RONGGENG DUKUH PARUK (Buku Pertama Dari Trilogi) Ahmad Tohari

 NAMA    : HADDAD AL FARISI

NIM          : 1002230030

PRODI     : TEKNOLOGI INFORMASI

MAKTUL : B.INDONESIA


KEMARAU di kawasan Banyumas, Jawa Tengah, pada

masa kini mungkin tidak lagi sedahsyat akibatnya dibanding

masa lalu, ketika hutan-hutan jati di daerah Jatilawang

mengering, tanah pecah-pecah, penduduk merana kelaparan.

Dulu, seperti ditunjukkan Ahmad Tohari (57), penulis yang

pernah menghasilkan novelRonggeng Dukuh Paruk Ronggeng Dukuh Paruk Ronggeng Dukuh Paruk , hutan

menyala menjadi korban kebakaran akibat pertikaian politik


yang menyusup sampai ke desa-desa pada masa sebelum 1965.

Ahmad Tohari dilahirkan di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang,

Banyumas tanggal 13 Juni 1948. Pendidikan formalnya hanya sampai

SMAN II Purwokerto. Namun demikian beberapa fakultas seperti ekonomi,

sospol, dan kedokteran pernah dijelajahinya. Semuanya tak ada yang ditekuninya.

Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya

yang mewarnai seluruh karya sastranya.

Lewat trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (dua yang lainnyaLintang Kemukus Lintang Kemukus

Dinihari danJentera Bianglala Dinihari Jentera Bianglala Jentera Bianglala ), ia telah mengangkat kehidupan berikut cara

pandang orang-orang dari lingkungan dekatnya ke pelataran sastraIndonesia .

Sesuai tahun-tahun penerbitannya, karya Ahmad Tohari adalahKubah (novel,

1980),Ronggeng Dukuh Paruk Ronggeng Dukuh Paruk Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)Lintang Kemukus D Lintang Kemukus Dinihari Lintang Kemukus Dinihari inihari

(novel, 1984),Jentera Bianglala Jentera Bianglala Jentera Bianglala (novel, 1985),Di Kaki Bukit Cibal Di Kaki Bukit Cibalak Di Kaki Bukit Cibalak (novel, ak

1989), Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1990),Lingkar Tanah Lingkar kar Tanah Lingkar

Air (novel, 1993),Beki Air Bekisar Merah sar Merah sar Merah (novel, 1993),Mas Mantri Gugat Mas Mantri Gugat Mas Mantri Gugat

(kumpulan kolom, 1994).

Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina,

Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggrisnya sedang disiapkan penerbitannya.


Dikumpulkan dari berbagai sumber,


Bagian Pertama


Sepasang burung bangau melayang meniti angin berputar-putar tinggi di langit. Tanpa

sekali pun mengepak sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya. Suaranya

melengking seperti keluhan panjang. Air. Kedua unggas itu telah melayang beratus-ratus

kilometer mencari genangan air. Telah lama mereka merindukan amparan lumpur tempat

mereka mencari mangsa; katak, ikan, udang atau serangga air lainnya.

Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah

tujuh bulan kerontang. Sepasang burung bangau itu takkan menemukan genangan air

meski hanya selebar telapak kaki. Sawah berubah menjadipadang kering berwarna

kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi bercak-bercak hijau di sana-sini adalah

kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik. Tumbuhan jenis kaktus ini

justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya.

Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya.

Dia terbang bagai batu lepas dari katapel sambil menjerit sejadi-jadinya. Di belakangnya,

seekor alap-alap mengejar dengan kecepatan berlebih. Udara yang ditempuh kedua

binatang ini membuat suara desau. Jerit pipit kecil itu terdengar ketika paruh alap-alap

menggigit kepalanya. Bulu-bulu halus beterbangan. Pembunuhan terjadi di udara yang

lengang, di atas Dukuh Paruk.

Angin tenggara bertiup. Kering. Pucuk-pucuk pohon di pedukuhan sempit itu bergoyang.

Daun kuning serta ranting kering jatuh. Gemersik rumpun bambu. Berderit baling-baling

bambu yang dipasang anak gembala di tepian Dukuh Paruk. Layang-layang yang terbuat

dari daun gadung meluncur naik. Kicau beranjangan mendaulat kelengangan langit di

atas Dukuh Paruk.

Udara panas berbulan-bulan mengeringkan berjenis biji-bijian. Buah randu telah


menghitam kulitnya, pecah menjadi tiga juring. Bersama tiupan angin terburai gumpalan-

gumpalan kapuk. Setiap gumpal kapuk mengandung biji masak yang siap tumbuh pada


tempat ia hinggap di bumi. Demikian kearifan alam mengatur agar pohon randu baru

tidak tumbuh berdekatan dengan biangnya.

Pohon dadap memilih cara yang hampir sama bagi penyebaran jenisnya. Biji dadap yang

telah tua menggunakan kulit polongnya untuk terbang sebagai baling-baling. Bila angin

berembus, tampak seperti ratusan kupu terbang menuruti arah angin meninggalkan pohon

dadap. Kalau tidak terganggu oleh anak-anak Dukuh Paruk, biji dadap itu akan tumbuh di

tempat yang jauh dari induknya. Begitu perintah alam.

Dari tempatnya yang tinggi kedua burung bangau itu melihat Dukuh Paruk sebagai

sebuah gerumbul kecil di tengahpadang yang amat luas. Dengan daerah pemukiman

terdekat, Dukuh Paruk hanya dihubungkan oleh jaringan pematang sawah, hampir dua

kilometer panjangnya. Dukuh Paruk, kecil dan menyendiri. Dukuh Paruk yang


menciptakan kehidupannya sendiri.

Dua puluh tiga rumah berada di pedukuhan itu, dihuni oleh orang-orang seketurunan.

Konon, moyang semua orang Dukuh Paruk adalah Ki Secamenggala, seorang

bromocorah yang sengaja mencari daerah paling sunyi sebagai tempat menghabiskan

riwayat keberandalannya. Di Dukuh Paruk inilah akhirnya Ki Secamenggala menitipkan

darah dagingnya.

Semua orang Dukuh Paruk tahu Ki Secamenggala, moyang mereka, dahulu menjadi

musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang

terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan

kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala

membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat disana .

Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah-payah mencabut sebatang

singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman


akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-

engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya hampir berputus


asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.

“Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. “Tanpa cungkil mustahil kita

dapat mencabut singkong sialan ini.”

“Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah sekeras ini,” ujarWarta .

“Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini.

Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”

“Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”

“Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai

pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.”

Tiga ujung kulup terarah pada titik yang sama. Currrr. Kemudian Rasus,Warta dan

Darsun berpandangan. Ketiganya mengusap telapak tangan masing-masing. Dengan

tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali.

Urat-urat kecil di tangan dan di punggung menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan

kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika

akar terakhir putus ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera

terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut.

Adat Dukuh Paruk mengajarkan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus

berhenti di sini. Rasus,Warta dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan

umbi singkong yang baru mereka cabut. Rasus danWarta mendapat dua buah, Darsun

hanya satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi

masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing


sendiri.

Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua

temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa

binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang, ketiganya berjalan ke sebuah

tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat

Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun

nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa

pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung,

dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kekanak-kanakannya,

Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas

ngegot ning ora suwe.

Lagu erotik. Srintil, perawan yang baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan

sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun

sama saja. Dukuh Paruk tidak akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu

yang paling cabul sekalipun.


Betapa asyik Srintil dengan dendangnya, terbukti dia tidak menyadari ada tiga anak laki-

laki sudah berdiri di belakangnya. Srintil baru sadar ketika sedang mencoba memasang


mahkota daun nangka ke atas kepalanya.

“Terlalu besar,” ujar Rasus mengejutkan Srintil. Perawan kecil itu mengangkat muka.

“Aku bersedia membuatkan badongan untukmu,” sambung Rasus menawarkan jasa.

“Tak usah. Kalau mau, ambilkan aku daun bacang. Nanti badongan ini lebih baik,”

jawab Srintil.

Rasus tersenyum. Baginya, memenuhi permintaan Srintil selalu menyenangkan. Maka

dia berbalik, menoleh kiri-kanan mencari sebatang pohon bacang. Setelah didapat, Rasus

memanjat. Cepat seperti seekor monyet. Dipetiknya beberapa lembar daun bacang yang

lebar. Pikir Rasus, dengan daun itu mahkota di kepala Srintil akan bertambah manis.

Dengan bantuan ketiga anak laki-laki itu Srintil dapat menyelesaikan mahkota daunnya.

Ukurannya tepat.

“Bagus sekali,” kata Rasus setelah melihat badongan daun nangka itu menghias kepala

Srintil.

“Sungguh?” balas Srintil meyakinkan.

“Aku tidak bohong. Bukankah begitu,Warta ? Darsun?”

“Ya, benar. Engkau cantik sekali sekarang,” ujarWarta .

“Seperti seorang ronggeng?” tanya Srintil lagi. Gayanya manja.


“Betul.”


“Ah, tidak,” potong Darsun. “Kecuali engkau mau menari seperti ronggeng.”


Srintil diam. Dipandangnya ketiga anak laki-laki di hadapannya. Dalam hati Srintil

merasa penasaran. Apakah kalian menyangka aku tak bisa menari seperti seorang

ronggeng? tanya Srintil.

“Baik, aku akan menari. Kalian harus mengiringi tarianku. Bagaimana?” tantang

Srintil.

“Wah, jadi kalau begitu,” jawab Rasus cepat. “Aku akan menirukan bunyi

gendang.Warta menirukan calung dan Darsun menirukan gong tiup. Hayo!”

Di pelataran yang membatu di bawah pohon nangka. Ketika angin tenggara bertiup

dingin menyapu harum bunga kopi yang selalu mekar di musim kemarau. Ketika sinar

matahari mulai meredup di langit barat. Srintil menari dan bertembang. Gendang, gong

dan calung mulut mengiringinya. Rasus bersila, menepak-nepak lutut menirukangaya

seorang penggendang.Warta mengayunkan tangan ke kiri-kanan, seakan ada perangkat

calung di hadapannya. Darsun membusungkan kedua pipinya. Suaranya berat menirukan

bunyi gong.


Siapa yang akan percaya, tak seorang pun pernah mengajari Srintil menari dan

bertembang. Siapa yang akan percaya belum sekali pun Srintil pernah melihat pentas

ronggeng. Ronggeng terakhir di Dukuh Paruk mati ketika Srintil masih bayi. Tetapi di

depan Rasus,Warta dan Darsun, Srintil menari dengan baiknya.

Mimik penagih birahi yang selalu ditampilkan oleh seorang ronggeng yang sebenarnya,

juga diperbuat oleh Srintil saat itu. Lenggok lehernya, lirik matanya, bahkan cara Srintil

menggoyangkan pundak akan memukau laki-laki dewasa manapun yang melihatnya.

Seorang gadis kencur seperti Srintil telah mampu menirukan dengan baiknyagaya

seorang ronggeng. Dan orang Dukuh Paruk tidak bakal heran.

Di pedukuhan itu ada kepercayaan kuat, seorang ronggeng sejati bukan hasil pengajaran.

Bagaimanapun diajari, seorang perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang

telah merasuk tubuhnya. indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia

peronggengan.

Demikian, sore itu Srintil menari dengan mata setengah tertutup, jari tangannya melentik

kenes. Ketiga anak laki-laki yang mengiringinya menyaksikan betapa Srintil telah

mampu menyanyikan banyak lagu-lagu ronggeng.

Mulut Rasus dan kedua temannya pegal sudah. Namun terus melenggang dan

melenggok. Alunan tembangnya terus mengalir seperti pancuran di musim hujan.

Betapapun, akhirnya Srintil berhenti karena mulut ketiga pengiringnya bungkam. Tidak

tampak tanda Srintil lelah. Bahkan kepada ketiga kawannya, Srintil masih menuntut.

“Wah, lagi, ya!” desaknya.

“Mengaso dulu. Mulutku pegal,” jawab Rasus.

“Ya, kita berhenti dulu. Kita hanya akan bermain lagi kalau Srintil berjanji akan

memberi kami upah,” kataWarta .

“Baik, baik. Kalian minta upah apa?”

Wartadiam. Rasus tersenyum sambil memandang Darsun.

“Kalian minta upah apa?” ulang Srintil. Berkata demikian Srintil melangkah ke arah

Rasus. Dekat sekali. Tanpa bisa mengelak, Rasus menerima cium di pipi.Warta dan

Darsun masing-masing mendapat giliran kemudian. Sebelum ketiga anak laki-laki itu

sempat berbuat sesuatu, Srintil menagih janji.


“Nah. Kalian telah menerima upah. Sekarang aku menari. Kalian harus mengiringi lagi.”


Ketiganya patuh. Ceria di bawah pohon nangka itu berlanjut sampai matahari menyentuh

garis cakrawala. Sesungguhnya Srintil belum hendak berhenti menari. Namun Rasus

berkeberatan karena ia harus menggiring tiga ekor kambingnya pulang ke kandang. Pada

akhir permainan, Rasus,Warta dan Darsun minta upah. Kali ini mereka yang berebut

menciumi pipi Srintil. Perawan kecil itu melayani bagaimana laiknya seorang ronggeng.

Sebelum berlari pulang, Srintil minta jaminan besok hari Rasus dan dua temannya akan

bersedia kembali bermain bersama.

Karena letak Dukuh Paruk di tengah amparan sawah yang sangat luas, tenggelamnya

matahari tampak dengan jelas darisana . Angin bertiup ringan. Namun cukup meluruhkan

dedaunan dari tangkainya. Gumpalan rumput kering menggelinding dan berhenti karena

terhalang pematang.

