilang ke dalam ketiadaan. Dunia rasanya tiada berjarak lagi — telah

dihilangkan oleh kawat. Kekuatan bukan lagi jadi monopoli gajah dan badak. Mereka telah

digantikan oleh benda-benda kecil buatan manusia: torak, sekrup dan mur.

Dan di Eropa sana, orang sudah mulai membikin mesin yang lebih kecil dengan tenaga lebih

besar, atau setidaknya sama dengan mesin uap. Memang tidak dengan uap. Dengan minyak

bumi. Warta say up-sayup mengatakan: Jerman malah sudah membikin kereta digerakkan listrik.

Ya Allah, dan aku sendiri belum lagi tahu membuktikan apa listrik itu.

Tenaga-tenaga alam mulai diubah manusia untuk diabdikan pada dirinya.

Orang malah sudah merancang akan terbang seperti Gatotkaca, seperti Ikarus. Salah seorang

guruku bilang: sebentar lagi, hany a sebentar lagi, dan ummat manusia tak perlu lagi membanting

tulang memeras keringat dengan hasil sedikit. Mesin akan menggantikan semua dan setiap macam

pekerjaan. Manusia akan tinggal bersenang. Berbahagialah kalian, para siswa, katany a, akan dapat

menyaksikan awal jaman modern di Hindia ini.

Modern?, Dengan cepatnya kata itu menggelumbang dan membiak diri seperti bakteria di Eropa

sana. (Setidak-tidaknya menurut kata orang.) Maka ijinkanlah aku ikut pula menggunakan kata ini.

sekalipun aku belum sepenuhny a dapat menyelami maknanya.

Pendeknya dalam jaman modern ini potret sudah dapat diperbanyak sampai puluhan ribu sehari.

Yang penting: ada di antaranya yang paling banyak kupandangi: seorang dara, cantik, kaya.

berkuasa, gilang-gemilang, seorang pribadi y ang memiliki segala, kekasih para dewa.

Sassus, sembunyi-sembunyi diucapkan di antara teman-teman sekolah: bankier-bankier terkaya di

dunia pun tiada berpeluang untuk merayunya.

Ningrat gagah dan ganteng pada tunggang-langgang untuk mendapatkan perhatiannya. Hanya

perhatian!

Pada waktu-waktu menganggur sering aku pandangi wajahnya sambil mengandai-andai: betapa,

betapa, betapa. Dan betapa tinggi tempatnya.

Jauh pula, sebelas atau duabelas ribu mil laut dari tempatku, Surabay a.

Pelayaran sebulan naik kapal, mengarungi dua semudra, lima selat dan satu terusan. Itu pun

belum tentu dapat bertemu dengannya. Tak berani aku menyatakan perasaanku pada siapa pun-.


Orang mentertawakan dan menamai aku gila.

Di kantorpos-kantorpos, kata sang sassus pula, kadang didapatkan surat lamaran yang ditujukan

pada dara yang jauh dan tinggi di sana itu. Tak ada yang sampai. Sekirany a aku bergila

memberanikan diri, sama saja: pejabat pos akan menahannya untuk dirinya sendiri.

Dara kekasih para dewa ini seumur denganku: delapanbelas. Kami berdua dilahirkan pada tahun

yang sama: 1880. Hanya satu angka berbentuk batang, tiga lainnya bulat-bulat seperti kelereng

salah cetak. Hari dan bulannya juga sama: 31 Agustus. Kalau ada perbedaan hanya jam dan

kelamin. Orangtuaku tak pernah mencatat jam kelahiranku. Jam kelahirannya pun tak aku ketahui.

Perbedaan kelamin ? Aku pria dia wanita. Mencocokkan jam y ang tidak menentu itu juga

memusingkan.

Setidak-tidaknya bila pulauku diselimuti kegelapan malam negerinya dipancari surya. Bila

negerinya dipeluk oleh kehitaman malam pulauku gemerlapan di bawah surya khatulistiwa.

Guruku, Magda Peters, melarang kami mempercayai astrologi. Omongkosong, katanya. Thomas

Aquinas, sambungnya, pernah melihat dua orang yang lahir pada tahun, bulan, hari dan jam,

malah tempat y ang sama. Ia angkat telunjuk dan menantang kami dengan: lelucon astrologi —

nasib keduanya sungguh tidak pernah sama, y ang seorang tuantanah besar, y ang lain justru

budakny a!

Dan memang aku tidak percay a. Bagaimana akan percaya ? Dia tidak pernah jadi petunjuk untuk

kemajuan ilmu dan pengetahuan manusia. Kalau dia benar, cukuplah kita takluk padanya,

selebihnya boleh dilempar ke kranjang babi. Dia tidak akan mampu meramalkan siapa dara itu, di

mana tempatny a. Tak bakal. Pernah aku ramalkan diri untuk iseng. Horoskop dibolak dan dibalik.

Sang peramal buka mulut. Nampak dua gigi-mas-nya: bila Tuan ada kesabaran, pasti..... Dengan

demikian aku lebih mempercayai akalku. Dengan kesabaran-seluruh-ummat-manusia

menemuinya pun aku tak bakal mungkin.


Aku lebih mempercay ai ilmu-pengetahuan, akal. Setidak-ti-daknya padanya ada kepastian-

kepastian y ang bisa dipegang.


Tanpa mengetuk pintu kamar pemondokanku Robert Suurhof — di sini tak kupergunakan nama

sebenarny a — masuk. Didapatiny a aku sedang mencangkung! gambar sang dara, kekasih para

dewa itu. Ia terbahak, diri menggerabak dan tersipu. Lebih kurangajar lagi justru seruannya:

“Ahoi, si philogynik, matakeranjang kita, buaya kita! Bulan mana pula sedang kau rindukan ?”

Memang aku berhak mengusirnya. Tapi: “Husy!” dengusku, siapa tahu ?”

“Astrolog itu tahu segala, kecuali dirinya sendiri.....,” kemudian seperti biasa ia lanjutkan dengan

seringai.

Biar aku ceritakan: ia temanku sekolah di H.B.S., jalan H.B.S., Surabaya. Ia lebih tinggi

daripadaku. Dalam tubuhnya mengalir darah Pribumi. Entah berapa tetes atau gumpal.


“Jangan, jangan yang itu,” bujuknya dengan suara rintihan. “Juga ada seorang dewi di Surabaya

ini. Cantik tiada bandingan, tidak kalah dari gambar itu. Itu toh hanya gambar.”

“Apa yang kau maksudkan dengan cantik ?”

“Apa ? Kan kau sendiri sudah rumuskan ? Letak dan bentuk tulang yang tepat, diikat oleh lapisan

daging yang tepat pula.”

“Benar,** tenisku setelah kehilangan kekikukan. “Apa lagi?” “Apa lagi ?

Kulit yang halus-lembut. Mata yang bersinar, dan bibir y ang pandai berbisik.**

“Kau sudah tambahi dan rubah dengan pandai berbisik.”

“Jadi bibir itu hanya bisa memekik dan mengutuki kau ? Kan biar pun mengutuki asal berbisik tidak

apa ?”

“Tsss, tsss,” aku mendiamkannya.

“Pendekny a, kalau memang jantan, philogynik sejati, mari aku bawa kau ke sana. Aku ingin lihat

bagaimana akan solah dan tingkahmu, apa kau memang sejantan bibirmu.”

“Aku masih banyak pekerjaan.”

“Kecut sebelum turun gelanggang,” tuduhnya.

Aku tersinggung. Aku tahu otak H.B.S. dalam kepala Robert Suurhof ini hanya pandai menghina,

mengecilkan, melecehkan dan menjahati orang. Dia anggap tahu kelemahanku: tak ada darah

Eropa dalam tubuhku.

Sungguh-sungguh dia sedang bikin rencana jahat terhadap diriku.

“Jadi!” jawabku.

Itu barang beberapa minggu yang lalu, awal tahun pelajaran baru.

Dan sekarang seluruh Jawa berpesta-pora, mungkin juga seluruh Hindia Belanda. Triwarna

berkibar riang di mana-mana: dara yang seorang, Dewi Kecantikan kekasih para dewa itu, kini

naik tahta. Ia sekarang ratuku.

Aku kawulanya. Tepat seperti cerita Juffrouw Magda Peters tentang Thomas Aquinas. Ia adalah

Sri Ratu Wilhelmina. Tanggal, bulan, dan tahun kelahiran telah memberikan kesempatan pada

astrolog untuk mengangkatnya jadi ratu dan menjatuhkan aku jadi kawulanya. Dan ratuku itu

malahan tidak pernah tahu, aku benar-benar ada di atas bumi ini. Sekiranya ia lahir satu atau dua

abad sebelum atau sesudah aku barangtentu hati ini takkan jadi begini nelangsa.


7 September 1898. Hari Jum’at Legi. Ini di Hindia. Di Nederland sana: 6

September 1898, hari Kamis Kliwon.

Para pelajar seakan gila merayakan penobatan ini: pertandingan, pertunjukan, pameran

ketrampilan dan kebisaan yang dipelajari orang Eropa — sepakbola, standen, kasti. Dan semua itu

tak ada yang menarik hatiku. Aku tak suka pada sport.

Dunia sekelilingku ramai. Meriam pun berdentuman. Arak-arakan dan panembrama. Di hati aku

tetap nelangsa. Jadi pergilah aku seperti biasa ke tetangga sebelah, Jean Marais*, orang Prancis

berkaki satu itu.

“Alleluya, Minke, apa kabar hari ini ?” tegurnya dalam Prancis y ang memaksa aku menggunakan

bahasanya.

“Ada, Jean, ada pekerjaan untukmu. Satu perangkat perabot kamar,” aku berikan padany a

gambar sebagaimana dikehendaki pemesan.

Ia mempelajariny a sebentar dan tersenyum senang.

“Beres. Akan kuperhitungkan biayanya. Dengan ukiran motif Jepara. Minke.”

“Tuan muda Minke!” panggil ibu pemondokanku dari sebelah.

Melongok melalui jendela aku lihat Mevrouw Telinga melambai padaku.

“Jean, aku pergi. Mevrouw bawel ini barangkali hendak menyuguh tarcis.

jangan terlalu lama pesanan itu, Jean.”

Di rumah tak kutemui tarcis. Hanya Robert Suurhof.

“Ayoh,” katanya, “kita pergi sekarang.”

Sebuah dokar model baru, karper, telah menunggu di pintu gerbang. Kami naik, kuda mulai

bergerak, kusir seorang Jawa tua.

“Jelas sewanya lebih mahal.” kataku dalam Belanda.

“Jangan main-main, Minke, ini bukan dokar sembarang dokar, bukan kretek.

dokar dengan per — barangkali yang pertama menjelang akhir abad ini.

Barangkali juga pernya lebih mahal dari seluruh dokar.”

“Percaya, Rob. Ngomong-ngomong, Rob, ke mana kita ?**


“Ke tempat di mana semua pemuda mengimpikan undangan. Karena bidadarinya, Minke.

Dengar, aku beruntung mendapat undangan dari abangnya. Tak ada yang pernah dapat undangan

ke sana kecuali ini,”

dengan ibujari ia menuding dadanya sendiri. “Dengar, kebetulan nama abangnya juga

Robert....”

“Banyak benar anak bernama Robert-sekarang....”

Ia tak menggubris dan meneruskan:

“..... Hany a karena kami berdua pernah bertemu dalam pertandingan bola.

Di rumahnya ada kelahiran beberapa sapi jantan y ang tidak dikehendaki.

Itu yang terpenting bagiku,” ia melirik padaku.

“Sapi jantan ?” aku tak mengerti.

“Sapi jantan untuk sarapan, maksudku. Itu soalku. Soalmu,” ia berkecap-kecap. matanya’ tajam

menyelidik mataku, “soalmu sih, adik si Robert itu. Aku ingin lihat sampai di mana kejantananmu,

hai philogy nik!”

Bingkai besi roda karper itu gemeratak menggiling jalanan batu Jalan Kranggan, ke Blauran,

menuju ke Wonokromo.

“Ayoh, ny any ikan Veni, Vidi, Vici — Datang, Lihat, Menang,*’ ajaknya di antara gemeratak roda.

“Ha-ha, kau pucat sekarang. Tak lagi yakin akan kejantanan sendiri. Ha-ha.**

“Mengapa tak kau ambil semua untuk dirimu sendiri ? Santapan pagi dan dewi itu ?**

“Aku ? Ha-ha. Untukku - hanya dewi berdarah Eropa tulen!** anakan, lndisch. Robert Suurhof —

sekali lagi kuperingat kan: yang kupergunakan bukan namanya yang sebenarnya - juga Indo.

Waktu mamanya, seorang Indo juga, hendak melahirkan, ayahnya, juga Indo, buru-buru

membawanya ke Tanjung Perak, naik ke atas kapal Van Heemskerck yang sedang berlabuh,

melahirkan di sana. dan: ia bukan hanya kawula Belanda, ia mendapat kewarganegaraan Belanda.

Dan: barangkali seperti itu juga tingkah orang-orang Yahudi dengan kewarganegaraan Romawi.

Ia menganggap dirinya lain dari saudara-saudara sekandung.

Ia menganggap diri bukan Indo. Kalau ia dilahirkan satu km. dari kapal itu, barangkali di atas

dermaga Perak, barangkali di atas sampan Madura, dan mendapatkan kewarganegaraan Madura,

barangkali akan lain pula solahnya. Setidak-tidaknya aku mulai mengerti mengapa ia suka

memperlihatkan sikap tidak meny ukai gadis-gadis Indo. Ia berusaha bertahan sebagai

warganegara Belanda untuk kepentingan anak-cucuny a kelak. Setidak-tidakny a dalam bualan dan


keseakanan. Kedudukan dan gajinya akan lebih tinggi daripada yang Indo, apalagi daripada yang

Pribumi.

Pagi itu sangat indah memang. Langit biru cerah tanpa awan. Hidup muda hany a bernafaskan

kesukaan semata. Segala y ang kuusahakan berhasil. Tak ada kesulitan dalam pelajaran. Dan hati

pun cerah tanpa komplex. Yang telah naik tahta biarlah sudah. Semua pajangan pada gedung dan

gapura-gapura itu sudah untukny a. Pertemuan-pertemuan resmi semua juga untuknya. Kekasih

para dewa! Dewi kahyangan! Dan sekarang Suurhof sedang hendak mempermain-mainkan aku

di hadapan gadis dunia yang ia kehendaki aku taklukkan.

Orang-orang desa, ke kota berjalan kaki, tak masuk dalam perhatianku.

Jalan raya batu kuning itu lurus langsung ke Wonokromo. Rumah, ladang, sawah, pepohonan

jalanan y ang dikurung dengan kranjang bambu, bagian-bagian hutan yang bermandikan sinar

perak matari, semua, semua beterbangan riang. Dan di kejauhan sana samar-samar nampak

gunung-gemunung yang berdiri tenang dalam keangkuhannya, seperti pertapa berbaring:

membatu.

“Jadi kita berangkat ke pesta dengan pakaian begini ?** Tidak, kataku tadi, aku hanya untuk

bersantap, kau untuk menaklukkan.**

“Kita pergi ke mana ?” “Tepat ke sasaran.”

“Rob ?” kutinju bahuny a karena kecucukanku. “Ayoh katakan.**

Dan ia tak mau mengatakan.

“Jangan meringis! Kalau kau betul jantan,** ia berkecap-ke-cap, “akan aku hormati kau lebih

daripada guruku sendiri. Kalau kau kalah, awas, untuk seumur hidup kau akan jadi terta-waanku.

Ingat-ingat itu, Minke.”

“Kau memperolok aku. Rob.”

“Tidak. Pada suatu kali kau akan jadi bupati, Minke. Mungkin kau akan mendapat kebupatian

tandus. Aku doakan kau akan mendapat y ang subur.

Kalau dewi itu kelak mendampingimu jadi Raden Ayu, aduhai, semua bupati di Jawa akan

demam kapialu karena iri.”

“Siapa bilang aku akan jadi bupati ?** “Aku. Dan aku akan meneruskan sekolah ke Nederland. Aku

akan jadi insinyur. Pada waktu itu kita akan bisa bertemu lagi. Aku akan berkunjung padamu

bersama istriku. Tahu kau pertanyaan pertama yang bakal kuajukan ?** “Kau mimpi. Aku takkan

jadi bupati.” “Dengarkan dulu. Aku akan bertanya: Hai, philogynik, mata kranjang, buaya darat,

mana haremmu ?”


“Rupa-rupany a kau masih anggap aku sebagai Jawa yang belum beradab.”

“Mana ada Jawa, dan bupati pula, bukan buaya darat ? ” Aku takkan jadi bupati.”

Ia tertawa melecehkan. Dan dokar itu tak juga berhenti, makin lama makin jauh meninggalkan

Surabay a. Aku agak tersinggung sebenarnya. Ya, aku memang mudah tersinggung. Rob tidak

peduli. Memang dia pernah berkata: satu-satunya bukti pembesar Jawa tidak berniat punya harem

hany a dengan beristri orang Eropa. Totok atau Indo. Dengannya ia tak bakal berma-du.

Karper mulai memasuki daerah Wonokromo. “Lihat ke kiri,” Rob menyarani.

Sebuah rumah bergaya Tiongkok berpelataran luas dan terpelihara rapi dengan pagar hidup. Pintu

dan jendela depan tutup. Catnya serba merah.

Tidak menarik perasaan keindahanku. Dan siapa tidak tahu rumah siapa dan apa itu ?

Rumahpelesir, suhian. Babah Ah Tjong puny a.

Tapi dokar berjalan terus.

“Tetap lihat ke kiri.”

Barang seratus atau seratus lima puluh meter di sebelah kiri rumahplesir itu nampak kosong tanpa

rumah. Kemudian menyusul rumah loteng dari kay u, juga berpelataran luas. Dekat di belakang

pagar kayu terpasang papan nama besar dengan tulisan: Boerderij Buitenzorg*.

Dan setiap penduduk Surabaya dan Wonokromo, kiraku, tahu belaka: itulah rumah hartawan besar

Tuan Mellema - Herman Mellema. Orang menganggap rumahnya sebuah istana pribadi, sekali

pun hanya dari kay u jati. Dari kejauhan sudah nampak atap sirapnya dari kayu kelabu. Pintu dan

jendela terbuka lebar. Tidak seperti pada rumahplesir Ah Tjong. Berandanya tak ada. Sebagai

gantinya, sebuah konsol cukup luas dan lebar melindungi anak tangga kayu yang lebar pula, lebih

lebar daripada pintu depan.

Sampai sejauh itu orang hanya mengenal nama Tuan Mellema. Orang sekali-sekali saja atau

sama sekali tak pernah melihatnya lagi.

Sebaliknya orang lebih banyak menyebut-ny ebut gundiknya: Nyai Ontosoroh — gundik yang

bany ak dikagumi orang, rupawan, berumur tigapuluhan, pengendali seluruh perusahaan pertanian

besar itu. Dari nama Buitenzorg itu ia mendapatkan nama Ontosoroh — sebutan Jawa.

Kata orang, keamanan keluarga dan perusahaan dijaga oleh seorang pendekar Madura, Darsam,

dan pasukannya. Maka tak ada orang berani datang iseng ke istana kayu itu.

Aku terhenyak.

Dokar tiba-tiba membelok, melewati pintu gerbang, melewati papan nama Boerderij Buitenzorg,


langsung menuju ke tangga depan rumah. Aku bergidik. Darsam yang belum pernah aku lihat itu

muncul dalam benakku.

Hanya kumis, tak lain dari kumis, sekepal dan clurit*. Tak pernah ada cerita orang mendapat

undangan dari istana angker-sangar ini.

“Ke sini ?”

Ia hany a mendengus.

Seorang pemuda Indo-Eropa membuka pintu kaca, menuruni anak tangga, menyambut Suurhof.

Nampakny a ia seumur denganku, la berwajah Eropa, berkulit Pribumi, jangkung, tegap, kukuh.

“Hai, Rob!”

“Oho, Rob!” sambut Suurhof. “Aku bawa temanku. Rob. Tak apa toh ? Kau tak ada keberata’n. kan

?”

Pemuda itu tidak menyambut aku — pemuda Pribumi li-rikannva tajam menusuk. Aku mulai

gelisah, tahu sedang memasuki awal bahak permainan.

Kalau dia menolak Suurhof akan tertawa, dan dia akan tunggu aku merangkak ke jalan raya dalam

halauan Darsam. Dia belum menolak, belum mengusir. Sekali saja bibirnya bergerak menghalau

— God, ke mana mesti aku sembuny ikan mukaku ? Tapi tidak, mendadak ia tersenyum

mengulurkan tangan:

“Robert Mellema,” ia memperkenalkan diri.

“Minke,” balasku.

Ia masih juga menjabat tanganku, menunggu aku meny ebutkan nama keluargaku. Aku tak punya,

maka tak menyebutkan. Ia mengernyit. Aku mengerti: barangkali dianggapnya aku anak yang

tidak atau belum diakui ayahnya melalui pengadilan,‘tanpa nama keluarga adalah Indo hina,

sama dengan Pribumi. Dan aku memang Pribumi. Tapi tidak, ia tak menuntut nama keluargaku.

“Senang berkenalan denganmu, mari masuk.”

Kami menaiki jenjang. Hatiku tetap curiga melihat lirikannya yang tajam. Pemuda macam apa

pula Robert Mellema ini ?

Kecurigaan tiba-tiba hilang sirna. Suasana baru menggantikan: di depan kami berdiri seorang

gadis berkulit putih, halus, berwajah Eropa, berambut dan bermata Pribumi. Dan mata itu, mata

berkilauan itu seperti sepasang kejora, dan bibirnya terseny um meruntuhkan iman. Kalau gadis

ini y ang dimaksudkan Suurhof, dia benar: bukan saja menandingi malah mengatasi Sri Ratu.

Hidup, dari darah dan daging, bukan sekedar gambar.


“Annelies Mellema,” ia mengulurkan tangan padaku, kemudian pada Suurhof.

Suara y ang keluar dari bibirnya begitu mengesani, tak mungkin dapat kulupakan seumur hidup.

Kami berempat duduk di sitje rotan. Robert Suurhof dan Robert Mellema segera terlibat dalam

percakapan tentang sepakbola, pertandingan besar yang pernah mereka saksikan di Surabaya. Aku

merasa kikuk untuk mencampuri. Tak pernah aku suka pada sepak bola. Mataku mulai

menggerayangi ruangtamu y ang luas itu, perabot, langit-langit, kandil-kandil kridai y ang

bergelantungan, lampu-lampu gas gantung dengan kawat

penyalur dari tembaga - entah di mana sentralnya - potret Sri Ratu Emma yang telah turun tahta

terpasang pada pigura kayu berat. Dan untuk ke sekian kali pandang ini berhenti pada wajah

Annelies juga. Sebagai penjual perabot rumahtangga, sekali caup sudah dapat aku menentukan,

barang-barang itu mahal belaka, dikerjakan oleh para tukang yang mahir.

Permadani di bawah sitje bergambarkan motif yang tak pernah kutemui.

Mungkin pesanan khusus. Lantainya terbuat dari parket, tegel kay u, yang mengkilat oleh semir

kayu.

“Mengapa diam saja ?” tegur Annelies dengan suara manis dalam Belanda pergaulan.

Sekali lagi kutatap wajahnya. Hampir-hampir aku tak berani menentang matanya. Tiadakah dia

jijik padaku, sudah tanpa nama keluarga dan Pribumi pula ? Aku hany a bisa menjawab ue-ngan

senyum - senyum manis tentu — dan sekali lagi melepas pandang pada perabot. Dan: “Semua

serba bagus di sini.”

“Suka kau di sini ?”

“Suka sekali,” dan sekali lagi kupandangi dia.

Sesungguhny a: kecantikannya memang memukau. Di tengah-tengah kemewahan ini ia nampak

agung, merupakan bagian yang mengatasi segala yang indah dan mewah.

“Mengapa kau sembunyikan nama-keluargamu?” tanyany a.

“Tak ada kusembuny ikan,” jawabku, dan mulai gelisah lagi. “Apa perlu benar kusebutkan ?” aku

lirik Robert Suurhof. Ia tidak tertikam oleh lirikanku. Ia sedang asyik tenggelam dalam

sepakbolanya dengan Robert Mellema. Sebelum aku tarik lirikanku mendadak ialah y ang justru

melepaskan lirikannya.

“Tentu,” sambut Annelies. “Nanti disangka kau tak diaku oleh ayahmu.”

“Aku tak punya. Betul-betul tak punya,” jawabku nekad.


“Oh!” serunya pelan. “Maafkan aku.” Ia terdiam sejenak. Tak punya pun baik,” katanya

kemudian.

“Aku bukan Indo,” tambahku dengan nada membela diri.

“Oh” sekai lagi ia berseru. “Bukan”

Rasanya ada gendang bermain dalam jantungku. Dia sudah tahu aku bukan Indo, pengusiran

setiap saat bisa terjadi.

Tanpa melihat dapat aku rasai lirikan Robett Sourhof sedang menaksir-naksir bagian tubuhku yang

tak tertutup Ya. Seperti gagak sedang menaksir calon bangkai. Waktu aku mengangkat pandanganku

ku lihat Robert Mellema menikam Annelies dengan pandangannya. Dan pada waktu itu beralih

padaku bibirny a menjadi garis lurus tipis. Astaga, mau jadi apa aku ini “

Haruskah aku terusir seperti anjing dari rumah yang serba mewah ini, di bawah derai tawa

Robert Suurhof ? Tak pernah aku merasa secemas sekarang. Lirikan Suurhof menikam batang

leherku. Pandang pemuda Mellema padaku masih belum ditarik, bahkan berkedip pun ia tidak.

Annelies menatap Robert Suurhof, kemudian pada abangnya, kemudian kembali padaku. Sejenak

penglihatanku kabur. Yang nampak hanya gaun panjang putih Annelies, tanpa wajah, tanpa

anggota badan. Dan gaun itu tidak berlengan, berkilauan pada setiap gerak.

Sekarang aku semakin mengerti: memang sudah jadi maksudny a untuk menghinakan aku di

rumah orang. Dan sekarang aku hanya dapat menunggu meledaknya pengusiran. Sebentar lagi si

Darsam pendekar akan dipanggil, disuruh lemparkan aku ke jalan ray a.

Jantung menggila ini terasa mendadak tak lagi berdeny ut mendengar lengking tawa Annelies.

Lambat-lambat kunaikkan pandang padanya. Giginya gemerlapan, nampak, lebih indah dari

semua mutiara yang tak pernah kulihat. Ahoi, philogynik, dalam keadaan begini pun kau masih

sempat mengagumi dan memuja kecantikan.

“Mengapa pucat?” tanya Annelies seperti sedang memberi ampun. “Pribumi juga baik,” katanya

masih tertawa.

Pandang Robert Mellema sekarang tertuju pada adiknya, dan Annelies menantangnya dengan

pandang terbuka. Sang abang menghindari.

Permainan sandiwara apakah semua ini ? Robert Suurhof tak bicara sesuatu. Robert Mellema

juga tidak. Apakah dua pemuda itu sedang bermasa mata memaksa aku untuk minta maaf ?

Hanya karena aku tak punya nama keluarga dan Pribumi pula ? Puh! mengapa aku harus

melakukannya ? Tidak!

“Pribumi juga baik,” ulang Annelies bersungguh.


“Ibuku juga Pribumi - Pribumi Jawa. Kau tamuku, Minke,” suaranya mengandung nada

memerintah.

Baru aku menghembuskan nafas lega.

“Terimakasih.”

“Nampaknya kau tak suka pada sepakbola. Aku pun tidak. Mari duduk di tempat lain,” ia berdiri

menyilakan. mengulurkan tangan dengan manjany a minta digandeng.

Aku berdiri, mengangguk minta maaf pada abangny a dan Suurhof. Mereka ikuti kami dengan

pandang. Annelies menoleh dan meninggalkan senyum maaf pada tamu y ang ditinggalkannya.

Ruang tamu luas itu kami lintasi. Terasa olehku, langkahku tidak tetap.

Pandang dua pemuda itu terasa menusuk punggungku. Kami memasuki ruangbelakang y ang lebih

mewah lagi.

Juga di sini dinding seluruhny a terbuat dari kayu jati yang dipolitur coklatmuda. Di pojokan

berdiri seperangkat mejamakan dengan enam kursi.

Di dekatnya terdapat tangga naik ke loteng. Kenap bertugur di tiga pojok lainnya. Di atasnya

berdiri jambang bunga dari tembikar bikinan Eropa.

Bunga-bungaan bersembulan dari dalamny a dalam karangan yang serasi.

Annclies mengikuti pandangku, berkata:

“Aku sendiri y ang merangkai.”

“Siapa guruny a”

“Mama, Mama sendiri.”

“Bagus sekali.”

Melihat mataku terpancang pada lemari pajangan ia bawa aku kesana.

Lemari itu berdiri pada dinding* di tentang meja makan. Di dalamny a terpajang benda-benda

seni — tak pernah kulihat sebelumnya.

“Tak ada kubawa kunciny a,” kata Annelies. “Itu yang paling kusukai,” ia menuding pada patung

kecil dari perunggu-.“Kata Mama, itu Fir’aun Mesir,” ia berpikir sejenak. “Kalau tak salah

namany a Nefertiti, seorang putri yang sangat cantik.”

Apa pun nama patung itu aku heran juga seorang Pribumi, gundik pula, tahu nama seorang


Fir’aun.

Di dalamnya terdapat juga patung Erlangga ukiran Bali, duduk di atas punggung garuda. Berbeda

dari yang lain-lain patung ini tidak terbuat dari kayu sawoh, tapi sejenis kayu yang aku tak pernah

tahu.

Pada papan pertama terdapat deretan topeng kecil-kecil dari gerabah bergambarkan aneka muka

binatang.

“Itu topeng-topeng cerita Sie Jin Kuie,” ia menerangkan. “Pernah dengar ceritany a ?”

“Belum.”

“Suatu kali akan aku ceritai. Mau kau kiranya”

Pertanyaan itu terdengar ramah dan semanak, menenggelamkan seluruh kemewahan dan

perbedaan yang ada.

“Dengan senang hati.”

“Kalau begitu kau tentu suka datang lagi kemari.”

“Suatu kehormatan.”

Tak ada kulit kerang besar pada.kaki kenap seperti halnya di gedung-gedung kebupatian yang

pernah kulihat. Sebuah phonograf terletak di atas meja pendek beroda kecil pada empat kakiny a.

Bagian bawah phonograf dipergunakan untuk tempat

tabung musik. Meja itu sendiri berukir berlebihan dan nam-pak-ny a barang pesanan.

Semua indah . Dan yang terindah tetap Annelies.

“Mengapa kau diam saja ?” tanyany a lagi. “Kau bersekolah ?”

“Kawan sekelas Robert Suurhof.”

“Rupa-rupany a abangku bangga punya teman dia, seorang murid H.B.S.

kaulah itu. “Tiba-tiba ia menengok ke pintu belakang dan berseru: “Mama!

Sini! Mama, ada tamu.”


Dan segera kemudian muncul seorang wanita Pribumi, berkain, berkebay a putih dihiasi renda-

renda mahal, mungkin bikinan Naarden seperti diajarkan di E.L.S. dulu. Ia mengenakan kasut


beledu hitam bersulam benang perak. Permunculanny a begitu mengesani karena dandanannya

yang rapi, wajahny a yang jernih, seny umny a yang keibuan, dan riasnya yang terlalu


sederhana. Ia kelihatan manis dan muda, berkulit langsat. Dan yang mengagetkan aku adalah

Belandany a yang baik, dengan tekanan sekolah yang benar.

“Ya, Annelies, siapa tamumu ?”

“Ini, Mama, Minke namanya. Pribumi Jawa, Mama.”

Ia berjalan menghampiri aku dengan sederhanany a. Dan inilah rupanya Ny ai Ontosoroh yang

banyak dibicarakan orang, buahbibir penduduk Wonokromo dan Surabaya, Nyai penguasa

Boerderij Buitenzorg.

“Pelajar H.B.S., Mama.”

“O-ya ? betul itu ?” tany a Nyai padaku.

Dan aku ragu. Haruskah aku ulurkan tangan seperti pada wanita Eropa, atau aku hadapi dia seperti

wanita Pribumi — jadi aku harus tidak peduli ? Tapi dialah justru yang mengulurkan tangan. Aku

terheran-heran dan kikuk menerima jabatannya. Ini bukan adat Pribumi, Eropa! Kalau begini

caranya tentu aku akan mengulurkan tangan lebih dahulu.

“Tamu Annelies juga tamuku,” katanya dalam Belanda yang fasih.

“Bagaimana aku harus panggil ? Tuan ? Sinyo ? Tapi bukan Indo....”

“Bukan Indo,.....apa aku harus panggil dia ? Nyai atau Mevrouw ?

“Betul pelajar H.B.S. ?” tanyanya, tersenyum ramah.

“Betul,......”

“Orang memanggil aku Nyai Ontosoroh. Mereka tidak bisa menyebut Buitenzorg. Nampaknya

Sinyo ragu menyebut aku demikian. Semua memanggil begitu. Jangan segan.”

Aku tak menjawab. Dan nampaknya ia memaafkan kekikukanku.

“Kalau Sinyo pelajar H.B.S. tentu Sinyo putra bupati. Bupati mana itu, Nyo ?”

“Tidak, eh, eh....”

“Begitu segannya Sinyo menyebut aku. Kalau ragu tak menghinakan diri Sinyo, panggil saja

Mama, seperti Annelies juga.”

“Ya, Minke,” gadis itu memperkuat. “Mama benar. Panggil saja Mama.”

“Bukan putra bupati mana pun. Mama,” dan dengan memulai sebutan baru itu, kekikukanku,

perbedaan antara diriku dengannya, bahkan juga keasinganny a, mendadak lenyap.


“Kalau begitu te’ntu putra patih,” Nyai Ontosoroh meneruskan. Ia masih berdiri di hadapanku.

“Silakan duduk. Mengapa berdiri saja ?”

“Putra patih pun bukan. Mama.,”

“Terserahlah. Setidak-tidaknya senang juga ada teman Annelies datang berkunjung. Hei, Ann,

yang tienar lay ani tamumu.”

“Tentu, Mama,” jawabnya riang seakan mendapat restu.

Nyai Ontosoroh pergi lagi melalui pintu belakang. Aku masih terpesona melihat seorang wanita

Pribumi bukan saja bicara Belanda begitu baik, lebih karena tidak mempunyai suatu komplex

terhadap tamu pria. Di mana lagi bisa ditemukan wanita semacam dia ? Ape sekolahny a dulu ?

Dan mengapa hanya seorang ny ai, seorang gundik ? Siapa pula yang telah mendidiknya jadi

begitu bebas seperti wanita Eropa ? Keangkeran istana kayu ini berubah menjadi makgai teka-teki

bagiku.

“Aku senang ada tamu untukku,” Annelies semakin riang mengetahui ibuny a tidak berkeberatan.

“Tak ada yang pernah mengunjungi aku. Orang takut datang kemari. Juga teman-teman sekolahku

dulu.”

“Apa sekolahmu dulu ?”

“E.L.S., tidak tamat, belum lagi kelas empat.”

“Mengapa tak diteruskan ?”


Annelies menggigit jari, memandangi aku: “Ada kecelakaan,” jawabnya tak meneruskan. Tiba-

tiba ia bertanya: Kau Islfcm ?”


“Mengapa ?”

“Supaya tak termakan babi olehmu.”

“Terimakasih. Ya.”

Seorang pelayan wanita menghidangkan susucoklat dan kue. Dan pelayan itu tidak datang

merangkak-rangkak seperti pada majikan Pribumi. Malah dia melihat padaku seperti meny atakan

keheranan.

Tak mungkin yang demikian terjadi pada majikan Pribumi: dia harus menunduk, menunduk terus.

Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain.

“Tamuku Islam,” kata Annelies dalam Jawa pada pelayanny a. “Katakan di belakang sana, jangan

sampai tercampur babi.” Kemudian dengan cepatnya ia berpaling padaku dan bertanya,

“Mengapa kau masih juga diam saja ?”


“Mengagumi rumah ini,” kataku, “serba indah.”

“Betul-betul senang kau di sini ?”

“Tentu, tentu saja.”

“Kau tadi pucat. Mengapa ?”

Keramahannya cukup mempesonakan dan memberanikan.

“Karena tak pernah menyangka akan bisa berhadapan dengan seorang dewi secantik ini.”

Ia terdiam dan menatap aku dengan mata-kejorany a. Aku menyesal telah mengucapkannya.

Ragu dan pelahan ia bertany a: “Siapa kau maksudkan dewi itu ?”

“Kau,” desauku, juga ragu.

Ia meneleng. Airmukanya berubah. Matanya membeliak.

“Aku ? Kau katakan aku cantik ?”

Aku menjadi berani lagi, menegaskan:

“Tanpa tandingan.”

“Mama!,, pekik Annelies dan menoleh ke pintu belakang.

Celaka! pekikku mengimbangi— dalam hati saja tentu.

Gadis itu pergi ke pintu belakang. Dia akan mengadu pada Nyai. Anak sinting! tak sebanding

dengan kecantikannya. Dan dia akan mengadu: aku telah berbuat kurangajar. Memang rumah

celaka ini! Tidak, tidak, bukan kecelakaan. Kalau terjadi sesuatu, itu hanya akibat perbuatan

sendiri.

Nyai muncul di pintu. Annelies menggandengnya. Berdua mereka berjalan ke arahku.


Jantungku kembali berdebaran kencang. Barangkali aku memang telah bersalah. Hukumlah si-

lancang-mulut ini, asal jangan permalukan aku di hadapan Robert Suurhof.


“Ada apa lagi, Ann ? Apa dia mengajak bertengkar, Nyo ?”

“Tidak, tidak bertengkar,” sambar gadis itu, kemudian menghadu dengan manjanya, “Mama,”

tangannya menunjuk padaku. “Coba, Mama, masa Minke bilang aku cantik ?”

Nyai menatap aku. Kepalanya agak meneleng. Kemudian memandangi anakny a.


Berkata ia dengan suara rendah sambil

meletakkan dua belah tangan pada bahu Annelies: “Kan aku sudah sering bilang, kau memang

cantik ? Dan cantik luarbiasa ?

Kau memang cantik, Ann. Sinyo tidak keliru.”

“Oh, Mama!” Annelies berseru sambil mencubit ibunya. Wajahnya kemerahan dan matanya

memandangi aku, berkilau berkinar-binar.

Dan terbebaslah aku dari kekuatiran.

Sekarang Nyai duduk di kursi sampingku. Berkata cepat: “Karena itu aku senang kau datang, Nyo.

Kan nama Sinyo Minke ? Dia tak pernah bergaul wajar seperti anak-anak Indo lain. Dia tidak

menjadi Indo, Nyo.”.

“Aku bukan Indo,” bantah si gadis.” Tak mau jadi Indo. Aku mau hanya seperti Mama.”

Aku semakin heran. Apa yang hidup dalam keluarga ini ?

“Nah, Nyo, kau dengar sendiri: dia lebih suka jadi Pribumi. Mengapa Sinyo diam saja ?

Tersinggung barangkali kusebut hany a dengan kau dan Sinyo ? Tanpa gelar ?”

“Tidak, Mama, tidak,” jawabku gopoh.

“Kau kelihatan bingung.”

Siapa pula tidak bingung dalam keadaan seperti ini ? Bahkan dia sendiri.

Ny ai Ontosoroh, menampilkan diri di hadapanku seakan seorang y ang sudah kenal begitu lama

dan baik tapi aku terlupa siapa — seorang wanita yang seakan pemah melahirkan aku dan lebih

dekat padaku daripada Bunda, sekali pun nampak lebih muda.

Aku tunggu-tunggu .meledakny a kemarahan Ny ai karena puji-pujian itu.

Tapi ia tidak marah. Terdengar peringatan pada kuping batinku: awas, jangan samakan dia dengan

Bunda. Dia hany a seorang nyai-nyai, tidak mengenal perkawinan syah, melahirkan anak-anak

tidak syah, sejenis manusia dengan kadar kesusilaan rendah, menjual kehormatan untuk kehidupan

senang dan mewah.... Dan tak dapat aku katakan dia bodoh. Basa Belandanya cukup fasih, baik

dan beradab, sikapnya pada anaknya halus, dan bijaksana, dan terbuka, tidak seperti ibu-ibu

Pribumi, tingkah-lakunya tak beda dengan wanita Eropa terpelajar. Ia seperti seorang guru dari

aliran baru yang bijaksana itu. Beberapa orang guruku yang keranjingan kata modern sering

mengedepankan contoh tentang manusia baru di jaman modern ini. Mungkinkah Nyai mereka

masukkan ke dalam daftarnya ?

“Itulah Ann,” ia menambahi, “kau, tidak puny a pergaulan, mauny a di dekat Mama saja, sudah


besar, tapi tetap seperti bocah cilik.” Secepat kilat kata-katanya kemudian ditujukan

padaku, “Nyo, kau biasa memuji-muji gadis ?”

Pertanyaan itu meny ambar sebagai kilat. Melihat gelagat yang baik itu aku pun didorong untuk

menangkis secara kilat dan baik-baik pula: “Kalau gadis itu memang cantik, kan tiada buruk

memuji-nya ?” ‘ “

“Gadis Eropa atau Pribumi ?”

“Bagaimana gadis Pribumi bisa dipuji ? Didekati saja pun sulit. Mama.

Tentu saja gadis Eropa.”

“Berani Sinyo lakukan itu ?”

“Kami diajar untuk secara jujur meny atakan perasaan hati kami.”

“Jadi kau berani memuji-muji kecantikan gadis Eropa di hadapan orangnya sendiri ?”

“Ya. Mama. guru kami mengajarkan adab Eropa.”

“Kalau dia kau puji. apa jawabanny a ? Makian ?”

“Tidak. Mama. Tak ada orang yang tidak suka pada pujian, kata guruku.

Kalau orang merasa terhina karena dipuji, katanya pula, tandanya orang itu berhati culas.”

“Lantas bagimana jawab gadis Eropa itu ?”

“Jawabnya. Mama: te-ri-ma-ka-sih.”

“Jadi seperti dalam buku-buku itu ?”

Dia membaca buku-buku Eropa, Ny ai yang seorang ini!.

“Benar. Mama. seperti dalam buku-buku cerita.”

“Nah. Ann. jawablah: te-ri-ma-ka-sih.”

Seperti pada gadis Pribumi Annelies merah tersipu, ia tetap membisu.

“Kalau gadis Indo bagaimana ?” tanya Nyai.

“Kalau mendapat didikan Eropa y ang baik sama saja. Mama.”

“Kalau tidak


“Kalau tidak, apalagi sedang jengkel, kadang memaki.”

“Sering Sinyo kena maki ?”

Aku tahu sekarang, mukaku yang merah. Ia tersenyum, berpaling pada anakny a: “Kau dengar

sendiri itu, Ann. Ayoh. katakan terimakasih-mu. Hmm. nanti dulu. Begini, Nyo, coba ulangi lagi

puji-pujianmu, biar aku ikut dengar.”

Sekarang aku jadi malu terpental-pental. Manusia apa y ang aku hadapi ini ? Terasa benar ia

pandai menawan dan menggenggam aku dalam tangannya.

“Tidak boleh dengar V tany anya kemudian melihat pada wajahku. “Baiklah.”

Ia pergi menyingkir. Aku dan Annelies mengawasinya sampai ia hilang di balik pintu. Dan

berpandang-pandangan kami seperti dua orang bocah y ang sama-sama kaget. Aku meledak

dalam tawa lepas. Ia menggigit bibir dan melengos.

Keluarga macam apa ini ? Robert Mellema dengan lirikan nya yang seram menusuk. Annelies

Mellema yang kekanak-kanakan. Nyai Ontosoroh yang pandai menawan dan menggeng gam hati

orang, sehingga aku pun kehilangan pertimbangan bahwa ia hanyalah seorang gundik. Bagaimana

pula Tuan Her man Mellema, pemilik seluruh kekayaan melimpah ini ?

“Mana ay ahmu ?” tany aku menyingkiri percakapan sambungan sebelumny a.

Annelies mengerutkan kening. Kecerahannya hilang: “Tak perlu kau ketahui. Untuk apa ? Sedang

aku sendiri tak ada keinginan untuk tahu. Mama pun tidak ingin tahu.”

“Mengapa” tanyaku.

“Suka kau mendengarkan musik ?”

“Tidak sekarang.”

Dan begitulah percakapan berlarut sampai makan siang dihidangkan. Robert Mellema, Robert

Suurhof, Annelies dan aku duduk mengepung meja. Seorang pelay an muda, wanita, berdiri di

dekat pintu, menunggu perintah. Suurhof duduk di samping temanny a dan antara sebentar

mencuri pandang padaku dan pada Annelies. Mama duduk pada kepala meja.

Hidangan itu berlebih-lebihan. Yang pokok adalah sapi muda, makanan y ang baru untuk pertama

kali kucicip dalam hidupku.

Annelies duduk di sampingku dan melayani aku dalam segala hal, seakan aku seorang tuan Eropa

atau seorang Indo yang sangat terhormat.

Nyai makan tenang-tenang seperti wanita Eropa tulen lulusan boarding school Inggris.


Kuperhatikan sungguh-sungguh letak sendok dan garpu, penggunaan sendok sup dan pisau-pisau,

garpu daging, juga service untuk enam orang itu.

Semua tiada celanya. Pisau baja putih itu pun nampak tak terasah pada batu, tapi pada asahan

roda baja, sehingga tak barut-barut. Bahkan juga letak serbet dan kobokan, serta letak gelas dalam

lapisan pembungkus perak tidak* ada cacadny a.

Robert Suurhof makan dengan lahap seakan belum makan dalam tiga hari belakangan ini. Aku

ragu sekali pun lapar. Annelies hampir-hampir tak makan, hanya karena memperhatikan dan

melay ani aku yang seorang diri.

Waktu Ny ai berhenti makan aku pun berhenti, apalagi Annelies. Robert Suurhof meneruskan

makanny a dan nampak tak begitu mengindahkan Nyai. Dan sampai sebegitu jauh belum juga aku

dengar wanita itu bicara pada anak-lelakinya.

“Minke,” panggil Ny ai, “benarkah orang sudah mulai bisa bikin es ? Es y ang benar-benar dingin

seperti dalam buku-buku itu ? seperti yang membeku di musimsalju di Eropa ?”

“Betul, Mama, setidak-tidaknya menurut suratkabar.”

Suurhof menelan sambil mendelik padaku.

“Aku hanya mau tahu apa berita koran itu benar.”

“Nampaknya semua akan bisa dibikin oleh manusia. Mama,” jawabku, tapi dalam hati aku heran

ada orang bisa meragukan berita koran.

“Semua ? Tidak mungkin,” bantahnya.

Percakapan berhenti seperti di-rem. Robert Mellema mengajak temannya pergi. Mereka berdiri

dan pergi tanpa memberi hormat pada wanita Pribumi itu.

“Maafkan temanku itu, Mama.”

Ia tersenyum, mengangguk padaku, berdiri kemudian juga pergi. Pelayan membereskan meja.

“Mama meneruskan pekerjaannya di kantor,” Annelies menerangkan, “sehabis makan siang

begini aku pun harus bekerja di belakang.”

“Apa kau kerjakan ?”

“Mari ikut.”

“Bagaimana temanku nanti ?”

“Tak perlu kaurisaukan. Abangku pasti akan mengajaknya pergi. Sehabis makansiang biasa ia


pergi berburu burung atau tupai dengan senapan-angin.”

“Mengapa mesti sehabis makan siang ?”

“Burung-burung dan tupai juga sudah keny ang dan mengantuk, tidak gesit.

Ay oh, mari ikut, setidak-tidakny a kalau kau tak ada keberatan.”

Seperti seorang bocah membuntuti ibunya aku beijalan di belakangnya. Dan sekiranya .ia tak

cantik dan menarik, mana mungkin y ang demikian bisa terjadi ? Ai, philogynik!

Melalui pintu belakang kami memasuki ruangan berisikan tong-tong kayu bergelang-gelang besi.

Pada sebuah ysfng terbesar terdapat pesawat pengaduk di atasnya. Bau susu sapi memenuhi

ruangan. Orang bekerja tanpa mengeluarkan suara, seperti bisu. Antara sebentar mereka

menyeka badan dengan sepotong kain. Masing-masing mengenakan kain pengikat rambut

berwarna putih. Semua pun berbaju putih dengan lengan tergulung sepuluh sentimeter di bawah

sikut Tidak semua lelaki. Sebagian perempuan. Nampak dari kain batik di bawah baju putihnya.

Perempuan bekerja pada perusahaan! Mengenakan baju blacu pula: Perempuan kampung

berbaju! Dan tidak didapur rumahtangga sendiri Apakah mereka berkemben juga di balik baju

blacunya itu?-

Aka perhatikan mereka seorang demi seorang Mereka hanya sekilas memperhatikan aku.

Annelies mendekati mereka seorang demi seorang, dan mereka memberikan tabik, tanpa bicara,

hanya dengan isy arat. Itulah untuk pertama kali kuketahui, gadis cantik kekanak-kanakaa ini

ternyata seorang pengawas yang harus diindahkan oleh para pekerja! lelaki dan perempuan.

Aku sendiri masih termangu melihat perempuan meninggali kan dapur rumahtangga sendiri,

berbaju-kerja. mencari penghi- : dupan pada perusahaan orang, bercampur dengan pria! Apa ini

juga tanda jaman modern di Hindia ?.

“Kau heran melihat perempuan bekerja ?”

Aku mengangguk. Ia menatap aku seakan hendak membaca keherananku.

“Bagus kan ? semua berbaju putih ? Semua ? Itu hanya mengikuti kebiasaan di Nederland sana.

Hany a di sini cukup dengan blacu, bukan lena. Aturan pemerintah kota di sana.”

Ia tarik tanganku dan diajaknya keluar ke sebuah lapangan terbuka, tempat penjemuran hasilbumi.

Beberapa orang bekerja membalik kedelai, jagung pipilan, kacang hijau dan kacang tanah. Begitu

kami datang, semua berhenti bekerja dan memberi tabik dengan anggukan dan tangan sebelah

dinaikan ke atas. Semua bercaping bambu.

Annelies bertepuk-tepuk dan memperlihatkan dua jari pada siapa aku tak tahu. Sebentar kemudian

datang seorang bocah pekerja membawakan dua buah topi bambu. Sebuah ia kenakan pada


kepalaku, sebuah dikenakannya sendiri. Dan kami berjalan terus beberapa ratus meter ke belakang

melalui jalanan yang dilapisi krikil kali.

“Sekarang sedang ada pesta besar,” kataku. “Mengapa mereka tak diberi libur ?”

“Mereka boleh berlibur kalau suka. Mama dan aku tak pernah berlibur.

Mereka pekerja harian.”

Di jalanan depan kami, agak jauh, nampak dua orang Robert, masing-masing menyandang bedil

pada bahu.

“Apa pekerjaanmu sesungguhnya ?”

“Semua, kecuali pekerjaan kantor. Mama sendiri yang lakukan itu”

Jadi Nyai Ontosoroh melakukan pekerjaan kantor. Pekerjaan kantor macam apa yang dia bisa ?

“Semua ma” tanyaku mencoba-coba.

“Semua, Buku. dagang, surat-menyurat, bank... “

Aku berhenti melangkah. Annelies juga Aku tatap dia dengan pandang tak percaya. Ia tarik

tanganku dan kami berjalan lagi sampai pada deretan kandang sapi. Dari kejauhan bau

kotorannya telah tercium olehku. Hanya karena seorang gadis cantik membawaku aku tak lari

menghindar, malah ikut masuk ke dalam kandang. Baru sekali im seumur hidup. Sungguh.

Deretan kandang itu sangat panjang. Di dalamnya orang-orang sedang sibuk mengurus umpan

dan minum sapi perahan. Bau kotoran dan rumput layu menyesakkan nafas. Aku tak tahan

rangsangan untuk muntah.

“Sering dokter hewan datang kemari ?”, aku bertanya.

“Kalau dipanggil. Setahun yang lalu hampir saban hari. Tuan Domschoor itu. Mama tetap tak

mau katakan ramuan y ang dibikin oleh perempuan penjual jamu. obat pelawan mastitis.”

“Apa mastitis itu ?**

Ia tak menjawab. Dengan menjinjing tepi gaun-satinnya Annelies menghampiri beberapa ekor

sapi dan menepuk-nepuk pada jidat di antara dua tanduk, bicara berbisik pada mereka, bahkan

juga tertawa-tawa. Aku perhatikan dia dari suatu jarak. Ia begitu lincah, memasuki kandang dan

beramahan dengan sapi, bergaun satin seperti itu!

Juga di sini terdapat pekerja-pekerja wanita. Hanya tidak berbaju kerja.

Orang-orang memberikan tabik dengan membungkuk dan mengangkat tangan pada kami berdua.


Dan aku sendiri mundur-mundur mendekati pintu, mendekati udara segar.

Ia menengok ke belakang padaku dan dengan isyarat menyuruh aku mendekat.

Aku pura-pura tak mengerti. Sebalikny a aku mulai memperhatikan para pekerja y ang nampak

terheran-heran melihat kehadiranku. Mereka menyapu, meny iram lantai kandang, menggosok

dengan sapu yang sangat panjang tangkainya. Semua wanita.

Annelies berjalan sepanjang para-para, dan aku berjalan sejajar denganny a. Ia berhenti. Kulihat

ia bicara dengan seorang pekerja. Dara itu antara sebentar menggeleng sambil mencari aku

dengan matanya.

Mungkin mereka berdua sedang membicarakan diriku yang seorang ini.

Seorang gadis pekerja berjalan miring-miring di depanku membawa dua ember kosong dari seng.

Wajahnya manis dan menarik. Sebagai yang lain-lain ia berkemban dan berkain, telanjang kaki,

basah, kotor, dengan jari-jari kaki menerompet keluar. Buah dadanya padat dan menyolok dan

dengan sendirinya menarik perhatian. Ia menunduk, melirik padaku dari bawah kening dan

tersenyum mengundang.

“Tabik, Sinyo!” tegurnya bebas, lunak dan memikat.

Tak pernah aku temui wanita Pribumi sebebas itu, memberi tabik pada seorang pria y ang belum

pernah dikenalnya. Ia berhenti di hadapanku, bertany a dalam Melayu:

“Kontrol, Ny o”

“Ya,” kataku.

“Yu, Yii Mine m,” tiba-tiba Annelies sudah ada di belakangku. “Sudah berapa ember perahanmu

sehari ?” sekarang ini menggunakan Jawa.

“Tetap saja, Non,” jawab Minem dalam Jawa kromo.

“Mana bisa jadi mandor-perah kalau begitu ?”

“Kalau Non sudi kan bisa saja ?”

“Kalau hasil perahanmu tidak lebih banyak dari yang lain-lain kau takkan bisa memberi contoh

kerja y ang baik. Tak mungkin bisa jadi mandor, Yu.”

“Tapi kami tak punya mandor,” bantah Minem.

“Kain aku mandor kalian ?”

Annelies menarik tanganku dan kami berjalan terus sepanjang kepala-kepala sapi.


“Kau memandori mereka ?” tanyaku.

“Perahanku sendiri tetap lebih banyak,” jawabnya. “Nampaknya kau tak suka pada sapi. Mari ke

kandang kuda kalau kau suka, atau ke ladang.”

Tak pernah aku pergi ke ladang. Apa y ang menarik pada ladang ? Namun aku ikuti juga dia.

“Atau kau lebih suka naik kuda ?”

“Naik kuda ?” seruku. “Kau naik kuda ?”

Gadu kekanak-kanakan y ang belum pernah menamatkan sekolah dasar ini tiba-tiba muncul di

hadapanku sebagai gadis luarbiasa: bukan hany a dapat mengatur pekerjaan begitu bany ak, juga

seorang penunggang kuda, dapat memerah banyak dari pada semua pemerah.

“Tentu. Bagaimana bisa mengawasi panen seluas itu kalau tidak berkuda ?”

Kami memasuki ladang yang habis dipanen. Kacangtanah. Dimana-mana tampak panenan

tergelar di atas tanah dan tumpukan-tumpukan rendeng yang telah siap diangkut untuk makanan

ternak.

Nampaknya ia dapat membaca pikiranku: peduli apa dua atau lima ton setiap hektar ? Terdengar

suaranya:

“Kau tak punya perhatian pada ladang. Mari berpacu kuda. Setuju ?”

Sebelum aku menjawab ia telah tarik tanganku. Diseretnya aku sambil lari. Kudengar nafasnya

sampai terengah-engah. Dibawany a aku masuk ke sebuah bangsal lebar dan besar, y ang ternyata

kandang kereta, andong, grobak, bendi. Pada dinding-dinding bergelantungan abah-abah dengan

sanggurdi aneka macam. Sebagian besar ruangan kosong.

Melihat aku terheran-heran menyaksikan kandang kereta seluas gedung kebupatian ia tertawa,

kemudian menuding pada sebuah bendi y ang dihiasi dengan serba kuningan mengkilat dan

berlampu karbid.

“Pernah melihat bendi sebagus itu ?”

Tak pernah aku memperhatikan kebagusan pada bendi. Kepunyaan siapa pun.

Sekarang, karena tunjukannya, tiba-tiba aku melihat kebagusannya.

Mungkin karena saranny a, mungkin juga karena memang bagus.

“Belum, belum pernah,” jawabku sambil mendekati kendaraan itu.

Annelies menarik aku lagi. Kami memasuki kandang kuda yang lebar dan panjang. Hanya ada


tiga ekor di dalamnya. Sekarang bau kuda yang memadati ruangan itu menubruk penciumanku. Ia

hampiri seekor yang berwarna kelabu. Dirangkulny a leher binatang itu dan membisikkan sesuatu

pada kupingnya.

Binatang itu meringkik lemah seperti tertawa menanggapi. Kemudian ia meringis

memperlihatkan giginya yang perkasa waktu moncongny a ditepuk.

Annelies tertawa riang. Suarany a berderai.

“Tidak ,Bawuk,” katany a dalam Belanda pada si peringkik. “Sore ini kita takkan berjalan-jalan.”

Kemudian dengan suara mengesankan setelah berbisik sambil memeluk leher Bawuk ia melirik

padaku, “Sedang ada tamu.

Itu orangnya. Minke namanya.

Nama samar an, kan ? Tentu saja. Dia Islam, Bawuk, Islam. Tapi namanya’

bukan Jawa, juga bukan Islam, juga bukan Kristen kiraku. Nama samaran .

Kau percay a namanya Minke ?”

Gadis itu membelai bulu suri Bawuk, dan kembali binatang itu meringkik menanggapi.

“Nah.” katanya, sekarang padaku, dia bilang namamu memang samaran.” . ‘

Mereka nampaknya memang sedang membikin persekongkolan. Aku sasaran. Dan dua ekor yang

lain ikut meringkik memandangi aku dengan mata besar tak berkedip. Mendakwa.

“Mari keluar dari sini,” kataku mengajak.


“Sebentar,” jawabnya. Ia datangi dua ekor yang lain, membelai punggung mereka masing-

masing, baru kemudian berkata padaku lagi, “Ayoh.”


“Kau berbau kuda,” tuduhku.

Ia hanya tertawa.

“Nampaknya kau tak merasa terganggu.”

“Tidak apa,” jawabnya ketus, “sudah terbiasa sejak dia masih kecil. Mama akan marah kalau aku

tak meny ay anginya. Kau harus berterimakasih pada segala yang memberimu kehidupan, kata

Mama, sekali pun dia hanya seekor kuda.” Tak kuteruskan gangguanku tentang bau kuda itu.

“Mengapa kau tak percay a namaku Minke ?”

Matanya bersinar tak percay a, menuduh, mendakwa, menuding. Dan aku terpaksa membela


diri.....

Memang bukan mauku atau dinamai Minke. Aku sendiri tak kurang-kurang heran. Ceritanya

memang agak berbelit, dimulai kala aku memasuki E.L.S.

tanpa mengetahui Belanda sepatah pun. Meneer Ben Rooseboom, guruku yang pertama-tama,

sangat jengkel padaku. Tak pernah aku dapat menjawab pertanyannya kecuali dengan tangis dan

lolong. Namun setiap hari seorang opas mengantarkan aku ke sekolah terbenci itu juga.

Dua tahun aku harus tinggal di kias satu. Meneer Rooseboom tetap jengkel padaku dan padanya

aku takut bukan buatan. Pada tahun pengajaran baru aku sudah agak bisa menangkap Belanda.

Teman-temanku sudah pada pindah ke kias dua. Aku tetap di kias satu, ditempatkan di antara dua

orang gadis Belanda, yang selalu usil mengganggu. Gadis Vera di sampingku mencubit pahaku

sekuat dia dapat sebagai tanda perkenalan. Aku ? Aku menjerit kesakitan.

Meneer Rooseboom melotot menakutkan, membentak: “Diam kau, monk...Minke!”

Sejak itu seluruh kias, y ang baru mengenal aku, memanggil aku Minke, satu-satunya Pribumi.

Kemudian juga guru-guruku. Juga teman-teman semua kias. Juga yang di luar sekolah.

Pernah aku tanyakan pada kakakku apa arti nama itu. Ia tak tahu. Bahkan ia menyuruh uku

bertany a pada Meneer Rooseboom sendiri. Jelas aku tak berani. Kakekku bukan hanya tak tahu

Belanda, menulis dan membaca tulisan Latin pun tak bisa. Ia hanya tahu Jawa, tulisan dan lisan,

la malah setuju menerima julukan itu sebagai nama tetap: kehormatan dari seorang guru yang

baik dan bijaksana. Maka hampir lenyaplah na-ma-asliku.

Sampai tamat E.L.S. aku masih tetap percaya nama itu mengandung sesuatu yang tidak

menyenangkan. Waktu menyebutkanny a untuk pertama kali mata guruku itu melotot seperti mata

sapi. Alisny a terangkat seperti sedang mengambil ancang-ancang hendak melompat dari


mukanya yang lebar. Dan penggaris di tangannya jatuh diatas meja. Sama sekali tak ada kasih-

sayang. Kebaikan dan kebijaksanaan ? Jauh.


Dalam kamus Belanda tak aku dapatkan kata itu.

Kemudian masuklah aku ke H.B.S, Surabaya. Juga guru-guruku tak tahu arti dan ethymologinya.

Mereka pun merasa tak punya dasar untuk mengira-ngira dengan perasaanny a. Malah mereka

kembali bertanya kepadaku. Salah seorang di antara mereka yang tidak bisa menjawab malah

memberi komentar: apalah arti nama, begitu kata pujangga Inggris itu____(

Disebutnya sesuatu nama, dan untuk waktu lama aku tak dapat mengingatnya ).

Kemudian mulailah kami mendapat pelajaran Inggris. Enam bulan lamanya, dan aku temukan

kesamaan bunyi dan huruf pada namaku. Aku mulai kenangkan kembali: mata melotot dan alis

yang hendak copot dari muka y ang lebar itu pasti menyatakan sesuatu yang buruk. Dan aku

teringat pada Meneer Rooseboom yang agak ragu meny ebutkan nama itu. Dengan kecut pikiranku


menduga, dulu ia mungkin bermaksud memaki aku dengan kata monkey.

Dan tak pernah dugaanku y ang kira-kira tepat itu aku ceritakan pada orang lain. Salah-salah aku

bisa jadi bahan lelucon seumur hidup — tak dibayar pula. Juga pada Annelies bagian ini tak

pernah kuceritakan padanya.

“Nama Minke juga bagus,” kata Annelies. “Mari pergi ke kampung-kampung.

Di atas tanah kami ada empat buah kampung. Semua kepala keluarga penduduk bekerja pada

kami.”

Di sepanjang jalan orang-orang kampung menghormati kami. Mereka memanggil gadis itu Non

atau Noni.

“Jadi berapa hektar saja tanahmu ini ?” tanyaku tak acuh.

“Seratus delapan puluh.”

Seratus delapan puluh! Tak dapat aku bayangkan sampai seberapa luas. Dan ia meneruskan:

“Sawah dan ladang. Hutan dan semak-semak belum termasuk.**

Hutan! Dia puny a hutan. Gila. Punya hutan! Untuk apa ?

“Hanya untuk sumber kayu bakar,” ia menambahkan.

“Rawa juga punya, barangkali ?**

“Ya. Ada dua rawa kecil.”

Rawa pun dia punya.

“Bukit bagaimana ?” tanyaku. “Bukit ?”

“Kau mengejek,” ia cubit aku.

“Barangkali untuk diambil apinya kalau meletus.”

“liiih!” ia mencubit lagi.