Hilangnya cahaya matahari telah dinanti oleh kelelawar dan kalong. Satu-satu mereka

keluar dari sarang, di lubang-lubang kayu, ketiak daun kelapa atau kuncup daun pisang

yang masih menggulung. Kemarau tidak disukai oleh bangsa binatang mengirap itu.

Buah-buahan tidak mereka temukan. Serangga pun seperti lenyap dari udara. Pada saat

demikian kampret harus mau melalap daun waru agar kehidupan jenisnya lestari.

Pelita-pelita kecil dinyalakan. Kelap-kelip di kejauhan membuktikan di Dukuh Paruk

yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang lonjong hampir mencapai puncak langit.

Cahayanya membuat bayangan temaram di atas tanah kapur Dukuh Paruk. Kehadirannya

di angkasa tidak terhalang awan. Langit bening. Udara kemarau makin malam makin

dingin.

Pagelaran alam yang ramah bagi anak-anak. Halaman yang kering sangat menyenangkan

untuk arena bermain. Cahaya bulan mencipta keakraban antara manusia dengan lingkup

fitriyahnya. Anak-anak, makhluk kecil yang masih lugu, layak hadir di halaman yang

berhias cahaya bulan. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka

sebaiknya tahu masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali datang.

Tidak, tidak. Awal malam yang ceria itu tidak berbias lengking anak-anak Dukuh Paruk.

Kemarau terlampau panjang tahun ini. Dua bulan terakhir tiada lagi padi tersimpan di

rumah orang Dukuh Paruk. Mereka makan gaplek. Anak-anak makan nasi gaplek.

Karbohidrat yang terkandung dalam singkong kering itu banyak rusak. Anak-anak tidak

berbekal cukup kalori untuk bermain siang malam.

Jadi pada malam yang bening itu, tak ada anak Dukuh Paruk keluar halaman. Setelah

menghabiskan sepiring nasi gaplek mereka lebih senang bergulung dalam kain sarung,

tidur di atas balai-balai bambu. Mereka akan bangun besok pagi bila sinar matahari

menerobos celah dinding dan menyengat kulit mereka.

Orang-orang dewasa telah bekerja keras di siang hari. Tanaman musim kemarau berupa

sayuran, tembakau dan palawija harus disiram dengan air sumur yang khusus mereka

gali. Bila malam tiba, keinginan mereka tidak berlebihan; duduk beristirahat sambil


menggulung tembakau dengan daun pisang atau kulit jagung kering. Sedikit tengah

malam mereka akan naik tidur. Pada saat kemarau panjang seperti itu mustahil ada

perempuan Dukuh Paruk hamil.

Menjelang tengah malam barangkali hanya Sakarya yang masih termangu di bawah

lampu minyak yang bersinar redup. Sakarya, kamitua di pedukuhan terpencil itu masih

merenungi ulah cucunya sore tadi. Dengan diam-diam Sakarya mengikuti gerak-gerik

Srintil ketika cucunya itu menari di bawah pohon nangka. Sedikit pun Sakarya tidak ragu,

Srintil telah kerasukan indang ronggeng.

Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan Ki Secamenggala itu merasakan

hambarnya Dukuh Paruk karena tidak terlahirnya seorang ronggeng disana . “Dukuh

Paruk tanpa ronggeng, bukanlah Dukuh Paruk. Srintil, cucuku sendiri, akan

mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini,” kata Sakarya kepada dirinya sendiri.

Sakarya percaya, arwah Ki Secamenggala akan terbahak di kuburnya bila kelak tahu ada

ronggeng di Dukuh Paruk.

Tak seorang pun menyalahkan pikiran Sakarya. Dukuh Paruk hanya lengkap bila disana

ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah-serapah dan ada ronggeng

bersama perangkat calungnya. Gambaran tentang Dukuh Paruk dilengkapi oleh ucapan

orang luar yang senang berkata misalnya, “Jangan mengabadikan kemelaratan seperti

orang Dukuh Paruk.” Atau, “Hai, anak-anak, pergilah mandi. Kalau tidak nanti kupingmu

mengalir nanah, kakimu kena kudis seperti anak-anak Dukuh Paruk!”

Keesokan harinya Sakarya menemui Kartareja. Laki-laki yang hampir sebaya ini secara

turun-temurun menjadi dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Pagi itu Kartareja mendapat

kabar gembira. Dia pun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon


ronggeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di para-

para di atas dapur. Dengan laporan Sakarya tentang Srintil, dukun ronggeng itu berharap


bunyi calung akan kembali terdengar semarak di Dukuh Paruk.

“Kalau benar tuturmu, Kang, kita akan tetap betah tinggal di pedukuhan ini,” kata

Kartareja menanggapi laporan Sakarya.

“Eh, sampean lihat sendiri nanti,” jawab Sakarya. “Srintil akan langsung menari dengan

kenesnya bila mendengar suara calungmu.”

Kartareja mengangguk-angguk. Bibirnya yang merah kehitaman oleh kapur sirih

bergoyang ke kiri-kanan. Lalu disemprotkannya sisa tembakau yang tertinggal di

mulutnya.

“Ah, Kang Sakarya. Aku tak lagi diperlukan kalau begitu. Bukankah Srintil sudah

menjadi ronggeng sejak lahir?” kata Kartareja tawar. Dia sedikit tersinggung.

Keahliannya mengasuh ronggeng merasa disepelekan.


“Eh, sampean salah tangkap. Maksudku, Srintil benar-benar telah mendapat indang.

Masakan sampean tidak menangkap maksudku ini.”

“Oh, begitu.”

“Ya. Dan tentu sampean perlu memperhalus tarian Srintil. Cucuku tampaknya belum

pintar melempar sampur. Nah, ada lagi yang penting; masalah 'rangkap' tentu saja. Itu

urusanmu, bukan?”

Kartareja terkekeh. Dia merasa tidak perlu berkata apa-apa. “Rangkap” yang dimaksud

oleh Sakarya tentulah soal guna-guna, pekasih, susuk dan tetek-bengek lainnya yang akan

membuat seorang ronggeng laris. Kartareja dan istrinya sangat ahli dalam urusan ini.

“Pokoknya Dukuh Paruk akan kembali mempunyai ronggeng. Bukankah begitu, Kang?”

“Eh, ya. Memang begitu. Kita yang tua-tua di pedukuhan ini tak ingin mati sebelum

melihat Dukuh Paruk kembali seperti aslinya dulu. Bahkan aku takut arwah Ki

Secamenggala akan menolakku di kubur bila aku tidak melestarikan ronggeng di

pedukuhan ini.”

“Bukan hanya itu, Kang. Bukankah ronggeng bisa membuat kita betah hidup?”

Kedua kakek itu tertawa bersama. Di antara gelaknya Sakarya mengeluh mengapa dia

tidak bisa mengundurkan usianya dari tujuh puluh menjadi dua puluh tahun.

Beberapa hari kemudian Sakarya dan Kartareja selalu mengintip Srintil menari di bawah

pohon nangka. Kedua laki-laki tua itu sengaja membiarkan Srintil menari sepuas hatinya

diiringi calung mulut oleh Rasus dan kedua kawannya. Kartareja percaya akan ceritera

Sakarya. Srintil telah kemasukan indang ronggeng.

Pada hari baik, Srintil diserahkan oleh kakeknya, Sakarya kepada Kartareja. Itu hukum

Dukuh Paruk yang mengatur perihal seorang calon ronggeng. Keluarga calon harus

menyerahkannya kepada dukun ronggeng, menjadi anak akuan.

Dua belas tahun sejak kematian ronggeng Dukuh Paruk yang terakhir. Selama itu Dukuh

Paruk tanpa suara calung. Perangkat gamelan bambu itu telah tertutup lapisan debu

campur jelaga di para-para dapur keluarga Kartareja. Tali ijuk yang merenteng tiap mata

calung telah putus oleh gigitan tikus atau ngengat.

Untung.

Serangga bubuk dan anai-anai tak merapuhkan gamelan bambu itu. Untung pula, Kyai

Comblang, gendang pusaka milik keluarga Kartareja tetap disimpan dengan perawatan

istimewa. Perkakas itu siap pakai meski telah istirahat dalam waktu lama.


Kesulitan pertama yang dihadapi Kartareja bukan masalah bagaimana memperbaiki alat

musiknya, melainkan bagaimana dia mendapat para penabuh. Penabuh gendang yang

disayanginya meninggal pada malapetaka paceklik dua tahun lalu. Seorang lagi yang

biasa melayani calung penerus, lenyap entah ke mana. Tetapi bagaimanapun Kartareja

beruntung. Dia berhasil menemukan kembali Sakum, laki-laki dengan sepasang mata

keropos namun punya keahlian istimewa dalam memukul calung besar.

Sakum, dengan mata buta mampu mengikuti secara seksama pagelaran ronggeng.

Seperti seorang awas, Sakum dapat mengeluarkan seruan cabul tepat pada saat ronggeng

menggerakkan pinggul ke depan dan ke belakang. Pada detik ronggeng membuat gerak

birahi, mulut Sakum meruncing, lalu keluar suaranya yang terkenal; Cessss! Orang

mengatakan, tanpa Sakum setiap pentas ronggeng tawar rasanya.

Kemarau masih mengulur waktu. Kartareja menemukan hari dan malam cerah buat

mulai mengasuh Srintil.

Senja yang telah ditunggu semua warga Dukuh Paruk. Kartareja menyuruh orang

membersihkan halamannya. Empat helai tikar pandan digelar di tengah tanah kering

berpasir itu. Setelah hari gelap, sebuah lampu minyak besar dinyalakan. Terang, sebab

pada sumbu-lampu minyak itu dipasang sebuah cincin penerang. Suasana demikian

mengundang anak-anak. Mereka bergerombol memperhatikan orang-orang bekerja.

Semuanya telah tahu, malam itu Srintil akan menari.

Di dalam rumah, Nyai Kartareja sedang merias Srintil. Tubuhnya yang kecil dan masih

lurus tertutup kain sampai ke dada. Angkinnya kuning. Di pinggang kiri kanan ada

sampur berwarna merah saga. Srintil didandani seperti laiknya seorang ronggeng dewasa.

Kulitnya terang karena Nyai Kartareja telah melumurinya dengan tepung bercampur air

kunyit. Istri dukun ronggeng itu juga telah menyuruh Srintil mengunyah sirih. Bibir yang

masih sangat muda itu merah.

Banyak perempuan dan anak-anak memenuhi rumah Kartareja. Mereka ingin melihat

Srintil dirias. Sepanjang usianya yang sebelas tahun, baru pertama kali Srintil menjadi

perhatian orang. Dia tersipu. Terkadang tertawa kecil bila dia mendengar orang berbisik

memuji kecantikannya. Mulutnya mungil. Cambang tipis di pipinya menjadi nyata

setelah Srintil dibedaki. Alis yang diperjelas dengan jelaga bercampur getah pepaya

membuatnya kelihatan seperti boneka.

Satu hal disembunyikan oleh Nyai Kartareja terhadap siapa pun. Itu, ketika dia

meniupkan mantra pekasih ke ubun-ubun Srintil. Mantra yang di Dukuh Paruk dipercaya

akan membuat siapa saja tampak lebih cantik dari yang sebenarnya;

uluk-uluk perkutut manggung

teka saka ngendi,

teka saka tanah sabrang

pakanmu apa,


pakanku madu tawon

manis madu tawon,

ora manis kaya putuku, Srintil.

Konon bukan hanya itu.

Beberapa susuk emas dipasang oleh Nyai Sakarya di tubuh Srintil.

Orang-orang yang sudah berkumpul hendak melihat Srintil menari mulai gelisah.

Mereka sudah begitu rindu akan suara calung. Belasan tahun lamanya mereka tidak

melihat pagelaran ronggeng. Maka bukan main senang hati mereka ketika mendengar

Kartareja bersuara; pertunjukan akan dimulai.

Lingkaran yang terdiri atas warga Dukuh Paruk segera terbentuk. Tiga penabuh duduk

bersila menghadapi perangkat pengiring; sebuah gendang, dua calung dan sebuah gong

tiup yang terbuat dari seruas bambu besar. Sehelai tikar tersedia bagi tempat Srintil

menari. Sakum yang menghadapi calung besar cepat menjadi perhatian orang.


Tampaknya dia tidak mengutuk matanya yang buta. Sakum hanya tersenyum. Cengar-

cengir. Kedua tangannya memegang pemukul calung, siap menunggu aba-aba gendang.


Ketika Srintil muncul dituntun Nyai Kartareja, semua mata terarah kepadanya. Rasus

yang berdiri di lapisan penonton paling depan ternganga. Dia tak percaya dirinya telah

mencium Srintil beberapa hari yang lalu. Srintil didudukkan di tengah tikar. Tidak

bergerak, bahkan dia tidak menggulirkan bola matanya. Kartareja muncul dengan

pedupaan yang dibawanya berkeliling arena. Tungku kecil yang mengepulkan asap

kemenyan itu kemudian diletakannya dekat gendang.

Hening.

Tanggapan hanya berupa bisik-bisik lirih. Seorang perempuan menggamit lengan teman

di sebelahnya, memuji kecantikan Srintil. Rasus Warta dan Darsun memandang boneka

di tengah tikar itu tanpa kedipan mata. Srintil, yang sering menari di bawah pohon

nangka kini tampil di tengah pentas.

Kepada tukang gendang, Kartareja memberi isyarat. Detik berikutnya bergemalah

irama calung yang dikembari tepuk tangan hampir semua warga Dukuh Paruk. Sakum

mulai bertingkah. Dengan lenggang-lenggok jenaka ia memainkan calungnya. Satu-dua

seruan cabul mulai meluncur dari mulutnya. Setiap kali berseru, Sakum mendapat tepuk

tangan yang riuh.

Penonton menunda kedipan mata ketika Srintil bangkit. Hanya dituntun oleh nalurinya,

Srintil mulai menari. Matanya setengah terpejam. Sakarya yang berdiri di samping


Kartareja memperhatikan ulah cucunya dengan seksama. Dia ingin membuktikan kata-

katanya, bahwa dalam tubuh Srintil telah bersemayam indang ronggeng. Dan Kartareja,


sang dukun ronggeng mendapat kenyataan seperti itu.


Ketika Srintil menyanyikan lagu yang sulit-sulit, yang pasti dia belum pernah

mempelajarinya, bulatlah hati Kartareja. Dia harus percaya bahwa Srintil mendapat

indang. Kartareja percaya penuh, Srintil dilahirkan di Dukuh Paruk atas restu arwah Ki

Secamenegala dengan tugas menjadi ronggeng. Penampilan Srintil yang pertama,

membuat Kartareja mengangguk dan mengangguk. “Sakarya tidak berlebihan dengan

kata-katanya beberapa hari yang lalu,” pikir Kartareja.

Selama menari wajah Srintit dingin. Pesonanya mencekam setiap penonton. Banyak

orang terharu dan kagum melihat bagaimana Srintil melempar sampur. Bahkan Srintil

mampu melentikkan jari-jari tangan, sebuah gerakan yang paling sulit dilakukan oleh

seorang ronggeng. Penampilan Srintil masih dibumbui dengan ulah Sakum lestari kocak

dan cabul. Suara “cesss” tak pernah luput pada saat Srintil menggoyang pinggul.

Satu babak telah usai. Calung berhenti, dan Srintil kembali duduk. Gumam penonton

terdengar. Seorang perempuan mengisak. Rasa harunya setelah melihat Srintil menari

menyebabkan air matanya menetes.

“Tak kusangka Srintil bisa menari sebagus itu,” katanya. “Kalau boleh aku ingin

menggendongnya, membuainya sampai dia lelap di pangkuanku.”

“Yah, aku pun ingin mencuci pakaiannya. Aku akan memandikannya besok pagi,” kata

perempuan lainnya.

“Eh, kalian dengar. Srintil bukan milik orang per orang. Bukan hanya kalian yang ingin

memanjakan Srintil. Sehabis pertunjukan nanti aku mau minta ijin kepada Nyai

Kartareja.”


“Engkau mau apa?”

“Memijat Srintil. Bocah ayu itu pasti lelah nanti. Dia akan kubelai sebelum tidur.”


“Yah, Srintil. Bocah kenes, bocah kewes. Andaikata dia lahir dari perutku!” kata

perempuan lainnya lagi. Berkata demikian, perempuan itu mengusap matanya sendiri.

Kemudian membersihkan air mata yang menetes dari hidung.


Rasus yang sejak semula berdiri tak bergerak di tempatnya mendengar segala

pergunjingan itu. Anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu merasa ada sesuatu yang

terlangkahi di hatinya. Ia merasa Srintil telah menjadi milik semua orang Dukuh Paruk.

Rasus cemas tidak bisa lagi bermain sepuasnya dengan Srintil di bawah pohon nangka.

Tetapi Rasus tak berkata apa pun. Dia tetap terpaku di tempatnya sampai pentas itu


berakhir hampir tengah malam.


Orang-orang Dukuh Paruk pulang ke rumah masing-masing. Mereka, baik lelaki maupun

perempuan, membawa kenangan yang dalam. Malam itu kenangan atas Srintil meliputi

semua orang Dukuh Paruk. Penampilan Srintil malam itu mengingatkan kembali bencana

yang menimpa Dukuh Paruk sebelas tahun yang lalu.


Srintil adalah seorang yatim piatu-sisa sebuah malapetaka, yang membuat banyak anak

Dukuh Paruk kehilangan ayah-ibu.


Sebelas tahun yang lalu ketika Srintil masih bayi. Dukuh Paruk yang kecil basah kuyup

tersiram hujan lebat. Dalam kegelapan yang pekat, pemukiman terpencil itu lengang,

amat lengang.


Hanya tangis bayi dan lampu kecil berkelip menandakan pedukuhan itu berpenghuni.

Tak ada suara kecuali suara kodok. Bangsa reptil itu berpesta pora, bertunggangan dan

kawin. Besok pagi, hasil pesta mereka akan tampak. Kodok betina meninggalkan untaian

telur yang panjang. Katak hijau menghimpun telurnya dalam kelompok yang terapung di

permukaan air. Katak daun menyimpan telurnya pada gumpalan busa yang melekat pada

ranting semak-semak.


Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-

ngira saat itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1946. Semua penghuni


pedukuhan itu telah tidur pulas, kecuali Santayib, ayah Srintil. Dia sedang mengakhiri

pekerjaannya malam ini. Bungkil ampas minyak kelapa yang telah ditumbuk halus dibilas

dalam air. Setelah dituntas kemudian dikukus. Turun dari tungku, bahan ini diratakan

dalam sebuah tampah besar dan ditaburi ragi bila sudah dingin. Besok hari pada bungkil

ampas minyak kelapa itu akan tumbuh jamur-jamur halus. Jadilahtempe bongkrek. Sudah

sejak lama Santayib memenuhi kebutuhan orang Dukuh Paruk akantempe itu.


Selesai dengan pekerjaan malam itu, Santayib berangkat tidur. Sepi. Dukuh Paruk

dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembab. Srintil yang

masih bayi acap kali terjaga bila popoknya basah. Bila kainnya sudah diganti Srintil lelap

kembali di ketiak ibunya.


Tetes-tetes air yang tersisa di pucuk-pucuk daun jatuh ke bawah. Bunyi keletak-keletik

terdengar bila butir air itu menimpa daun pisang atau daun keladi. Seekor burung celepuk

hinggap tenang pada sebuah dahan yang rendah. Matanya yang awas menatap ke

permukaan air di kubangan. Bila melihat katak, burung malam itu menukik tanpa suara,

hinggap di dahan lagi dengan korban di mulutnya. Perburuan baru akan berhenti bila

tembolok burung celepuk itu telah penuh daging segar. Pertanda telah kenyang, dia akan

mengeluarkan suara berat: guk-guk-guk, hrrrrr. Suara hantu. Suara yang membuat setiap

anak yang mendengarnya segera mencari selangkangan ibunya.


Sinar bulan tidak mampu menembus tirai awan. Di langit timur bulan hanya membuat

rona kuning. Kilat acap kali membuat benderang sesaat, meninggalkan garis kemilau

yang patah-patah. Gema guruh berkepanjangan. Hilang gaungnya, Dukuh Paruk kembali

didaulat suara bangsa kodok. Hujan yang kemudian turun kembali membuat Dukuh

Paruk semakin kecil dan beku.


Tak seorang pun di Dukuh Paruk tahu.


Segumpal cahaya kemerahan datang dari langit menuju Dukuh Paruk. Sampai di atas

pedukuhan cahaya itu pecah, menyebar ke segala arah. Seandainya ada manusia Dukuh

Paruk yang melihatnya, dia akan berteriak sekeras-kerasnya. “Antu tawa. Antu tawa.

Awas ada antu tawa! Tutup semua tempayan! Tutup semua makanan!”


Namun semua orang tetap tidur nyenyak. Cahaya alarm yang dipercaya sebagai

pembawa petaka datang tanpa seorang pun melawannya dengan tolak bala. Kecuali

kambing-kambing yang mengembik di kandang. Kecuali keributan kecil di kurungan

ayam. Dan burung hantu yang mendadak berbunyi bersahutan. Dari rimbun beringin di

atas makam Ki Secamenggala itu burung-burung hantu meneriakkan gema berwibawa.


Beku dan kebisuan berjalan sampai fajar menjelang. Makin sering terdengar suara tangis

bayi. Juga embik kambing yang mulai lapar. Hujan yang tinggal rinai gerimis

menciptakan bianglala di timur. Hanya suara kodok yang sejak sore hari tetap ramai.

Kokok ayam dan cericit tikus busuk yang mencari sarangnya di balik batu-batu besar.


Meski Santayib orang yang paling akhir pergi tidur, namun dia pulalah yang pertama

kali terjaga di Dukuh Paruk. Disusul kemudian oleh istrinya. Srintil, bayi yang manis.

Dia biasa tergolek sendiri meskipun kedua orang tuanya mulai sibuk bekerja. Suami-istri

Santayib menyiapkan dagangannya;tempe bongkrek. Sebelum matahari terbit akan

datang para tetangga yang akan membeli bongkrek. Kecuali hari pasaran Santayib hanya

menjual dagangannya kepada para tetangga.


Hari mulai terang. Di halaman rumah Santayib seekor kodok melompat satu-dua mencari

tempatnya yang gelap di kolong balai-balai. Sekelompok lainnya masih berenang dan

kawin di kubangan. Kampret dan kalong berebut masuk ke sarangnya kembali. Boleh jadi

mereka masih lapar karena hujan mengacau perburuan mereka. Namun binatang

mengirap itu taat kepada alam. Atau mereka akan dikejar dan dimangsa burung gagak

bila pulang terlambat.


Beberapa anak telah turun dari balai-balai, lari ke depan pintu bambu dan kencing disana

. Atau lari ke kakus terbuka di belakang rumah. Lalat berhamburan. Seekor burung

sikatan mencecet menyambar makanannya, lalat hijau. Sesekali burung kecil yang gesit

itu terbang menyambar agas yang berputar-putar di atas kepala si bocah.


Liang kumbang tahi ada di mana-mana di sekitar kakus. Serangga kotor ini mempunyai

cara yang aneh bila hendak membawa tinja ke liangnya. Ia berjalan mundur sambil

menolak bulatan kotoran manusia sebesar buah jarak dengan kaki-kaki belakangnya.

Alam yang bijaksana, telah mengajari bangsa kumbang tahi. Walaupun ia berjalan

mundur, lintasan jalannya akan berakhir persis di mulut liang. Disana gumpalan tinja itu

ditolak ke dalam tanah. Disana pula bangsa kumbang tahi menaruh telur bagi

kelangsungan hidup jenisnya.


Satu-dua orang telah datang membeli bongkrek. Istri Santayib melayani mereka. Celoteh

antar-perempuan terdengar akrab. Kemanisan pergaulan kampung yang lugu.


“Srintil belum bangun?”


“Belum,” jawab istri Santayib. “Srintil bayi yang tahu diri. Rupanya dia tahu aku harus

melayani sampean setiap pagi.”


“Ah, sungguh beruntung kalian mempunyai seorang bayi yang anteng.”


“Betul. Kalau tidak, wah, sungguh repot kami.”


“Bongkrekmu tidak dicampur dedak, bukan?”


“Oalah, tidak. Kemarin Kang Santayib mendapat bungkil yang baik. Kering dan harum.

Cobalah, bongkrekku manis sekali hari ini.”


“Syukur. Pagi ini kami seisi rumah makan nasi padi bengawan. Simpanan terakhir buat

benih kami tumbuk. Apa boleh buat, kami sudah sebulan makan nasi gaplek. Hari ini

kami menanak nasi.”


“Wah. Sayur bongkrek campur toge dengan nasi padi bengawan. Hidangkan ketika

masih hangat. Boleh aku makan di rumahmu?” seloroh istri Santayib.


“Pasti boleh. Ayolah.”


“Terima kasih. Aku hanya berolok-olok.”


Dukuh Paruk mulai hidup. Dentum lesung berisi gaplek yang ditumbuk. Bunyi minyak

panas di wajan yang dikenai adonan tepung pembungkustempe bongkrek. Atau

gemerencing keliningan di leher anak kambing yang menyusu tetek induknya yang

merekah. Seekor induk ayam berkotek keras-keras karena burung elang menyambar

seekor anaknya. Anak-anak merengek minta makan. Seorang perempuan di dapur


menghardik anaknya yang tidak sabar menunggu nasi gaplek masak ditanak.


Bila anak-anak Dukuh Paruk sudah lari ke luar dan menyobek sehelai daun pisang,

berarti sarapan pagi telah siap. Hanya beberapa di antara mereka yang biasa

menggunakan piring. Mereka makan di emper rumah, di ambang pintu atau di mana pun

mereka suka. Semua makanan enak sebab perut anak-anak Dukuh Paruk tidak pernah

benar-benar kenyang.


Matahari naik. Panasnya mulai menyengat. Panas yang telah mengubah warna rambut

orang dan anak Dukuh Paruk menjadi merah. Kulit kehitaman bersisik. Dukuh Paruk

yang tadi malam basah kuyup kini terjerang. Panas dan lembab. Namun selamanya

Dukuh Paruk menurut pada alam. Orang-orang dewasa tetap bekeria di ladang atau

sawah. Anak-anak pergi dengan binatang gembalaannya. Hari itu tak terjadi kelainan di

pemukiman terpencil itu.


Namun semuanya berubah menjelang tengah hari.


Seorang anak berlari-lari dari sawah sambil memegangi perut. Di depan pintu rumahnya

dia muntah, terhuyung dan jatuh pingsan. Ibunya yang sudah mulai merasakan sakit

menyengat kepalanya, menjerit dan memanggil para tetangga. Sebelum para tetangga

datang, anak itu telah meregang nyawa. Bahkan ibunya pun jatuh tak sadarkan diri

dengan rona biru di wajahnya. Ibu dan anak terkulai di tanah. Jerit dari rumah pertama

memulai kepanikan di Dukuh Paruk.