“Apa y ang menggerombol di sana itu ?” tanyaku menyeleweng.

“Hanya rumpunan glagah. Kau tak pernah melihat-gJagah ?”

“Mari ke sana,” aku mengajak. %

“Tidak,” jawabnya tegas dan bahunya diangkat. Kepalanya nampak bergidik.


“Kau takut pada tempat itu,” aku menuduh. Ia gandeng tanganku dan kurasai tangan itu dingin.

Matanya tiba-tiba saja jadi gugup dan berusaha secepat mungkin melepaskan diri dari rumpunan

glagah itu.

Bibirnya pucat. Aku menoleh ke belakang, la tarik tanganku, berbisik gugup: “Jangan perhatikan.

Ayoh. jalan cepat sedikit.” Kami memasuki sebuah kampung, meninggalkannya dan memasuki

yang lain. Di mana saja sama: bocah-bocah kecil telanjang bulat bermain-main. sebagian besar


dengan ingus tergantung pada hidung. Ada juga di antaranya yang suka menjilati. Di tempat-

tempat teduh wanita-wanita bunting tua sedang menjahit sambil menggendong anak terkecil atau


dua-tiga wanita duduk berbaris mencari kutu kepala.

Beberapa orang perempuan menahan Annelies dan mengajaknya bicara, minta perhatian dan

bantuan. Dan gadis luarbiasa ini seperti seorang ibu melayani mereka dengan ramah. Jangankan

pada sesama manusia, pada kuda pun ia berkasih-say ang selama mereka semua .memberinya

kehidupan. Ia nampak begitu agung di antara penduduk kampung, rakyatnya. Mungkin lebih agung

daripada, dara yang pernah kuimpikan selama ini dan kini telah marak ke atas tahta, memerintah

Hindia, Suriname, Antillen dan Nederland sendiri. Kulitny a pun mungkin lebih halus dan lebih

cemerlang. Lebih bisa didekati.

Begitu terbebas dari rakyatny a kami berjalan lagi. Di sekitar kami alam luas terbentang dan langit

cerah tiada awan. Panas sengangar. Pada waktu itulah kubisikkan padany a kata-kata ini: “Pernah

kau lihat gambar Sri Ratu ?**

“Tentu saja. Cantik bukan alang kepalang.”

“Ya. Kau tak salah.”

“Mengapa ?”

“Kau lebih daripadanya.”

Ia berhenti berjalan, hanya untuk menatap aku, dan: “Te-ri-ma-ka-sih, Minke,” jawabnya tersipu.

Jalan itu semakin panas dan semakin suny i. Aku lompati selokah hanya untuk mengetahui ia akan

ikut melompat atau tidak. Ia angkat gaun-panjangnya tinggi-tinggi dan melompat. Aku tangkap

tanganny a, aku dekap dan kucium pada pipinya. Ia nampak terkejut, membeliak mengawasi aku.

“Kau!” tegurny a. Mukanya pucat.

Dan aku cium dia sekali lagi. Kali ini terasa olehku kulitnya halus seperti beledu.

“Gadis tercantik y ang pernah aku temui,” bisikku sejujur hatiku. “Aku suka padamu, Ann.”

Ia tak menjawab, juga tak menyatakan terimakasih. Hany a dengan isyarat ia mengajak pulang.

Dan ia berjalan mpmbisu dan tetap membisu, sampai kami tiba di belakang komplex perumahan.


Firasat pun datang padaku: kau akan mendapat kesulitan karena perbuatanmu yang belakangan ini,

Minke.

Kalau dia mengadu pada Darsam boleh jadi aku akan dipukulny a tanpa kau bisa menggonggong.

Ia berjalan menunduk. Baru pada waktu itu aku mengetahui sandalnya tertinggal sebelah di

seberang selokan. Dan aku pura-pura tidak tahu.

Kemudian aku merasa malu pada diri sendiri karena pura-pura tidak tahu itu. Memperingatkan:

“Sandalmu tertinggal, Ann.”

Ia tidak peduli. Tidak menjawab. Tidak menoleh. Ia berjalan lebih cepat.

Aku bercepat menghampirinya:

“KaU marah, Ann ? Marah padaku ?”

Ia tetap membisu.

Dari kejauhan nampak istana kayu itu tinggi di atas atap yang lain. Pada sebuah jendela loteng

nampak Ny ai sedang mengawasi kami. Annelies yang berjalan menunduk tidak tahu. Mata pada

jendela itu tetap mengikuti kami sampai atap-atap gudang menutup pemandangan.

Kami memasuki rumah dan duduk lagi di sitje ruangdepan.

Annelies dinaik diam-diam, membiarkan beku semua pertanyaanku. Mendadak ia merentak

bangun. Tanpa bicara pergi masuk ke dalam rumah. Aku semakin gelisah di tempat-dudukku. Dia

pasti akan mengadu. Dan aku akan menerima hukuman setimpal! Tidak, aku takkan lari.

Tak lama kemudian ia muncul kembali membawa sebuah bungkusan besar kertas. Diletakkanny a

benda itu di atas meja. Dengan nada dingin ia berkata: “Sudah sore, beristirahatlah. Pintu itu,” ia

menunjuk ke belakang pada sebuah pintu, “kamarmu. Di dalam bungkusan ini ada sandal, anduk,

piyama. Kau mandi di sini. Aku masih ada pekerjaan.”

Sebelum pergi ia menghampiri pintu yang ditunjuknya tadi, membukanya dan menyilakan aku

masuk.

“Kau sudah tahu di mana kamarmandi,” tambahnya. Dan dengan lembutnya ia sorong aku

masuk ke dalam, ditutupny a pintu dari luar dan tertinggallah aku seorang diri di dalamnya.

Ketegangan kecil dan besar ini membikin aku sangat lelah. Duga-sangka tentang segala y ang

mungkin terjadi karena ke-lancanganku mengganggu ketenteraman hatiku. Biar begitu aku tak

dapat menyalahkan diriku.

Bagaimana dapat salahkan ? Apa pemuda lain takkan sama tingkahnya denganku di dekat dara


cantik luarbiasa ? Kan guru biologi itu...... Ih.

persetan dengan biologi.

Memasuki kamarmandi adalah menikmati kemewahan lain lagi.

Dinding-dinding dilapis dengan cermin 3 mm berdiri di atas landasan tegel tembikar creme. Baru

kali ini aku melihat kamarmandi begini luas, bersih, meny enangkan. Biar dalam komplex

kebupatian sekali pun takkan pernah orang dapatkan. Air y ang kebiruan di dalam bak berlapis

porselen itu memanggil-manggil untuk diselami. Dan barang ke mana mata diarahkan, diri sendiri

juga yang nampak: depan, belakang, samping, seluruhny a.

Air jernih, sejuk, kebiruan ini melenyapkan kegelisahan dan duga-sangka.

Dan kalau kelak aku sempat menjadi kay a, akan kubangun kemewahan seperti ini juga. Tidak

kurang dari ini.

Mama mempersilakan aku duduk di ruangbelakang. Ia sendiri duduk di sampingku dan mengajak

aku bicara tentang perusahaan dan perdagangan.

Terny ata pengetahuanku tentangny a tiada artinya. Ia mengenal banyak istilah Eropa y ang aku tak

tahu. Kadang ia malah menerangkan seperti seorang guru. Dan ia bisa menerangkan! Ny ai apa

pula di sampingku ini ?

“Sinyo punya perhatian pada perusahaan dan perdagangan,” katany a kemudian, seakan aku

sudah mengerti semua yang dikatakannya. “Tak biasa itu terjadi pada orang Jawa, apalagi putra

pembesar. Atau* barangkali Sinyo kelak hendak jadi pengusaha atau pedagang ?”

“Selama ini aku sudah mencoba-coba berusaha. Mama.”

“Sinyo ? Putra bupati ? mencoba-coba berusaha bagaimana ?”

“Mungkin juga karena bukan anak bupati itu,” bantahku.

“Apa Sinyo usahakan ?”

“Mebel dari kias teratas. Mama,” aku mulai berpropaganda, dari gay a dan model terakhir Eropa.

“Biasa aku tawarkan di kapal pada pendatang baru, juga di rumah-rumah orangtua teman-teman

sekolah.”

“Dan sekolah Sinyo ? tidak tercecer ?”

“Belum pernah. Mama.”

“Menarik. Bagiku siapa pun berusaha selalu menarik. Sinyo punya bengkel mebel sendiri ? Betapa

tukangnya ?”


“Tak ada. Hanya menawar-nawarkan dengan membawa gambar.”

“Jadi kedatanganmu ini juga hendak berdagang ? Coba lihat gambar-gambarmu.”

“Tidak. Datang kemari aku tak membawa sesuatu. Hanya, kalau Mama memerlukan lain kali akan

kubawakan: lemari, misalny a, seperti dalam istana raja-raja Austria atau Prancis atau Inggris —

renaissance, baroc, roccoco, victoria......”

Ia dengarkan ceritaku dengan hati-hati. Dua kali kudengar ia berkecap-kecap, entah memuji entah

mengejek. Kemudian berkata pelan: “Berbahagialah dia yang makan dari keringatny a sendiri,

bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.”

Nadanya terdengar seperti keluar dari rongga dada seorang pendeta dalam cerita wayang.

Kemudian ia berseru:

“Bukan main!” ia melihat ke atas pada tangga loteng. “Ah!”

Dari tangga itu turun bidadari Annelies, berkain batik, berkebaya berenda. Sanggulnya agak

ketinggian sehingga menampakkan leherny a yang jenjang putih. Leher, lengan, kuping dan

dadanya dihiasi dengan perhiasan kombinasi hijau-putih zamrud-mutiara dan berlian.

(Sebetulnya aku tak tahu betul mana intan mana berlian, asli atau tiruan).

Aku terpesona. Pasti dia lebih cantik dan menarik daripada bidadarinya Jaka Tarub dalam

dongengan Babad Tanah Jawi. Nampak ia tersenyum malu.

Perhiasan yang dikenakanny a agak atau memang berlebihan, terlalu mewah.

Dan aku merasa dia berhias untuk diriku seorang.

Dan untuk paras dan resam seindah itu rasanya tak diperlukan sesuatu perhiasan. Bahkan

telanjang bulat pun masih akan tetap indah. Keindahan karunia para dewa itu masih tetap lebih

unggul daripada rekaan orang.

Dengan segala perhiasan dari laut dan bumi ia kelihatan jadi orang asing. Sedang pakaian y ang

tiada biasa dikenakannya itu membikin gerak-geriknya menjadi seperti boneka kay u.

Keluwesanny a hilang. Segala yang ada padany a diliputi keseakanan. Tapi tak apalah, yang indah

akan tetap indah. Hanya aku yang harus pandai meny ingkirkan keberlebihannya.

“Dia bersolek untukmu, Nyo!” bisik Nyai.

Perempuan hebat, nyai yang seorang ini, pikirku.

Annelies berjailan menghampiri kami sambil masih tersenyum dan mungkin telah menyediakan

te-ri-ma-ka-sih dalam hatinya. Belum lagi aku tempat memuji. Nyai telah mendahului:

“Dari siapa kau belajar bersolek dan berdandan seperti itu r “Ah, Mama ini!** serunya sambil


memukul pundak ibunya dan melirik padaku dengan mata besar. Wajahny a kemerahan.

Aku juga tersipu mendengar percakapan ibu dan anak y ang terlalu intim untuk didengar oleh

orang lain itu. Namun di dekat Mama ini aku merasa berhak untuk berhati tabah. Dan memang

aku harus meninggalkan kesan sebagai seorang pria yang tabah, menarik, gagah, penakluk tak

terdamaikan dari sang dewi kecantikan. Di depan Sri Ratu pun rasa-rasanya aku harus bersikap

demikian pula. Itulah bulu-hias bagi ay am, tanduk bercabang bagi rusa, tanda kejantanannya.

Tak aku campuri urusan anak dan ibu itu.

“Lihat, Ann, Sinyo sudah mau berangkat pulang saja. Beruntung dapat dicegah. Kalau tidak, dia

akan merugi tidak melihat kau seperti ini!**

“Ah, Mama ini!*” sekali lagi Annelies bermanja dan memukul ibunya. Juga matany a melirik

padaku.

“Bagaimana, Nyo ? Mengapa kau diam saja ? Lupa kau pada adatmu ?”

“Terlalu cantik. Mama. Apa kata yang tepat untuk cantikny a cantik ? Ya, begitulah kau, Ann.”

“Ya,” tambah Nyai, pantas untuk jadi Ratu Hindia, bukan Nyo ?” dan berpaling padaku.

“Ah, Mama ini,” seru gadis itu untuk kesekian kali.

Hubungan anak-ibu ini terasa aneh olehku. Boleh jadi akibat perkawinan dan kelahiran tidak sy ah.

Barangkali memang begini suasana kekeluargaan nyai-nyai. Bahkan mungkin juga dalam

keluarga modern Eropa di Eropa dewasa ini dan pada Pribumi Hindia jauh di kemudian hari.

Atau barangkali juga memang tidak wajar, aneh, tidak jamak. Namun aku senang.

Dan beruntung puji-memuji itu akhirnya selesai tanpa arah.

Hari semakin gelap. Mama semakin bicara. Kami berdua hanya mendengarkan.

Bagiku bukan saja aku menjadi semakin yakin pada kepatutan dan kekayaan Belandanya, juga

terlalu banyak hal baru, yang tak pernah kuketahui dari guru-guruku, keluar dari bibirnya.

Mengagumkan. Walhasil aku tetap belum juga diperkenankan pulang.

“Dokar ?” katanya. “Di belakang banyak dokar, andong. Kalau Sinyo suka boleh juga pulang naik

grobak dorong.”

Seorang bujang lelaki mulai menyalakan lampu gas, yang aku tak tahu di mana pusatny a tangki.

Pelayan mulai menutup mejamakan.


Dua orang Robert disilakan masuk ke ruangbelakang. Maka makanmalam dimulai dengan diam-

diam.


Seorang pelayan lain masuk ke ruangdepan, menutup pintu. Lampu ruang belakang taram-

temaram tertutup kap kaca putih susu. Tak seorang membuka kata. Hanya mata berpendaran dari


piring ke basi, dari basi ke bakul.

Bunyi sendok, garpu dan pisau berdentingan menyentuh piring.

Ny ai mengangkat kepala. Memang ada terdengar pintu depan dibuka tanpa ketukan tanpa

pemberitahuan. Kuangkat pandang melihat pada Nyai. Matanya memancarkan kewaspadaan ke

arah ruangdepan.

Robert Mellema melirik ke arah yang sama. Matany a bersinar senang dan bibirnya

memancarkan senyum puas. Ingin juga aku menengok ke belakang, ke arah pandang mereka

tertuju. Kucegah keinginan itu, tidak sopan, tidak baik, bukan gentlemen. Maka kulirik Annelies.

Dalam tunduknya bola-matanya terangkat ke atas. Jelas kupingnya sedang ditajamkan. , Sengaja

aku berhenti meny uap dan mengarahkan pendengaran ke belakang.

Terdengar langkah sepatu beijalan menyeret pada lantai. Makin lama makin jelas. Makin dekat.

Ny ai berhenti makan. Robert Suurhof tak jadi meny uap, ia letakkan sendok-garpuny a di atas

piring. Yang terdengar olehku: lanekah itu semakin mendekat, mengalahkan buny i ketak-ketik

pendule.’

Robert Mellema meneruskan makannya seperti tiada terjadi sesuatu.

Akhirnya Annelies y ang duduk di sampingku menengok ke belakang juga. Ia menggeragap kaget.

Sendoknya jatuh terpelanting di lantai. Aku berusaha memungutnya. Pelay an datang berlarian

dan mengambilkan. Kemudian cepat-cepat menghindar, meninggalkan ruangan, entah kemana.

Gadis itu berdiri seperti hendak menghadapi si pendatang yang semakin mendekat.

Kuletakkan sendok dan garpu di atas piring, mengikuti contoh Annelies.

berdiri memunggungi meja makan.

Ny ai juga bersiaga.

Bayang-bay ang pendatang itu disemprotkan, oleh lampu ruangdepan, makin lama makin

panjang. Langkah sepatu y ang terseret semakin jelas. Kemudian muncul seorang lelaki Eropa,

tinggi, besar, gendut, terlalu gendut.

Pakaiannya kusut dan rambutnya kacau, entahlah memang putih entahlah uban.

la melihat ke arah kami. Berhenti sebentar.

“Ayahmu” bisikku pada Annelies.

“Ya.” hampir tak terdengar.


Tanpa merubah arah pandang Tuan Mellema berjalan meny eret sepatu langsung padaku. Padaku

seorang, la berhenti di hadapanku. Alisnya tebal, tidak begitu putih, dan wajahny a beku seperti

batu kapur. Sekilas pandangku jatuh pada sepatunya yang berdebu, tanpa tali. Kemudian teringat

olehku pada ajaran guruku: pandanglah mata orang yang mengajakmu bicara. Buru-buru aku

angkat lagi pandangku dan beruluk tabik: “Selamat petang. Tuan Mellema!.” dalam Belanda dan

dengan nada yang cukup sopan.

Ia menggeram seperti seekor kucing. Pakaiannya yang tiada bersetrika itu longgar pada

badannya. Rambutnya yang tak bersisir dan tipis itu menutup pelipis, kuping.

“Siapa kasih kowe ijin datang kemari, monyet!” dengusnya dalam Melayu-pasar, kaku dan kasar,

juga isinya.

Di belakangku terdengar deham Robert Mellema. Kemudian terdengar olehku Annelies menarik

nafas sedan. Robert Suurhof menggeserkan sepatu dan memberi tabik juga. Tapi raksasa di

hadapanku itu tidak menggubris.

Aku akui: badanku gemetar, walau hanya sedikit. Dalam keadaan seperti ini aku hanya dapat

menunggu kata-kata Ny ai.

Tak ada orang lain bisa diharapkan. Celakalah aku kalau dia diam saja.

Dan memang dia diam saja.

“Kowe kira, kalo sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda,

lantas jadi Eropa ? Tetap monyet!”

“Tutup mulut!” bentak Nyai dalam Belanda denga suara berat dan kukuh.

“Dia tamuku.”

Mata Tuan Mellema y ang tak bersinar itu berpindah pada gundiknya. Dan haruskah akan terjadi

sesuatu karena Pribumi seorang yang tak diundang ini ?

“Nyai!” sebut Tuan Mellema.

“Orang gila sama dengan pribumi gila,” sembur Ny ai tetap dalam Belanda.

Matanya menyala memancarkan kebencian dan kejijikan. “Tak ada hak apa-apa kau di rumah ini.

Kau tahu mana kamarmu sendiri!’” Nyai menunjuk ke suatu arah. Dan telunjuk itu runcing

seperti kuku kucing.

Tuan Mellema masih berdiri di hadapanku, ragu.

“Apa perlu kupanggilkan Darsam ?** ancam Nyai.


Lelaki tinggi-besar-gendut itu kacau, menggeram sebagai jawaban. Ia memutar badan, berjalan

meny eret kaki ke pintu di samping kamar yang tadi kutinggali. hilang ke dalamny a.

“Rob.~ panggil Robert Mellema pada tamunya. “Mari keluar. Terlalu panas di sini.”

Mereka berdua keluar tanpa memberi hormat pada Nyai.

“Bedebah!” kutuk Nyai.

Annellies tersedan-sedan.

“Diam kau. Ann. Maafkan kami, Minke, Nyo. Duduklah kembali. Jangan bikin bising, Ann. Duduk

kau di kursimu.”

Kami berdua duduk lagi. Annelies menutup muka dengan setangan sutra. Dan Nyai masih

mengawasi pintu yang baru tertutup itu, berang.

“Kau tak perlu malu pada Sinyo,” Nyai masih juga meradang tanpa menengok pada kami. “Dan

kau, Nyo, memang Sinyo takkan mungkin dapat lupakan. Aku takkan malu, jangan Sinyo kaget

atau ikut malu. Jangan gusar. Semua sudah kuletakkan pada tempatnya yang benar. Anggap dia

tidak ada, Nyo.

Dulu aku memang nyainya yang setia, pendampingny a yang tangguh. Sekarang dia hanya

sampah tanpa harga. Orang yang hany a bisa bikin malu pada keturunanny a sendiri. Itulah

papamu, Ann.”

Puas mengumpat ia duduk kembali. Tak meneruskan makan, Wajahnya meniadi begitu keras dan

tajam. Tenang-tenang aku pandangi dia. Wanita macam apa pula dia ini ?

“Kalau aku tak keras begini, Nyo — maafkan aku harus membela diri sehina ini - akan jadi apa

semua ini ?

Anak-anaknya......perusahaannya.....semua sudah akan menjadi gembel.

Jadi, aku tak menyesal telah bertindak begini di hadapanmu, Nyo”

Suaranya kemudian menurun seperti mengadu padaku, “Jangan kau anggap aku biadab,” katanya

terus dalam Belanda yang patut. “Semua untuk kebaikan dia sendiri. Dia telah kuperlakukan

sebagai mana dia kehendaki. Itu y ang dia kehendaki memang. Orang-orang Eropa sendiri y ang

mengajar aku berbuat begini, Minke, orang-orang Eropa sendiri,” suaranya minta

kepercayaanku. “Tidak disekolahkan, di dalam kehidupan ini.”

Aku diam saja. Setiap patah dari kata-katanya kupakukan dalam ingatanku: tidak di sekolahkan, di

dalam kehidupan! jangan anggap biadab! orang Eropa sendiri yang mengajar begini....

Sekarang Nyai berdiri, berjalan lambat-lambat ke arah jendela. Dari balik tabir pintu ia tarik


seutas tambang lawe yang berujung pada segumpal jumbai-jumbai. Dari kejauhan terdengar j

sayup bunyi giring-giring. Muncullah kembali pelayan wanita yang tadi telah kabur.

Nyai memerintahkan mengundurkan makanan. Aku masih tetap tak tahu apa harus kukerjakan.

“Pulanglah kau, Nyo,” katanya sambil berpaling padaku.

“Ya, Mama, lebih baik aku pulang.”

Ia berjalan menghampiri aku. Matanya kembali jadi lembut sebagai seorang ibu.

“Ann,” katanya lebih lunak lagi, “biar tamumu pulang dulu. Seka airmatamu itu.”

“Aku pulang dulu, Ann. Senang sekali aku di sini,” kataku.

“Say ang sekali, Ny o, say ang sekali suasana sebaik itu jadi rusak begini,” Nyai meny esali.

“Maafkan kami, Minke,” bisik Annelies tersendat-sendat.

“Tak apa, Ann.”

“Kalau liburan nanti, berpakansi kau di sini saja, Nyo. Jangan ragu.

Takkan terjadi apa-apa. Bagaimana ? Setuju ? Sekarang Sinyo pulang saja, biar Darsam antarkan

dengan dokar.”

Ia berjalan lagi ke jendela dan menarik tambang tadi. Kemudian ia duduk di tempatnya lagi.

Dalam pada itu aku masih mengherani hebatnya nyai seorang ini: manusia dan lingkungan

memang berada dalam genggamannya, juga aku sendiri. Lulusan sekolah apa dia maka nampak

begitu terpelajar, cerdas dan dapat melayani beberapa orang sekaligus dengan sikap yang

berbeda-beda ? Dan kalau dia pernah lulus suatu sekolah, bagaimana mungkin bisa menerima

keadaan sebagai nyai-nyai ? Tak dapat aku temukan kunci untuk mengetahui.

Seorang lelaki Madura datang. Ia tak dapat dikatakan muda. tinggi lebih-kurang satu meter

enampuluh, umur mendekati empatpuluh. berbaju dan bercelana serba hitam, juga destar pada

kepalanya. Sebilah parang pendek terselit pada pinggang. Kumisnya bapang, hitam-kelam dan

tebal.

Nyai memberinya perintah dalam Madura. Aku tak mengerti betul artiny a.

Kira-kira saja memerintahkan mengantarkan aku dengan dokar sampai selamat di rumah.

Darsam berdiri tegak. Tanpa bicara ia pandangi aku dengan mata menyelidik, seperti hendak

menghafalkan wajahku, tanpa berkedip.

“Tuanmuda ini tamuku, tamu Noni Annelies,” kata Nyai dalam Jawa.


“Antarkan. Jangan terjadi apa-apa di jalanan. Hati-hati!” Rupa-rupanya hany a terjemahan dari

Madura sebelumnya.

Darsam mengangkat tangan, tanpa bicara, kemudian pergi.

“Sinyo, Minke,” Nyai merajuk, “Annelies tak punya teman. Dia senang Sinyo datang kemari.

Kau memang tak punya bany ak waktu. Itu aku tahu.

Biar begitu usahakan sering datang kemari. Tak perlu kuatir pada Tuan Mellema. Itu urusanku.

Kalau Sinyo suka , kami akan senang sekali kalau Sinyo mau tinggal di sini. Sinyo bisa diantar

dengan bendi setiap hari pulang balik. Itu kalau Sinyo suka.”

Rumah dan keluarga aneh dan seram ini! Pantas orang menganggapnya angker. Dan aku

menjawab:

“Biar kupikir-pikir dulu. Mama: Terimakasih atas undangan pemurah itu.”

“Jangan tidak, Minke,” Annelies merajuk.

“Ya, Nyo, pikirlah. Kalau tidak ada keberatan, biar semua nanti diurus oleh Annelies. Kan begitu,

Ann ?”

Annelies Mellema mengangguk mengiakan.

Kereta itu telah terdengar melewati samping rumah. Kami berjalan ke ruangdepan, mendapatkan

Robert Suurhof dan Robert Mellema sedang duduk diam-diam memandangi kegelapan luar.

Kereta berhenti di depan tangga rumah. Aku dan Suurhof turun dari tangga, naik ke kereta.

“Selamat malam semua, dan terimakasih banyak, Mama, Ann, Rob!” kataku.

Dan kereta mulai bergerak.

“Brenti dulu!” perintah Mama. Kereta berhenti. “Sinyo Minke! Coba turun dulu.”

Seperu seorang sahaya aku sudah tergenggam dalam tangan-nva Tanpa berpikir apa pun aku

turun dan menghampiri anak-rangga. Nyai turun satu jenjang, juga Annelies, berkata pelahan

pada kupingku: “Annelies bilang padaku, Nyo - jangan gusar - benarkah itu, kau telah

menciumny a ?”

Petir pun takkan begitu mengagetkan. Kegelisahan me-rambat-rambat ke seluruh tubuh, sampai

pada kaki, dan kaki pun jadi salah tingkah.

“Benakah itu ?” desaknya. Melihat aku tak dapat menjawab ia tarik Annelies dan didekatkan

padaku. Kemudian, “Nah, jadi benar. Sekarang, Minke, cium Annelies di hadapanku. Biar aku tahu

anakku tidak bohong.”


Aku menggigil. Namun perintah itu tak terlawankan. Dan kucium Annelies pada pipinya.

“Aku bangga, Ny o, kaulah yang telah menciumnya. Pulanglah sekarang.”

Dalam perjalanan pulang aku tak mampu berkata barang sesuatu. Nyai kurasakan telah menyihir

kesedaranku. Annelies memang cantik gilang-gemilang. Namun ibunya yang pandai menaklukkan

orang untuk bersujud pada kemauannya.

Robert Suurhof menggagu.

Dan kereta berjalan gemeratak menggiling batu jalanan. Lampu karbit kereta meny ibak

kegelapan dengan cara yang tak kenal damai. Hanya kereta kami yang lewat pada malam itu.

Nampaknya orang telah mengalir ke Surabaya, merayakan penobatan dara Wilhelmina.

Darsam mengantarkan aku sampai ke rumah pemondokan di Kranggan. Ia memerlukan melihat

aku masuk sebelum berangkat lagi mengantarkan Suurhof.

“Ai-ai, Tuanmuda Minke!” sambut Mevrouw Tllinga bawel itu. “Jadi Tuanmuda tak makan di

rumah lagi ? Tadi sudah ku-taruh surat pos di dalam kamarmu. Aku lihat surat-surat sebelum itu

juga belum kau baca.

Sampulnya belum lagi terbuka. Ingat-ingat Tuanmuda, surat-surat itu ditulis, diprangkoi,

dikirimkan untuk dibaca. Siapa tahu ada urusan penting ? Nampaknya semua datang dari kota B.

Eh, Tuanmuda, bagaimana ini ? Besok sudah tak ada uang belanja nih.”

Kuserahkan setalen untuk ibu bawel yang baikhati itu. Ia ucapkan terimakasih berulang kali seperti

biasa, tanpa perlu keluar dari hatinya.

Di dalam kamar telah tersedia coklatsusu hangat yang segera kuminum habis. Kulepas sepatu dan

baju, melompat ke ranjang untuk segera mengenangkan kembali segala yang telah terjadi. Tapi

pandangku tertumbuk pada potret dara impian di atas meja, dekat pada lampu teplok.Aku turun

lagi, memandanginy a baik-baik, kemudian kubalik. Dan kembali aku naik ke ranjang.

Koran terbitan Surabay a dan Betawi, yang biasanya diletakkan di atas bantalku, kesorong ke

samping. Telah jadi adatku membaca koran sebelum tidur. Tak tahulah aku namun aku suka

mencari-cari berita tentang Jepang. Aku senang mengetahui adanya pemuda-pemuda yang

dikirimkan ke Inggris dan Amerika untuk belajar. Boleh jadi aku seorang pengamat Jepang. Tapi

sekarang ada yang lebih menarik — keluarga kay araya y ang aneh itu: Nyai yang pandai

menggenggam hati orang seakan ia dukun sihir, Annelies Mellema yang cantik, kebocah-bocahan,

namun seorang berpengalaman yang pandai mengatur para pekerja, Robert Mellema dengan

lirikanny a y ang tajam, tak peduli segala-gala kecuali sepakbola, bahkan juga tidak pada ibunya

sendiri, Tuan Herman Mellema yang sebesar gajah, pembere-ngut, tapi tak berdaya terhadap

gundiknya sendiri. Masing-masing seperti tokoh dalam sebuah sandiwara. Keluarga macam apa

ini ? Dan aku sendiri ? Aku sendiri pun tiada berdaya terhadap Nyai. Sampai aku tergolek di

ranjang ini suaranya masih terasa memanggil-manggil: Annelies tak puny a teman! Dia senang


Sinyo datang kemari. Kau memang tak punya bany ak waktu. Biar begitu usahakan sering datang

kemari..... kami akan senang sekali kalau Siny o tinggal di sini....

Rasanya belum lagi lama aku tertidur. Satu keributan terjadi di luar rumah. Kuny atakan lampu

minyak dalam kamarku. Jam lima pagi.

“Ada kiriman. Untuk Tuanmuda Minke,” kudengar suara seseorang lelaki, “susu, keju dan

mentega. Juga ada surat dari Nyai Ontosoroh sendiri.....”

3. KEHIDUPAN BERJALAN SEPERTI BIASA. HANYA AKU yang mungkin berubah.

Boerderij Buitenzorg di Wonokromo sana rasanya terus juga memanggil-manggil, setiap hari,

setiap jam. Apa aku terkena guna-guna ?

Banyak gadis Eropa, Totok dan Indo yang aku kenal. Mengapa Annelies juga yang terbayang ?

Dan mengapa suara Nyai tak mau pergi dari kuping batinku ? Minke, Sinyo Minke, kapan kau

datang ?

Pikiranku kacau.

Setiap pagi aku berangkat ke sekolah membawa May Ma-rais. Aku gandeng gadis kecil itu sampai

ke sekolahannya di E.L.S. Simpang. Kemudian aku berjalan kaki sendirian menuju ke sekolahanku

di Jalan H.B.S. Setiap kusir kereta dihadapanku kuperhatikan, jangan-jangan Darsamlah dia. Dan

bila kereta hendak melewati aku dari belakang kuperlukan menengok.

Seakan aku mempunyai kepentingan dengan semua kereta yang lewat.

Juga di dalam kias Annelies terus-menerus muncul. Dan lagi-lagi suara Nyai: kapan kau datang ?

dia telah berdandan untukmu. Kapan kau datang ?

Robert Suurhof tak pernah mengganggu aku dengan persoalan Wonokromo. Ia selalu menghindari

aku. Ia enggan melunasi janjinya untuk menghormati aku bila aku berhasil. Dan aku sendiri

merasa seperti sedang hidup dalam selubung kelabu. Semua tidak jelas, dan perasaan tidak

menentu. Semua teman sekolahku, Eropa Totok atau pun Indo, laki dan perempuan, rasanya sudah

berubah semua. Dan mereka pun melihat perubahan pada diriku. Ya, aku telah kehilangan

kelincahan dan keramahanku.