Orang-orang yang bekerja di luar rumah bergegas pulang. Mereka mendengar suara jerit

minta tolong. Atau mereka sendiri mulai merasa dunia berputar-putar. Seorang lelaki

bahkan digendong oleh temannya karena dia tidak lagi mampu berjalan. Di

perkampungan, suara minta tolong terdengar dari setiap rumah. Pada akhirnya setiap

keluarga terlibat dalam hiruk-pikuknya sendiri, kengeriannya sendiri. Tolong-menolong

antar keluarga tak mungkin dilakukan. Bahkan sementara ibu harus melihat anak atau

suaminya menggeliat mempertahankan nyawa tanpa bisa berbuat apa pun karena dirinya

sendiri berada antara hidup dan mati.


Kebodohan memang pusaka khas Dukuh Paruk. Namun setidaknya orang-orang disana


bisa berfikir mencari sebab malapateka hari itu. Tidak semua warga Dukuh Paruk pusing,


muntah lalu terkulai.Ada sementara mereka yang tetap segar. Dan mereka adalah orang-

orang yang tidak makantempe bongkrek buatan Santayib.


Jadi.


Dalam haru-biru kepanikan itu kata-kata “wuru bongkrek” mulai diteriakkan orang.

Keracunantempe bongkrek. Santayib, pembuattempe bongkrek itu, sudah mendengar

teriakan demikian. Hatinya ingin dengan sengit membantahnya. Namun nuraninya juga

berbicara, “Santayib, bongkrekmu akan membunuh banyak orang di Dukuh Paruk ini.”


Pergulatan berkecamuk sendiri di hati ayah Srintil itu. Karena ketegangan jiwa, tubuh

Santayib gemetar. Bibir memucat dan nafas memburu. Istrinya yang mulai dirayapi

perasaan sama, malah mulai menangis ketakutan. Suami istri itu memang tidak ikut

makantempe buatan sendiri karena sudah bosan. Istri Santayib mendekati suaminya yang

sedang duduk gelisah di atas lincak.


“Kang, orang-orang itu geger. Banyak tetangga yang sakit dan pingsan. Ini bagaimana,

Kang?”


Santayib membisu. Ketegangannya makin menjadi-jadi. Melihat laki-laki itu diam,

istrinya berseru lagi.


“Kang, apa tidak kaudengar orang-orang mengatakan mereka keracunantempe

bongkrek? Bongkrek yang kita buat? Ini bagaimana, Kang?”


Sekali ini pun Santayib tetap membeku. Hanya dadanya turun-naik lebih cepat. Perang

antara suara hati dan suara nuraninya semakin seru. Fitrahnya sebagai manusia ingin

menolak keburukan yang akan datang menimpanya. Santayib mengerti kenyataan yang

dihadapi hampir mustahil terbantah. Dia akan dituntut tanggung jawab sebagai pembuat

bongkrek yang mendatangkan petaka. Nuraninya sendiri akan menuntut demikian pula.


Di tengah kebimbangan demikian, muncullah Sakarya, ayah Santayib sendiri. Di

belakang Sakarya menyusul tiga orang laki-laki lain. Ketiganya dengan wajah berang.


“Oalah! Oalah! Santayib, anakku. Orang-orang itu mabuk keracunan bongkrek.

Bongkrekmu mengandung racun.”


Berkata demikian, Sakarya hendak berjalan ke dalam rumah anaknya, ingin melihat

bongkrek yang tersisa. Tiba-tiba Santayib berdiri. Perang antara perasaan menolak dan

menerima tuduhan bertanggung jawab muncul menjadi momen murka. Santayib tegak

pada kedua kakinya yang bergetar. Suara lantang ditujukan kepada empat laki-laki di

hadapannya.


“Tidak! Bongkrekku tidak mungkin beracun. Bahannya bungkil yang kering. Tidak

bercampur apa pun. Ayah, engkau jangan mengajak orang menuduh anakmu sendiri

dengan keji!”


“He, Santayib. Bukti yang berbicara. Lihat, anakku, istriku, emakku, semua tergeletak.

Mereka makan bongkrekmu pagi ini,” bentak seorang laki-laki di belakang Sakarya.


“Tidak bisa! Siapa tahu kejadian ini adalah pageblug. Siapa tahu kejadian ini karena

kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Siapa tahu!”


“He, barangkali engkau merambang bungkil dengan bokor tembaga,” seru laki-laki

lainnya. Sehabis bertanya demikian laki-laki itu berlari ke sumur. Benar. Disana dia

menemukan sebuah bokor tembaga.Ada lapisan membiru, warna asam tembaga. Bokor

ini dibawanya ke depan orang banyak. Dia berteriak bagai orang gila.


“Santayib. Engkau anjing! Asu buntung. Lihat, bokor ini biru karena beracun. Asu

buntung. Engkau telah membunuh semua orang. Engkau... engkau aaasssu... ”


Laki-laki yang hendak melempar Santayib dengan bokor itu tak kuasa meneruskan

niatnya. Kepalanya berputar. Ususnya terasa melilit. Wajah dan dadanya terasa panas.

Gemetar dan jatuh terjerembab. Kepanikan masih ditambah dengan munculnya seorang

perempuan yang berlari sambil mengangkat kain tinggi-tinggi. Tudingan jari telunjuknya

mengarah lurus ke arah bola mata Santayib.


“Oalaaah, Santayib. Dua orang cucuku tergeletak karena makan bongkrekmu. Mereka

akan segera mati. Hayo, bagaimana Santayib! Aku minta tanggung jawab. Engkau hutang

nyawa padaku. Tolong cucu-cucuku sekarang. Hayo!”


Rasa getir, kelu, dan bimbang mencekam hati Santayib. Dia bingung, amat bingung.

Kekacauan hatinya tergambar pada roman muka yang tidak menentu. Istri Santayib

berlari hilir-mudik, menangis dan memeluk Srintil. Seperti mengerti segalanya, Srintil

pun ikut menangis keras-keras. Boleh jadi kesadaran Santayib hanya tinggal sebagian

ketika dia lari masuk ke dalam. Keluar lagi dengan seonggok bongkrek di kedua

tangannya. Lengking suaranya membuat siapa pun meremang bulu kuduk.


“Bajingan! Kalian semua bajingan tengik! Betapapun bongkrekku tak bersangkut-paut

dengan malapetaka ini. Lihat! Akan kutelan bongkrek ini banyak-banyak. Kalau benar

ada racun, pasti aku akan segera sekarat!”


Secara menyolok Santayib memasukkan bongkrek ke dalam mulutnya. Tanpa

mengunyah, makanan itu cepat ditelannya. Pada mulanya, istri Santayib terpana. Tetapi

rasa setia kawan menyuruhnya segera bertindak. Sambil membopong Srintil, perempuan

itu ikut mengambil bongkrek dari tangan Santayib dan langsung menelannya.


Sejenak Sakarya terbelalak. Di depan matanya sendiri Sakarya melihat anak dan

menantunya menentang racun. Tergagap laki-laki tua itu meratap.


“Jangan. Oalah, Santayib, jangan. Engkau anakku, jangan menantang kematian. Jangan!”


Sakarya hendak melompat ke depan. Ingin ditepiskannya tangan Santayib yang

menggenggam bongkrek. Malah ingin dikoreknya mulut anak dan menantunya agar

makanan beracun itu keluar kembali. Itu kehendak Sakarya. Tetapi ambang pintu rumah

Santayib lain kemauannya. Sakarya yang ingin bergerak secepatnya tersandung ambang

pintu, jatuh dengan kepala membentur tiang kayu. Tubuhnya terjajar bersama laki-laki

pertama yang gagal melempar Santayib dengan bokor tembaga.


Dua tubuh laki-laki terkapar. Satu di antaranya adalah Sakarya, ayah Santayib sendiri.

Laki-laki pertama lunglai oleh racuntempe bongkrek, dan yang kedua pingsan karena

kepalanya terbentur tiang kayu. Dua laki-laki lainnya berlalu meninggalkan rumah

Santayib. Mereka tentu mempunyai kenangan berkesan atas dua tubuh yang tergolek di

tanah dan sepasang suami-istri yang sengaja menelantempe beracun.


Gumpalan bongkrek terakhir sudah lewat melalui kerongkongan Santayib. Dia menoleh

istrinya yang semula berdiri di sampingnya ikut mengunyah bongkrek. Tetapi perempuan

itu telah menghilang ke dalam bilik sambil membopong Srintil.


Kebekuan yang mencekam meliputi rumah Santayib. Dia termangu. Dia tidak berbuat

apa pun terhadap dua tubuh laki-laki yang melingkar di tanah. Tidak. Santayib pun

membiarkan ayah kandungnya dalam keadaan tak sadarkan diri.


Apa yang terjadi kemudian hanya bisa diperbuat oleh orang tidak waras. Santayib

tertawa terbahak-bahak lalu berlari ke luar rumah. Sambil berjalan melompat-lompat,

dicacinya semua orang dengan ucapan yang paling kasar dan cabul. Dukuh Paruk

dikelilinginya. Santayib tidak peduli atas kepanikan luar biasa yang sedang melanda para

tetangga. Tatapan matanya jalang. Teriakannya membabi buta.


“Kalian, orang Dukuh Paruk. Buka matamu, ini Santayib! Aku telah menelan

serauptempe bongkrek yang kalian katakan beracun. Dasar kalian semua, asu buntung!

Aku tetap segar-bugar meski perutku penuhtempe bongkrek. Kalian mau mampus,

mampuslah. Jangan katakan tempeku mengandung racun. Kalian terkena kutuk Ki

Secamenggala, bukan termakan racun. Kalian memang asu buntung yang sepantasnya

mampus!”


Lelah berteriak-teriak, Santayib pulang. Di depan rumahnya dia berpapasan dengan

beberapa orang yang menggotong laki-laki yang tadi hendak melempar Santayib dengan

bokor tembaga. Sakarya masih pingsan, terkulai dekat ambang pintu.


Sejenak Santayib tertegun. Digoyangnya tubuh Sakarya yang tetap pingsan. Kemudian

Santayib berlalu. Tetapi kepalanya serasa melayang ketika dia bangkit. Kelap-kelip

seribu kunang-kunang di matanya. Sengatan pertama terasa menusuk lambungnya.


Santayib terus melangkah menuju bilik tidurnya. Derit daun pintu bambu. Tampak

istrinya tidur tengadah dengan keringat membasahi badannya. Wajahnya pucat kebiruan.

Terkadang perempuan itu meringis bila merasa urat-urat di perutnya menegang.


Tetapi Srintil berceloteh lucu sekali di samping tubuh ibunya.


Meskipun terasa rumah berayun-ayun, istri Santayib tahu suaminya datang. Dengan

menggigil perempuan itu berusaha duduk di bibir balai-balai.


Suami-istri saling pandang. Mereka, dua manusia yang telah menerima sasmita dari

pencipta Dukuh Paruk. Keduanya berpandangan dengan cara aneh. Keduanya membisu.


Bayangan Santayib diterima oleh lensa mata istrinya, kemudian dijabarkan secara kacau-

balau oleh syaraf mata. Maka istri Santayib tidak melihat sosok suaminya, melainkan


sebuah bayangan bergerak yang amat menakutkan.


Wajah istri Santayib semakin pucat. Rona kengerian. Kelopak matanya membuka lebar-

lebar sehingga retina hanya berupa titik hitam di tengah bulatan putih. Mulutnya


ternganga seperti dia hendak berteriak keras.


Santayib pun demikian. Sesungguhnya gendang telinganya menangkap suara celoteh

Srintil yang lucu menawan. Tetapi Santayib mendengarnya sebagai hiruk-pikuk suara

ribuan monyet di pekuburan Dukuh Paruk. Santayib juga melihat beratus-ratus mayat

bangkit, dengan kacau-balau memukuli calung sampai tulang-tulang mereka rontok. Mata


Santayib terbeliak dengan mulut ternganga. Ketika Santayib melihat bayangan Ki

Secamenggala menjulurkan tangan hendak mencekik lehernya, dia hendak berteriak.

Namun semua urat di lehernya kaku.


Beku yang mencekam. Santayib sudah berdiri goyah. Istrinya duduk menggigil.


Keduanya tidak saling pandang. Hanya daya manusiawi terakhir memungkinkan suami-

istri itu masih sempat berbicara. Suara mereka terdengar dari tenggorokan yang hampir


tertutup.


“Kang,” kata istri Santayib dengan mata terbeliak lurus ke depan.


“Hhh?”


“Srintil, Kang, Bersama siapakah nanti anak kita, Kang?”


“Hhhh?”


“Aku tak tega meninggalkannya, Kang.”


Santayib hanya kuasa menelan ludah. Sementara itu Srintil meronta manja di atas tikar.

Santayib ingin memandangnya. Tetapi penglihatannya telah baur. Srintil yang bergerak

lucu hanya tampak sebagai hantu yang menakutkan. Santayib menikmati kesadarannya

yang terakhir ketika melihat istrinya roboh ke belakang. Dia pun segera terkulai setelah

dari mulutnya keluar umpatan; “bongkrek asu buntung. “ Istri Santayib meninggal ketika

dia berusaha memiringkan badannya hendak memeluk Srintil.


Bau kematian telah tercium oleh burung-burung gagak. Unggas buruk yang serba hitam

itu terbang berputar-putar di antara pepohonan di Dukuh Paruk. Suaranya yang serak

hanya mendatangkan benci. Tetapi hari itu burung-burung gagak bersuka-ria di Dukuh

Paruk. Mereka berteriak-teriak dari siang sampai malam tiba.


Maut bekerja dengan sabar dan pasti. Maut telah berpengalaman dalam pekerjaannya

sejak kematian yang pertama. Tanpa terganggu oleh jerit dan ratap tangis, maut terus

menjemput orang-orang Dukuh Paruk. Hari itu sembilan orang dewasa meninggal. Dua

di antaranya adalah suami-istri Santayib. Juga sebelas anak-anak tidak tertolong. Jumlah

itu merupakan lebih dari separo anak di pedukuhan itu. Belasan anak lainnya menjadi

yatim-piatu pada hari yang sama.


Meski Santayib dan istrinya meninggal ketika hari masih siang, mayat mereka tidak


segera ditanam. Semua orang di Dukuh Paruk sibuk dengan mayat keluarga masing-

masing. Atau merawat orang-orang yang masih bertahan hidup. Orang-orang Dukuh


Paruk mempunyai cara sederhana menolong orang termakan racun. Air kelapa bercampur

garam menjadi pencahar yang lumayan mujarab. Juga air yang bercampur abu dapur.

Kalau orang keracunan bisa muntah setelah minum pencahar ini, ada harapan hidup

baginya. Celakanya, penggunaan pencahar yang tak terkendali sering pula membawa

kematian. Orang Dukuh Paruk sendiri tak tahu, banyak teman mereka bukan mati oleh

racun bongkrek, melainkan karena kekurangan cairan pada tubuh mereka, akibat terlalu

banyak muntah.


Malam hari, Sakarya bersama istrinya menunggui mayat anak mereka; Santayib suami-

istri. Srintil sering menangis. Bayi itu belum merasakan sedih. Srintil menangis karena air


susu tak lagi diperolehnya. Oleh Nyai Sakarya, Srintil diberi hidup dengan air tajin.

Walaupun sedang menunggu mayat anak dan menantunya, tengah malam Sakarya keluar

menuju makam Ki Secamenggala. Laki-laki itu menangis seorang diri disana . Dalam

kesedihannya yang amat sangat, Sakarya mengadukan malapetaka yang terjadi kepada

moyang orang Dukuh Paruk. Sakarya tidak lupa, dirinya menjadi kamitua di pedukuhan

itu.


Keluar dari pekuburan Sakarya berkeliling pedukuhan. Dijenguknya setiap rumah. Setiap

kali membuka pintu Sakarya mendapat kesedihan. Bahkan tidak jarang Sakarya

mendapat perlakuan yang tidak enak. Seolah-olah dia harus ikut bertanggung jawab atas

dosa anaknya, Santayib. Meskipun demikian tak sebuah rumah dilewati oleh Sakarya.


Selesai berkunjung ke setiap rumah, Sakarya kembali mengelilingi pedukuhan. Kali ini

dia berjalan di tepian kampung. Di kaki bukit kecil di pekuburan Dukuh Paruk, Sakarya

berdiri bersilang tangan. Dalam keheningan yang mencekam, laki-laki tua itu mencoba


menghubungkan batinnya dengan ruh Ki Secamenggala atau siapa saja yang menguasai

alam Dukuh Paruk. Sarana yang diajarkan oleh nenek moyangnya adalah sebuah kidung

yang dinyanyikan oleh Sakarya dengan segenap perasaannya;


Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh ayu luputing lara

Luputa bilahi kabeh

Jin setan datan purun

Paneluhan datan ana wani

Miwah penggawe ala

Gunaning wong luput

Geni atemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah mring mami

Guna duduk pan sirna...


Adalah gita penjaga sang malam. Tetaplah selamat, lepas dari segala petaka. Luputlah

segala mara bencana. Jin dan setan takkan mengharu-biru, teluh takkan mengena. Serta

segala perilaku jahat, ilmu para manusia sesat. Padam seperti api tersiram air. Pencuri

takkan membuatku menjadi sasaran. Guna-guna serta penyakit akan sirna...


Alam membisu mendengar ratap Sakarya. Dukuh Paruk bungkam. Hanya kadang

terdengar keluh sakit. Atau tangis orang-orang yang menyaksikan saudara meregang

nyawa. Bau bunga sedap malam dikalahkan oleh asap kemenyan yang mengepul dari

semua rumah di Dukuh Paruk, pedukuhan yang berduka ketika Srintil genap berusialima

bulan.


*


Malapetaka itu masih diingat benar oleh semua orang Dukuh Paruk. Seorang nenek telah

belasan kali menceriterakannya kepada Rasus, cucunya, Tentu saja nenek itu adalah

nenekku sendiri karena di Dukuh Paruk hanya ada seorang bernama Rasus yaitu diriku.


Sayang.


Dukuh Paruk dengan segala isinya termasuk ceritera Nenek itu hanya bisa kurekam

setelah aku dewasa. Apa yang kualami sejak kanak-kanak kusimpan dalam ingatan yang


serba sederhana. Dengan kemampuan seorang anak pula, kurangkaikan ceritera sepotong-

sepotong yang kudengar dari kiri-kanan. Baru setelah aku menginjak usia dua puluh


tahun, aku mampu menyusunnya menjadi sebuah catatan. Memang menyedihkan.

Catatan ini tidak lebih daripada sebuah evaluasi perjalanan hidup seorang anak Dukuh

Paruk. Bahkan hal itu pun mustahil kulaksanakan sebelum aku melewati liku-liku

panjang sampai aku menemukan diriku sendiri. Ibarat meniti sebuah titian panjang dan

berbahaya, aku hanya bisa menceriterakannya kembali, mengulas serta merekamnya

setelah aku sampai di seberang.


Sebagian ceritera Nenek kupercayai sebagai kebenaran. Sebagian lagi kuanggap sebagai

bagian legenda khas Dukuh Paruk. Lainnya lagi menjadi kisah yang malah membuatku

selalu tidak puas. Legenda khas Dukuh Paruk misalnya kisah Nenek tentang fenomena di

pekuburan Dukuh Paruk malam hari ketika terjadi bencana itu. Nenek mengatakan

banyak obor terlihat di atas kerimbunan pohon beringin di atas makam Ki Secamenggala.

Dari pekuburan itu terdengar suara tangis bersahutan. Nenek juga mengatakan bayangan

Ki Secamenggala keluar, mendatangi setiap mayat yang malam itu belum satu pun

sempat dikubur.


Bahkan Sakarya mendengar Ki Secamenggala mengatakan kematian delapan belas

warga Dukuh Paruk adalah kehendaknya. Selama hidupnya menjadi bromocorah, Ki

Secamenggala berutang nyawa sebanyak itu, maka nyawa keturunannya dipakai sebagai

tebusan.


Beberapa hari sebelum terjadi malapetaka itu telah terlihat berbagai pertanda. Pancuran

di Dukuh Paruk mengeluarkan air berbau busuk. Pohon-pohon puring di pekuburan

melayu, tetapi pohon semboja malah berbunga. Meskipun belum waktunya, anjing-anjing

berdatangan ke Dukuh Paruk. Anjing-anjing jantan berebut betina dalam kegaduhan yang


mengerikan. Burung kedasih berbunyi sejak malam tiba sampai terbit fajar.


Itu kisah tetek-bengek yang begitu diyakini oleh setiap orang Dukuh Paruk. Siapa pun

takkan berhasil mengubah keyakinan itu. Juga orang tak perlu mengutuk warga Dukuh

Paruk yang percaya penuh bahwa asam tembaga adalah satu-satunya penyebab bencana.

Di kemudian hari aku diberi tahu asam tembaga benar racun. Namun sepanjang

menyangkut malapetakatempe bongkrek, asam tembaga tak terbukti berperan. Kesalahan

harus ditimpakan kepada bakteria jenis pseudomonas coccovenenans yang ikut tumbuh


pada bongkrek dalam peragian. Bakteria itu menghasilkan racun kuat yang menjadi cikal-

bakal kematian orang yang makantempe bongkrek.


Tetapi orang akan sia-sia menyampaikan pengetahuan ini ke Dukuh Paruk. Disana orang

begitu yakin asam tembaga adalah satu-satunya penyebab racun bongkrek. Demikian,

dengan menghindarkan perkakas tembaga orang Dukuh Paruk masih membuattempe

bongkrek. Jadi petaka yang terjadi ketika Srintil bayi (kata Nenek aku berusia tiga tahun

saat itu) bukan musibah pertama, bukan pula yang terakhir.


Aku sendiri, kata Nenek, selamat secara kebetulan. Selagi Ayah dan Emak baru merasa

pusing di kepala, aku sudah jatuh pingsan. Tanpa ada yang memberi petunjuk, Nenek

menggali tanah berpasir di samping rumah. Aku ditanamnya dalam posisi berdiri, hanya

dengan kepala berada di atas permukaan tanah. Sebenarnya, inilah cara orang Dukuh

Paruk mengobati orang keracunan jengkol. Aneh, dengan cara ini pula aku selamat dari

racuntempe bongkrek.


Setelah dewasa, sekali aku pernah mencoba memikirkan hal ini. Boleh jadi dengan cara

ditanam seperti itu keringatku yang pasti mengandung racun cepat terserap oleh tanah

dari semuapori di kulit tubuhku. Dengan demikian kekuatan racun cepat berkurang. Ah,

tetapi teori demikian sangat tidak patut dan hanya akan mengundang tawa orang-orang

pandai. Maka lebih baik kuikuti keyakinan Nenek, bahwa aku selamat karena roh Ki

Secamenggala belum menghendaki kematianku.


Ceritera Nenek yang paling membuatku penasaran adalah yang menyangkut Emak.

Bersama Ayah, Emak juga termakan racun. Bila Ayah langsung meninggal pada hari

pertama, tidak demikian halnya dengan Emak. Dia masih hidup sampai seorang mantri

datang pada hari ketiga. Mantri yang berkumis dan bertopi gabus itu menolong para

korban yang masih bernyawa dengan cara menghardik; mengapa mereka makantempe


bongkrek, makanan yang bahkan tidak pantas untuk anjing.


Oleh Pak Mantri, Emak bersamalima orang lainnya dibawa ke poliklinik di sebuahkota

kawedanan. Beberapa hari kemudian seorang kembali ke Dukuh Paruk dalam keadaan

hidup, dan tiga lainnya sudah menjadi mayat. Emak tidak ada di antara mereka.


Nenek selalu menghentikan ceriteranya di sini. Aku merasa pasti. Nenek mengetahui

betul apa yang terjadi pada Emak selanjutnya. Namun seperti semua orang Dukuh Paruk,

Nenek selalu berusaba menutupi kenyataan yang berlaku atas diri Emak.


Sampai usia empat belas tahun, ketika Srintil mulai menjadi ronggeng itu, aku berhasil

mendapat sedikit keterangan tentang diri Emak.Ada orang yang secara tak sengaja

mengatakan Emak memang meninggal di polikiinikkota kawedanan itu. Namun

mayatnya dibawa kekota kabupaten, disana mayat Emak diiris-iris oleh para dokter.

Mereka ingin tahu lebih banyak mengenai racuntempe bongkrek. Dengan demikian

mayat Emak tidak pernah sampai kembali ke Dukuh Paruk. Di mana Emak dikubur tak

seorang Dukuh Paruk pun yang mengetahuinya.


Adapula orang mengatakan Emak bisa diselamatkan. Namun sampai beherapa hari Emak

tidak boleh meninggalkan poliklinik. Kata orang itu, setelah Emak sehat benar dia pergi

dari poliklinik itu. Bukan pulang ke Dukuh Paruk, melainkan entah ke mana bersama

mantri yang merawatnya.


Jadi ada dua versi kisah tentang Emak. Mana yang layak kupercaya aku sendiri selalu

ragu. Namun setidaknya aku berharap, versi pertamalah yang benar. Artinya memang

Emak meninggal. Mayatnya lalu dicincang untuk kepentingan penyelidikan. Pikiran

durhaka semacam ini sengaja kudatangkan ke kepalaku. Kuharap orang akan mengerti

andaikata versi itu benar, hakekatnya lebih baik daripada kebenaran versi kedua. Sayang,

kedua-duanya tinggal menjadi ketidakpastian yang membuatku lebih merana daripada

seorang yatim-piatu.


Selama bertahun-tahun aku hanya bisa berandai-andai tentang Emak. Andaikan benar

Emak dijadikan bahan penyelidikan racuntempe bongkrek; maka mayat Emak dibedah.

Organ pencernaannya dikeluarkan. Juga jantung, bahkan pasti juga otaknya. Orang-orang


pandai tentu ingin tahu pengaruh racun bongkrek terhadap jaringan otot jantung, sel-sel

otak serta bagaimana racun membunuh butir-butir sel darah merah.


Darah Emak diperiksa untuk mengetahui sampai kadar berapa racun bongkrek yang

terkandung cukup mematikan. Kubayangkan hampir semua bagian organ tubuh Emak

dicincang-cincang. Lalu ditaruh di bawah lensa mikroskop atau diperiksa dalam berbagai

perkakas laboratorium yang rumit. Terakhir, mayat Emak yang sudah berantakan dan

berbau formalin ditanam. Entah di mana, entah di mana. Orang-orang pandai itu, siapa

pun dia, merasa berhak menyembunyikan kubur Emak. Aku yang pernah sembilan bulan

bersemayam dalam rahim Emak tidak perlu mengetahuinya.


Dalam membayangkan pencincangan terhadap mayat Emak, aku tidak merasakan

kengerian. Ini pengakuanku yang jujur. Sebab bayangan demikian masih lebih baik

bagiku daripada bayangan lain yang juga mengusik angan-anganku. Itu andaikan Emak

tidak meninggal melainkan pergi bersama si Mantri entah ke mana.