Pulang dari sekolah aku langsung memasuki bengkel Jean Marais. Kulihat para tukang baru

memulai kerja sore. Jean sendiri seperti biasa sedang tenggelam dalam lukisan, sketsa atau

rancangan yang sedang disiapkan.

Hari ini aku tiada pulang dulu ke pemondokan. Juga tidak pergi ke pelabuhan. Juga tidak ke kantor

koranlelang untuk membikin teks iklan.

Menulis sesuatu untuk koran umum pun aku tiada bernafsu. Juga tak timbul niat pergi ke rumah


para kenalan untuk menawar-nawarkan perabot atau mencari order lukisan potret. *

Tidak, tak ada hasrat padaku untuk mengerjakan sesuatu. Maunya badan ini bergolek-golek di

ranjang dengan mengenangkan Annelies. Hanya Annelies, dara kebocah-bocahan itu.

Di rumah, Mevrouw Telinga tak jemu-jemu minta diceritai tentang kunjunganku ke Boerderij

Buitenzorg, untuk kemudian memperdengarkan ejekanny a yang kasar dan itu-itu juga:

“Tuanmuda, Tuanmuda, tentu Tuanmuda menghendaki anaknya, tapi ibunya juga yang lebih

bernafsu!

Semua orang memang memuji-muji kecantikan anakny a. Tak ada y ang berani datang ke sana.

Beruntung benar Tuanmuda ini. Tapi ingat-ingat, salah-salah Tuanmuda diterkam oleh si Nyai!”

Bukan hanya Mevrouw Telinga atau aku, rasany a siapa pun tahu, begitulah tingkat susila keluarga

ny ai-ny ai: rendah, jorok, tanpa kebudayaan, perhatiannya hanya pada soal-soal berahi semata.

Mereka hanya keluarga pelacur, manusia tanpa pribadi, dikodratkan akan tenggelam dalam

ketiadaan tanpa bekas. Tapi Nyai Ontosoroh ini, dapatkah dia dikenakan pada anggapan umum ini

? Justru itu yang membikin aku bimbang. Tidak bisa! Atau aku seorang yang memang kurang

‘periksa ? Boleh jadi memang aku seorang yang tak mau tahu. Semua lapisan kehidupan

menghukum keluarga nyai-nyai, juga semua bangsa: Pribumi, Eropa, Tionghoa, Arab.

Masakan aku seorang akan bilang tidak ? Perintahny a padaku untuk mencium Annelies, kan itu

juga pertanda rendahnya tingkat susila ? Mungkin.

Namun-ejekan Mevrouw Telinga terasa menyinggung per dalam hatiku. Tentu, mungkin karena

aku punya impian yang bukan-bukan. Dalam beberapa hari ini telah aku coba y akinkan diriku: apa

yang terjadi antara diriku dengan Annelies hanyalah suatu kejadian umum dalam kehidupan

muda-mudi, terjadi dalam keluarga apa pun: raja, pedagang, pemimpin agama, petani, pekerja,

bahkan juga dikahyangan para dewa. Benar. Tapi ada telunjuk gaib yang menuding: soalny a kau

lah yang berusaha membenarkan impianmu sendiri.

Begitulah sore itu aku terpaksa bertanya pada Jean Marais.

Suatu percakapan bersungguh-sungguh dengannya belum bisa diharapkan, sekali pun bahasa

Melayunya semakin han semakin baik juga. Dia tak tahu Belanda. Itu sulitnya. Bahasa

Melayunya terbatas. Bahasa Perancisku sangat payah. Ia setengah mati menolak belajar

Belanda, sekali pun lebih empat tahun jad, serdadu Kompeni, berperang di Aceh. Bahasa Belanda

yang diketahuinya terbatas pada aba-aba militer.

Tapi dia sahabatku yang lebih tua, kompanyon dalam berusaha. Sudah sepatutnya aku bertanya

padany a.

Para tukang di bengkel sedang merampungkan perabot kamar yang dipesln dengan nama Ah

Tjong Mungkin yang punya namah-plesiran tetangga Nyai Ontosoroh. Hanya karena pesanan itu

bergaya Eropa orang Tionghoa tidak memesan pada sebangsany a sendiri. Kuterima order itu


melalui orang lain.

Jean sedang memainkan pensil membikin sketsa untuk lukisan yang akan datang.

“Aku hendak mengganggumu, Jean,” kataku dan duduk di kursi pada meja-gambarny a. Ia

mengangkat muka memandangi aku. “Tahu kau artinya sihir ?” Ia menggeleng.

“Guna-guna ?” tanyaku...

“Tahu sejauh pernah kudengar. Orang-orang Zanggi biasa lakukan itu, kata orang. Itu pun kalau

pendengaran ku benar Mulai kuceritakan padanya tentang keadaanku yang serba tersihir Juga

pendapat umum tentang keluarga nyai-nyai pada umumny a, dan keluarga Ny ai Ontosoroh

khususnya.

la letakkan pensilny a di atas kertas gambar menatap aku, mencoba menangkap dan memahami

setiap kataku. Kemudian, tenang dan campur-aduk dalam beberapa bahasa:

“Kau dalam kesulitan, Minke. Kau jatuh cinta. “Tidak, Jean. Tak pernah aku jatuh cinta Memang

dara itu sangat menarik, menawan, tapi jatuh cinta aku tidak ..”

“Aku mengerti. Kau dalam kesulitan, itu parahnya kalau orang tak dapat dikatakan jatuh cinta.

Dengar, Minke darah mudamu ingin memiliki dia untuk dirimu sendiri dan aku takut pada

pendapat umum.” Lambat-lambat ia tertawa Pendapat umum perlu dan harus diindahkan

dihormat,, kalau benar, kalau salah, mengapa dihormat dan diindahkan ? Kau terpelajar, Minke.

Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan

Itulah memang arti terpelajar itu. Datanglah kau padany a barang dua tiga kali lagi, nanti kau akan

dapat lebih mengetahui bendr-tidaknva pendapat umum itu.”

“Jadi kau anjurkan aku datang lagi ke sana?”

“Aku anjurkan kau menguji benar-tidaknya pendapat umum itu. Ikut dengan pendapat umum

yang salah juga salah. Kau akan ikut mengadili satu keluarga yang mungkin lebih baik daripada

hakimnya sendiri.”

“Jean, kau memang sahabatku. Aku kira kau akan adili aku.”

“Tak pernah aku mengadili tanpa tahu duduk-perkara.”

“Jean, aku diminta tinggal di sana.”

“Datanglah ke sana. Hanya jangan lupa kau pada pelajaranmu. Kau tak begitu perlu mencari

order baru. Lihat, masih ada lima potret yang harus diselesaikan. Dan ini,” ia menepuk kertas

sketsa, “Aku hendak melukis sesuatu yang sudah lama aku inginkan.”

Aku tarik kertas sketsa di hadapanny a. Gambar itu membikin aku lupa pada persoalanku. Seorang


serdadu Kompeni, nampak dari topi bambu dan pedangnya, sedang menginjakkan kaki pada perut

seorang pejuang Aceh.

Serdadu itu meny orongkan bayonet pada dada kurbannya. Dan bayonet itu menekan baju hitam

kurbannya, dan dari balik baju itu muncul buah dada seorang wanita muda. Mata wanita itu

membeliak. Rambutnya jatuh terjurai di atas luruhan daun bambu. Tangan sebelah kiri mencoba

meronta untuk bangun. Tangan kanan membawa parang yang tak berdaya. Di atas mereka

berdua memay ungi rumpun bambu y ang nampak meliuk diterjang angin kencang. Di seluruh

alam ini seakan hany a mereka berdua saja yang hidup: yang hendak membunuh dan yang

hendak dibunuh.

“Kejam sekali, Jean.”

“Ya,” ia mendeham, kemudian menghisap rokoknya.

“Kau suka bicara tentang keindahan, Jean. Di mana keindahan suatu kekejaman, Jean?”

“Tidak sederhana keterangannya, Minke. Gambar ini bersifat sangat pribadi, bukan untuk umum.

Keindahannya ada di dalam kenang-kenangan.”

“Jadi kaulah serdadu ini, Jean. ? Kau sendiri ?”

“Aku sendiri, Minke,” ia mengangkat muka.

“Telah kau lakukan kebiadaban ini ?” ia menggeleng. “Kau pembunuh wanita muda ini ?” ia

menggeleng lagi. “Jadi kau lepaskan dia ?” ia mengangguk.

“Dia akan berterimakasih padamu.”

“Tidak, Minke, dia yang minta dibunuh - gadis Aceh lahiran pantai ini.

Dia malu telah terjamah oleh kafir. “Tapi kau tak bunuh dia.”

“Tidak, Minke, tidak,” jawabnya lesu. dan seakan tidak ditujukan padaku, tapi pada masa lalunya

sendiri yang telah jauh tak terjangkau lagi. „„ . , .

“Di mana perempuan itu sekarang ?” tanyaku mendesak.

“Mati, Minke,” jawabny a berdukacita.

“Jadi kau sudah membunuhnya. Seorang wanita muda tidak berdaya”

“Tidak, bukan aku. Adiknya lelaki menyusup ke dalam tangsi, menikamnya dengan rencong dari

samping. D,a mat. seketika Rencong itu beracun.

Pembunuh itu sendiri terbunuh di bawah pekikan sendiri: mampus kafir, pengikut kafir!


“Mengapa adiknya menikamny a ?” Sudah lupa sama sekali aku pada kesulitanku pribadi.

“Adiknya tetap berjuang untuk negerinya, untuk kepercayaannya. Kakaknya ini tidak setelah dia

meny erah. Dia mati tanpa saksi. Minke. Waktu itu anaknya sedang diajak jalan-jalan oleh

tetangga. Suaminya sedang pergi bertugas.”

“Jadi perempuan ini kemudian hidup dalam tangsi Kompeni ? Jadi tawanan ?

Jadi tawanan sampai beranak ?”

“Tadinya jadi tawanan. Kemudian tidak,” jawabny a cepat. “Jadi dia lantas kawin dengan

seseorang ?”

“Tidak. Dia tidak kawin.” .

“Dan anak yang diajak jalan-jalan oleh tetangga itu. Dari mana asalnya ?” ,. ..

“Anak itu bayi yang diberikannya padaku, anakku sendiri.

Minke.”

“Jean!” ... ... »

“Ya, Minke, jangan sampaikan pada May cerita ini.

Mendadak saja aku jadi perasa. Aku lari mencari May yang sedang tidur dengan aman di atas

ambin kayu tanpa seprai. Aku angkat dia dan kuciumi.

Ia terkejut, membelalak melihat padaku. Ia tak berkata sesuatu pun.

“May ! May!” seruku sentimentil. Aku gendong dia keluar mendapatkan Jean Marais kembali.

“Jean, imlah anakma^Im ah bayi itu, Jean. Kau tidak bohongi aku, Jean ? Kau bohongi aku kan?.”

“‘Orang Prancis yang sedang bertompang dagu itu memandang jauh keluar rumah. Ia tak mau

mengulangi ceritany a.

Betapa menghibakan nasib gadis kecil ini, juga ibunya, lebih-lebih sahabatku Jean Marais sendiri

— di negeri asing tanpa hari depan, kehilangan sebelah kaki pula. Ia sering bercerita sangat

mencintai istriny a.

Dan anak ini adalah anak tunggal - kini tanpa ibu untuk selama-lamanya, hany a punya seorang

ay ah berkaki satu.

“Itu sebabnya kau anjurkan aku datang lagi ke Wonokromo ?” tany aku.

“Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini/’


katapya murung dan diambilny a May dari gendonganku, kemudian dipangkunya.

Gadis itu mencium pipi ayahnya yang tiada bercukur. Dan Jean meneruskan bicarany a dalam

Prancis pada anaknya: “Kau terlalu lama tidur, May.”

“Akan jalan-jalan kita, Papa ? ” tany a May dalam Prancis.

“Ya, mandilah dulu.”

May berlonjak-lorijakan riang perai mendapatkan pengasuhny a. Kupandangi si gadis kecil y ang

tak pernah mengenal ibunya itu.

“Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya.

Orang harus berani menghadapi akibatnya.”

“Tentang diriku, Jean, belum tentu aku mencintai gadis Wonokromo itu.

Bagaimana kau tahu kau mencintai ibu May ?”

“Barangkali kau tidak atau belum mencintai gadis itu. Bukan aku y ang menentukan. Lagi pula tak


ada cinta muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu dari langit. Setidak-

tidaknya bukan aku yang menentukan, yang menjalani sendiri. Kau harus uji dirimu, hatimu


sendiri. Boleh jadi gadis itu suka padamu. Ibuny a jelas sayang padamu sejauh sudah kau

ceritakan. Sudah sayang pada perkenalan pertama. Aku tak percaya pada guna-guna. Barangkali

memang ada, tapi aku tak perlu mempercayainy a, karena itu hanya bisa berlaku dalam

kehidupan yang masih terlalu sederhana tingkat peradabannya. Apalagi kau sudah bilang, Nyai

melakukan segala pekerjaan kantor. Orang begitu tidak akan bermain guna-guna. Dia akan lebih

percaya pada kekuatan pribadi. Hany a orang tidak berpribadi bermain sihir, bermain dukun. Ny ai

itu tahu apa yang diperlukanny a. Barangkali dia mengenal kesunyian hidup anaknya.”

“Ceritai aku tentang ibu May,” kataku mengelak. “Tentu luarhiasa, dari seorang yang hendak

kaubunuh jadi seorang yang kau cintai. Ay oh, Jean.”

“Lain kali sajalah. Hatiku belum lagi bersuasana cerita. Coba lihat sketsa ini saja. Bagaimana

pendapatmu ?”

“Aku tak tahu soal-soal beginian, Jean.”

“Kau pemuda terpelajar. Sepatutnya mulai belajar mengerti.”

“Hatiku belum lagi bersuasana untuk belajar mengerti, Jean.

“Baiklah. Kau mau mengajak jalan-jalart May sore ini, kan ?”

“Kau tak pernah membawanya!” tuduhku menyesali. “Dia ingin berjalan-jalan denganmu.”


“Belum bisa, Minke. Kasihan dia. Orang akan menonton kami berdua. Pada suatu kali dia akan

dengar mereka bilang: Lihat Belanda buntung pincang dengan anaknya itu! Jangan, Minke. Jiwa

semuda itu jangan dilukai dengan penderitaan tak perlu, sekalipun cacad ayahnya sendiri. Dia

hendaknya tetap mencintai aku dan memandang aku sebagai ayahnya yang mencintainya, tanpa

melalui suara dan pandang orang lain.”

Tak pernah ia bicara sebanyak itu. Juga tak pernah semurung itu. Apa sebenarnya sedang terjadi

dalam diriny a ? Boleh jadi ia rindu pada masalalu yang telah hilang tak tergapai lagi ? Atau pada

negeri di mana ia pernah dilahirkan, dibesarkan dan untuk pertama kali melihat matari ?

Tapi tak berani pulang karena cacad, puny a anak kelahiran negeri lain ?

Atau merindukan satu karya yang akan membikin negerinya meny ambutnya dengan segala

kebesaran sebagai pelukis ?

“Kau tak pernah setuju dengan perasaan kasihan, Jean,” aku menegur.

“Kau benar, Minke. Pernah kuceritai kau, kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang

tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang terpuji

memang dia yang mampu melakukan kemauan-baiknya. Aku tak punya kemampuan, Minke.

Makin lama kurenungkan, kata itu sangat indah terasa di Hindia ini, tidak di Eropa.”

Nada suaranya makin murting juga.

“Itu bukan pribadi seorang Jean Marais,” tegurku. “Aku kuatir kau mulai menjadi bukan dirimu

sendiri lagi, Jean.”

“Terimakasih atas perhatianmu, Minke. Aku lihat kau semakin hari semakin cerdas.”

“Terimakasih, Jean. Aku harap kau jangan semurung itu. Kau giasih puny a sahabat — aku.”

May datang. Mengetahui ayahnya tak ikut berjalan-jalan sekaligus airntukanya berubah.

“Pergilah, May, dengar Oom Minke. Sayang masih ada pekerjaan harus diselesaikan. Jangan

memberengut begitu, Manis.

Aku gandeng gadis kecil Peranakan Prancis-Aceh ini me nmggalkan rumah.

“Papa tak pernah mau jalan-jalan denganku,” gadis itu mengadu dalam Belanda, “dia tak

percaya aku kuat menuntun-ny a Oom-Aku-mampu menjaganya jangan sampai jatuh.” Tentu

saja kau kuat, May. Papamu memang lagi banyak kerja hari ini. Lain kali tentu dia mau kau ajak “

Ia kubawa ke tanah-lapang Koblen, dan mulai lupa pada kekecewaannya Kami duduk di

rumputan menonton oranc-orang beradu lay ang-layang. Ia mulai bercericau dalam Jawa

bercampur Belanda, kadang juga Prancis. Tak kuperhatikan apa yang dicencaukanny a. Hany a


aku iakan. Pikiranku sendiri sedang kacau diserbu berbagai hal: keluarga Mellema, keluarga

Marais, sikap teman-teman sekolah yang berubah terhadapku dan aku sendiri yang juga jadi

berubah. Beberapa layang-layang putus, mengimbak-imbak di angkasa tanpa tujuan......

May menarik tanganku, menuding pada segumpal mendung y ang muncul di ufuk.

“Kau mencintai papamu, May ?

Ia pandangi aku dengan mata terheran-heran. Pada wajahnya nampak olehku Jean Marais. Tak

ada aku dapatkan sedikit pun garis-garis dari wanita muda yang menjelempah dibawah rumpunan

bambu dalam ancaman bayonet itu.

Wajah ini mungkin wajah Jean sendiri semasa kecil. Dan Marais kecil ini sama sekali belum lagi

tahu siapa ay ahnya sebenarnya.

Jean, katanya sendiri, pernah belajar di Sorbonne.” Ia tak pernah bercerita dari jurusan apa atau

sampai tingkat berapa. Mendengarkan suarahati sendiri ia tinggalkan kuliah dan mencurahkan

kekuatan sepenuhnya pada senilukis. Ia mengakui belum pernah berhasil.

Kemudian ia tinggal di Quartier Latin di Paris, menjajakan lukisan-lukisannya di pinggir jalan.

Karya-kary any a selalu laku, tapi tak pernah menarik perhatian masyarakat dan dunia kritik Paris.

Sambil menjajakan lukisan ia mengukir, juga di pinggir jalan itu. Lima tahun telah berlalu. Ia tak

juga mendapat kemajuan. Ia bosan pada lingkungannya, pada gerombolan penonton y ang

melihat ia membuat patung Afrika atau mengukir, pada Paris, pada masyarakatnya sendiri, pada

Eropa. Ia rindukan sesuatu yang baru, yang bisa mengisi kekersangan hidup.

Ditinggalkannya Eropa, pergi ke Maroko, Lybia, Aljazair dan Mesir. Ia tak juga menemukan

sesuatu y ang dicarinya dan tidak diketahuinya itu, tidak pernah merasa puas, tetap gelisah-resah.

Ia tetap tak dapat menciptakan lukisan sebagaimana ia impikan. Ia tinggalkan Afrika. Sampai di

Hindia uangnya tumpas. Jalan satu-satunya untuk meny elamatkan hidup adalah masuk Kompeni.

Ia masuk, mendapat latihan beberapa bulan, dan berangkat ke medan-perang di Aceh. Juga

dalam kesatuanny a ia tetap hidup dalam dirinya sendiri, hampir-hampir tak puny a kontak dengan

siapa pun kecuali melalui komando dalam basa Belanda. Dan ia segan mempelajari bahasa itu.

May Marais tidak tahu atau belum tahu semua itu. Aku akan melukis sambil jadi serdadu, Jean

Marais bertekad. Pribumi Hindia sangat sederhana.

Takkan ada perang yang bakal mereka menangkan. Apa arti parang dan tombak di hadapan

senapan dan meriam ? pikirny a. Ia dikirimkan ke Aceh sebagai spandri*. Komandan regunya,

Kopral Bastiaan Telinga, seorang Indo-Eropa. Sekiranya ia bukan Totok, tak bisa tidak ia akan

tinggal jadi serdadu kias dua. Mulailah ia hidup di antara serdadu-serdadu Eropa Totok seperti

dirinya sendiri, yang juga tak tahu Belanda: orang Swiss, Jerman, Swedia, Belgia, Rusia,

Hongaria, Romania, Portugis, Spanyol, Italia — hampir semua bangsa Eropa — semua sampah

buangan dari kehidupan negeri masing-masing. Mereka adalah orang-orang putusasa, atau ban-


dit-bandit pelarian, atau orang y ang lari dari tagihan hutang, atau bangkrut karena perjudian dan

spekulasi, semua saja petualang.

Dan tak ada di antara mereka di bawah spandri. Serdadu kias dua hanya pangkat untuk Indo dan

Pribumi — dan umumnya orang-orang Jawa dari Purworejo. Mengapa pada umumnya Pribumi

dari Purworejo ? sekali waktu aku pernah bertanya. Mereka itu, jawabny a, orang-orang yang

tenang.

Kompeni memilih mereka untuk menghadapi bang-sa Aceh yang bukan saja pandai menggertak,

juga ulet dan keras seperti baja, bangsa perbuatan.

Orang-orang berangsangan, terutama dari daerah kapur yang tangguh pada awalnya saja, akan

tumpas di Aceh.

Pengalaman di Aceh membikin ia mengakui: prasangkany a tentang kemampuan perang Pribumi

ternyata keliru. Kemampuan mereka tinggi, hany a peralatannya rendah, kemampuan

berorganisasi juga tinggi. Sebalikny a ia juga mengakui kehebatan orang Belanda dalam memilih

tenaga perang.

Prasangkaku, sekali waktu ia bercerita, bahwa parang dan tombak, dan ranjau Aceh, takkan

mampu menghadapi senapan dan meriam,- juga keliru.

Orang Aceh punya cara berperang khusus. Dengan alamnya, dengan kemampuannya, dengan

kepercayaannya, telah bany ak kekuatan Kompeni dihancurkan. Aku heran melihat kenyataan ini,

tambahnya lagi. Mereka membela apa yang mereka anggap jadi hakny a tanpa mengindahkan

maut.

Semua orang, sampai pun kanak-kanak! Mereka kalah, tapi tetap melawan.

Melawan, Minke, dengan segala kemampuan dan ketakmampuan.

Waktu aku bertugas di sana, pada lain kali ia bercerita dengan bahasa yang campur-aduk itu,

pertahanan orang Aceh sudah terdesak jauh ke pedalaman dan selatan, di daerah Take-ngon.

Seorang panglima Aceh, Tjoet Ali, sudah kehilangan bany ak kekuatan dan daerah, namun tetap

dapat mempertahankan ketinggian semangat pasukanny a - suatu rahasia yang tak dapat aku

pfecahkan. Mereka tetap bertempur, bukan hanya melawan Kompeni, juga melawan

kehancurannya sendiri. Hubungan lalulintas Kompeni selalu jadi sasaran empuk: jembatan,

jalanan, kawat tilgrap, keretapi dan relny a, peracunan air minum, serangan dadakan, ranjau

bambu, penyergapan, penikaman tak terduga, pengamukan dalam tangsi......

Para jendral Belanda hampir-hampir tak sanggup meneruskan operasi penumpasan. Yang

tertumpas selalu kanak-kanak, kakek-nenek, orang sakit, wanita bunting. Dan orang-orang tak

berdaya itu, Minke, justru merasa beruntung bila dibunuh Kompeni. Sassus dari atasan

mengatakan: -memang kurban di antara serdadu Eropa tak pernah mencapai tiga ribu orang

seperti dalam perang Jawa, tapi ketegangan syaraf menguasai seluruh pasukan Kompeni - di


setiap jengkal tanah yang diinjaknya.

Dan Jean Marais mulai belajar mengagumi dan mencintai bangsa Pribumi y ang gagah-perwira

ini, berwatak dan berpribadi kuat ini. Dua puluh tujuh tahun mereka sudah berperang, berhadapan

dengan senjata paling ampuh pada jamannya, hasil il-mu-pengetahuan dan pengalaman seluruh

peradaban Eropa.

Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, katanya. Ia masih juga belum bercerita bagaimana ia dapat

mengubah wanita musuhnya jadi wanita yang dicintai dan boleh jadi mencintainy a juga, jadi

wanita y ang memberiny a seorang anak kesayangan, May — sekarang duduk bercericau di

pangkuanku.

Aku belai rambutnya. Berapa bulan ibumu sempat memberimu air dada padamu, anak manis ?

Kau tak pernah melihat pasang mata ibiimu, wanita Aceh kelahiran pantai itu! Kau takkan pernah

bisa berbakti padanya. Kau, semuda ini, May, telah kehilangan sesuatu yang tak mungkin akan

tergantikan oleh apa dan siapa pun!


“Lihat sana itu, Oom,” serunya dalam Belanda, “di atas mendung mendatang itu, masa lay ang-

lay ang seperti kepiting!”


“Memang tidak cocok kalau kepiting terbang di langit. Mendung semakin tebal”, May, mari

pulang.”

Jean Marais masih mencangkungi meja-gambar. Ia angkat pandang waktu kami masuk. May

segera menghampiri ayahnya dan bercericau tentang layang-layang kepiting di atas mendung

Jean mengangguk memperhatikan.

Dan aku mondar-mandir melihat-lihat lukisan jadi y ang besok atau lusa harus kuantarkan pada

Jean kufikir mungkin mampu melayani kebawelan mereka. Ada saja perubahan yang mereka

kehendaki agar lukisan lebih sesuai dengan anggapan mereka sendiri. Dan itulah pekerjaanku

pekerjaan berat tentu - meyakinkan mereka: pelukisny a adalah pelukis besar Prancis, cukup jadi

jaminan akan keabadiannya lebih abadi dari pemesannya sendiri. Kalau diubah lagi,

keabadiannya akan rusak dan akan di potret kimia biasa. Kebawelan paling gigih selamanya

datang dan pemesan wanita. Beruntung aku banyak mendengar keterangan dan Jean sendiri:

wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan: mereka dicengkam oleh

impian tentang kemudaan yang rapuh itu dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu

Umur sungguh aniaya bagi wanita. Maka juga setiap kebawelan wanita harus dilawan dengan

kebawelan lain: lukisan mi adalah warisan terbaik untuk anak-anak Mevrouw, bukan sema-ta-mata

untuk Mevrouw. (Beruntung semua pemesan wamta itu bukan dari golongan mandul). Biasany a

kebawelanku menang.

Kalau toh kalah juga terpaksa aku mengancam: baik, kalau Mevrouw tak suka, lukisan ini akan

kutebus sendiri, akan kupasang di rumahku sendiri. Biasanya ancaman demikian menimbulkan

kecucukan.


Orang segera bertany a: untuk apa ? Dan kujawab: kalau sudah jadi milikku apakah juga takkan ada

halangan. Diapakan, misalnya ? Ya, memang bisa aku ben berkumis – (tapi tak pernah aku

nyatakan demikian). Pendekny a sampai sekarang aku tak pernah kalah dalam kebawelan, apalagi

setelan tahu: kebawelan banyak kali dianggap wanita sebagai ukuran Kelihaian.

“Sudah sore, Jean, aku pulang.”

“Terimakasih, Minke, atas segala dan semua kebaikanmu, ia lambaikan tangan meminta aku

mendekat. “Bagaimanai seK lahmu ? Buat kepentingan May dan aku kau tak pernah semp*

belajar di rumah. Aku kuatir.......”

“Beres, Jean. Ujian selalu aku lalui dengan selamat.” Menyeberangi pagar hidup di samping

rumah sampailah aku di pelataran pemondokan. Darsam sudah lama menunggu aku dengan

sepucuk surat.

“Tuanmuda,” ia memberi tabik, kemudian bicara jawa, “Nyai menunggu jawaban. Darsam

menunggu, Tuanmuda.”

Surat itu memberitahukan: keluarga Wonokromo menantikan kedatanganku, Annelies sekarang

jadi pelamun, tak suka makan, pekerjaannya banyak terbengkalai, dan salah. “Sinyo Minke,

alangkah akan berterimakasih seorang ibu yang banyak pekerjaan ini kalau Siny o sudi

memperhatikan kesulitanny a. Annelies satu-satunya pembantuku. Aku takkan mampu kerjakan

semua seorang diri. Aku kuatir sekali akan kesehatannya.

Kedatangan Sinyo adalah segala-galanya bagi kami berdua. Datanglah, Nyo, biar pun hanya

sebentar. Satu-dua jam pun memadai. Namun kami mengharapkan dengan sangat agar Sinyo

suka tinggal pada kami.

Selanjutnya terimakasih tak berhingga untuk perhatian dan kesudian Sinyo.”

Surat itu tertulis dalam Belanda yang patut dan benar. Rasanya tak mungkin ditulis oleh seorang

lulusan sekolah dasar tanpa pengalaman.

Entahlah, mungkin ditulis oleh orang lain. Setidak-tidakny a bukan oleh Robert Mellema. Tapi apa

pentingnya siapa penulisnya ? Surat itu memberanikan aku, mengembalikan kepribadianku: bukan

aku saja telah tergenggam oleh mereka, mereka sebaliknya pun tergenggam olehku.

Genggam-menggenggamlah, kalau tak dapat dikatakan sihir-menyihir.

Seorang ibu y ang bijaksana dan berwibawa seperti Nyai memang dibutuhkan oleh setiap anak,

dan dara cantik tiada bandingan dibutuhkan oleh setiap pemuda.

Lihat: mereka membutuhkan aku demi keselamatan keluarga dan perusahaan.

Kan aku termasuk hebat juga ? Aduh, sekarang ini betapa bany ak alasan dapat aku bariskan untuk


membenarkan diri sendiri. Baik. Aku akan datang.

4. SURAT NYAI MEMANG TIDAK BERLEBIHAN. Annelies kelihatan susut. Ia sambut aku

pada tangga depan rumah. Matanya bersinar-sinar menghidupkan kembali wajahny a y ang pucat

waktu ia menjabat tanganku.

Robert Mellema tidak nampak. Aku pun tak menanyakan.

Nyai muncul dari pintu di samping ruang depan.

“Akhirnya kau datang juga, Nyo. Betapa lamanya Annelies harus menunggu.

Urus abangmu itu, Ann, aku masih banyak kerja, Nyo.”

Aku masih sempat melirik ke dalam ruangan di samping ruangdepan.

Ternyata tak lain dari kantor perusahaan. Nyai menutup kembali pintu, hilang di baliknya.

Seperti pada kedatanganku yang pertama juga sekarang timbul perasaan itu dalam hati: seram.

Setiap waktu rasanya bisa terjadi peristiwa aneh.

Waspada, hati ini memperingatkan. Jangan lengah. Seperti dulu juga sekarang sepantun suara

bertanya padaku: mengapa kau begitu bodoh berkunjung kemari ? Sekarang hendak coba-coba

tinggal di sini pula ?

Mengapa tidak pulang pada keluarga sendiri kalau memang bosan tinggal di pemondokan ? Atau

cari pemondokan lain ? Mengapa kau mengikuti tarikan rumah seram ini, tidak melawan, bahkan

menyerahkan diri mentah-mentah ?

Annelies membawa aku masuk ke kamar yang dulu pernah kutempati. Darsam menurunkan kopor

dan tasku dari bendi dan membawany a ke dalam kamar.

“Biar kupindahkan pakaianmu ke dalam lemari,” kata gadis itu. “Mana kunci kopormu ? Sini!”

Aku serahkan kunci koporku dan ia mulai sibuk. Buku-buku dari kopor ia deretkan di atas meja,

pakaian ke dalam lemari. Kemudian tas dibongkarnya. Darsam menaruh kopor dan tas kosong dia

atas lemari. Dan Annelies kini memperbaiki deret buku itu sehingga nampak seperti serdadu

berbaris.

“Mas!” itulah untuk pertama kali ia memanggil aku - panggilan yang mendebarkan, menimbulkan

suasana seakan aku berada di tengah keluarga Jawa. “Ini ada tiga pucuk surat. Kau belum lagi

membacany a. Mengapa tak dibaca ?”

Rasany a semua orang menuntut aku membacai surat-surat y ang kuterima.

“Tiga pucuk, Mas, semua dari B.”