Boleh jadi Emak hidup senang. Di luar Dukuh Paruk kehidupan selalu lebih baik;

demikian keyakinanku sepanjang usia. Mantri yang selalu bertopi gabus, berpakaian

putih-putih dengan kumis panjang itu mengawini Emak. Mereka beranak-pinak. Tentulah

anak mereka berkulit bersih dengan betis montok dan selalu beralas kaki pula. Setiap hari

mereka makan nasi putih dengan lauk yang enak. Anak-anak itu, yang hanya hidup dalam

angan-anganku, pasti menganggap aneh kehidupan di Dukuh Paruk. Emak sendiri

mungkin merasa malu menceriterakan perihal kampung halamannya kepada anaknya

yang baru.


Suatu saat kubayangkan Emak ingin pulang ke Dukuh Paruk, karena aku yakin dia

perempuan yang baik. Namun aku yakin pula mantriku itu pasti melarangnya. Atau Emak

tak mungkin bisa kembali karena bersama mantri itu mereka telah pergi ke Deli, tempat

paling jauh yang pernah diceriterakan Nenek kepadaku.


Ah, entahlah. Akhirnya kubiarkan Emak hidup abadi dalam alam angan-anganku.

Terkadang Emak datang sebagai angan-angan getir. Terkadang pula dia hadir memberi

kesejukan padaku: Rasus, anak Dukuh Paruk sejati. Bagaimanapun aku tak meragukan

keberadaan Emak, seorang perempuan yang mengandung, melahirkan kemudian

menyusuiku. Itu sudah cukup.


Lebih baik sekarang kuhadapi hal yang lebih nyata. Srintil sudah menjadi ronggeng di

dukuhku, Dukuh Paruk. Usianya sebelas tahun. Aku empat belas tahun. Kini Srintil

menjadi boneka. Semua orang ingin menimangnya, ingin memanjakannya. Aka tahu

sendiri perempuan Dukuh Paruk berganti-ganti mencucikan pakaian Srintil. Mereka

memandikannya dan menyediakan arang gagang padi buat keramas.


Siapa yang menebang pisang akan menyediakan sesisir yang terbaik buat Srintil. Kalau

ada ayam dipotong karena sakit (orang Dukuh Paruk takkan pernah sengaja memotong

ayam), Srintil selalu mendapat bagian. Teman-temanku sebaya,Warta dan Darsun, rela

menempuh sarang semut burangrang di atas pohon asalkan mereka dapat mencuri

mangga atau jambu. Dengan buah-buahan ituWarta dan Darsun ikut memanjakan Srintil.


Semua itu tak mengapa. Yang merisaukanku adalah ulah suami-istri Sakarya. Mereka

melarang Srintil keluar bermain-main di tepi kampung atau di bawah pohon nangka. Bila

ingin melihatnya, aku harus datang ke rumah Sakarya. Atau mengintip Srintil selagi dia

mandi di pancuran. Aku mengerti maksud Sakarya memingit cucunya. Dalam waktu

sebulan telah terlihat perubahan pada diri Srintil. Rambutnya yang tidak lagi terjerang

terik matahari menjadi hitam pekat dan lebat. Kulitnya bersih dan hidup. Sisik-sisik halus

telah hilang. Pipinya bening sehingga aku dapat melihat jaringan halus urat-urat berwarna

kebiruan. Debu yang mengendap, menjadi daki, lenyap dari betis Srintil. Dan yang

kuanggap luar biasa; Nyai Sakarya berhasil mengusir bau busuk yang dulu sering

menguap dari lubang telinga Srintil.


Pokoknya, pada usia empat belas tahun aku berani mengatakan Srintil cantik. Boleh jadi

ukuran yang kupakai buat menilai Srintil hanya patut bagi selera Dukuh Paruk. Namun

setidaknya pengakuanku itu sebuah kejujuran. Maka pengakuan ini berkelanjutan dan aku

tidak merasa bersalah telah bersikap semacam itu. Artinya, aku mulai merasa benci

terhadap siapa saja yang menganggap Srintil adalah wewenangnya, terutama suami-istri

Sakarya. Terutama pula kepada pemuda-pemuda yang memasukkan uang ke dada Srintil

bila ronggeng itu menari tole-tole.


Perempuan-perempuan Dukuh Paruk begitu memanjakan Srintil sehingga dia seakan

tidak lagi memerlukan teman bermain. Tampaknya Srintil tidak merasa perlu memberi

perhatian kepadaku atau kepada siapa pun karena semua orang telah memperhatikannya.

Ah. Perhatian Srintil itulah yang terasa hilang di hatiku.


Sekali aku menemukan cara licik untuk memperoleh kembali perhatian ronggeng Dukuh

Paruk itu. Sebuah pepaya kucuri dari ladang orang. Pada saat yang baik, ketika Srintil

seorang diri di pancuran, buah curian itu kuberikan kepadanya. Tak kukira aku akan

memperoleh ucapan terima kasih yang menyakitkan.


“Sesungguhnya saya menginginkan jeruk keprok,” kata Srintil dingin. “Tetapi buah

pepaya pun tak mengapa.”


Aku diam karena kecewa, dan sedikit malu. Namun aku mendapat akal untuk menolong

keadaan. Pikiran itu mendadak muncul setelah kulihat gigi Srintil telah berubah.


“Aku tahu engkau ingin jeruk keprok. Namun buah itu tak baik buat gigimu yang habis

dipangur. Engkau akan dibuatnya merasa sangat ngilu.”


“Wah, kau benar, Rasus. Seharusnya aku tidak melupakan hal itu. Untung kau

mengingatkan aku,” jawab Srintil. Matanya menatapku dengan sungguh-sungguh. Ketika

kemudian Srintil tersenyum, sinar lembut memancar dari gigi taringnya yang telah

berlapis emas. Siapa pun yang berselera Dukuh Paruk akan terpacu jantungnya bila

menerima senyum dengan kilatan cahaya emas semacam itu.


Aku tak bisa berkata-kata. Bahkan dalam beradu pandang dengan Srintil, aku kalah.

Kurang ajar. Dasar ronggeng, pandangan matanya tak dapat kutantang. Anehnya cara

Srintil memandang membuatku senang. Namun seperti sudah kukatakan, Srintil sudah

tidak membutuhkan lagi teman sebaya. Maka tanpa canggung sedikit pun kemudian dia

berkata,


“Aku mau mandi sekarang, Rasus. Sebaiknya engkau pulang. Kalau mau kau bisa

menonton nanti malam. Aku akan menari lagi.”


“Oh, jadi kau mau menari lagi nanti malam?” tanyaku demi menutupi kejengkelan.


“Ya, benar. Sekarang pulanglah!”


Pulanglah!


Kata itu berulang-ulang terdengar di telingaku. Karena diusir dengan halus aku pun

pulang. Dalam hati aku mengumpat; bajingan! Ah, sesaat kemudian aku sadar,

sebenarnya aku tidak mengutuk Srintil, melainkan diriku sendiri. Soalnya aku lahir

menjadi orang yang layak diusir oleh ronggeng Dukuh Paruk itu.


Betapapun aku tidak suka menerima perlakuan Srintil, tetapi aku berlalu. Bukan pulang.

Aku hanya menyingkir tidak berapa jauh. Di atas sebuah tonggak kayu aku duduk. Dari

tempat itu pandanganku ke arah pancuran itu hanya terhalang perdu kenanga.


Jadi, Srintil yang sedang membuka pakaiannya dapat kulihat dengan nyata. Kemudian

datang tiga orang perempuan. Seorang di antaranya membawa arang batang padi untuk

mengeramasi cucu Sakarya itu. Perkara mandi, Srintil sungguh tidak usah repot. Ketiga

perempuan itu berebut melayaninya. Srintil hanya perlu tertawa atau memekik manja bila

ada tangan yang mencubit bagian dadanya.


Perempuan-perempuan Dukuh Paruk itu! Kelak, sesudah aku tahu tentang perempuan

luar kampung, aku bisa mengatakan perempuan Dukuh Paruk memang hebat. Dalam

urusan ini aku bersyukur karena Emak telah lama lenyap dari pedukuhan itu. Kalau tidak,

kukira Emak juga berbuat seperti semua perempuan Dukuh Paruk. Mereka bersaing

dengan sesamanya melalui cara yang aneh.


Ketika menonton Srintil menari aku pernah mendengar percakapan perempuan-

perempuan yang berdiri di tepi arena. Percakapan mereka akan membuat para suami


merasa tidak menyesal telah hidup dalam kungkungan rumah tangga.


“Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku menjadi laki-laki pertama yang

menjamahnya,” kata seorang perempuan.


“Jangan besar cakap,” kata yang lain. “Pilihan seorang ronggeng akan jatuh pertama

pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal

dikalahkan.”


“Tetapi suamimu sudah pikun. Baru satu babak menari pinggangnya akan terkena

encok.”


“Aku yang lebih tahu tenaga suamiku, tahu?”


“Tetapi jangan sombong dulu. Aku bisa menjual kambing agar suamiku mempunyai

cukup uang. Aku tetap yakin, suamiku akan menjadi lelaki pertama yang mencium

Srintil.”


“Tunggulah sampai saatnya tiba. Suami siapa yang bakal menang. Suamiku atau

suamimu.”


Demikian. Seorang ronggeng di lingkungan pentas tidak akan menjadi bahan

percemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk. Malah sebaliknya. Makin lama seorang

suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pula istrinya. Perempuan semacam itu

puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan, baik dalam arti

uangnya maupun birahinya.


Sejak peristiwa pemberian pepaya itu, aku merasa Srintil makin menjauh. Sering

kusumpahi diriku mengapa aku jadi merasa tersiksa karenanya. Kuajari diriku;

kecantikan Srintil bukan milikku, melainkan miliknya. Cambang halus di pipinya yang

makin enak dipandang bukan milikku, melainkan miliknya juga. Kalau Srintil tersenyum

sambil menari aku dibuatnya gemetar. Tetapi Srintil tersenyum bukan untukku,

melainkan untuk semua orang. Meskipun demikian pengajaran demikian tidak

menolongku. Aku tetap kecewa karena aku tidak lagi bisa bermain bersama Srintil.


Boleh jadi karena merasa begitu tersiksa maka kutemukan jalan untuk memperoleh

kembali perhatian Srintil. Acap kali kudengar orang berceloteh bila Srintil habis

menarikan tari Baladewa. Kata mereka, tubuh Srintil masih terlampau kecil bagi kerisnya

yang terselip di punggung. Celoteh semacam ini membuka jalan karena di rumahku ada

sebuah keris kecil tinggalan ayah.


Lama aku berfikir tentang keris itu.Ada keraguan untuk menyerahkannya kepada Srintil.

Aku tahu Nenek pasti akan menentang kehendakku. Untung, roh-roh jahat mengajariku

bagaimana menipu nenekku yang pikun. Suatu hari kukatakan kepada Nenek,


"Nek, tadi malam aku bermimpi bertemu Ayah. Dalam mimpiku itu Ayah berpesan yang

wanti-wanti harus kulaksanakan,” kataku dengan hati-hati.


“Apa pesan ayahmu?” jawab Nenek yang mulai terpancing kebohonganku.


“Soal keris itu, Nek. Kata Ayah keris itu harus kuberikan kepada siapa saja yang menjadi

ronggeng di pedukuhan ini. Demikian wangsit Ayah, Nek.”


Wajah Nertek makin berkerut-kerut. Buruk bukan main. Aku berharap meski perempuan

tua itu yang melahirkan Emak, kejelekan wajahnya tidak diturunkan. Namun pikiran

durhaka tidak lama berada di benakku. Segera kusadari, Neneklah yang dengan sabar

membesarkanku dengan susah payah. Bila Nenek memburuh menumbuk padi, nasi yang

dicatukan baginya tidak dimakan, agar di rumah aku tidak kelaparan.


“Apakah karena kita kurang rajin merawatnya maka keris itu harus diserahkan kepada

orang lain?” tanya Nenek.


“Boleh jadi demikian, Nek,” jawabku mantap.


Aku percaya tipuanku mengena. Orang Dukuh Paruk, siapa pun dia, menganggap

wangsit sebagai bagian dari hukum yang pantang dilanggar. Maka dengan menyebut kata

wangsit itu aku berhasil menipu Nenek secara sempurna.


Keris bekas milik ayah tidak lebih dari dua jengkal tanganku. Sarungnya berlapis

kuningan atau suasa. Tangkainya terbuat dari kayu walikukun, berbentuk aneh. Bila

diperhatikan benar, tangkai keris itu mirip kemaluan laki-laki. Meskipun aku bernama

Rasus yang lahir di Dukuh Paruk, aku tidak tahu-menahu tentang keris. Aku tidak tahu

kegunaannya. Maka tidak sedikit pun aku merasa sayang menyerahkannya kepada Srintil.

Yang kuperlukan sekarang adalah waktu yang baik untuk melakukan penyerahan itu.


Setiap hari bila matahari sudah naik, suami-istri Sakarya pergi ke ladang mereka. Pada

saat seperti itu Srintil seorang diri di rumah. Mencari kutu dengan perempuan-perempuan

dewasa, atau tidur pulas bila malam sebelumnya Srintil habis menari. Yang kupilih

adalah saat demikian. Aku masuk dari pintu belakang, mengendap-endap sampai ke bilik

Srintil. Rumah Sakarya amat lengang. Srintil tergeletak di atas balai-balai, pulas. Di dekat

bantalnya tercecer banyak uang logam. Menjengkelkan bila mengingat bagaimana uang

logam itu dimasukkan ke dada Srintil oleh para perjaka. Aku tahu pasti, tangan para

perjaka itu bukan sekedar memasukkan uang. Dada Srintil yang masih sangat muda itu

pasti diperlakukan secara tidak senonoh.


Aku tetap berdiri memperhatikan Srintil yang tertidur nyenyak. Sudah kukatakan usiaku

tiga belas atau hampir empat belas tahun saat itu. Pengetahuanku tentang perempuan,

baik sebagai pribadi maupun sebagai lembaga, sungguh tak berarti. Namun dengan daya

tangkap yang masih sederhana aku dapat mengatakan ada perbedaan kesan antara

perempuan terjaga dan perempuan tertidur.


Lebih damai. Lebih teduh. Sepasang mata yang tertutup, lenyapnya garis-garis ekspresi

membuat wajah Srintil makin enak dipandang. Bibir yang tampil dengan segala

kejujurannya serta tarikan nafas yang lambat dan teratur, membuat aku merasa

berhadapan dengan citra seorang perempuan yang sebenarnya. Kelak aku mengetahui

banyak orang berusaha melukiskan citra sejati seorang perempuan. Mereka menggunakan

sarana seni lukis, seni patung atau seni sastra. Aku percaya para seniman itu keliru. Bila

mereka menghendaki lukisan seorang perempuan dengan segala keasliannya, seharusnya

mereka melukiskan perempuan yang sedang tidur nyenyak.


Jadi aku tidak ingin membangunkan Srintil. Memang aku gagal mencegah tanganku

untuk tidak mengelus cambang halus di tepian pipi ronggeng itu. Dan memegang dengan

hati-hati pucuk hidungnya. Pada saat itu aku teringat ulah kambing-kambingku sebelum

mereka birahi. Teringat juga akan burung tekukur yang saling gigit paruh sebelum

mereka kawin. Aku ingin menirukan binatang-binatang itu. Namun batal, khawatir Srintil

akan terbangun atau aku sebenarnya tak rela dipersamakan dengan kambing atau burung.


Keris yang kubawa dari rumah masih kuselipkan di ketiakku, rapi tergulung dalam baju.

Aku merasa lebih baik menyerahkan benda itu kepada Srintil selagi dia tertidur. Ternyata

kesan penyerahan semacam itu, dalam. Sangat dalam. Aku sama sekali tidak merasa

menyerahkan sebilah keris kepada seorang ronggeng kecil. Tidak. Yang kuserahi keris itu

adalah perempuan sejati, perempuan yang hanya hidup dalam alam angan-angan yang

terwujud dalam diri Srintil yang sedang tidur. Tentu saja perempuan yang kumaksud

adalah lembaga yang juga mewakili Emak, walau aku tidak pernah tahu di mana dia

berada.


Tangan Srintil kutata supaya keris yang kuletakkan dekat bantal berada dalam

pelukannya. Bajuku masih membungkus benda itu. Nanti bila Srintil terbangun dia akan

tahu siapa yang telah meletakkan keris itu di dekatnya. Sebelum berlalu sekali lagi aku

menatap Srintil. Aku ingin lebih yakin, dalam tidurnya ronggeng itu malah lebih cantik.


Kambing-kambing tidak lagi menarik perhatianku. Mereka boleh berkeliaran sesuka hati.

Mereka boleh memasuki ladang orang, dan aku rela binatang gembalaanku itu dibantai

oleh petani yang marah. Aku ingin duduk sepuas hati di bawah pohon nangka. Tempat itu

masih memberi keteduhan meski aku sudah lama tidak bermain bersama Srintil disana .

Di tempat ini aku duduk seorang diri; merenung.


Di sebelah kiriku, agak jauh ke barat, tampak pekuburan Dukuh Paruk. Tonggak-

tonggak nisan kelihatan dari tempatku duduk. Hal yang mengecewakan, makam Emak


tidak ada disana . Aku heran mengapa orang Dukuh Paruk tidak membuat kesepakatan,

dan bersama-sama menipuku. Kalau mereka mengatakan makam Emak ada di antara

makam-makam di pekuburan Dukuh Paruk, pasti aku percaya. Itu lebih baik daripada aku

harus mengkhayal antara percaya dan tidak kisah tentang diri Emak. Apakah Emak masih

hidup dan lari bersama mantri yang merawatnya, atau sudah mati dan mayatnya

dipotong-potong oleh para dokter.


Ah, sebaiknya kukhayalkan Emak sudah mati. Ketika hidup dia secantik Srintil. Bila

sedang tidur, tampillah Emak sebagai citra perempuan sejati. Ayu, teduh, dan menjadi

sumber segala kesalehan, seperti Srintil yang saat itu masih telap memeluk keris kecil

yang kuletakkan di sampingnya.


Atau, Srintil sudah terjaga. Dia heran ketika menemukan sebilah keris ada di dekatnya.

Namun Srintil harus mengenal baju yang menjadi bungkus keris itu. Srintil harus

mengenal bajuku. Jadi ronggeng itu harus tahu siapa yang telah meletakkan keris itu di

sampingnya. Perhitunganku bukan khayalan kosong. Bukti kebenarannya terbukti

kemudian.


Sepasang tangan menutup mataku dari belakang. Sejenak aku tidak bisa menebak siapa

yang datang. Namun ketika tercium bau bunga kenanga, serta kuraba kulit tangan yang

halus, aku segera memastikan Srintil-lah orangnya.


“Kau melamun di sini, Rasus?” tanya Srintil sambil duduk di sampingku.


“Ah, tidak...”


“Katakan, ya!”


“Aku sedang...”


“Sudahlah. Jangan mencari alasan yang bukan-bukan. Aku tahu kau sedang melamun

karena kehilangan sehelai baju. Nah, ini dia. Pakailah!”


Srintil bukan hanya menyerahkan baju bekas pembungkus keris itu kepadaku. Dia

langsung memasangkannya pada tubuhku, serta mengancingnya sekalian. Punggung


tangan itu putih. Ujung jarinya merah karena Srintil mulai mengunyah sirih. Jantungku

berdenyut lebih cepat.


“Rasus, coba katakan padaku tentang keris itu. Dan mengapa engkau meletakkannya di

sampingku ketika aku sedang tidur,” kata Srintil dekat sekali dengan telingaku.


Aku tidak bisa segera menjawab.


Aku juga tidak berani mengangkat muka menatap wajah Srintil.


“Katakan, Rasus. Katakan.”


“Keris itu untukmu, Srin,” jawabku lirih, tanpa melihat lawan bicaraku.


“Ya, Rasus. Tetapi mengapa hal itu kaulakukan? Engkau senang padaku?”


Lagi, aku tak bisa menjawab. Namun ketika beberapa kali didesak, aku menjawab,


“Keris itu kecil, jadi cocok untukmu. Keris yang selama ini kaupakai terlalu besar.

Dengan keris pemberianku itu, kau akan bertambah cantik bila sedang menari

Baladewa.”


“Jadi engkau senang bila aku kelihatan bertambah cantik?”


Aku mengangguk.


“Tetapi apakah kau mengerti tentang keris yang kauberikan padaku itu?”


“Tidak. Aku tak tahu-menahu tentang keris,” jawabku.


“Oh, dengar. Kakek dan Kartareja telah tahu tentang keris itu.”


“Apa? Kau juga mengatakan aku yang telah membawanya ke dalam bilikmu?”


“Tidak begitu. Mereka tidak kuberi tahu siapa yang membawa keris itu kepadaku. Aku

merahasiakan hal itu kepada mereka.”


“Lalu?”


“Mereka mengatakan keris itu bernama Kyai Jaran Guyang, pusaka Dukuh Paruk yang

telah lama lenyap. Itu keris pekasih yang dulu selalu menjadi jimat para ronggeng.

Mereka juga mengatakan hanya karena keberuntunganku maka keris itu sampai ke

tanganku. Rasus, dengan keris itu aku akan menjadi ronggeng tenar. Itu kata Kakek dan

juga kata Kartareja.”


“Dengan keris pemberianku itu kau akan menjadi ronggeng tenar?” kataku mengulang.


“Begitu kata mereka.”


“Jadi kau senang dengan pemberianku itu?”


“Oh tentu, Rasus.”


Kemudian Srintil merangkulku. Aku tahu dia sedang mengucapkan terima kasih.

Ulahnya tidak kucegah. Juga aku tetap diam ketika Srintil mulai menciumi pipiku. Tak

kuduga sama sekali dalam melakukan tindakan itu Srintil tak sedikit pun merasa

canggung. Tampaknya dia sudah terbiasa. Dalam hati aku bertanya kapankah Srintil

belajar cium-mencium? Atau begitukah seharusnya seorang ronggeng? Meski dia baru

berusia sebelas tahun?/bp/


***


Sudah dua bulan Srintil menjadi ronggeng. Namun adat Dukuh Paruk mengatakan masih

ada dua tahapan yang harus dilaluinya sebelum Srintil berhak menyebut dirinya seorang

ronggeng yang sebenarnya. Salah satu di antaranya adalah upacara permandian yang

secara turun-temurun dilakukan di depan cungkup makam Ki Secamenggala.


Pagi itu Dukuh Paruk berhiaskan bunga bungur. Warna ungu yang semarak menghias

hampir semua sudut pedukuhan sempit itu.


Matahari mulai kembali pada lintasannya di garis katulistiwa. Angin tenggara tidak lagi


bertiup. Langit yang selalu membiru di musim kemarau mulai bernodakan gumpalan-

gumpalan awan. Kemarau sedang menjelang masa akhirnya.


Pagi yang lengang. Sinar matahari dalam berkas-berkas kecil menembus kerindangan

pekuburan Dukuh Paruk. Tetes-tetes embun di pucuk daun menangkap sinar itu dan

membiaskannya menjadi pelangi lembut yang berpendar-pendar. Seekor tupai meluncur

turun dari atas pohon. Binatang itu bergerak dalam lintasan yang berupa ulir hingga

mencapai tanah. Dengan mata waspada tupai itu melompat-lompat di atas tanah, lalu naik

lagi dengan seekor si kaki seribu tergigit di mulutnya.


Dalam kerimbunan tumbuhan benalu, sepasang burung madu berkejaran. Jantan yang

berwarna merah saga mengejar betinanya. Setelah tertangkap keduanya bergulat sejenak

lalu menjatuhkan diri bersama sambil bersenggama. Pasangan itu baru saling melepaskan

diri satu detik sebelum tubuh mereka menyentuh tanah. Perintah alam selesai mereka

laksanakan. Si jantan terbang dengan penuh kepuasan, kembali terbang dan hinggap di

kerimbunan benalu. Selesailah hidupnya karena seekor ular hijau langsung menangkap

dan memangsanya disana .


Pohon beringin besar yang menjadi mahkota pekuburan Dukuh Paruk menjadi istana

para burung. Pada sebuah dahannya yang tersembunyi hinggap seekor burung celepuk. Ia

sedang terkantuk setelah menghabiskan malamnya dengan berburu tikus, ikan atau katak.

Hanya burung kucica yang kecil berani mengusik raja burung malam itu. Burung-burung


seling yang hitam pekat dan burung katik yang hijau, hinggap dalam kelompok-

kelompok. Mereka membisu sambil berjemur menanti hangatnya udara pagi sebelum


terbang mencari makanan di tempat lain.


Hari itu tak ada kegiatan kerja di Dukuh Paruk. Upacara memandikan seorang ronggeng

adalah peristiwa yang penting bagi orang di pedukuhan itu, lagipula amat jarang terjadi.

Maka tak seorang pun yang ingin tertinggal. Maka pagi-pagi warga Dukuh Paruk, tiada

kecualinya, sudah berkumpul di halaman rumah Kartareja. Mereka akan mengiring Srintil

dari rumah itu sampai ke makam Ki Secamenggala. Disana Srintil akan dipermandikan.


Srintil didandan dengan pakaian kebesaran seorang ronggeng. Aku melihat keris kecil

yang kuberikan kepada Srintil terselip di pinggang ronggeng itu. Serasi benar ukurannya

dengan badan Srintil. Itu bukan hanya penilaianku. Kudengar beberapa orang

berkomentar, “Srintil mengenakan keris baru yang lebih kecil dan bagus. Alangkah

pantasnya. Alangkah kenesnya.”


Aku yakin pujian itu terdengar oleh Srintil. Kutunggu tanggapannya. Srintil tidak

menoleh kepada orang yang mengucapkan pujian itu. Dia menolehku lalu tersenyum.

Sayang, aku tak dapat membalas senyum Srintil karena jantungku berdenyut terlampau

cepat. Boleh jadi orang-orang bertanya-tanya. Tetapi aku percaya kecuali Srintil dan

nenekku yang telah pikun, orang lain tak tahu tentang keris yang dipakai Srintil pagi itu.

Atau bila ada orang tahu bahwa akulah yang memberikan keris kecil kepada Srintil, aku

tidak peduli. Dengan memberikan pusaka itu kepada Srintil, aku telah memperoleh

imbalan yang cukup; Srintil kembali memperhatikan diriku. Ini berarti ada seorang

perempuan dalam hidupku, suatu hal yang telah bertahun-tahun kudambakan.


Tidak bisa kupastikan yang kurindukan adalah seorang perempuan sebagai kecintaan

atau seorang perempuan sebagai citra seorang emak. Emakku. Atau kedua-duanya. Tetapi

jelas, penampilan Srintil membantuku mewujudkan angan-anganku tentang pribadi

perempuan yang telah melahirkanku. Bahkan juga bentuk lahirnya. Jadi sudah kuanggap

pasti, Emak mempunyai senyum yang bagus seperti Srintil. Suaranya lembut, sejuk, suara

seorang perempuan sejati. Tetapi aku tidak bisa memastikan apakah Emak mempunyai

cambang halus di kedua pipinya seperti halnya Srintil. Atau, apakah juga ada lesung pipit

pada pipi kiri Emak. Srintil bertambah manis dengan lekuk kecil di pipi kirinya, bila ia

sedang tertawa. Hanya secara umum Emak mirip Srintil. Sudah kukatakan aku belum

pernah atau takkan pernah melihat Emak. Persamaan itu kubangun sendiri sedikit demi

sedikit. Lama-lama hal yang kureka sendiri itu kujadikan kepastian dalam hidupku.