“Ya, nanti kubaca.” .

Ia antarkan surat-surat itu padaku, berkata: “Bacalah. Barangkali penting.”

Ia pergi untuk membuka pintu luar. Dan surat-surat itu kuletakkan di atas bantal. Kususul dia. Di


hadapan kami terbentang taman yang indah, tidak luas, hampir-hampir dapat dikatakan kecil-

mungil, dengan kolam dan beberapa angsa putih bercengkerama - seperti dalam gambar-gambar.


Sebuah bangku batu berdiri di tepi kolam.

“Mari,” Annelies membawa aku keluar, melalui jalan beton dalam apitan gazon hijau.

Duduklah kami di atas bangku batu itu. Annelies masih juga memegangi tanganku.

“Apa Mas lebih suka kalau aku bicara Jawa ?”

Tidak, aku tak hendak menganiay anya dengan bahasa yang memaksa ia menaruh diri pada

kedudukan sosial dalam tata-hidup Jawa yang pelik itu.

“Belanda sajalah,” kataku.

“Lama betul kami harus tunggu kau.”

“Bany ak pelajaran, Ann, aku harus berhasil.”

“Mas pasti berhasil.”

“Terimakasih. Tahun depan aku harus tamat. Ann, aku selalu terkenang padamu.”

Ia pandangi aku dengan wajah bersinar-sinar dan dirapat kanny a tubuhnya padaku.

“Jangan bohong,” katanya.

“Siapa akan bohongi kau ? Tidak.”

“Betul itu ?” ..,•

“Tentu. Tentu.”

Aku pelukkan tanganku pada pinggangnya dan kudengar nafasny a terengah-engah. Ya Allah, Kau

berikan dara tercantik di dunia ini kepadaku. Aku pun berdebar-debar.

“Di mana Robert ?” tanyaku untuk penenang jantung.

“Apa guna kau tanyakan dia ? Mama pun tak pernah bertanya di mana dia berada.”

Nah, satu masalah sudah mulai timbul. Dan aku merasa tak patut untuk mencampuri.


“Mama sudah merasa tak sanggup, Mas, ia menunduk dan suaranya mengandung duka.

“Sekarang ini semua kewajibanny a aku yang harus lakukan.”

Aku perhatikan bibirny a y ang pucat dan seperti lilin tuangan itu” “Dia tak menyukai Mama. Juga

tidak meny ukai aku. Dia jarang di rumah. Kan Mas sendiri pernah saksikan aku bekerja ?”

Kudekap tubuhnya untuk menyatakan sympati.

“Kau gadis luarbiasa.”

“Terimakasih, Mas,” jawabnya senang. “Kau ak perlu perhatikan Robert.

Dia benci pada semua dan segala yang serba Pribumi kecuali keenakan yang bisa didapat

daripadanya. Rasa-rasany a dia bukan anak sulung Mama, bukan abangku, seperti orang asing

yang tersasar kemari.”

Jelas ia banyak memikirkan abangny a, dan memikirkannya dengan prihatin — anak semuda ini.

“Aku juga tak melihat Tuan Mellema,” kataku mencari pokok lain.’

“Papa ? Masih juga takut padanya ? Maafkan malam buruk itu. Dia pun tak perlu kau perhatikan.

Papa sudah menjadi begitu asing di rumah ini.

Seminggu sekali belum tentu pulang, itu pun hanya untuk pergi lagi.

Kadang tidur sebentar, kemudian menghilang lagi entah ke mana. Maka seluruh tanggungjawab

dan pekerjaan jatuh ke atas pundak Mama dan aku.”

Keluarga macam apa ini ? Dua orang wanita, ibu dan anak, bekerja dengan diam-diam

mempertahankan keluarga dan perusahaan sebesar itu ?

“Bekerja di mana Tuan Mellema ?”

“Jangan perhatikan dia, pintaku, Mas. Tak ada yang tahu bekerja di mana.

Dia tak pernah bicara, seperti sudah bisu. Ka-I mi pun tak pernah bertanya. Tak ada orang bicara

dengannya. Sudah berjalan lima tahun sampai sekarang. Rasa-rasanya memang sudah seperti itu

sejak semula kuketahui. Dia dulu memang begitu baik dan ramah. Setiap hari menyediakan waktu

i untuk bermain-main dengan kami. Waktu aku duduk di kias dua j E.L.S. mendadak semua jadi

berubah. Beberapa hari perusa- .

haan tutup. Dengan mata merah Mama datang ke sekolah men- | jemput aku, Mas, mengeluarkan

aku dari sekolah untuk selain lamanya. Mulai hari itu aku harus membantu pekerjaan Mama

dalam perusahaan. Papa tak pernah muncul lagi, kecuali beberapa menit dalam satu atau dua

minggu. Sejak itu pula Mama tak pernah menegurnya, juga tak mau menjawab

pertanyaannya.....”


Cerita y ang tidak menyenangkan.

“Juga Robert dikeluarkan dari sekolah ?“tanyaku mengalihkan. “Pada waktu aku dikeluarkan dia

duduk di kias tujuh — tidak, dia tidak dikeluarkan.‘1

“Meneruskan sekolah mana dia kemudian ?”, “Dia lulus, tapi tak mau meneruskan. Juga tak mau

bekerja. Sepakbola dan berburu dan berkuda. Itu saja.” “Mengapa dia tidak membantu Mama ?”

“Dia pembenci Pribumi, kecuali keenakannya, kata Mama. Bagi dia tak ada yang lebih agung

daripada jadi orang Eropa dan semua Pribumi harus tunduk padany a. Mama menolak tunduk. Dia

mau menguasai seluruh perusahaan. Semua orang harus bekerja untuknya, termasuk Mama dan

aku.”

“Kau juga dianggapny a Pribumi ?” tanyaku hati-hati. “Aku Pribumi, Mas,”

jawabnya tanpa ragu. “Kau heran ? Memang aku lebih berhak mengatakan diri Indo. Aku lebih

mencintai dan mempercayai Mama, dan Mama Pribumi, Mas.”

Memang keluarga teka-teki, setiap orang menduduki tempatnya sebagai peran dalam sandiwara

seram. Banyak Pribumi mengimpi jadi Belanda, dan gadis yang lebih banyak bertampang Eropa

ini lebih suka mengaku Pribumi.

Annelies terus bicara dan aku hanya mendengarkan. “Kalau itu yang kau kehendaki,” terusnya,

“mudah, Robert, kata Mama, sekarang kau sudah dewasa. Kalau papamu mati, pergi kau pada

advokat, mungkin kau akan dapat kuasai seluruh perusahaan ini. Kata Mama pula: Tapi kau harus

ingat, kau masih punya saudara tiri dari perkawinan syah, seorang insinyur bernama Maurits

Mellema, dan kau takkan kuat berhadapan dengan seorang Totok. Kau hanya Peranakan. Kalau

betul kau hendak menguasai perusahaan dengan baik-baik, belajarlah kau bekerja seperti

Annelies.

Memerintah pekerja pun kau tidak bisa, karena kau tak bisa memerintah dirimu sendiri.

Memerintah diri sendiri kau tak bisa karena kau tak tahu bekerja.”

“Lihat angsa itu, Ann, putih seperti kapas,” kataku mengalihkan. Tapi dia bicara terus. “Mengapa

rahasia keluarga kau sampaikan padaku ?”

“Karena Mas tamu kami dalam lima tahun ini. Tamu kami, tamu keluarga.

Memang ada beberapa tamu, hanya semua berhubungan dengan perusahaan. Ada juga tamu

keluarga, tapi didokter keluarga kami. Karena itu kaulah tamu pertama itu. Dan kau begitu dekat,

begitu baik pada Mama mau pun aku,”

suarany a mendesah suny i, tak kekanak-kanakan. “Lihat, tak segan-segan aku ceritakan semua itu

padamu, Mas. Kau pun jangan segan-segan di sini.


Kau akan jadi sahabat kami berdua/’ Suarany a menjadi semakin sentimentil dan berlebihan:

“Segala milikku jadilah milikmu. Mas. Kau bebas sekehendak hati dalam rumah M.”

Betapa sunyi hati gadis dan ibuny a di tengah-tengah kekayaan melimpah ini.

“Nah, mengasohlah. Aku hendak bekerja sekarang.”

Ia berdiri hendak berangkat. Ia pandangi aku sebentar, ragu, mencium pipiku, kemudian berjalan

cepat meninggalkan aku seorang diri......

Berapa lama sudah ia simpan perasaannya. Sekarang akulah tempat tumpahan curahan.

Dari tempat dudukku terdengar deru pabrik beras yang sedang bekerja.

Bunyi andong-andong pengantar susu y ang berangkat dan datang.

Derak-derik grobak-grobak mengangkuti sesuatu dari dan ke gudang.

Pukulan-pukulan gebahan orang melepas kacang-kacangan dari kulitnya, sambil bergurau.

Aku masuk ke kamar, membuka-buka buku catatanku dan mulai menulis tentang keluarga aneh

dan seram ini, yang karena suatu kebetulan telah membikin aku terlibat di dalamnya. Siapa tahu

pada suatu kali kelak bisa kubuat cerita seperti Bila Mawar pada Layu cerita bersambung

menggemparkan tulisan Hertog Lamoy e ? Ya, siapa tahu ? Selama ini aku hanya menulis teks

iklan dan artikel pendek untuk koranlelang. Siapa tahu ? Dengan nama sendiri terpampang dan

dibaca oleh umum ? Siapa tahu ?

Semua kata-kata Annelies telah kucatat. Bagaimana tentang Darsam si pendekar ? Aku belum tahu

bany ak tentangnya. Berpihak pada siapa dia di antara tiga golongan dalam keluarga seram ini ?

Tiadakah dia justru bahaya terdekat bagi ketiga-tiga pihak ? Bahaya ? Adakah bahaya itu

sesungguhnya ? Kalau ada kan aku sendiri pun ikut terancam ? Kalau benar ada, untuk apa pula

aku tinggal di sini ? Kan lebih baik aku pergi ?

Pergi begitu saja aku tak kuasa. Gadis mempesonakan ini ke mana pun terbawa dalam pikiran.

Ketukan pada pintu itu membikin aku menggagap, Nyai telah berdiri di hadapanku.

“Tak terkirakan gembira Annelies dan aku Sinyo sudi datang, lihat Nyo dia sudah mulai bekerja

lagi, mendapatkan kegenitanny a yang semula.

Kedatangan Sinyo bukan sekedar membantu kelancaran perusahaan, terutama untuk kepentingan


Annelies sendiri. Dia mencintai Sinyo. Dia membutuhkan perhatianmu. Maafkan keterus-

teranganku ini, Minke ” .


“Ya Mama” jawabku takzim, rasanya lebih daripada kepada ibuku sendiri, dan kembali kurasai

daya sihirny a mencekam, ”Sudahlah, tinggal di sini saja. Kusir dan bendi bisa disediakan khusus


untuk keperluan Sinyo.”

“Terimakasih, Mama.”

“Jadi Siny o bersedia tinggal di sini, bukan ? Mengapa diam saja?, ya ..

y a pikirkanlah dulu. Pendekny a, sekarang ini Sinyo sudah tinggal di sini.”

“Ya Mama,” dan genggamannya atas diriku semakin terasa.

Baik. Istirahatlah. Biar terlambat, tentunya tak ada buruknya aku ucapkan selamat naik klas.”

Dengan demikian aku mulai menjadi batih baru keluarga ini. Dengan catatan tentu: aku harus

tetap waspada, terutama terhadap Darsam. Aku takkan terlalu dekat padany a. Sebalikny a harus

selalu sopan padanya.

Robert barangtentu akan membenci aku sebagai Pribumi tanpa harga. Tuan Herman Mellema

tentu akan menyembur aku pada setiap kesempatan yang didapatnya Pendeknya aku harus

waspada - kewaspadaan sebagai bea kebahagiaan hidup di dekat gadis cantik tanpa bandingan:

Annelies Mellema. Dan apa bisa diperoleh dalam hidup ini tanpa bea ? Semua harus dibayar,

atau ditebus, juga sependek-pendek kebahagiaan.

***


Pada waktu makan malam Robert tak muncul. Bayang-bayang dan langkah meny eret Tuan

Mellema pun tiada.

“Minke, Nyo,” Nyai memulai, “Kalau suka bekerja dan berusaha, kau cukup di sini saja bersama

kami. Kami pun akan merasa lebih aman dengan seorang pria di dalam rumah ini. Maksudku, pria

y ang dapat diandalkan.”

“Terimakasih, Mama. Semua itu baik dan menyenangkan, sekali pun harus kupikirkan dulu,” dan

kuceritakan keadaan keluarga Jean Marais yang masih membutuhkan jasa-jasaku.

“Itu baik,” kata Nyai, “manusia yang wajar mesti puny a sahabat, persahabatan tanpa pamrih.

Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi.....suarany a lebih banyak tertuju pada diri sendiri.

Mendadak: “Nah, Ann, Sinyo Minke sudah ada di dekatmu. Lihat baik-baik. Dia sudah ada di

dekatmu. Sekarang, kau mau apa ..”

“Ah, Mama!” desau Annelies dan melirik padaku.

“Ah-Mama ah-Mama saja kalau ditanyai. Ayoh, bicara sekarang, biar aku ikut dengarkan.”

Annelies melirik padaku lagi dan mukanya mcrahpadam. Ny ai tersenyum bahagia. Kemudian

menatap aku, berkata:


“Begitulah, Nyo, dia itu — seperti bocah kecil. Sedang kau sendiri, Nyo, apa katamu sekarang

setelah di dekat Annelies ?”

Sekarang giliranku tersipu tak bisa bicara. Dan barang tentu aku takkan mungkin berseru ah-Mama

seperti Annelies. Perempuan ini memang berpikiran cepat dan tajam, langsung dapat

menggagapi hati orang, seakan ia dengan mudah dapat mengetahui apa yang hidup dalam dada.

Barangkali di situ letak kekuatannya y ang mencekam orang dalam genggamanny a, dan mampu

pula mensihir orang dari kejauhan. Apalagi dari dekat.

“Mengapa kalian berdua pada diam seperti sepasang anak kucing kehujanan ?” ia tertawa senang

pada perbandingannya sendiri, Memang bukan nyai sembarang nyai. Dia hadapi aku, siswa

H.B.S. tanpa merasa rendahdiri. Dia punya keberanian menyatakan pendapat. Dan dia sadar akan

kekuatan pribadinya. J

Kami lewatkan malam itu dengan mendengarkan waltz Austria dari phonograf. Mama membaca

sebuah buku. Buku apa aku tak tahu. Annelies duduk di dekatku tanpa bicara. Pikiranku justru

melay ang pada May Marais. Dia akan senang di sini, kiraku. Dia senang mendengarkan lagu-lagu

Eropa. Tak ada phonograf di rumahnya, pun tidak di pemondokanku.

Mulailah aku ceritakan padanya tentang gadis cilik y ang kehilangan ibunya. Dan nasib ibuny a.

Dan kebaikan hati Jean Marais. Dan kebijaksanaannya. Dan kesederhanaanny a.

Ny ai berhenti membaca, meletakkan buku di pangkuan dan ikut mendengarkan ceritaku.

Phonograf dilayani seorang pelayan wanita.

Aku teruskan ceritaku tentang Jean Marais. Pada suatu kali ia dengar regunya mendapat perintah

meny erbu sebuah kampung di Biang Kejeren.

Mereka berangkat pagi-pagi dan sampai di kampung itu sekitar jam sembilan pagi. Dari jauh

mereka telah menghamburkan peluru ke udara agar semua pelawan menyingkir, dan dengan

demikian tidak perlu terjadi pertempuran. Mereka menembak-nembak lagi ke udara sambil

berteduh di bawah pepohonan. Beberapa kemudian mereka berjalan lagi, siap memasuki

kampung. Betul saja kampung itu telah kosong. Reguny a masuk tanpa perlawanan. lak seorang

pun dapat ditemukan. Seorang bay i pun tidak.

Orang mulai memasuki rumah-rumah dan mengobrak-abrik apa saja yang bisa dirusak.

Penduduk sudah begitu melaratnya selama lebih dua puluh tahun berperang.

Tak ada didapatkan sesuatu untuk kenang-kenangan. Kopral Telinga telah memerintahkan

membakar semua rumah, lepat pada waktu itu orang-orang Aceh nampak seperti rombongan

semut, laki dan perempuan. Semua berpakaian hitam. Berseru-seru dalam berbagai macam nada

memanggil-manggil Allah. Beberapa orang saja nampak berikat-pinggang selendang merah.

Di dalam kampung itu sendiri tiba-tiba muncul beberapa orang lelaki muda Aceh, menerjang.


Mengamuk dengan parang. Entah dari mana datangny a.

Senapan tak bisa dipergunakan lagi. Dan semut hitam di kejauhan itu makin mendekat juga. Regu

Telinga kocar-kacir, sekali pun sebagian besar para pengamuk tewas. Sisanya melarikan diri.

Dengan mengangkuti teman-teman sendiri yang terluka regu itu tergesa meninggalkan kampung.

Jean Marais terjebak dalam ranjau bambu. Sebilah yang runcing telah menembusi kakiny a.

Juga Telinga terkena ranjau, hanya kurang parah. Orang mencabut’bilah bambu dari kakinya, dan

Jean pingsan. Mereka lari dan lari dan lari.

Orang tak dapat menduga apa y ang sedang dipersiapkan di luar rombongan semut yang

mendatang itu. Orang Aceh pandai bermain muslihat. Bisa saja mendadak muncul pasukan

pelawan baru. Hany a lari dan lari yang mereka bisa. Dan membawa kurban yang bisa dibawa.

Para kurban dirawat di rumah sakit Kompeni. Lima belas hari kemudian ketahuan kaki Jean

Marais terserang gangreen pada perbukuan lutut.

Beberapa bulan yang lalu ia telah kehilangan kekasihnya, seTcarang ia kehilangan sebuah dari

kakiny a, dipotong di atas lutut.

‘.‘Bawalah anak itu kemari,” kata Nyai. “Annelies akan suka sekali mendapatkan adik. Bukan, Ann

? Oh, tidak, kau tidak membutuhkan adik, kau sudah mendapatkan Minke.”

“Ah, Mama ini!” serunya malu.

Dan aku sendiri tidak kurang dari itu. Tak ada peluang lain. Sudah kucoba bangunkan diri.sebagai

pria berpribadi dan utuh di hadapan wanita luarbiasa ini. Tak urung setiap kali ia bicara usahaku

gagal.

Kepribadianku terlindungi oleh bayang-bayangnya. Memang aku tahu: yang demikian tak boleh

berlarut terus.

“Mama, ijinkan aku bertany a,” begitu usahaku untuk keluar dari bayang-bayangnya, “lulus

sekolah apa Mama dulu ?”

“Sekolah” ia menelengkan kepala seperti sedang mengintai langit, menjernihkan ingatan.

“Seingatku belum pernah”

“Mana mungkin ? Mama bicara, membaca, mungkin juga menulis Belanda. Mana bisa tanpa

sekolah.

“Apa salahny a ? Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima.”

Sungguh aku terperanjat mendengar jawaban itu. Tak pernah itu dikatakan oleh setiap orang di

antara guru-guruku.


Maka malam itu aku sulit dapat tidur. Pikiranku bekerja keras memahami’

wanita luarbiasa ini. Orang luar sebagian memandangny a dengan mata sebelah karena ia hanya

seorang nyai, seorang gundik. Atau orang menghormati hanya karena kekayaanny a. Aku

melihatny a dari segi lain lagi: dan segala apa yang ia mampu kerjakan, dari segala apa yang ia

bicarakan Aku benarkan peringatan Jean Marais: harus adil sudah sejak dalam pikiran, jangan

ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara y ang tidak diketahui benar-tidaknya.

Memang ada sangat banyak wanita hebat. Hanya saja baru Nyai Ontosoroh yang pernah

kutemui. Menurut cerita Jean Marais wanita Aceh sudah terbiasa turun ke medan-perang

melawan Kompeni. Dan rela berguguran di samping pria. Juga di Bali. Di tempat kelahiranku

sendiri wanita petani bekerja bahu-membahu dengan kaum pria di sawah dan ladang. Namun

semua itu tidak seperti Mama - dia tahu lebih daripada hanya kampung-halaman sendiri.

Dan semua teman sekolah tahu ada juga seorang wanita Pribumi yang hebat, seorang dara,

setahun lebih tua daripadaku. Ia putri Bupati J. - wanita Pribumi pertama yang menulis dalam

Belanda, diumumkan oleh majalah keilmuan di Betawi. Waktu tulisannya yang pertama

diumumkan ia berumur 17. Menulis tidak dalam bahasa ibu sendiri! Setengah dari teman-temanku

menyangkal kebenaran berita itu. Mana bisa ada Pribumi, dara pula, hanya lulusan E.L.S., bisa

menulis, menyatakan pikiran secara Eropa, apalagi dimuat di majalah keilmuan ? Tapi aku

percaya dan harus percaya, sebagai tambahan key akinan aku pun bisa lakukan apa y ang ia bisa


lakukan. Kan telah kubuktikan aku juga bisa melakukan ? Biar pun masih taraf coba-coba dan kecil-

kecilan ? Bahkan dialah y ang merangsang aku untuk menulis. Dan didekatku kini ada wanita lebih


tua. Dia tidak menulis, tapi ahli mencekam orang dalam genggamannya. Dan dia mengurus

perusahaan besar secara Eropa! Dia menghadapi sulungnya sendiri, menguasai tuanny a,

Herman Mellema, bangunkan bungsunya untuk jadi calon administratur, Annelies Mellema -

dara cantik idaman semua pria.

Aku akan pelajari keluarga aneh dan seram ini. Dan bakal kutulis.

5. TAK DAPAT AKU MENAHAN KECUCUKANKU. UNTUK mengetahui siapa sebenarny a

Nyai Ontosoroh yang hebat ini. Beberapa bulan kemudian baru kuketahui dari cerita lisan

Annelies tentang ibunya. Setelah kususun kembali cerita itu jadi begini:

Kau tentu masih ingat pada kunjunganmu yang pertama, Mas. Siapa pula bisa melupakan ? Aku

pun tidak. Seumur hidup pun tidak. Kau gemetar mencium aku di depan Mama. Aku pun gemetar.

Kalau tiada diseret oleh Mama aku masih terpukau pada anaktangga. Kemudian bendi merenggut

kau dari padaku.

Ciumanmu terasa panas pada pipiku. Aku lari ke kamar dan kuperiksa mukaku pada kaca cermin.

Tiada sesuatu yang berubah. Makan kita malam itu tak bersambal, hanya sedikit lada. Mengapa

begini panas ? Kugosok dan kuhapus. Masih juga panas. Kemana pun mata kulayangkan selalu

juga tertumbuk pada matamu.


Sudah gilakah aku ? Mengapa kau juga yang selalu nampak, Mas ? dan mengapa aku senang di

dekatmu, dan merasa suny i dan menderita jauh daripadamu ? Mengapa tiba-tiba merasa

kehilangan sesuatu setelah kepergianmu ?

Aku berganti Pakaian-tidur dan memadamkan lilin, masuk keranjang.

Kegelapan justru semakin memperjelas wajahmu, aku ingin menggandengmu seperti siang tadi.

Tapi tanganmutidak ada. Kumiringkan badan kekiri dan kekanan , tidak juga mau tdur. Tidak juga

mau tidur.

Berjam-jam. Dalam dadaku terasa ada sepasang tangan y ang jari-jarinya menggelitik memaksa

aku berbuat sesuatu.

Berbuat apa ? Aku sendiri tak tahu. Kulemparkan selimut dan guling.

Kutinggalkan kamar.

Tanpa sadarku panas pada pipi itu terasa tiada lagi.

Aku meny erbu ke kamar Mama tanpa mengetuk pintu seperti biasa ia belum tidur. Ia sedang

duduk pada meja membaca buku. Ia berpaling padaku sambil menutup buku, dan sekilas terbaca

olehku berjudul Ny ai Dasima.

“Buku apa, Ma ?i

Ia masukkan benda itu ke dalam laci.

“Mengapa belum juga tidur ?”

“Malam ini ingin tidur sama Mama.”

“Perawan sebesar ini masih mau tidur sama biang”.

“Ma, ijinkanlah.”

“Sana, naik dulu!”

Aku naik dulu ke ranjang. Mama turun untuk memeriksai pintu dan jendela.

Kemudian naik lagi, mengunci pintu kamar menurunkan klambu, memadamkan lilin. Gelap-gelita

di dalam kamar.

Di dekatnya aku merasa agak tenang dengan harap cemas menunggu kata-katanya tentang kau,

Mas.

“Ya, Annelies,” ia memulai, “mengapa takut tidur sendirian ? - kau yang sudah sebesar ini ?”


“Mama, pernah Mama berbahagia ?”

“Biar pun pendek dan sedikit setiap orang pernah» Ann.”

“Berbahagia juga Mama sekarang ?”

“Yang sekarang ini aku tak tahu. Yang ada hanya kekuatiran, hanya ada satu keinginan. Tak ada

sangkut-paut dengan kebahagiaan y ang kau tanyakan. Apa peduli diri ini berbahagia atau tidak ?

Kau y ang kukuatirkan. Aku ingin lihat kau berbahagia .....”

Aku menjadi begitu terharu mendengarkan itu. Aku peluk Mama dan aku cium dalam kegelapan

itu. Ia selalu begitu baik padaku. Rasa-rasanya takkan ada.orang lebih baik.

“Kau say ang pada Mama, Ann ?”

Pertanyaan-untuk pertama kali ftu diucapkan, membikin aku berkaca-kaca, Mas. Nampaknya saja

ia selalu keras.

“Ya, Mama ingin melihat kau berbahagia untuk selama-lamanya. Tidak mengalami kesakitan

seperti aku dulu. Tak mengalami kesunyian seperti sekarang ini: tak puny a teman,, tak punya

kawan, apalagi sahabat.

Mengapa tiba-tiba datang membawa kebahagiaan ?”

“Jangan tanyai aku, Ma, ceritalah.”

Ann, Annelies, mungkin kau tak merasa, tapi memang aku didik kau secara keras untuk bisa

bekerja, biar kelak tidak ha rus tergantung pada suami, kalau - y a, moga-moga tidak - kalau-kaiau

suami itu semacam ayahmu itu.” “

Aku tahu Mama telah kehilangan penghargaanny a terhadan Papa. Aku dapat memahami

sikapnya, maka tak perlu bertanya tentangnya. Yang kuharapkan memang bukan omongan

tentang itu. Aku ingin mengetahui adakah ia pernah merasai apa yan» ku rasai sekarang.

“Kapan Mama merasa sangat, sangat berbahagia ?” “Ada banyak tahun setelah aku ikut Tuan

Mellema, ay ahmu.”

“Lantas, Ma ?”

“Kau masih ingat waktu kau kukeluarkan dari sekolah ? Itulah akhir kebahagiaan itu. Kau sudah

besar sekarang, sudah harus tahu memang.

Harus tahu apa sebenarnya telah terjadi. Sudah beberapa minggu ini aku bermaksud

menceritakan. Kesempatan tak kunjung tiba juga. Kau mengantuk”. “Mendengarkan, Ma.”

“Pernah Papamu bilang, dulu, waktu kau masih sangat, sangat kecil: seorang ibu harus


meny ampaikan pada anak-perempuannya semua y ang dia harus ketahui ......

“Pada waktu itu .......”

“Betul, Ann, pada waktu itu segala dari Papamu aku hormati, aku ingat-ingat’ aku jadikan

pegangan. Kemudian ia berubah, berlawanan dengan yang pernah diajarkannya.

Ya, waktu ,tu mulai hilang kepercayaan dan hormatku padanya”

“Ma, pandai Papa dulu, Ma ?.”

“Bukan saja pandai, juga baik hati, Dia yang mengajari aku segala tentang pertanian, perusahaan,

pemeliharaan hewan, pekerjaan kantor.

Mula-mula diajari aku bahasa Melay u, kemudian membaca dan menulis dan bahasa Belanda,

Papamu bukan hanya mengajar dengan sabar tetapi juga menguji semua yang telah

diajarkanny a. Kemudian diajariny a aku semua yang berurusan dengan Bank, ahli-ahli Hukum,

aturan dagang. Semua yang sekarang mulai juga kuajarkan padamu.”

“Mengapa papa bisa berubah begitu Ma?.”

“Ada, Ann, ada sebabnya. Sesuatu telah terjadi, hanya sekali, kemudian dia kehilangan seluruh

kebaikan, kepandaian, keterampilan, kecerdasannya. Rusak, Ann, binasa karena kejadian yang

satu itu. Ia berubah menjadi orang lain, jadi binatang yang tak kenal anak dan isteri lagi.”

“Kasihan, Papa.”

“Ya-Tak tahu diurus’ ,ebih suka mengembara tak menentu.”

Mama tak meneruskan ceritany a. Kisahny a seakan jadi peringatan terhadap hari depanku, Mas”

Dunia menjadi semakin senyap. Yang kedengaran hanya nafas kami berdua. Sekiranya Mama

tidak bertindak begitu keras terhadap Papa – begitu berkali-kali diceritakan oleh Mama - tak tahu

aku apa yang terjadi atas diriku Mungkin jauh, jauh lebih buruk yang dapat kusangkakan.

“Tadinya terpikir olehku untuk membawanya ke rumahsakit jiwa. Ragu Ann.

Pendapat orang tentang kau, Ann, bagaimana nanti ? Kalau ayahmu ternyata memang gila dan

oleh Hukum ditaruh onder curateele ?* Seluruh perusahaan, kekayaan dan keluarga akan diatur

seorang curator yang ditunjuk oleh Hukum Mamamu, hanya perempuan Pribumi, akan tidak

mempunyai sesuatu hak atas semua, juga tidak dapat. berbuat sesuatu untuk anakku sendin, kau,

Ann. Percuma saja akan jadinya kita berdua membanting tulang tanpa hari libur ini. Percuma

‘aku telah lahirkan kau, karena Hukum tidak mengakui keibuanku, hanya karena aku Pribumi dan

tidak dikawin secara sy ah. Kau mengerti ?.”

“Mama!” bisikku. Tak pernah kuduga begitu banyak kesulitan yang dihadapiny a.


“Bahkan ijin-kawinmu pun akan bukan dari aku datangny a, tapi dari curator itu - bukan sanak

bukan semenda. Dengan membawa Papamu ke rumahsakit jiwa, dengan campurtangan

pengadilan, umum akan tahu keadaan Papamu, umum akan.....kau, Ann, nasibmu nanti, Ann.

Tidak!”

“Mengapa justru aku, Ma ?”

“Kau tidak mengerti ? Bagaimana kalau kau dikenal umum sebagai anak orang sinting ?

Bagaimana akan tingkaumu dan tingkahku di hadapan mereka ?”

Aku sembuny ikan kepalaku di bawah ketiaknya, seperti anak ayam. Tiada pernah aku sangka

keadaanku bisa menjadi seburuk dan senista itu.

“Ayahmu bukan dari keturunannya menjadi begitu,” kata Mama meyakinkan.

“Dia menjadi begitu karena kecelakaan. Hanya orang mungkin akan menyamakan saja, dan kau

bisa dianggap puny a benih seperti itu juga.”

Aku menjadi kecut. “Itu sebabnya dia kubiarkan. Aku tahu dimana dia selama mi bersarang

Cukuplah asal tidak diketahui umum”.

Lambat-lambat persoalan pribadiku terdesak oleh belas-kasihanku pada Papa.

“Biarlah, Ma, biar kuurus Papa.

“Dia tidak kenal kau.”

“Tapi dia Papaku, Ma.”

“Stt. Belas-kasihan hanya untuk yang tahu. Kaulah yang lebih memerlukanny a - anak orang

semacam dia. Ann, kau harus mengerti: dia sudah berhenti sebagai manusia. Makin dekat kau

dengannya, makin terancam hidupmu oleh kerusakan. Dia telah menjadi hewan yang tak tahu

lagi baik daripada buruk. Tidak lagi bisa berjasa pada sesamanya. Sudah, jangan tanyakan lagi.”

Kumatikan keinginanku untuk mengetahui lebih jauh. Bila Mama sudah bersungguh begitu tidak

bijaksana untuk berulah.

Aku tak tahu ibu dan anak orang-orang lain. Kami berdua tak puny a teman, tak punya sahabat.

Hidup hanya sebagai majikan terhadap buruh dan sebagai taoke terhadap langganan, dikelilingi

orang y ang semata karena urusan perusahaan, membikin aku tak bisa membanding-banding.

Bagaimana kaum Indo lainnya akupun tidak tahu. Mama bukan saja melarang aku bergaul, juga


tidak meny ediakan sisa waktu untuk memungkinkan. Mama adalah kebesaran dan kekuasaan satu-

satunya yang aku kenal.


“Kau harus mengerti, jangan lupakan seumur hidupmu, kita berdua ini yang berusaha sekuat


daya agar tak ada orang tahu, kau anak seorang yang sudah rusak ingatan,” Mama menutup

persoalan.

Kami berdua diam untuk waktu agak lama. Aku tak tahu apa y ang sedang dipikirkan atau

bayangkan. Di dalam dadaku sendiri jari-jari itu mulai lagl menggelitik. Tiada tertahankan. Masih

juga ia tidak mau bicara tentang kau Mas-Adakah dia setuju denganmu atau tidak Mas ? atau kau

dianggap sebagai unsur baru saja dalam perusahaan.

Kegelapan itu terasa tiada-Yang ada hany a kau. Tak lain daripada kau!, maka aku harus hentikan

ceritanya yang tidak meny enangkan itu, Jadi : “Mama ceritai aku bagaimana kau bertemu dan

kemudian dan kemudian hidup bersama papa.”

“Ya itu harus kau ketahui Ann, hanya saja jangan sampai kau tergoncang.

Kau anak manja dan berbahagia dibandingkan dengan mamamu ini pada umur y ang lebih muda

. Mari aku ceritai kau dan ingat-ingat selalu.”

Dan mulailah ia bercerita:

Aku punya seorang abang: Paiman. Dia lahir pada hari pasaran Paing, maka dinamai dia dengan

suku depan Pai. Aku tiga tahun lebih muda, dinamai: Sanikem. Ayahku bernama Sastrotomo

setelah kawin. Kata para tetangga, nama itu berarti: Jurutulis y ang utama

Kata orang, ayahku seorang yang rajin. Ia dihormati karena satu-satunya yang dapat baca-tulis

di desa, baca tulis y ang dipergunakan di kantor.

Tapi ia tidak puas hanya jadi jurutulis. Ia impikan jabatan lebih tinggi, sekali pun jabatannya

sudah cukup tinggi dan terhormat. Ia tak perlu lagi mencangkul atau meluku atau berkuli,

bertanam atau berpanen tebu.

Ayahku mempunyai banyak adik dan saudara sepupu. Sebagai jurutulis masih banyak kesulitan

padany a untuk memasukkan mereka bekerja di pabrik.

Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan, lagi pula akan semakin tinggi pada pandangan dunia.

Apalagi ia ingin semua kerabatnya bisa bekerja di pabrik tidak sekedar jadi kuli dan bawahan

paling rendah.

Paling tidak mandorlah. Untuk membikin mereka jadi kuli tak perlu orang punya sanak jurutulis B

semua orang bisa diterima jadi kuli kalau mandor setuju. Ia bekerja rajin dan semakin rajin.

Lebih sepuluh tahun.

Jabatan dan pangkatnya tak juga naik. Memang gaji dan persen tahunan selalu naik. Jadi

ditempuhnya segala jalan: dukunn, jampi, mantra, bertirakat memutih, berpuasa semn-kamis. tak

juga berhasil. , , Jabatan yang diimpikannya adalah jurubayar: kassier, pemegang kas pabrikgula

Tulangan, Sidoarjo. Dan siapa tidak berurutan dengan jurubay ar pabrik ? Paling sedikit


mandortebu Mereka datang untuk menerima uang dan membubuhkan « p jempol. Ia bisa

menahan upah mingguan kesatuan si mandor kalau ne-reka menolak cukaian atas penghasilan

para kuhnya Sebagai jurubay ar pabrik ia akan menjadi orang besar di Tulangan.

Pedagang akan membungkuk menghormati. Tuan tuan Totok dan Peranakan akan memberi tabik

dalam Melayu. Guratan penany a berarti uang! Ia akan termasuk golongan berkuasa dalam

Pabrik. Orang akan mendengarkan katany a: tunggu di bangku situ, untuk dapat menerima uang

dan tangannya. .

Mengibakan. Bukan kenaikan Jabatan, Kehormatan dan ketakziman yang ia dapatkan. Sebaliknya

kebencian dan kejijikan orang dan jabatan juru bayar itu tetap tergantung diawang-awang.

Tindakannya yang menjilat dan merugikan orang menjadikanny a tersisih dari pergaulan. Ia

terpencil ditengah lingkungannya sendiri.

Tapi ia tidak peduli, ia memang keras hati . Kepercay aannya pada kemurahan dan perlindungan

tuan-tuan kulit putih tak terpatahkan, Orang muak melihat usahanya menarik tuan-tuan Belanda itu

agar sudi datang ke rumah Seorang-dua memang datang juga dan disuguny a dengan segala apa

yang bisa menyenangkan mereka. Tapi jabatan itu tak juga tiba.

Malah melalui dukun dan tirakat ia berusaha menggendam Tuan Administratur, Tuan Besar

Kuasa, agar sudi datang ke rumah Juga tak berhasil. Sebaliknya ia sendiri sering berkunjung ke

rumahny a. Bukan untuk menemui pembesarny a karena sesuatu urusan. Untuk membantu kerja di

belakang! Tuan Administratur tak pernah mempedulikannya.

Aku sendiri merasa risi mendengar semua itu. Kadang dengan diam-diam kuperhatikan ay ahku

dan merasa iba. Betapa jiwa dan raganya disesah oleh impian itu. Betapa ia hinakan diri dan

martabat sendiri. Tapi aku tak berani bicara apa-apa. Memang kadang aku berdoa agar ia

menghentikan kelakuannya yang memalukan itu. Para tetangga sering bilang: lebih baik dan

paling baik adalah memohon pada Allah, sampai berapalah kekuasaan manusia, apalagi orang

kulit putih pula. Doaku untukny a bukan agar ia mendapatkan jabatan itu — agar ia dapat

mengebaskan diri dari kelakuannya yang memalukan. Waktu itu memang aku tidak akan mampu

bercerita seperti ini. Hany a merasakan dalam hati. Dan semua doaku juga tanpa hasil.

Tuan Besar Kuasa adalah seorang bujangan sebagai biasany a orang Totok pendatang baru.

Umurnya mungkin lebih tua dari ayahku, jurutulis Sastrotomo itu. Orang bilang, pernah juga

ayahku menawarkan wanita padanya. Orang itu bukan saja tidak menerima tawaran dan

berterimakasih, malah memaki, mengancam akan memecatnya’, Sejak itu ayah jadi ketawaan

umum. Ibuku menjadi kurus setelah mendengar sindiran orang: Jangan-jangan anakny a sendiri

nanti yang ditawarkan, yang mereka maksudkan adalah aku.

Tentu kau mengerti bagaimana sesak hidup ini mendengar itu. Sejak itu aku tak berani keluar

rumah lagi. Setiap waktu mataku liar menatap keruang depan kalau kalau ada tamu orang kulit

putih. Syukur tamu itu tidak ada.


Tidak seperti pegawai Belanda lainny aTuan Besar Kuasa tidak suka ikut bertay ub dalam pesta

giling. Setiap hari minggu ia pergi ke kota Sidoarjo untuk bersembahyang di gereja Protestan

Pada jam tujuh pagi orang bisa melihat ia pergi naik kuda atau kereta. Aku sendin pernah

melihatnya dari kejauhan.

Waktu berumur tigabelas aku mulai dipingit, dan hanya tahu dapur, ruangbelakang dan kamarku

sendiri. Teman-teman lain sudah pada dikawinkan. Kalau ada tetangga atau sanak datang baru

kurasai diri berada di luar rumah seperti semasa kanak-kanak dulu. Malah duduk di pendopo aku

tak diperkenankan. Menginjak lantainy a pun tidak.

Bila pabrik berhenti kerja dan pegawai dan buruh pulang sering aku lihat dari dalam rumah orang

lalulalang menoleh ke rumah kami. Tentu saja.

Tamu-tamu wanita y ang berkunjung selalu memuji aku sebagai gadis cantik, bunga Tulangan,

kembang Sidoarjo. Kalau aku bercermin, tak ada alasan lain daripada membenarkan sanjungan

mereka. Ay ahku seorang yang ganteng.

Ibuku — aku tak pernah tahu namanya — seorang wanita cantik dan tahu memelihara badan.

Semestinya, sebagaimana lazimnya, ay ahku beristri dua atau tiga, apalagi ay ah mempunyai

tanah yang disewa pabrik dan tanah lain yang digarap oleh orang lain. Ia tidak demikian. Ia

merasa cukup dengan seorang istri yang cantik. Di samping itu ia hanya mengimpikan jabatan

jurubayar, pemegang kas pabrik, Pribumi paling terhormat di kemudian hari-Begitulah

keadaannya, Ann.

Waktu berumur empatbelas masyarakat telah menganggap aku sudah termasuk golongan

perawan tua. Aku sendiri sudah haid dua tahun sebelumnya. Ayah mempunyai rencana tersendiri

tentang diriku. Biar pun ia dibenci, lamaran-lamaran datang meminang aku. Semua ditolak. Aku

sendiri beberapa kali pernah mendengar dari kamarku. Ibuku tak punya hak bicara seperti wanita

Pribumi seumumnya. Semua ayah y ang menentukan. Pernah ibu bertanya pada ayah, menantu

apa y ang ayah harapkan.

Dan ayah tidak pernah menjawab.

Tidak seperti ayahku, Ann, aku takkan menentukan bagaimana harusnya macam menantuku kelak.

Kau y ang menentukan, aku y ang menimbang-nimbang.

Begitulah keadaanku, keadaan semua perawan waktu itu, Ann 1 hany a bisa menunggu datangny a

seorang lelaki yang akan mengambilnya dari rumah, entan ke mana, entah sebagai istri nomor

berapa, pertama atau keempat.

Ay ahku dan hanya ayahku y ang menentukan. Memang oer-untung kalau jadi yang pertama dan

tunggal. Dan itu keluar-saan dalam masyarakat pabrik.

Masih ada lagi. Apa lelak.yang mengambil dari rumah itu tua atau muda, seorang perawan gg


perlu mengetahui sebelumnya. Sekali peristiwa itu terjadi perem puan harus mengabdi dengan

seluruh jiwa dan raganya pada |e. laki tak dikenal itu, seumur hidup, sampai mati atau sampai dia

bosan dan mengusir. Tak ada jalan lain y ang bisa dipilih. Boleh jadi dia seorang penjahat, penjudi

atau pemabuk. Orang takkan bakal tahu sebelum jadi istrinya.

Akan beruntung bila yang datang itu seorang budiman.

Pada suatu malam Tuan Administratur, Tuan Besar Kuasa itu, datang ke rumah. Aku sudah mulai

cemas. Ay ahku gopoh-gapah memerintahkan ini-itu pada Ibu dan aku untuk kemudian

dibantahnya sendiri dengan perintah baru. Ia perintahkan aku mengenakan pakaian terbaik dan

sekali-dua mengawasi sendiri aku berhias. Memang aku curiga, jangan-jangan benar bisik-de-sus

orang itu. Ibuku lebih curiga lagi. Belum apa-apa, dan ia sudah menangis tersedan-sedan di

pojokan dapur dan membisu seribu logat.

Ayahku, jurutulis Sastrotomo, memerintahkan aku keluar meny uguhkan kopisusu kental dan kue.

Ayah memang sudah berpesan: bikin yang kental.

Keluarlah aku menating talam. Kopisusu dan kue di atasnya. Tak tahu aku bagaimana wajah Tuan

Besar Kuasa. Tak layak seorang gadis baik-baik mengangkat mata dan muka pada seorang tamu

lelaki tak dikenal baik oleh keluarga. Apalagi orang kulit putih pula. Aku hanya menunduk,

meletakkan isi talam di atas meja. Biar bagaimana pun nampak pipa celananya, putih dari kain

drill. Dan sepatunya, besar, panjang. Menandakan orangnya pun tinggi dan besar.

Aku rasai pandang Tuan Besar Kuasa menusuk tangan dan leherku.

“Ini anak sahaya, Tuan Besar Kuasa,” kata ayahku dalam Melay u.

“Sudah waktunya punya menantu,” sambut tamu itu. Suaranya besar, berat dan dalam, seperti

keluar dari seluruh dada. Tak ada orang Jawa bersuara begitu.

Aku masuk lagi untuk menantikan perintah baru. Dan perintah itu tidak datang. Kemudian Tuan

Besar Kuasa pergi bersama ay ah. Ke mana aku tak tahu.

Tiga hari kemudian, pada tengah hari Minggu sehabis makansiang. Ayah memanggil aku. Di

ruangtengah ia duduk bersama Ibu. Aku berlutut di hadapannya.

“Jangan, Pak, jangan,” Ibu menegah.

“Kem, Ikem,” Ayah memulai. “Masukkan semua barang milik dan pakaianmu ke dalam kopor

Ibumu. Kau sendiri pakaian baik-baik, yang rapih, yang menarik.”

Ah, betapa banyak pertanyaan sambar-meny ambar di dalam hati. Aku harus lakukan semua

perintah orangtuaku, terutama ayah. Dari luar kamarku kudengar Ibu menyangkal dan

meny angkal tanpa mendapat pelayanan.


Telah kumasukkan semua pakaian dan barang milikku. Dibandingkan dengan gadis-gadis lain

barangkali pakaianku termasuk banyak dan mahal, maka kupelihara baik-baik. Kain batikku lebih

dari enam. Di antaranya batikanku sendiri.

Dan keluarlah aku membawa kopor tua coklat yang sudah penyok disana-sini itu. Ayah dan Ibu

masih duduk di tempat semula. Ibu menolak berganti pakaian. Kemudian kami bertiga naik dokar

yang telah menunggu di depan rumah.

Di atas kendaraan ayah bilang, suarany a terang tanpa keraguan “

“Tengok rumahmu itu, Ikem. Mulai hari ini itu bukan rumahmu lagi.”

Aku harus dapat memahami maksudnya. Kudengar Ibu tersedan-sedan. Memang aku sedang

dalam pengusiran dari rumah. Aku pun tersedu-sedu.

Dokar berhenti di depan rumah Tuan Besar Kuasa. Kami semua turun. Itulah untuk pertama kali

Ayah berbuat sesuatu untukku: menjinjingkan koporku.

Tak berani aku melihat sekelilingku. Namun aku merasa ada beribu-ribu pasang mata melihatkan

kami dengan terheran-heran.

Aku berdiri saja di atas jenjang tangga rumah batu itu. Pikiran dan perasaan telah menjadi

tambahan beban, menghisap segala dari tubuh.

Badan tinggal jadi kulit. Jadi ke sini juga akhirny a aku dibawa, ke rumah Tuan Besar Kuasa,

seperti sudah lama disindirkan. Sungguh, Ann, aku malu mempunyai seorang ayah jurutulis

Sastrotomo. Dia tidak patut jadi ayahku. Ta-pi aku masih anaknya, dan aku tak bisa berbuat

sesuatu.

Airmata dan lidah Ibu tak mampu jadi penolak bala. Apalagi aku yang tak tahu dan tak memiliki

dunia ini. Badan sendiri pun bukan aku punya.

Tuan Besar Kuasa keluar. Ia terseny um senang dan matany a berbinar. Ada kudengar suaranya.

Dengan bahasa isyarat yang asing ia silakan kami naik. Sekilas menjadi semakin jelas

Ah betapa tinggi besar tubuhnya. Mungkin beratny a tiga kali ayah.

Mukanya kemerahan. Hidungnya begitu mancungnya, cukup untuk tiga atau empat orang Jawa

sekaligus. Kulit lenganny a kasar seperti kulit biawak dan berbulu lebat kuning. Aku kertakkan gigi.

menunduk lebih dalam.

Lengan itu sama besarny a dengan kakiku.

Jadi benar aku diserahkan pada raksasa putih berkulit biawak ini Aku harus tabah, kubisikkan pada

diri sendiri. Takkan ada y ang menolong kau!


Semua setan dan iblis sudah mengepung aku.

Untuk pertama kali dalam hidupku, karena silaan Tuan Besar Kuasa, aku duduk di kursi sama tinggi

dengan Ayah. Dihadapan kami bertiga: Tuan Besar Kuasa. Ia bicara Melayu’ Hanya sedikit kata

dapat kutangkap.

Selama pembicaraan semua terasa timbul-tenggelam dalam lautan. Tak ada senoktah pun tempat

teguh. Dari kantongnya Tuan Besar Kuasa mengeluarkan sampul kertas dan menyerahkanny a

pada Ayah. Dari saku itu pula ia keluarkan selembar kertas berisi tulisan dan Ay ah mem bubuhkan

tandatangan di situ. Di kemudianhari kuketahui, sampul itu berisikan uang dua puluh lima gulden,

penyerahan diriku kepadanya, dan janji Ayah akan diangkat jadi kassier setelah lulus dalam

pemagangan selama dua tahun.

Ann, upacara sederhana bagaimana seorang anak telah dijual oleh ay ahnya sendiri, jurutulis

Sastrotomo. Yang dijual adalah diriku: Sanikem. Sejak detik itu hilang sama sekali penghargaan

dan hormatku pada ayahku, pada siapa saja yang dalam hidupny a pernah menjual anakny a

sendiri. Untuk tujuan dan maksud apa pun.

Aku masih tetap menunduk, tahu takkan ada seorang pun tempat mengadu. Di dunia ini hanya

Ayah dan Ibu y ang berkuasa. Kalau Ayah,sendiri sudah demikian, kalau Ibu tak dapat membela

aku, akan bisa berbuat apa orang lain.

Kata-kata terakhir Ayah:

“Ikem, kau tidak keluar dari rumah ini tanpa ijin Tuan Besar Kuasa. Kau tidak kembali ke rumah

tanpa seijinnya dan tanpa seijinku.”

Aku tak melihat pada mukanya waktu dia mengatakan itu.

Aku masih tetap menunduk. Itulah suaranya yang terakhir yang pernah aku dengar.

„Ayah dan Ibu pulang dengan dokar yang tadi juga. Aku tertinggal di atas kursi bermandi airmata,

gemetar tak tahu apa harus kuperbuat. Dunia terasa gelap. Samar-samar nampak dari bawah

keningku Tuan Besar Kuasa naik. lagi ke rumah setelah mengantarkan orangtuaku. Diangkatny a

koporku dan di bawanya masuk. Ia keluar lagi, mendekati aku. Ditariknya tanganku disuruh berdiri.

Aku menggigil. Bukan aku tak mau berdiri, bukan aku membangkang perintah. Aku tak kuat berdiri.

Kainku basah. Kedua belah kakiku malah begitu menggigilnya seakan tulang-belulang telah

terlepas dari perbukuan. Diangkatny a aku seperti sebuah guling tua dan dibopongnya masuk,

diletakkanny a tanpa daya di atas ranjang yang indah dan bersih. Duduk pun aku tiada mampu.

Aku tergolek, mungkin pingsan.

Tapi mataku masih dapat melihat pemandangan sayup-say up dalam kamar itu.

Tuan Besar Kuasa membuka koporku y ang tiada berkunci dan memasukkan pakaianku ke dalam

lemari besar. Kopor ia seka dengan lap dan ia masukkan dalam bagian bawah.


Kembali ia hampiri diriku yang tergolek tanpa daya.

“Jangan takut,” katanya dalam Melay u. Suaranya rendah seperti guruh.

Nafasny a memuputi mukaku.

Aku tutup mataku rapat-rapat. Akan berbuat apa raksasa ini terhadap diriku ? Ternyata ia angkat

dan digendong aku ki-an-kemari seperti boneka kayu dalam kamar itu. Ia tak peduli pada kainku

yang basah.

Bibirnya meny entuhi pipi dan bibirku. Aku dapat dengarkan nafasnya yang menghembusi

kupingku begitu keras. Menangis aku tak berani. Bergerak pun tak berani. Seluruh tubuh bercucuran

keringat dingin.

Didirikannya aku di atas ubin. Ia segera tangkap aku kembali melihat aku meliuk hendak roboh.

Diangkatnya aku lagi dan dipeluk dan diciuminya.

Aku masih ingat kata-katanya yang diucapkannya, tapi waktu itu aku belum mengerti maksudny a:

“Sayang, sayangku, bonekaku, sayang, sayang.”

Dilemparkannya aku ke atas dan ditangkapnya kemudian pada pinggangku. Ia goncang-goncang

aku, dan dengan jalan itu aku dapatkan sebagian dari kekuatanku. Ia dirikan aku kembali ke lantai.

Aku terhuyung dan ia menjaga dengan tangan agar aku tak jatuh. Aku terus juga terhuyung,

terjerembab pada tepi-an ranjang.

Ia melangkah padaku, membuka bibirku dengan jari-jarinya. Dengan isy arat ia perintahkan mulai

sejak itu menggosok gigi. Maka ia tuntun aku pergi ke belakang, ke kamarmandi. Itulah untuk

pertama kali aku melihat sikatgigi dan bagaimana menggunakanny a. Ia tunggui aku sampai

selesai, dan gusiku rasanya sakit semua.

Dengan isyarat pula ia perintahkan aku mandi dan menggosok diri dengan sabunmandi yang

wangi. Semua perintahnya aku laksanakan seperti perintah orangtua sendiri. Ia menunggu di

depan kamarmandi dengan membawa sandal di tanganny a. Ia pasang sandal itu pada kakiku.

Sangat, sangat besar —

sandal pertama y ang pernah aku kenalkan dalam hidupku — dari kulit, berat. ia gendong aku

masuk Ke rumah, ke Kamar. Didudukkannya aku di depan sebuah cermin. Ia gosok rambutku

denga selembar kain tebal, yang kelak aku ketahui bernama anduk sampai kering, kemudian ia

minyaki —

begitu wangi baunya Aku tak tahu minyak apa. Dialah juga yang menyisiri aku seakan aku tak

bisa bersisir sendiri. Ia mencoba mengkondai rambutku, tapi tak bisa dan membiarkan aku

meny elesaikan.


Kemudian ia suruh aku berganti pakaian, dan ia mengawasi segala gerakku.

Rasanya aku sudah tak berjiwa lagi, seperti selembar wayang di tangan ki dalang. Selesai itu aku

dibedakinya Kemudian bibirku diberiny a sedikit gincu. Dibawany a aku keluar kamar.

Dipanggilnya dua orang bujangnya perempuan. “Lay ani nyaiku ini baik-baik!”

Begitulah hari pertama aku menjadi seorang nyai, Ann. Dan terny ata perlakuannya yang

menyayang dan ramah telah membuat sebagian dari ketakutanku menjadi hilang.

Setelah berpesan pada bujang-bujangnya Tuan Besar Kuasa terus pergi. Ke mana aku tak tahu.

Dua wanita itu dengan cekikikan menyindir aku sebagai orang beruntung diambil jadi nyai. Tidak,

aku tak boleh dan tak mau bicara sesuatu pun. Aku tak mengenal rumah ini atau pun kebiasaannya.

Memang ada terniat dalam hati untuk lari. Tapi pada siapa aku harus melindungkan diri ? Apa

harus aku perbuat setelah itu ? Aku tak berani.

Aku berada dalam tangan orang y ang sangat berkuasa, lebih berkuasa daripada Ayah. daripada

semua Pribumi di Tulangan.

Mereka menyediakan untukku makan dan minum. Sebentar-sebentar mengetuk pintu dan

menyilakan dan menawarkan ini-itu. Aku diam membisu, duduk saja di lantai, tak berani

menjamah barang sesuatu dalam kamar itu.

Mataku terbuka, tapi takut melihat. Mungkin itu mati dalam hidup.

Pada malam hari Tuan datang. Kudengar langkah sepatunya yang makin mendekat. Ia langsung

masuk ke dalam kamar. Aku gemetar. Lampu, yang tadi sore, dinyalakan oleh bujang,

memantulkan cahay a pada pakaiannya yang serba putih dan menyilaukan. Ia dekati aku.

Diangkatnya badanku dari lantai, diletakkanny a di ranjang dan digolekkan di atasnya.

Bernafas pun rasanya aku tak berani, takut menggusarkanny a.

Aku tak tahu sampai berapa lama bukit daging itu berada bersama denganku. Aku pingsan,

Annelies. Aku tak tahu lagi apa yang telah terjadi.

Begitu aku siuman kembali, kuketahui aku bukan si Sanikem vang kemarin.

Aku telah jadi ny ai yang sesungguhnya. Kemudian hari aku ketahui nama Tuan Besar Kuasa itu:

Herman Mellema. Papamu, Ann, Papamu yang sesungguhnya. Dan nama Sanikem hilang untuk

selama-lamanya.

Kau sudah tidur, belum ? Belum ?

Mengapa aku ceritakan ini padamu, Ann ? Karena aku tak ingin melihat anakku mengulangi

pengalaman terkutuk itu. Kau harus kawin secara wajar.


Kawin dengan seorang y ang kau sukai dengan semau sfendiri. Kau anakku, kau tidak boleh

diperlakukan seperti hewan semacam itu. Anakku tak boleh dijual oleh siapa pun dengan harga

berapa pun. Mama yang menjaga agar yang demikian takkan terjadi atas dirimu. Aku akan

berkelahi untuk hargadiri anakku. Ibuku dulu tak mampu mempertahankan aku, maka dia tidak

patut jadi ibuku. Bapakku menjual aku sebagai anak kuda, dia pun tidak patut jadi bapakku. Aku tak

punya orangtua.

Hidup sebagai nyai terlalu sulit. Dia cuma seorang budak belian y ang kewajibannya hanya

memuaskan tuanny a. Dalam segala hal! Sebalikny a setiap waktu orang harus bersiap-siap

terhadap kemungkinan tuannya sudah merasa bosan. Salah-salah bisa badan diusir dengan semua

anak, anak sendiri, y arig tidak dihargai oleh umum Pribumi karena dilahirkan tanpa perkawinan

syah.

Aku telah bersumpah dalam hati: takkan melihat orangtua dan rumahnya lagi. Mengingat mereka

pun aku sudah tak sudi. Mama tak mau mengenangkan kembali peristiwa penghinaan itu. Mereka

telah bikin aku jadi nyai begini. Maka aku harus jadi nyai, jadi budak belian, yang baik, nyai y ang

.sebaik-baikny a. Mama pelajari semua yang dapat kupelajari dari kehendak tuanku: kebersihan,

bahasa Melay u, menyusun tempat tidur dan rumah, masak cara Eropa. Ya, Ann, aku telah

mendendam orangtua sendiri.

Akan kubuktikan pada mereka, apa pun yang telah diperbuat atas diriku, aku harus bisa lebih

berharga daripada mereka, sekali pun hanya se*bagai nyai.

Ann, satu tahun lamanya aku hidup di rumah Tuan Besar Kuasa Herman Mellema. Tak pernah

keluar, tak pernah diajak jalan-jalan atau menemui tamu. Apa pula gunanya ? Aku sendiri pun

malu pada dunia. Apalagi pada kenalan, tetangga. Bahkan malu punya orangtua. Semua bujang

kemudian aku suruh pergi. Semua pekerjaan rumah aku lakukan sendiri. Tak boleh ada saksi

terhadap kehidupanku sebagai nyai. Tak boleh ada berita tentang diriku: seorang wanita hina-dina

tanpa harga, tanpa kemauan sendiri ini.

Beberapa kali jurutulis Sastrotomo datang menengok. Mama menolak menemui. Sekali istriny a

datang, melihatnya pun aku tak sudi. Tuan Mellema tidak pernah menegur kelakuanku. Sebaliknya

ia sangat puas dengan segala yang kulakukan. Nampakny a ia juga senang pada kelakuanku yang

suka belajar. Ann papamu sangat menyayangi aku. Namun semua itu tak dapat mengobati

kebanggaan dan harga diri y ang terluka. Papamu te-tap orang asing bagiku. Dan memang Mama

tak pernah meng-gantungkan diri padanya. Ia tetap kuanggap sebagai orang yang tak pernah

kukenal, setiap saat bisa pulang ke Nederland, meninggalkan aku, dan melupakan segala sesuatu di

Tulangan. Maka diriku kuarahkan setiap waktu pada kemungkinan itu. Bila Tuan Besar Kuasa pergi

aku sudah harus tidak akan kembali ke rumah Sastrotomo. Mama belajar menghemat, Ann,

menyimpan. Papamu tak pernah menany akan penggunaan uang belanja. Ia sendiri yang

berbelanja bahan ke Sidoarjo atau Surabaya untuk sebulan.

Dalam setahun telah dapat kukumpulkan lebih dari seratus gulden. Kalau pada suatu kali Tuan

Mellema. pergi pulang atau mengusir aku, aku sudah punya modal pergi ke Surabaya dan


berdagang apa saja.

Setelah setahun hidup bersama dengan Tuan Mellema, kontrak papamu habis.

Ia tidak memperpanjangny a. Sudah sejak di Tulangan ia mentemakkan sapi perah dari Australia

dan diajarinya aku bagaimana memeliharanya. Di malamhari aku diajarinya baca-tulis, bicara

dan menyusun kalimat Belanda.

***


Kami pindah ke Surabay a. Tuan Mellema membeli tanah luas di Wonokromo, tempat kita ini,

Ann. Tapi dulu belum seramai sekarang, masih berupa padang semak dan rumpun-rumpun hutan

muda. Sapi-sapi dipindahkan kemari.

Pada waktu itu Mama mulai merasa senang, berbahagia. Ia selalu mengindahkan aku,

menanyakan pendapatku, mengajak aku memperbincangkan semua hal. Lama kelamaan aku

merasa sederajat denganny a. Aku tak lagi malu bila toh terpaksa bertemu dengan kenalan lama.

Segala yang kupelajari dan kukerjakan dalam setahun itu telah mengembalikan hargadiriku. Tetapi

sikapku tetap: mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung pada siapa pun. Tentu saja

sangat berlebihan seorang perempuan Jawa bicara tentang hargadiri, apalagi semuda itu. Y ‘

pamu y ang mengajari, Ann. Tentu saja jauh di kemudian hari aku dapat rasakan wujud hargadiri

itu.

Juga ke tempat baru ini beberapa kali ayah datang menengok, dan aku tetap menolak

menemuinya.

“Temui ayahmu,” sekali Tuan Mellema menyuruh, “dia toh ayahmu sendiri.”

“Aku memang ada ayah, dulu, sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu Tuan, sudah aku usir.”

“Jangan,” tegah Tuan.

“Lebih baik pergi dari sini daripada menemuinya.”

“Kalau pergi, bagaimana aku ? Bagaimana sapi-sapi itu ? Tak ada yang Bisa mengurusnya.”

“Banyak orang bisa disewa buat mengurusnya.”

“Sapi-sapi itu hanya mengenal kau.”

Begitulah aku mulai mengerti, sesungguhnya Mama sama sekali tidak tergantung pada Tuan

Mellema. Sebaliknya, dia y ang tergantung padaku.

Jadi Mama lantas mengambil sikap ikut menentukan segala perkara. Tuan tidak pernah menolak.

Ia pun tak pernah memaksa aku kecuali dalam belajar. Dalam hal ini ia seorang guru yang keras

tapi baik, aku seorang murid yang taat dan juga baik. Mama tahu, semua yang diajarkannya pada


suatu kali kelak akan berguna bagi diriku.dan anak-anakku kalau Tuan pulang ke Nederland.

Tentang Sastrotomo ia tidak mendesak-desak lagi. Beberapa kali jurutulis itu menyampaikan pesan

melalui Tuan, kalau sekiranya aku segan menemuinya, hendaklah menulis sepucuk surat. Aku tak

pernah laksanakan.

Biar pun hanya sebaris-dua. Biar pun aku sudah pandai menulis, juga dalam Melayu dan

Belanda. Berkali-kali Sastrotomo menyurati. Tak pernah aku membacany a, malah kukirim balik.

Pada suatu kali Ibu bersama Ayah datang ke Wonokromo. Tuan merasa gelisah, mungkin malu,

karena aku tetap tidak mau menemui. Tamu itu, menurut Tuan, telah merajuk minta bertemu. Ibu

sampai menangis. Melalui Tuan aku katakan:

“Anggaplah aku sebagai telorny a y ang telah jatuh dari peta-rangan.

Pecah. Bukan telor yang salah.”

Dengan itu selesai persoalan antaradiriku dengan orangtuaku.

Mengapa kau mencekam lenganku, Ann, Kau kudidik jadi pengusaha dan’

pedagang. Tidak patut’ melepas perasaan dan mengikutinya. Dunia kita adalah untung dan rugi.

Kau tidak setuju terhadap sikap Mama, bukan ?

Hmm, sedang ayam pun, terutama induknya tentu, membela anak-anaknya, terhadap elang dari

langit pun. Mereka patut mendapat hukuman y ang setimpal. Kau sendiri juga boleh bersikap

begitu terhadap Mama. Tapi nanti, kalau sudah mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Tuan kemudian mendatangkan sapi baru. Juga dari Australia. Pekerjaan semakin banyak.

Pekerja-pekerja harus disewa.

Semua pekerjaan di dalam lingkungan perusahaan mulai diserahkan kepadaku oleh Tuan.

Memang mula-mula aku takut memerintah mereka. Tuan membimbing. Katanya : “Majikan

mereka adalah penghidupan mereka, majikan penghidupan mereka adalah kau! Aku mulai berani

memerintah di bawah pengawasannya. Ia tetap keras dan bijaksana sebagai guru. Tidak, tak

pernah ia memukul aku. Sekali saja dilakukan, mungkin tulang-belulangku berserakan. Bagaimana

pun sulitnya lama kelamaan dapat kulakukan apa yang dikehendakinya.

Tuan sendiri melakukan pekerjaan di luar perusahaan. Ia pergi mencari langganan. Perusahaan

kita mulai berjalan baik dan lancar. pada waktu itu Darsam datang sebagai orang gelandangan

tanpa pekerjaan. Ia seorang y ang mencintai kerja, apa saja y ang diberikan padanya. Pada suatu

malam seorang maling telah ditangkapny a melalui pertarungan bersenjata. Ia menang. Maling

itu tewas. Memang ada terjadi perkara, tetapi ia bebas.

Sejak itu ia mendapat kepercayaanku, kuangkat jadi tangan-kananku.


Sementara Tuan semakin jarang tinggal di rumah.

Hampir saja Mama lupa menceritakan, Ann. Tuan juga y ang mengajari aku berdandan dan

memilih warna y ang cocok. Ia suka menunggui waktu aku berhias. Pernah pada saat-saat seperti

itu ia bilang: “Kau harus selalu kelihatan cantik, Nyai. Muka yang kusut dan pakaian berantakan

juga pencerminan perusahaan yang ku-sut-berantakan, tak dapat dipercaya.”

Lihat, kan semua keinginanny a telah kupenuhi ? Kupuaskan segala kebutuhannya ? Aku selalu

dalam keadaan rapi. Malah akan tidur pun kadang masih kuperlukan berhias. Cantik menarik

sungguh lebih baik daripada kusut, Ann. Ingat-ingat itu. Dan setiap yang buruk tak pernah menarik.

Perempuan yang tak dapat .merawat kecantikan sendiri, kalau aku lelaki, akan kukatakan pada

teman-temanku: jangan kawini perempuan semacam itu, dia tak bisa apa-apa, merawat kulitnya

sendiri pun tidak kuasa.

Tuan bilang:

“Kau tidak boleh berkinang, biar gigimu tetap putih gemerlapan. Aku suka melihatnya, seperti

mutiara.”

Dan aku tidak berkinang...

Ann, hampir setiap bulan datang kiriman buku dan majala dari Nederland.

Tuan suka membaca. Aku tak mengerti mengapa kau tidak seperti ayahmu, padahal aku pun suka

membaca. Tak sebuah pun dari bacaannya berbahasa Melayu. Apaiag1

Jawa. Bila pekerjaan selesai, di senjahari, kami duduk di depan pondok kami, pondok bambu, Ann

— belum ada rumah indah kita ini — dia suruh aku membaca. Juga koran. Dia dengarkan

bacaanku, membetulkan y ang salah, menerangkan arti kata yang aku tidak mengerti. Bagitu setiap

hari sampai kemudian diajarinya aku menggunakan kamus, sendiri. Aku hanya budak belian.

Semua harus kulakukan sebagaimana dia kehendaki. Setiap hari.

Kemudian diberinya aku jatah bacaan. Buku, Ann. Aku harus dapat menamatkan dan

menceritakan isinya.

Ya, Ann, Sanikem yang lama makin lama makin lenyap. Mama tumbuh jadi pribadi baru dengan

pengelihatan dan pandangan baru. Rasanya aku bukan budak yang dijual di Tulangan beberapa

tahun yang lalu. Rasanya aku tak punya masalalu lagi. Kadang aku bertany a pada diri sendiri:

adakah aku sudah jadi wanita Belanda berkulit coklat ? Aku tak berani menjawab, sekali pun dapat

kulihat betapa terkebelakangnya Pribumi sekelilingku.

Mama tak punya pergaulan banyak dengan orang Eropa kecuali dengan Papamu.

Pernah aku tanyakan padany a, apa wanita Eropa diajar sebagaimana aku diajar sekarang ini ?

Tahu kau jawabanny a ?


“Kau lebih mampu daripada rata-rata mereka, apalagi yang Peranakan.”

Ah, betapa berbahagia dengannya, Ann. Betapa dia pandai memuji dan membesarkan hati. Maka

aku rela serahkan seluruh jiwa dan ragaku padanya. Kalau umurku pendek, aku ingin mati di

tangannya, Ann. Aku benarkan tindakan telah putuskan segala dengan masalalu. Dia tepat seperti

diajarkan orang Jawa: guru laki, guru dewa. Barangkali untuk membuktikan kebenaran ucapannya

ia berlangganan beberapa majalah wanita dari Nederland untukku.

Kemudian Robert lahir. Empat tahun setelah itu kau, Ann. Perusahaan semakin besar.” Tanah

bertambah luas. Kami dapat membeli hutan liar desa di perbatasan tanah kita. Semua dibeli atas

namaku. Belum ada sawah atau ladang pertanian. Setelah perusahaan menjadi begitu besar, Tuan

mulai membayar tenagaku, juga dari tahun-tahun yang sudah. Dengan uang itu aku beli pabrik

beras dan peralatan kerja lainnya. Sejak itu perusahaan bukan milik Tuan Mellema saja sebagai

tuanku, juga milikku. Kemudian aku mendapat juga pembagian keuntungan selama lima tahun

sebesar lima ribu gulden. Tuan mewajibkan aku meny impannya di bank atas namaku sendiri.

Sekarang perusahaan dinamai Boerderij Buitenzorg. Karena semua urusan dalam aku yang

menangani, orang yang berhubungan denganku memandang aku Ny ai Ontosoroh, Nyai

Buitenzorg.

Kau sudah tidur ? Belum ? Baik.

Setelah lama mengikuti majalah-majalah wanita itu h menjalankan banyak dari petunjukny a,

pada suatu kali kuula-pertanyaanku pada Tuan: “Sudahkah aku seperti wanita Belanda 7” Papamu

hany a tertawa mengakak, dan: “Tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu Kau

cukup seperti yang sekarang. Biar begitu kau lebih cerdas dan lebih baik daripada mereka semua.

Semua!” Ia tertawa me ngakak lagi.

Barangtentu dia melebih-lebihkan. Tapi aku senang, dan berbahagia.


Setidak-tidaknya aku takkan lebih rendah daripada mereka. Aku senjtng mendengar puji-

pujianny a. Ia tak pernah mencela, hany a pujian melulu.


Tak pernah mendiamkan pertanyaanku, selalu dijawabny a. Mama semakin berbesar hati,

semakin berani.

Kemudian, Ann, kemudian kebahagiaan itu terguncang dahsat, menggeletarkan sendi-sendi

kehidupanku. Pada suatu hari aku dan Tuan datang ke Pengadilan untuk mengakui Robert dan kau

sebagai anak Tuan Mellema. Pada mulany a aku menduga, dengan pengakuan itu anak-anakku

akan mendapatkan pe ngakuan hukum sebagai anak sy ah. Ternyata tidak, Ann Abangmu dan kau

tetap dianggap anak tidak syah, hanya diaku sebagai anak Tuan Mellema dan puny a hak

menggunakan nama nya. Dengan campurtangan Pengadilan hukum justru tidak me ngakui

abangmu dan kau sebagai anakku, bukan anak-anakku lagi, walau Mama ini yang melahirkan.

Sejak pengakuan itu kalian, menurut hukum, hanya anak dari Tuan Mellema. Menurut hukum,


Ann, hukum Belanda di sini, jangan kau keliru. Kau tetap anakku. Pada waktu itu baru aku tahu

betapa jahatnya hukum. Kalian mendapatkan seorang ayah, tapi kehilangan ibu-Kelanjutanny a,

Ann, Tuan* menghendaki kalian berdua dibaptis. Aku tidak ikut mengantarkan kalian ke gereja.

Kalian pulang lebih cepat. Pendeta menolak pembaptisan kalian. Papamu menjadi murung.

“Anak-anak ini berhak mempuny ai ayah,” kata Tuan. “Mengapa mereka tidak berhak.

mendapatkan karunia pengampunan dari Kristus’

Aku tak mengerti soal-soal itu, dan diam saja. petelah mengetahui, kalian bisa menjadi syah

hanya pada waktu perkawinan kami di depan Kantor Sipil, untuk kemudian bisa dibaptis, mulailah

aku setiap hari merajuk Tuan supaya kami kawin di Kantor. Aku merajuk dan merajuk.

Papamu yang murung dalam beberapa hari belakangan itu mendadak menjadi marah. Marah

pertama kali dalam beberapa tahun itu. Ia tak menjawab.

Juga tak pernah menerangkan sebabny a. Maka kalian^tetap anak-anak tidak syah menurut hukum.

Tidak pernah dibaptis pula.

Aku tak pernah mencoba lagi, Ann. Mama sudah harus senang dengan keadaan ini. Untuk

selamanya takkan ada orang akan memanggil aku Mevrouw.

Panggilan Nyai akan mengikuti aku terus, seumur hidup. Tak apa asal kalian mempunyai ayah

cukup terhormat, dapat dipegang, dapat dipercaya, puya kehormatan. Lagi pula pengakuan itu

mempunyai banyak arti di te-ngah-tengah masyarakatmu sendiri. Kepentinganku sendiri tak perlu

orang menilai, asal kalian mendapatkan apa seharusnya jadi hak kalian.

Kepentinganku ? Aku dapat urus sendiri. Ah, kau sudah tidur.

“Belum, Ma,” bantahku.

Aku masih juga menunggu kata-katanya tentang kau, Mas. Di waktu lain, pada kesempatan lain,

mungkin ia tak dapat bicara sebanyak ini. Jadi aku harus bersabar sampai ia bercerita tntang

hubungan kita berdua, Mas.

Jadi aku bertany a untuk ancang-ancang:

“Jadi akhirnya Mama mencintai Papa juga.”

“Tak tahu aku apa arti cinta. Dia jalankan kewajiban dengan baik, demikian juga aku. Itu sudah

cukup bagi kami berdua. Kalau pun dia nanti pulang ke Nederland aku tidak akan menghalangi,

bukan saja karena memang tidak ada hak padaku, juga kami masing-masing tidak saling

berhutang.

Dia boleh pergi setiap waktu. Aku telah merasa kuat dengan segala y ang telah kupelajari dan


kuperoleh, aku punya dan aku bisa. Mama toh hanya seorang gundik yang dahulu telah dibelinya

dari orangtuaku. Simpananku sudah belasan ribu gulden, Ann.”

“Tak pernah Mama menengok keluarga di Tulangan ?”

“Tak ada keluargaku di Tulangan. Ada hanya di Wonokromo.Beberapa kali Abang Paiman datang

berkunjung dan memang aku terima. Dia datang untuk minta bantuan. Selalu begitu. Terakhir

kedatangannya untuk mengabarkan: Sastrotomo mati dalam serangan wabah kolera bersama

yang lain-lain.

Istriny a meninggal terlebih dahulu entah karena apa.

“Mungkin lebih baik kalau kita pernah menengokny a Ma.”

“Tidak. Sudah baik begitu. Biar putus semua yang sudah-sudah Luka terhadap kebanggaan dan

hargadiri tak juga mau hilang. Bila teringat kembali bagaimana hina aku dijual..... Aku tak

mampu mengampuni kerakusan Sastrotomo dan kelemahan istrinya. Sekali dalam hidup orang

mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa.”

“Kau terlalu keras, Ma, terlalu.”

“Bakal jadi apa kau ini kalau aku tidak sanggup bersikap keras ?

Terhadap siapa saja. Dalam hal ini biar cuma aku yang jadi kurban, sudah kurelakan jadi budak

belian. Kaulah yang terlalu lemah, Ann, berbelas-kasihan tidak pada tempatny a.....”

Dan Mama masih juga belum bicara tentang kau. Nampakny a Mama tak pernah mencintai Papa,

maka aku malu bicara tentang itu. Mas. Papa tetap orang asing bagi Mama. Sedang kau. Mas,

mengapa kau begitu dekat padaku sekarang ? Selalu dan selalu kau terbayang dan terbay ang, dan

aku sendiri selalu ingin di dekatmu ?

“Kemudian datang pukulan kedua terhadap diriku, Ann Mama meneruskan.

“Tak tersembuhkan.....”

Pemerintah memutuskan melakukan perbaikan dan peningkatan atas pelabuhan Tanjung Perak.

Rombongan ahli bangunan-air didatangkan dari Nederland.


Pada waktu itu perdagangan susu kita berkembang begitu baiknya. Setiap bulan bertambah-

tambah saja permintaan untuk jadi langganan baru.


Komplex B.P.M. sepenuhnya berlangganan pada kita. Mendadak, seperti petir, bencana datang

menyambar. Petir bencana.

Mama turun dari ranjang untuk minum. Kamar itu gelap. Tak ada orang mendengarkan kami

berdua di kamar loteng itu. Malam itu senyap. Say up datang suara ketak-ketik pendule melalui


pintu terbuka, datang dari persada. Dan bunyi itu lenyap ketika Mama masuk lagi dan menutup

pintu.

Dalam rombongan ahli itu terdapat seorang insinyur muda. Mula-mula aku baca namany a dalam

koran: Insinyur Maunts Mellema. Sedikit dari sejarah-hidupnya diperkenalkan. Dia seorang

insinyur yang kerashati.

Dalam karierenya y ang masih pendek ia telah menunjukkan prestasi besar, katany a.

Mungkin dia keluarga papamu, pikirku. Aku tak suka ada orang lain akan mencampuri kehidupan

kami y ang sudah tenang, mapan, dan senang.

Perusahaan kami tak boleh tersintuh oleh siapa pun. Maka koran itu kusembunyikan sebelum ia

sempat membacanya. Kukatakan koran belum juga datang, mungkin pengantarnya sakit. Tuan

Mellema tak menanyakan lebih lanjut.

Tiga bulan kemudian, Mama meneruskan, waktu itu kau dan Robert sudah pergi bersekolah,

datang seorang tamu, menggunakan kereta Gubermen yang besar dan bagus, ditarik dua ekor

kuda. Papamu sedang bekerja di belakang. Mama senc^ri sedang bekerja di kantor. Memang

suatu kesialan mengapa Tu^n tidak di kantor dan aku di belakang pada hari itu.

Kereta Gubermen itu berhenti di depan tangga rumah. Aku tinggalkan kantor untuk menyambut.

Barangkali saja ada jawatan memerlukan barang-barang dari susu. Masih dapat kulihat seorang

Eropa muda turun dari dalamnya. Ia berpakaian serba putih. Jasnya putih, tutup, jas seorang opsir

Marine. Ia mengenakan pet Marine, tapi tak ada tanda pangkat pada lengan baju atau bahuny a.

Badanny a tegap dan dadany a bidang. Ia mengetuk pintu beberapa kali tapa ragu. Wajahnya

mirip Tuan Mellema. Kancing-kancing perak pada bajuny a gemerlapan dengan gambar jangkar.

Dengan Melay u buruk ia berkata pendek dan angkuh, yang sudah sejak pertama kurasai sebagai

kurangajar dan bertentangan dengan kesopanan Eropa yang kukenal:

“Mana Tuan Mellema,” tany anya tanpa tandatanya.

“Tuan siapa ?” tanyaku tersinggung.

“Hany a Tuan Mellema yang kuperlukan,” katany a lebih kasar daripada sebelumnya.

Kembali aku merasa sebagai seorang ny ai yang tak punya hak untuk dihormati di rumah sendiri.

Seakan aku bukan pemegang saham perusahaan besar ini. Mungkin dia menganggap aku

menumpang hidup pada Tuan Mellema.

Tanpa bantuanku Tuan takkan mungkin mendirikan rumah kita ini, Ann. Tamu itu tak punya hak

untuk bersikap seangkuh itu.

Aku tak silakan dia duduk dan aku tinggalkan dia berdiri. Seseorang kusuruh memanggil Tuan.


Papamu megajari aku untuk tidak membacai surat dan mendengarkan pembicaraan y ang bukan

hak. Tapi sekali ini aku memang curiga. Pintu yang menghubungkan kantor dengan ruangdepan k u

kirai sedikit. Aku harus tahu siapa dia dan apa yang dikehendakinya.

Orang muda itu masih tetap berdiri waktu Tuan datang.

Dan kiraian kulihat papamu berdiri terpakukan pada lantai “Maurits!”

tegur Tuan, “kau sudah segagah ini.” Sekaligus aku tahu itulah kiranya Insinyur Maurits Mellema

anggota rombongan ahli bangunan-air di Tanjung Perak. ‘ Dia tak menjawab sapaan, Ann, tapi

membetulkannya dengan tak kurang angkuh:

“In-si-ny ur Maurits Mellema, Tuan Mellema!” Papamu nampak terkejut mendapat pembetulan

itu. Tamu itu sendiri tetap berdiri. Papamu meny ilakan duduk, tapi ia tidak menanggapi, juga tidak

duduk.

Kau harus dengar cerita ini baik-baik, Ann, tak boleh kau lupakan. Bukan saja karena anak-cucumu

kelak harus mengetahui, juga karena kedatangannya merupakan pangkal kesulitan Mama dan kau,

dan perusahaan ini. Kata tamu Belanda muda itu:

“Aku datang tidak untuk duduk di kursi ini. Ada sesuatu yang lebih penting daripada duduk.

Dengarkan, Tuan Mellema! Ibuku, Mevrouw Amelia Mellema-Hammers, setelah Tuan

tinggalkan secara pengecut, harus membanting-tulang untuk menghidupi aku, meny ekolahkan aku,

sampai aku berhasil jadi insinyur. Aku dan Mevrouw Mellema-Hammers sudah bertekad tak

mengharapkan kedatangan Tuan, Tuan Mellema. Tuan lebih ka-‘ mi anggap telah lenyap ditelan

bumi. Kami tak mencari berita di mana Tuan berada.”

Dari kiraian pintu nampak olehku bagian samping muka papamu. Ia mengangkat kedua belah

tangan. Bibirnya bergerak-gerak tapi tak ada suara keluar dari mulutnya. Pipinya menggeletar tak

terkendali. Kemudian dua belah tangannya itu jatuh terkulai.

Ann, Insinyur Mellema mengatakan begini: “Tuan telah tinggalkan pada Mevrouw Amelia

Mellema-Hammers satu tuduhan telah berbuat serong. Aku, anaknya, ikut merasa terhina. Tuan

tak pernah mengajukan soal ini ke depan Pengadilan. Tuan tidak memberi kesempatan pada ibuku

untuk membela diri dan kebenaranny a. Entah pada siapa lagi tuduhan kotor terhadap ibuku telah

Tuan sampaikan atau ceritakan. Kebetulan sekarang ini aku sedang berdinas di Surabaya, Tuan

Mellema. Kebetulan pula pada suatu kali terbaca olehku dalam koranlelang sebuah iklan

penawaran barang-barang susu dan dari susu bikinan Boerderij Buitenzorg dan nama Tuan

terpampang di bawahnya. Telah aku sewa seorang tenaga peny elidik untuk mengetahui siapa


Tuan. Betul, H.Mellema adalah Herman Mellema, suami ibuku, Nyony a Amelia Mellema-

Hammers bisa kawin lagi dan hidup berbahagia. Tetapi Tuan telah menggantung perkaranya.”


“Dari dulu dia bisa datang ke Pengadilan kalau membutuhkan cerai,” jawab papamu, lemah

sekali, seakan takut pada a -naknya sendiri yang sudah jadi segalak itu.


“Mengapa mesti Mevrouw Mellema-Hammers kalau yang menuduh Tuan ?”


“Kalau aku y ang mengajukan perkara, ibumu akan kehilangan semua haknya atas perusahaan-

susuku di sana.”


“Jangan mengandai dan menggagak, Tuan Mellema. Nyatany a Tuan tidak pernah

menjadikannya perkara. Mellema-Hammers telah jadi kurban pengandaian dan penggagakan

Tuan.”

“Kalau ibumu sejak dulu tak ada keberatan skandal itu diketahui umum, tentu aku telah lakukan

tanpa nasihatmu.”

“Dahulu ibuku belum mampu meny ewa pengacara. Sekarang anaknya sanggup, bahkan yang

semahal-mahalnya. Tuan bisa buka perkara. Tuan juga cukup kay a untuk meny ewa, juga cukup

berada untuk membay ar alimentasi.”


Nah, Ann, jelaslah sudah, Insinyur Mellema tak lain dari anak tunggal papamu, anak syah satu-

satunya dengan istriny a yang syah. Dia datang sebagai penyerbu untuk mengobrak-abrik


kehidupan kita. Aku gemetar mendengar semua itu. Sedangkan jurutulis Sastrotomo dan istrinya

tak boleh menjamah kehidupan kita, Paiman pun tidak. Juga tidak boleh perubahan sikap Tuan

Mellema sekiranya sikapny a berubah. Tidak boleh siapa pun di antara anak-anakku. Keluarga dan

perusahaan harus tetap begini. Sekarang datang saudara-tirimu y ang bukan saja hendak

menjamah.

Ia datang meny erbu untuk mengobrak-abrik.

Sampai waktu itu aku masih tidak ikut bicara. Tak tahan mendengar ucapanny a aku keluar untuk

meredakan suasana. Tentu aku harus bantu Tuan.

“Penyelidik itu memberikan padaku keterangan yang sangat teliti dan dapat dipercay a,” ia

meneruskan tanpa mengindahkan kehadiranku. “Aku tahu apa saja ada di dalam setiap kamar

rumah ini, berapa pekerjamu, berapa sapimu, berapa ton hasil padi dan palawija dari ladang dan

sawahmu, berapa penghasilanmu setiap tahun, berapa depositomu. Yang terhebat dari semua itu,

Tuan Mellema, sesuatu y ang menyangkut azas hidup Tuan telah irfeninggalkan dakwaan serong

pada Mevrouw Amelia Mellema-Hammers. Apa kenyataannya sekarang ? Tuan secara hukum

masih suami ibuku. Tapi Tuanlah yang justru telah mengambil seorang wanita Pribumi sebagai

teman tidur, tidak untuk sehari-dua, sudah berbelas tahun! siang dan malam. Tanpa perkawinan.

Darahku naik ke kepala-mendengar itu Bibirku menggeletar kering. Gigiku mengkertajc. Aku

melangkah pelahan mendekatinya dan sudah siap hendak mencakar mukany a. Dia telah hinakan

semua yang telah aku selamatkan, pelihara dan usahakan, dan aku sayangi selama ini. ... .,

“Ucapan y ang hanya patut didengarkan di rumah Mellema-Hammers dan anaknya!” tangkisku

dalam Belanda.

Bahkan melihat padaku ia tidak sudi, Ann, apalagi mendengarkan suara geramku, si kurangajar itu.


Airmukanya pun tidak berubah. Dianggapnya aku hanya sepotong kayubakar. Dia nilai aku

menyerongi ay ahnya dan ayahnya menyerongi aku. Boleh jadi memang haknya dan hak

seluruh dunia.

Tetapi bahwa papamu dan aku dianggap berbuat curang terhadap seorang perempuan tak kukenal

bernama Amelia dan anaknya..... kekurangajaran seperti itu sudah puncaknya. Dan terjadi di

rumah yang kami sendiri usahakan dan dirikan, rumah kami sendiri.....

“Tak ada hak padamu bicara tentang keluargaku!” raungku kalap dalam Belanda.

“Tak ada urusan dengan kow£, Nyai,” jawabny a dalam Melayu, diucapkan sangat kasar dan kaku,

kemudian ia tidak mau melihat padaku lagi.

“Ini rumahku. Bicara kau seperti itu di pinggir jalan sana, jangan di sini.”

Ayahmu juga aku beri isyarat untuk pergi, tapi ia tidak fa-ham. Sedang si kurangajar itu tak mau

melayani aku. Papamu malah hany a mendomblong seperti orang kehilangan akal. Ternyata

kemudian memang demikian.

“Tuan Mellema,” katany a lagi dalam Belanda, tetap tak menggubris aku.

“Biar pun Tuan kawini nyai, gundik ini, perkawinan syah, dia tetap bukan Kristen. Dia kafir!

Sekiranya dia Kristen pun, Tuan tetap lebih busuk dari Mevrouw Amelia Mellema-Hammers,

lebih dari semua kebusukan yang Tuan pernah tuduhkan pada ibuku. Tuan telah lakukan dosa

darah, pelanggaran darah! mencampurkan darah Kristen Eropa dengan darah kafir Pribumi

berwarna! dosa tak terampuni!”

“Pergi!” raungku. Dia tetap tak menggubris aku. “Bikin kacau rumahtangga orang. Mengaku

insinyur, sedikit kesopanan pun tak punya.”

Dia tetap tak lay ani aku. Aku maju lagi selangkah dan $ mundur setengah langkah, seakan

menunjukkan kejijikanny a didekati Pribumi.

“Tuan Mellema, jadi Tuan tahu sekarang siapa Tuan sesungguhnya.”

Ia berbalik memunggungi kami, menuruni anak tangga, masuk ke dalam keretanya, tanpa

menengok atau pun mengucapkan sesuatu.

papamu masih juga terpakukan pada lantai, dalam keadaan bengong.

“Jadi begitu macamnya anak dari istrimu yang sy ah,” raungku pada Tuan.

“Begitu macamnya peradaban Eropa yang kau ajarkan padaku berbelas tahun ? Kau agungnya

setinggi langit ? Siang dan malam ? Meny elidiki pedalaman rumahtangga dan penghidupan orang,

menghina, untuk pada suatu kali akan datang memeras ? Memeras ? Apalagi kalau bukan


memeras ?

Untuk apa menyelidiki urusan orang lain ?”

Ann, Tuan ternyata tak mendengar raunganku. Waktu bola matanya bergerak, pandangnya

diarahkan ke jalan raya tanpa mengedip. Aku ulangi raunganku.

Ia tetap tak dengar. Beberapa orang pekerja datang berlarian hendak mengetahui apa sedang

terjadi. Melihat aku sedang meradang murka pada Tuan mereka buyar mengundurkan diri.

Aku tarik-tarik dan aku garuki dada Tuan. Dia diam saja, tak merasai sesuatu kesakitan. Hanya

kesakitan dalam hatiku sendiri yang mengamuk mencari sasaran. Aku tak tahu apa sedang

dipikirkanny a. Barangkali ia teringat pada istrinya. Betapa sakit hati ini, Ann, lebih-lebih lagi dia

tak mau tahu tentang kesakitan yang kuderitakan dalam dada ini.

Lelah menarik-narik dan menggaruki aku menangis, terduduk kehabisan tenaga, seperti pakaian

bekas terjatuh di kursi. Kutelungkupkan muka pada meja. Mukaku basah.

Kapan selesai penghinaan atas diri ny ai y ang seorang ini ? Haruskah setiap orang boleh meny akiti

hatinya ? Haruskah aku mengutuki orangtuaku yang telah mati, yang telah menjual aku jadi ny ai

begini ? Aku tak pernah mengutuki mereka, Ann.. Apa orang tidak mengerti, orang terpelajar itu,

insinyur pula, dia bukan hanya menghina diriku, juga anak-anakku ? Haruskah anak-anakku jadi

kranjang sampah tempat lemparan hinaan ? Dan mengapa Tuan, Tuan Herman Mellema, yang

bertubuh tinggi-besar, berdada bidang, berbulu dan berotot perkasa itu tak punya sesuatu kekuatan

untuk membela teman-hidupnya, ibu anak-anaknya sendiri ? Apa lagi arti seorang lelaki seperti itu

? Kan dia bukan saja guruku, juga bapak anak-anakku, dewaku ? Apa guna semua pengetahuan

dan ilmunya ? Apa guna dia jadi orang Eropa yang dihormati semua Pribumi ? Apa guna dia jadi

tuanku dan guruku sekaligus, dan dewaku, kalau membela diriny a sendiri pun tak mampu ?

Sejak detik itu, Ann, lenyap hormatku pada ayahmu. didikannya tentang hargadiri dan

kehormatan telah jadi kerajaan dalam diriku. Dia tidak lebih dari seorang Sastrotomo dan istri

nya. Kalau cuma sampai di situ bobotny a dalam menghadapi ujian sekecil itu, tanpa dia pun aku

dapat urus anak-anakku, danap lakukan segalanya seorang diri. Betapa sakit hatiku, Ann, lebih dari

itu takkan mungkin terjadi dalam hidupku. ‘

Waktu kuangkat kepala, pandangku yang terselaputi airmata menampak Tuan masih juga berdiri

tanpa berkedip, bengong memandang jauh kearah jalan raya. Melihat pada diriku, teman-hidup

dan pembantu utamanya ini, ia tidak. Kemudian ia terbatuk-batuk, melangkah, lambat-lambat. Ia

berseru-seru pelan seperti takut kedengaran oleh iblis dan setan: “Maurits! Maurits!”

Ia berjalan menuruni anaktangga, melintasi pelataran depan Sampai di jalan raya ia membelok

ke kanan, ke jurusan Surabay a. Ia tak bersepatu, dalam pakaian kerja ladang, hanya ber-selop.

Papamu tak pulang dalam sisa hari itu. Aku tak peduli Masih sibuk aku mengurusi hatiku yang

kesakitan. Malamnya ia juga tak pulang.


Keesokanny a juga tidak. Tiga harmal, Ann. Selama itu sia-sia saja airmata yang membasahi

bantal.

Darsam melakukan segalanya. Pada akhir hari ketiga ia memberanikan diri mengetuk pintu.

Kaulah, Ann, yang membukakan pintu rumah dan mengantarkannya naik ke loteng. Tak pernah

aku menyangka ia berani naik.

Sakithati dan dukacita sekaligus berubah jadi amarah y ang meluap.

Kemudian terpikir olehku barangkali ada sesuatu yang dianggapnya lebih penting daripada

dukacita dan sakithatiku. Pintu kamar itu memang tiada terkunci. Engkaulah, Ann, yang

membukakannya. Mungltin kau sudah lupa pada peristiwa itu. Dan itulah untuk pertama dan akhir

kali ia naik ke loteng.

Darsam bilang begini:

“Nyai, kecuali baca-tulis, semua sudah Darsam kerjakan,” ia bicara dalam Madura. Aku tak

menjawab. Aku tak pikirkan u-rusan perusahaan. Aku tetap bergolek di ranjang memeluk bantal.

Jangan Nyai kuatir. Semua beres.

Darsam ini, Nyai, percay alah padanya.”

Ternyata dia memang bisa dipercaya.

Pada hari keempat aku keluar dari rumah dan pekarangan. Kuambil engkau dan kukeluarkan dari

sekolah. Perusahaan hasil jenh-pay ah kami berdua ini tak boleh rubuh sia-sia. Dia adalah

segalany a di mana kehidupan kita menumpang. Dia adalah


anak-pertamaku, Ann, abang tertua bagimu, perusahaan ini Mengakhiri cerita itu Mama tersedu-

sedu menangis, merasai kembali sakitny a penghinaan yang ia tak dapat menangkis atau


membalas. Setelah reda, ia meneruskan lagi:

“Kau tahu sendiri, sesampai kita pulang, berapa orang waktu itu ? -

lebih limabelas - aku usir dari pekerjaan dan tanah kita. Me’reka itu y ang telah menjual

keterangan pada Maurits untuk mendapatkan setalen-dua. Barangkali juga tidak dibayar sama

sekali. Juga Mama perlu meminta maaf padamu, Ann. Papamu dan aku sudah bersepakat

menyekolahkan kau ke Eropa, belajar jadi guru. Aku merasa sangat, sangat berdosa telah

mengeluarkan kau dari sekolah. Aku telah paksa kau bekerja seberat itu sebelum kau cukup umur,

bekerja setiap hari tanpa liburan, tak punya teman atau sahabat, karena memang kau tak boleh

punya demi perusahaan ini. Kau kuharuskan belajar jadi majikan yang baik. Dan majikan tidak

boleh berteman dengan pekerjanya. Kau tak boleh dipengaruhi oleh mereka.

Apa boleh buat, Ann.”


Setelah kedatangan Insinyur Mellema, perubahan terjadi dengan hebatnya.

Tentang Papa aku tahu sendiri tanpa diceritai oleh siapa pun. Pada hari yang ketujuh ia pulang.

Anehny a ia berpakaian bersih, bersepatu baru.

Itu terjadi pada sorehari se-‘habis kerja. Mama, aku dan Robert sedang duduk di depan rumah.

Dan Papa datang.

“Diamkan. Jangan ditegur,” perintah Mama. Makin dekat makin kelihatan wajah Papa yang pucat

tercukur bersih Sisirannya sekarang sibak tengah.

Bau minyakrambut yang tak dipergunakan dalam rumah ini merangsang penciri kami Juga bau

minuman keras tercampur rempah-rempah. Ia melewati tempat kami tanpa menegur atau

menengok, naik ke atas dan hilang ke dalam.

Tiba-tiba Robert bangkit melotot pada Mama dan menggerutu marah, “Papaku bukan Pribumir ia

lari sambil memanggil-manggil papa.

Aku memandangi Mama-Dan Mama mengawasi aku, berkata “Kalau suka, kau boleh ikuti contoh

abangmu.”

“Tidak Ma”, seruku dan kupeluk leherny a. “Aku hanya Mama. Aku juga Pribumi seperti Mama.”

Nah, Mas, begitu keadaan kami sewajarny a. Aku tak tahu apa kau juga akan ikut menghinakan

kami sebagaimana halny a dengan Robert, abangku, dan Insinyur Maunts, abang tiriku Entah apa

yang dilakukan Papa di dalam rumah. Kami tak tahu. Pintu-pintu kamar di loteng mau pun di

persada semua terkunci.

Kira-kira seperempat jam kemudian ia keluar lagi. Sekali ini melihat pada Mama dan aku. Tak

menegur. Di belakangnya mengikuti Robert. Papa kembali meninggalkan pelataran, turun ke jalan

raya dan hilang. Robert masuk ke dalam rumah dengan wajah suram karena kecewa tak

diindahkan Papa.

Sejak itu hampir aku tak pernah melihatnya dalam lima tahun belakangan ini. Kadang saja ia

muncul, tak bicara, dan pergi lagj tanpa bicara.

Mama menolak dan tak mau mencari atau mengurusnya. Mama pun melarang aku mencarinya.

Bahkan bicara tentangnya juga dilarang. Lukisan potret Papa diturunkan oleh Darsam dari dinding

dan Mama memerintahkan membakarnya di pelataran, di bawah kesaksian seisi rumah dan

pekerja. Barangkali itulah cara Mama melepaskan dendamnya.

Pada mulany a Robert diam saja. Setelah selesai baru ia memprotes. Ia lari ke dalam rumah,

menurunkan potret Mama dari bilik Mama dan membakarnya seorang diri di dapur. “Ia boleh ikut

papanya,” kata Mama pada Darsam. Dan pendekar itu menyampaikan padany a dengan

tambahan: “Siapa saja berani mengganggu Nyai dan Noni, tak peduli dia itu Sinyo sendiri, dia


akan tumpas di bawah golok ini. Sinyo boleh coba kalau suka, sekarang, besok atau kapan saja.

Juga kalau Sinyo coba-coba cari Tuan.......”

Dua bulan setelah peristiwa itu Robert lulus dari E.L.S.


Dia tak pernah memberitakan pada Mama, dan Mama tidak ambil peduli. Ia keluyuran ke mana-

mana. Permusuhan diam-diam antara Mama dan abangku berjalan sampai sekarang. Lima tahun


Mula-mula Robert menjuali apa saja yang bisa diambilnya dari gudang, dapur, rumah, kantor

menjualny a untuk sendiri. Mama mengusir setiap pekerja y ang mau disuruh mencuri buat

kepentingannya. Kemudian Mama melarang Robert memasuki ruang mana pun kecuali

kamarnya sendiri dan ruangmakan.

Lima tahun telah berlalu, Mas. Lima tahun. Dan muncul dua orang tamu: Robert untuk abangku,

dan Minke untukku dan Mama. Kaulah itu, Mas, tidak lain dan kau sendiri.

6. LIMA HARI SUDAH AKU TINGGAL DI RUMAH MEWAH di Wonokromo. Dan: Robert

Mellema mengundang aku ke kamarny a.

Dengan waspada aku masuk. Perabotnya lebih banyak daripada kamarku. Di dalamnya ada

mejatulis berlapis kaca. Di bawah kaca terdapat gambar besar sebuah kapal pengangkut Karibou

berbendera Inggris.

Ia kelihatan ramah. Matanya liar dan agak merah. Pakaiannya bersih dan berbau minyakwangi

murahan. Rambutnya mengkilat dengan pomade dan tersibak di sebelah kiri. Ia seorang pemuda

ganteng, bertubuh tinggi, cekatan, tangkas, kuat, sopan, dan nampak selalu dalam keadaan berpikir.

Hanya matanya y ang coklat kelereng itu juga yang suka melirik sedang bibirny a yang suka

tercibir benar-benar menggelisahkan aku. Tak tenang rasanya berdua saja dalam kamarny a.

“Minke,” ia memulai, “rupa-rupany a kau senang tinggal di sini. Kau teman sekolah Robert

Suurhof, kan ? Dalam satu kias di H.B.S. ?” Aku mengangguk curiga.

Kami duduk di kursi, berhadapan.

“Semestinya aku pun di H.B.S. sudah tammat pula.”

“Mengapa tidak meneruskan ?”

“Itu kewajiban Mama, dan Mama tidak melakukanny a.”

“Say ang. Barangkali kau tak pernah minta padanya.”

“Tak perlu dipinta. Sudah kewajibannya.”

“Mungkin Mama menganggap kau tak suka meneruskan.”


“Nasib tak bisa diandai, Minke. Begini jadiny a diri sekarang. Kalah aku olehmu, Minke, seorang

Pribumi saja - siswa H.B.S. Eh, apa guna bicara tentang sekolah*?” ia diam sebentar, mengawasi

aku dengan mata coklat kelereng. “Aku mau bertany a, bagaimana bisa kau tinggal di sini ?

Nampaknya senang pula ? Karena ada Annelies ?”

“Betul, Rob, karena ada adikmu. Juga karena dipinta.”


Ia mendeham waktu kuperhatikan

“Kau punya keberatan barangkali ?

“Kau suka pada adikku” tanyanya balik.

“Betul.”

“Sayang sekali, hanya Pribumi/’

“Salah kalau hany a Pribumi ?

Sekali lag ia mendeham mencari kata-kata. Matanya mengembara kefuar jendela. Pada waktu itu

mulai kuperhatikan ranjangnja tidak berklambu.

Di kolong berdiri botol dengan masih ada sisa obat nyamuk pada lehernya.

Di bawah botol berserakan abu rontokan. Lantai belum lagi disapu.

Aku berhenti memperhatikan kolong waktu terdengar lagi “Rumah ini terlalu sepi bagiku,” ia

mengalihkan pembicaraan. “Kau suka main catur barangkali ?”

“Sayang tidak, Rob.” .

“Ya, say ang sekali. Berburu bagaimana ? Mari berburu.

“Sayang, Rob, aku membutuhkan waktu untuk belajar. Sebenarya aku suka juga. Bagaimana kalau

lain kali ?”

“Baik, lain kali,” ia tembuskan pandangnya pada mataku. Aku tahu ada ancaman dalam pandang

itu. Ia jatuhkan telapak tangan kanan pada paha.

“Bagaimana kalau jalan-jalan saja sekarang ?”

“Sayang, Rob, aku harus belajar.”

Agak lama kami berdiam diri. Ia bangkit dan membetulkan kedudukan daun pintu. Mataku

geray angan untuk dapat menemukan sesuatu buat bahan bicara sementara aku selalu waspada,

siap-siap terhadap segala kemungkinan.

Yang jadi perhatianku adalah jendela. Sekirany a tiba-tiba ia meny erang, ke sana aku akan lari dan

melompat. Apa lagi tepat di bawahny a terdapat sebuah kenap yang tiada berjambang burfga.

Di atas kursi yang tidak diduduki Robert tergeletak sebuah majalah berlipat paksa. Nampakny a

bekas dipergunakan ganjal kaki lemari atau meja.


“Kau tak puny a bacaan ?” tany aku.

Ia duduk di kursinya lagi sambil menjawab dengan tawa tanpa suara.

Giginya putih, terawat baik dan gemerlapan.

“Maksudmu dengan bacaan, kertas itu ?” matany a menuding pada majalah berlipat paksa itu.

“Memang pernah kubalik-balik dan kubaca.”

Barang itu diambilnya dan diserahkan padaku. Pada waktu itu aku menduga ia memandang ragu

untuk berbuat sesuatu Matanya tajam menembusi jantungku dan aku bergidik. Kertas itu memang

majalah. Sampulny a telah rusak, namun masih terbaca potongan namany a: Indi......

“Bacaan buat orang malas,” katanya tajam. “Bacalah kalau kau suka. Bawalah.”

Dari kertas dan tintany a jelas majalah baru.

“Kau mau jadi apa kalau sudah lulus H.B.S. ?” tiba-tiba ia bertany a.

“Robert Suurhof bilang kau calon bupati.”

“Tidak benar. Ak,u tak suka jadi pejabat. Aku lebih suka bebas seperti sekarang ini. Lagi pula siapa

akan angkat aku jadi bupati ? Dan kau sendiri, Rob,” aku balik bertany a.

“Aku tak suka pada rumah ini. Juga tak suka pada negeri ini. Terlalu panas. Aku lebih suka salju.

Negeri ini terlalu panas. Aku akan pulang ke Eropa. Belayar. Menjelajahi dunia. Begitu nanti aku

naik ke atas kapalku yang pertama, dada dan tanganku akan kukasih tattoo.”

“Sangat meny enangkan,” kataku. “Aku pun ingin melihat negeri-negeri lain.” ^

“Sama. Kalau begitu kita bisa sama-sama pergi belay ar menjelajah dunia.

Minke, kau dan aku. Kita bisa bikin rencana bukan ? Say ang kau Pribumi.”

“Ya, sayang sekali aku Pribumi.”

“Lihat gambar kapal ini. Temanku yang memberi ini,” ia nampak bersemangat. “Dia awak kapal

Karibou. Aku pernah bertemu secara kebetulan di Tanjung Perak. Dia bercerita banyak, terutama

tentang Kanada. Aku sudah sedia ikut. Dia menolak. Apa guna jadi kelasi bagimu, katany a. Kau

anak orang kaya. Tinggal saja di rumah. Kalau kau mau kau sendiri bisa beli kapal.” Ia tatap aku

dengan mata mengimpi. “Itu dua tahun yang lalu. Dan dia tak pernah lagi berlabuh di Perak.

Menyurati pun tidak. Barangkali tenggelam.”

“Barangkali Mama takkan ijinkan kau pergi,” kataku. “Siapa nanti mengurus perusahaan besar ini

?”


“Huh,” ia mendengus. “Aku sudah dewasa, berhak menentukan diri sendiri.

Tapi aku masih juga ragu. Entah mengapa.”

“Lebih baik bicarakan dulu dengan Mama.” Ia menggeleng. “Atau dengan Papa,” aku

menyarankan.

“Sayang,” ia mengeluh dalam.

“Tak pernah aku lihat kau bicara dengan Mama. Kiranya baik kalau aku yang menyampaikan ?”

“Tidak. Terimakasih. Dari Suurhof aku dengar kau seorang buaya darat.”

Aku rasai mukaku menggerabak karena jompakan darah. Sekaligus aku tahu: aku telah memasuki

sudut hatinya yang terpeka. Itu pun baik, karena keluarlah maksudnya yang terniat.

“Setiap orang pernah dinilai buruk atau baik oleh orang ketiga. Juga sebalikny a peftiah ikut

menilai. Aku pernah. Kau pernah. Suurhof pernah,” kataku.

“Aku ? Tidak,” jawabnya tegas. “Tak pernah aku peduli pada kata dan perbuatan orang. Apalagi

kata orang tentang dirimu. Lebih-lebih lagi tentang diriku. Cuma Suurhof bilang: hati-hati pada

Pribumi dekil bernama Minke itu, buaya darat dari klas kambing.”

“Dia benar, setiap orang wajib berhati-hati. Juga Suurhof sendiri. Aku tak kurang berhati-hati

terhadapmu, Rob.”

“Lihat, aku tak pernah mengimpi untuk menginap di tempat lain karena wanita. Biar pun memang

banyak yang mengundang.”

“Sudah kubilang sebelumny a, aku suka pada adikmu. Mama minta aku tinggal di sini.”

Baik. Asal kau tahu bukan aku y ang mengundang.” Tahu betul, Rob. Aku masih simpan surat

Mama itu.”

“Coba aku baca.”

“Untukku, Rob, bukan untukmu. Sayang.”

Makin lama sikap dan nada suaranya makin mengandung permusuhan.

Lirikannya mulai bersambaran untuk menanamkan ketakutanku. Dan aku sendiri juga sudah

merasa kuatir.

“Aku tidak tahu apa pada akhirnya kau akan kawin dengan adikku atau tidak. Nampaknya Mama

dan Annelies suka padamu. Biar begitu kau harus ingat, aku anak lelaki dan tertua dalam keluarga

ini.”


“Aku di sini sama sekali tak ada hubungan dengan hak-hakmu, Rob. Juga tidak untuk mengurangi.

Kau tetaplah anak lelaki dan tertua keluarga ini. Tak ada yang bisa mengubah.”

Ia mendeham dan mmenggaruk kepalanya dengan hati-hati, takut merusakkah sisiran.

“Aku tahu, kau juga tahu, orang-orang di sini pada memusuhi aku. Tak ada yang menggubris aku.

Ada yang membikin semua mi. Sekarang kau datang kemari. Sudah pasti kau seorang di antara

mereka. Aku berdiri seorang diri di sini. Hendaknya kau jangan sampai lupa pada apa yang bisa

dibikin oleh seorang yang berdiri seorang diri,” katanya mengancam dengan bibir terseny um.

“Betul, Rob, dan kau pun jangan sampai lupa pada kata-katamu sendiri itu, sebab itu juga tertuju

pada dirimu sendiri.”

Matany a sekarang nampak mengimpi menatap aku. Menaksir-naksir kekuatanku. Dan aku

mengikuti contohnya, juga tersenyum. Semua gerak-geriknya aku perhatikan. Begitu nanti

nampak ada gerakan yang mencurigakan, hup, aku sudah melompat keluar dan jendela. Dia

takkan dapatkan aku di dalam kamar ini

“Baik,” katanya sambil mengangguk-angguk. “Dan jangan pula kau lupa, kau hany a seorang

Pribumi.”

“Oh, tentu saja aku selalu ingat, Rob. Jangan kuatir. Kau pun jangan lupa, dalam dirimu ada juga

darah Pribumi. Memang aku bukan Indo, bukan Peranakan Eropa, tapi selama belajar pada

sekolah-sekolah Eropa, ada juga ilmu-pengetahuan Eropa dalam diriku, yaitu, kalau yang serba

Eropa kau anggap lebih tinggi.”

“Kau pandai, Minke, patut bagi seorang siswa H.B.S.”

Percakapan pendek itu terasa memakan waktu berjam-jam penuh ketegangan.

Kemudian kuketahui, hanya sepuluh menit berlangsung. Beruntung Annelies memanggil dari luar

kamar, dan aku minta diri.

Tak kusangka sambil masih tetap duduk Robert berkata sangat tenang: “Pergilah, nyaimu sedang

mencarimu.”

Aku terhenti di pintu dan memandanginya dengan heran. Ia cuma tersenyum.

“Dia adikmu, Rob. Tak patut itu diucapkan. Aku pun puny a kehormatan.,...”

Annelies buru-buru menarik aku ke ruangbelakang seakan suatu kejadian penting telah terjadi


dalam kamar itu. Kami duduk di atas sofa berkasur tinggi dan bertilam bunga-bunga war-na-

warni di atas dasar warna creme.


Ia begitu melengket padaku, berbisik hati-hati: “Jangan suka bergaul dengan Robert. Apa lagi


masuk ke kamarnya. Aku kuatir. Makin hari ia makin berubah. Telah dua kali ini Mama menolak

membayar hutang-hutangnya, Mas. “Perlukah kau bermusuhan dengan abangmu sendiri V

Bukan begitu. Dia harus bekerja untuk mendapatkan nafkahnya sendiri. Dia bisa kalau mau. Tapi

dia tidak mau.” “Baik, tapi mengapa kalian berdua mesti bermusuhan ?” “Tidak datang dari

pihakku. Itu kalau kau mau percaya. EValam segala hal Mama lebih benar dari dia. Dia tak mau

mengakui kebenaran Mama, hanya karena Mama Pribumi. Lantas harus apa aku ini ?”

Aku tahu, tak boleh mencampuri urusan keluarga. Maka tak kuteruskan.

Sementara itu terpikir olehku, Apa y ang didapat pemuda ganteng ini dari kehidupan keluarganya?,

dari bapakny a tidak, dari ibunyapun tidak. Dari saudarinya apalagi. Kasih tiak say angpun tidak.

Aku datang kerumah ini dan ia cemburui aku. Memang sudah sepantasnya.

“Mengapa kau tak bertindak sebagai pendamai Ann ?, ”Buat apa?

Perbuatanny a yang keterlaluan sudah bikin aku mengutuk dia.”

“Mengutuk ? Kau mengutuk ?..

“Melihat mukanya pun aku tidak sudi. Dulu memang aku masih sanggup bertik dengannya.

Sekarang, untuk seumur hidup - tidak. Tidak, Mas.”

Aku menyesal telah mencoba mencampuri urusannya. Dan wajahny a yang mendadak

kemerahan menterjemahkan amarahnya’. Nvai datang menyertai kami. Selembar koran S.N.v/d

D ada di tanganny a. Ia tunjukkan padaku sebuah cerpen Een Buitengewoon Gewoone Nyai. die Ik

ken*.

“Kau sudah baca cerita ini, Nyo ?

“Sudah, Ma, di sekolah.”

“Rasanya aku pernah mengenal orang yang ditulis dalam cerita ini.”

Barangkali aku pucat mendengar omongannya. Walau judulnya telah diubah, itulah tulisanku

sendiri, ceipenku yang pertama kali dimuat bukan oleh koranlelang. Beberapa patah kata dan

kalimat memang telah diperbaiki, tapi itu tetap tulisanku. Bahan cerita bukan berasal dari Anneiies,

tapi khay al sendiri yang mendekati kenyataan sehari-hari Mama. “Tulisan siapa, Ma “ tanyaku

pura-pura. “Max Tollenaar. Benar kau hany a menulis teks iklan ? Sebelum pembicaraan jadi

berlarut segera kuakui: “Memang tulisanku sendiri itu, Ma.” “Sudah kuduga. Kau memang pandai,

Nyo. Tidak seorang dalam seratus bisa menulis begini. Cuma kalau yang kau maksudkan dalam

cerita ini aku.*..

“Mama yang kukhay alkan,” jawabku cepat menyambar. “Ya. Patut banyak tidak benarny a,

Sebagai cerita memang bagus, Ny o. Semoga jadi pujangga, seperti Victor Hugo.” Masyaallah,

dia tahu Victor Hugo. Dan aku malu bertany a siapa dia. Dan dia bisa memuji kebagusan cerita.


Kapan dia belajar ilmu cerita ? Atau hanya sok saja ?

“Sudah pernah baca Francis ? G.Francis ?”

Sungguh aku merasa kewalahan. Itu pun aku tak tahu.

“Rupanya Sinyo tak pernah membaca Melayu.”

“Buku Melayu, Ma ? Ada ?” tanyaku mengembik.

“Sayang kalau tak tahu, Nyo. Bany ak buku Melayu sudah dia tulis. Aku kira dia orang Totok atau

Peranakan, bukan Pribumi. Sungguh sayang, Nyo, kalau tidak ada perhatian.”

Ia masih banyak bicara lagi tentang dunia cerita. Dan semakin lama semakin meragukan. Boleh

jadi ia hany a membuatkan segala apa yang pernah didengarny a dari Herman Mellema. Guruku

cukup bany ak mengajar tentang bahasa dan sastra Belanda. Tak pernah disinggung tentang segala

yarig diomongkanny a. Dan guru kesayanganku, Juffrouw Magda Peters, pasti jauh lebih banyak

tahu daripada hanya seorang ny ai. Nyai yang seorang ini malah mencoba bicara tentang bahasa

tulisan pula!

“Francis, Nyo, dia telah menulis Nyai Dasima, benar-benar dengan cara Eropa. Hanya

berbahasa Melay u. Ada padaku buku itu. Barangkali kau suka mempelajariny a.”

Aku hanya mengiakan. Tahu apa dia tentang dunia cerita. Lagi pula mengapa dia suka membaca

cerita, dan mencoba mencampuri urusan para tokoh khayali para pengarang, bahkan juga bahasa

yang mereka pergunakan, sedang di bawah matanya sendiri anaknya, Robert, kapiran ?

Meragukan.

Seperti ‘dapat membaca pikiranku ia bertanya: “Boleh-jadi kau hendak mepulis tentang Robert

juga.”

“Mengapa, Ma ?” .


“Karena kemudaanmu. Tentu kau akan menulis tentang orang-orang yang kau kenal di dekat-

dekatmu. Yang menarikmu. Yang menimbulkan sympati atau antipatimu. Aku kira Rob pasti


menarik perhatianmu.

Untung saja percakapan y ang tak meny enangkan itu segera tersusul oleh makanmalam. Robert

tidak serta. Baik Mama mau pun Anneiies tidak heran, juga tidak menanyakan. Pelayan juga tak

menanyakan sesuatu.

Tengah makan ternlat olehku untuk menyampaikan keinginan Robert jadi pelaut, pulang ke Eropa.

Pada waktu itu juga justru Nyai berkata: “Cerita, Nyo, selamanya tentang manusia,

kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biar pun yang ditampilkanny a itu hewan, raksasa atau

dewa atau hantu. Dan tak ada#yang lebih sulit dapat difahami daripada sang manusia. Itu


sebabny a tak habis-habisnya cerita dibuat di bumi ini.

Setiap han bertambah saja. Aku sendiri tak banyak tahu tentang im Suatu kali pernah terbaca

olehku tulisan yang kira-kira katanya begini: jangan anggap remeh si manusia, y ang kelihatannya

begitu sederhana, biar pengelihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur,

perabaanmu lebih peka dari para dewa pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis

kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa keraput. Mama sama sekali sudah

berhenti makan. Sendok berisi itu tetap tergantung di bawah dagunya. “Memang dalam sepuluh


tahun belakangan ini lebih bany ak cerita kubaca. Rasanya setiap buku bercerita tentang day a-

upay a seseorang untuk keluar atau mengatasi kesulitannya.


Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan

kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas ridai* terjadi di atas bumi kita ini.”

Mama meneruskan makannya. Perhatianku telah kukerahkan untuk menangkap setiap katanya.

Pada waktu ini ia sungguh seorang guru tidak resmi dengan ajaran y ang cukup resmi.

Ternyata selesai makan ia masih meneruskan: “Karena itu kau pasti tertarik pada Robert. Ia selalu

mencari-cari kesulitan dan tidak dapat keluar daripadany a. Kira-kira itu yang dinamakan: tragis.

Sama seperti ayahnya. Barangkali melalui tulisanmu -

kalau dia mau membacanya - dia akan bisa berkaca dan melihat dirinya sendiri. Mungkin bisa

mengubah kelakuannya. Siapa tahu ? Hany a, pintaku, sebelum kau umumkan biarlah aku diberi

hak untuk ikut membacanya lebih dulu. Itu kalau kau tak berkeberatan tentu. Barangkali saja

gambaran dan anggapan keliru bisa lebih dihindari.”

Memang-aku sedang mempersiapkan tulisan tentang Robert. Peringatan Nyai agak mengejutkan.

Aku rasai ia sebagai mata elang yang pengawas.

Pandanganny a kurasai menyerbu mahligai ha^-hakku sebagai perawi cerita.

Terbitny a ceritaku yang, pertama telah menaikkan semangatku. Tapi tulisan tentang Robert

tak.bisa lebih maju karena tiupan semangat sukses. Mama dengan mata elangnya telah

menyebabkannya tersekat di tengah jalan.

Semua yang tercurah semasa makan itu membikin diri tenggelam dalam renungan.

Jfcarangtfentu ia sudah sangat banyak membaca. Kira-kira Tuan Herman Mellema tadinya

seorang guru yang benar-benar bijaksana dan peny abar. Nyai seorang murid y ang baik, dan

mempuyai kemampuan berkembang sendiri setelah mendapaUcan modal pengertian dari

tuannya.

Apa yaig tak kudapatkan dan sekolah dapat aku paneni di tengah keluTr ga seorang gundik. Siapa

bakal meny angka ? Mungkin imraL seorang y ang lebih mengerti Robert Mellema. Pesannya

tentang pemuda pembenci Pnbumi itu menunjukkan kedalaman keoriha tman tentang sulungnya.


Tentang pemuda jangkung itu aku belum lagi bany ak mengenal. Baragkali ia pun banyak

membaca seperti ibunya Maia lah y ang dibenkannya padaku terny ata bukan bacaan

sembarangan Boleh jadi berasal dan perpustakaan rumah, atau diambilny a dan tangan opaspos

dan tidak diserahkan pada Mama Bisa jadi juga pemuda itu tidak pernah menamatkanny a. Aku tak

tahu betul Karangan-karangan di dalamnya semua tentang negeri penduduk dan persoalan Hindia

Belanda. Sebuah di antaranya tentang Jepang dengan hubungannya - sedikit atau banyak -dengan

Hindia.


Tulisan itu memperkaya catatanku tentang negeri Jepang y ang bany ak dibicarakan dalam bulan-

bulan terakhir ini Tak ada di antara teman sekolahku mempuny ai perhatian pada nege-n dan


bangsa ini sekali pun barang dua kali pernah disinggung dalam diskusi-sekolah. Teman-teman

menganggap bangsa ini masih terlalu rendah untuk dibicarakan. Secara selintas mereka

menyamaratakan dengan pelacur-pelacurnya yang memenuhi Kembang Jepun, warung-warung

kecil, restoran dan pangkas rambut, verkoper, dan kelontongnya yang sama sekali tak dapat

mencerminkan suatu Pabrfk yang menantang ilmu dan pengetahuan modern Dalam suatu

diskusi-sekolah, waktu guruku, Tuan Lasten-aienst, mencoba menarik perhatian para siswa, orang

lebih banyak tinggal mengobrol pelan. Ia bilang: di bidang ilmu Jepang juga mengalami

kebangkitan.

Kitasato telah menemukan kuman pes, Shiga menemukan kuman dysenteri -

dan dengan demikian Jepang tefcih juga berjasa pada ummat manusia. Ia membandingkanny a

dengan sumbangan bangsa Belanda pada peradaban. Melihat aku mempunyai perhatian penuh

dan membikin catatan Lastendienst bertanya padaku dengan nada mendakwa: eh, Minke wakil

bangsa Jawa dalam ruangan ini, apa sudah di sumbangkan bangsamu pada ummat manusia ?

Bukan saja aku menggeragap mendapat pertanyaan dadakan itu, Koleh jadi seluruh dewa dalam

kotak wayang ki dalangjikan hilang semangat hanya untuk menjawab.

Maka jalan paling ampuh untuk tidak menjawab adalah meny uarakan kalimat ini: Ya, Meneer

Lastendienst, sekarang ini saya belum bisa menjawab.

Dan guruku itu menanggapi dengan senyum manis - sangat manis.

Itu sedikit kutipan dari catatanku tentang Jepang. Dengan adanya tulisan dari majalah pemberian

Robert catatanku mendapatkan tambahan yang lumayan bany akny a Tentang kesibukan di Jepang

untuk menentukan strategi pertahanannya Aku taK

banyak mengerti tentang hal demikian Justru karena itu aku catat. Paling tidak akan menjadi bahan

bermegah dalam diskusi-sekolah.

Dikatakan adanya persaingan antara Angkatan Darat dengan Angkatan Laut Jepang. Kemudian

dipilih strategi maritim untuk pertahanannya. Dan Angkatan Darat dengan tradisi samurainya

y ang berabad merasa kurang senang.


Bagaimmana tentang Hindia Belanda sendiri ? Di dalamnya dinyatakan: Hindia Belanda tidak

mempuny ai Angkatan Laut, hanya Angkatan Darat.

Jepang terdiri dari kepulauan. Hindia Belanda setali tiga uang. Mengapa kalau Jepang

mengutamakan laut Hindia mengutamakan darat ? Bukankah masalah pertahanan (terhadap luar)

sama saja ? Bukankah jatuhny a Hindia Belanda ke tangan Inggris nyaris seabad y ang lalu juga

karena lemahnya Angkatan Laut di Hindia ? Mengapa itu tak dijadikan pelajaran ?

Dari majalah itu juga aku tahu: Hindia Belanda tidak mempunyai Angkatan Laut. Kapal perang

yang mondar-mandir di Hindia bukanlah milik Hindia Belanda, tetapi milik kerajaan Belanda.

Daendels pernah membikin Surabaya menjadi pangkalan Angkatan Laut pada masa Hindia

Belanda tak punya armada satu pun! Nyaris seratus tahun setelah itu orang tak pernah

memikirkan gunanya ada Angkatan Laut tersendiri untuk Hindia. Tuan-tuan yang terhormat

mempercay akan pertahanan laut Inggris di Singapura dan pertahanan laut Amerika di Filipina.

Tulisan itu membayangkan sekirany a terjadi perang dengan Jepang.

Bag’aimana akan halny a Hindia Belanda dengan perairan tak terjaga ?

Sedang Angkatan Laut Kerajaan Belanda hany a, kadang-kadang saja datang meronda ? Tidakkah

pengalaman tahun 1811 bisa berulang untuk kerugian Belanda ?

Aku tak tahu apakah Robert pernah membaca dan mempelajarinya. Sebagai pemuda yang ingin

berlanglang buana sebagai pelaut boleh jadi ia telah mempelajarinya. Dan sebagai pemuja

darah Eropa kiranya dia mengandalkan keunggulan ras putih.

Tulisan itu juga mengatakan: Jepang mencoba meniru Inggris di perairan.

Dan pengarangny a memperingatkan agar menghentikan ejekan terhadap bangsa itu sebagai

monyet peniru. Pada setiap awal pertumbuhan, katanya, semua hany a meniru. Setiap kita

semasa kanak-kanak juga hanya meniru Tetapi kanak-kanak itu pun akan dewasa, mempunyai

perkembangan sendiri..............

Sedang pembicaraan yang dapat kusadap antara Jean Marais dengan Telinga tentang perang

dapat kucatat demikian:

Jean Marais: peranan berpindah-pindah, dari generasi ke generasi yang lain, dari bangsa y ang

satu ke bangsa yang lain Dahulu kulit berwarna menjajah kulit putih. Sekarang kulit putih

menjajah kulit berwarna.

Telinga: Tak pernah kulit putih dialahkan kulit berwarna dalam tiga abad ini. Tiga abad! Memang

bisa terjadi kulit putih mengalahkan kulit putih y ang lain. Tapi kulit berwarna takkan dapat

mengalahkan y ang putih.

Dalam lima abad mendatang ini dan untuk selamanya. .


Dan Robert ingin jadi awak kapal sebagai orang Eropa. Dia bermimpi belayar dengan Karibou, di

bawah naungan Inggris -negeri tak berapa besar, dengan matari tak pernah tenggelam....

7. RASANYA BELUM LAGI LAMA AKU TERTIDUR. Pukulan gugup pada pintu kamarku

membikin aku menggeragap bangun.

“Minke, bangun,” suara Nyai.


Kudapati Mama berdiri di depan pintuku membawa Win. Rambutnya agak kacau. Bunyi ketak-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Genosida: Tragedi Kemanusiaan yang Mengguncang Dunia

RONGGENG DUKUH PARUK (Buku Pertama Dari Trilogi) Ahmad Tohari

Bug Bounty IDN Bootcamp