Di halaman rumah Kartareja ronggeng bermain satu babak. Tidak seperti biasa, pentas

kali ini tanpa nyanyi atau tarian erotik. Mulut Sakum bungkam. Si buta itu tidak

mengeluarkan seruan-seruan cabul. Semua orang tahu permainan kali ini bukan pentas

ronggeng biasa. Tetapi merupakan bagian dari upacara sakral yang dipersembahkan

kepada leluhur Dukuh Paruk.


Selesai bermain satu babak, rombongan ronggeng bergerak menuju pekuburan Dukuh

Paruk. Kartareja berjalan paling depan membawa pedupaan. Srintil di belakangnya.

Menyusul para penabuh. Sakum dituntun oleh seorang penabuh lainnya. Di belakang

mereka menyusul segenap warga Dukuh Paruk, dari anak-anak sampai yang tua-tua.

Bayi-bayi digendong, anak kecil dituntun. Mereka membuat barisan panjang, berarak

menuju makam Ki Secamenggala.


Sampai di tujuan, Kartareja meletakkan pedupaan di ambang pintu cungkup leluhur

Dukuh Paruk. Dua orang laki-laki membawa tempayan berisi air kembang. Dengan air itu

nanti Srintil akan dimandikan. Nyai Kartareja menuntun Srintil. Dilindungi oleh beberapa

perempuan tua lainnya, pakaian Srintil dibuka, hanya tinggal selembar kain yang

menutupi tubuh perawan itu.


Mantera-mantera dibacakan oleh Nyai Kartareja, ditiupkan ke ubun-ubun Srintil.

Kemudian tubuh perawan itu mulai diguyur air kembang, gayung demi gayung.

Sementara itu orang-orang dukuh Paruk lainnya hanya menonton. Srintil menjadi pusat

perhatian. Rombongan penabuh mempersiapkan diri. Mereka menata perkakas masing-


masing, duduk bersila di atas tanah.


Srintil selesai dimandikan. Nyai Kartareja mengeringkan rambut ronggeng itu dengan

sehelai kain. Tiga orang perempuan membantu Nyai Kartareja mendandani Srintil

kembali. Mereka menyisir, memberi bedak dan membantu Srintil mengenakan kain serta

mengikatkan sampur di pinggang. Semuanya sudah beres. Rambut Srintil sudah

disanggul. Kemudian ronggeng itu dituntun ke depan pintu cungkup. Disana Srintil

menyembah dengan takjim, lalu bangkit dan berjalan ke hadapan lingkaran para penabuh.


Tiba giliran bagi Kartareja. Setelah komat-kamit sebentar, laki-laki itu memberi aba-aba

kepada pemukul gendang. Kelengangan pekuburan Dukuh Paruk pecah. Suara gendang

dan calung menggema bersama dalam irama khas.


Berpuluh-puluh burung serentak terbang meninggalkan pepohonan di pekuburan itu.

Tidak seperti semua orang Dukuh Paruk, burung-burung itu tak menyukai irama calung.

Tidak seperti aku yang sedang tak berkedip melihat pengejawantahan Emak pada diri

Srintil, burung-burung itu tak menyukai ronggeng.


Pada saat seperti itu orang-orang Dukuh Paruk percaya semua roh di pekuburan itu

bangkit melihat pertunjukan. Mereka juga yakin arwah Ki Secamenggala berdiri di

ambang pintu cungkup dan melihat Srintil berjoget. Oleh karena itu tak seorang pun

berdiri di depan cungkup itu karena tak ingin menghalangi pandangan mata roh Ki

Secamenggala.


Aku berdiri di bagian depan. Seandainya ada orang Dukuh Paruk mampu berbicara

masalah apresiasi, maka alangkah baik bila diadakan pengukuran. Apresiasi siapakah

yang paling dalam atas pertunjukan ronggeng Srintil di pekuburan itu. Secara angkuh aku

dapat memastikan apresiasikulah yang paling dalam. Aku bukan hanya sekedar melihat

Srintil meronggeng, melenggang lenggok dan bertembang. Aku tidak hanya mendengar

keserasian bunyi calung, gendang dan gong tiup yang menghasilkan irama indah. Juga

aku bukan hanya terkesan oleh lentuk leher Srintil, goyang pundaknya atau lentik

jemarinya. Lebih dari itu. Karena aku melihat Srintil lebih daripada seorang perawan

kecil yang menjadi ronggeng. Pada saat seperti itu kerinduanku akan kehadiran Emak

terobati. Pada saat seperti itu hilang angan-angan apakah Emak melarikan diri bersama

mantri itu. Atau mati dan mayatnya dicincang-cincang. Yang memenuhi jiwaku adalah

kenyataan Srintil sedang menari, tersenyum kepadaku. Hal itu sudah cukup melenyapkan,


meski hanya sesaat, penderitaanku yang tak pernah melihat Emak.


Konon semasa hidupnya Ki Secamenggala sangat menyukai lagu Sari Gunung. Maka

dalam rangkaian upacara mempermandikan Srintil itu lagu Sari Gunung-lah yang

pertama kali dinyanyikan oleh Srintil, secara berulang-ulang. Seperti pada awal upacara

di rumah Kartareja, pentas di pekuburan itu meniadakan lagu-lagu cabul. Sakum diam.

Tetapi menjelang babak ketiga terjadi kegaduhan. Kejadian itu takkan pernah kulupakan

buat selama-lamanya.


Dalam berdirinya, tiba-tiba Kartareja menggigil tegang. Mata dukun ronggeng itu

terbeliak menatap langit. Wajahnya pucat dan basah oleh keringat. Sesaat kemudian

tubuh Kartareja mengejang. Dia melangkah terhuyung-huyung, dan matanya menjadi

setengah terpejam.


Semua orang terkesima. Calung berhenti. Srintil menghentikan tariannya karena calung

dan gendang pun bungkam. Kartareja terus melangkah. Sampai di tengah arena laki-laki

tua bangka itu mulai menari sambil bertembang irama gandrung.


Hanya Sakarya yang cepat tanggap. Kakek Srintil itu percaya penuh roh Ki

Secamenggala telah memasuki tubuh Kartareja dan ingin bertayub. Maka Sakarya cepat

berseru,


“Pukul kembali gendang dan calung. Ki Secamenggala ingin bertayub. Srintil, ayo

menari lagi. Layani Ki Secamenggala.”


Irama calung kembali menggema. Tetapi suasana jadi mencekam. Semua orang percaya

akan kata Sakarya bahwa Kartareja sedang dirasuki arwah leluhur. Maka mereka mundur

dalam suasana tegang.


Calung ditabuh dalam irama tayub. Kesahduan upacara sakral itu hilang. Lagu-lagu

pemancing birahi disuarakan. Sakum tidak pernah lupa akan tugasnya. Memoncongkan

mulut lalu menghembuskan seruan cabul pada saat Srintil menggoyang pinggul. Cesss...


cessss.


Kartareja menari makin menjadi-jadi. Berjoget dan melangkah makin mendekati Srintil.

Tangan kirinya melingkari pinggang Srintil. Menyusul tangannya yang kanan. Tiba-tiba

dengan kekuatan yang mengherankan Kartareja mengangkat tubuh Srintil tinggi-tinggi.

Menurunkannya kembali dan menciumi ronggeng itu penuh birahi.


Penonton bersorak. Mereka bertepuk tangan dengan gembira. Tetapi aku diam terpaku.

Jantungku berdebar. Aku melihat tontonan itu tanpa perasaan apa pun kecuali kebencian


dan kemarahan. Tak terasa tanganku mengepal. Hanya itu, karena aku tak bertindak apa-

apa. Tak berani berbuat apa-apa. Dan Kartareja terus menciumi Srintil tanpa peduli


puluhan pasang mata melihatnya.


Tak kuduga sorak-sorai orang Dukuh Paruk berhenti seketika. Mereka, juga aku sendiri,

kemudian melihat Kartareja mendekap Srintil begitu kuat sehingga perawan kecil itu


tersengal-sengal. Bahkan akhirnya Srintil merintih kesakitan. Seakan dia merasa tulang-

tulang rusuknya patah oleh himpitan lengan Kartareja yang kuat.


Terjadi ketegangan. Tetapi belum ada orang yang bertindak. Kecuali Sakarya yang tiba-

tiba melompat ke depan sambil berseru,


“Hentikan calung. Hentikan calung!”


Sakarya mendekati Kartareja yang tetap mendekap Srintil kuat-kuat. Sakarya melihat

mata cucunya terbeliak karena sukar bernapas. Terbata-bata kakek Srintil itu meratap.


“Lepaskan cucumu, Eyang Secamenggala. Aku memohon lepaskan Srintil. Kasihani dia,

Eyang. Srintil adalah keturunanmu sendiri,” ratap Sakarya berulang-ulang.


Sehabis berkata demikian Sakarya berbalik mengambil pedupaan. Dikibas-kibaskannya


asap kemenyan itu ke arah Kartareja yang dipercayainya sedang kemasukan arwah Ki

Secamenggala. Nyai Kartareja mengambil segayung air kembang dan disiramkannya ke

kepala suaminya. “Eling, Kang. Eling,” kata Nyai Kartareja.


“Jangan panggil dengan sebutan Kang! Panggil dia dengan kata Eyang. Kau tak tahu

suamimu sedang kesurupan?” bentak Sakarya kepada Nyai Kartareja.


Entah oleh siraman air kembang atau oleh kepulan asap pedupaan, perlahan-lahan

Kartareja mengendorkan dekapannya atas diri Srintil. Kedua tangannya terkulai. Dukun

ronggeng itu mulai berdiri goyah, dan akhirnya roboh ke tanah. Tangan dan kaki

Kartareja kejang. Matanya kelihatan mengerikan karena hanya kelihatan bagiannya yang

putih.


Aku maju ke depan. Aku ingin menjadi orang pertama yang menolong Srintil dari

ketakutannya. Kurangkul pada pundaknya.


“Kau tidak apa-apa, Srin?” tanyaku.


Srintil hanya menggeleng. Dingin terasa tubuhnya. Tangannya gemetar.


Tinggal Kartareja yang menjadi perhatian orang. Dia masih terkapar. Tetapi perlahan-

lahan dia menggeliat, kemudian melenguh. Matanya terbuka. Masih tertidur di tanah,


Kartareja menoleh kiri-kanan, lalu duduk. Dukun ronggeng itu masih kelihatan bingung.


“Syukur-syukur,” ujar Sakarya. “Sampean sudah sadar, Kang?”


“Lho, ada apa? Kenapa badanku basah begini? Mengapa calung berhenti?” tanya

Kartareja bimbang. Dipandangnya orang-orang yang mengelilinginya, kemudian

Kartareja bangkit berdiri.


“Adaapa ini?” ulang Kartareja.


“He-he. Eyang Secamenggala baru saja hadir. Beliau bertayub bersama Srintil,” ujar

Sakarya menerangkan.


“Eyang Secamenggala?”


“Benar, Kang. Rohnya memasuki tubuh sampean dan tentu saja sampean tidak sadar.

Hal ini berarti persembahan kita pagi ini diterima olehnya. Srintil direstuinya menjadi

ronggeng.”


Percakapan selanjutnya antara Sakarya dan Kartareja tidak lagi kudengar. Aku juga tidak

lagi mendengar celoteh serta gumam orang-orang Dukuh Paruk tentang peristiwa yang

baru terjadi. Apa pun tak kuinginkan kecuali segera membawa Srintil menyingkir.

Kugandeng tangannya menuruni bukit kecil pekuburan. Srintil tidak kuantar pulang ke

rumahnya, melainkan kubawa ke rumahku. Suatu keberanian yang tak pernah

terbayangkan dapat kulakukan. Anehnya, Srintil menurut. Bukan main besar rasa hatiku.


“Rasus, bila kau tahu betapa ngeri hatiku tadi,” ujar Srintil yang kududukkan di atas

lincak.


“Kartareja memang bajingan. Bajul buntung,” jawabku mengumpat dukun ronggeng itu.


“Eh, Rasus. Jangan berkata begitu. Kaudengar tadi kata kakekku, bukan? Kartareja

hanya kesurupan arwah Ki Secamenggala.”


“Tidak peduli. Yang penting kakek tua bangka itu berbuat keterlaluan. Kau didekapnya.

Bila tak tertolong kau pasti mati tercekik.”


“Apakah engkau akan bersedih bila aku mati?” tanya Srintil. Pertanyaan itu membuat

mulutku terbungkam.


Ah. Srintil tak bersalah bila dia tak mengerti apa

arti dirinya bagiku. Dia takkan mengerti bahwa bagiku, dirinya adalah sebuah cermin di

mana aku dapat mencoba mencari bayangan Emak. Srintil takkan mengerti hal itu. Dan

sekali lagi kukatakan Srintil tak bersalah. Maka untuk sekedar menjawab pertanyaan,

kukatakan,


“Srin, kau dan aku sama-sama menjadi anak Dukuh Paruk yang yatim piatu sejak kanak-

kanak. Kita senasib. Maka aku tak senang bila melihat kau celaka. Bila kau mati aku


merasa kehilangan seorang teman. Kau mengerti?”


Bagian Ketiga


Aku mengira upacara permandian di pekuburan itu adalah syarat terakhir sebelum

seorang gadis sah menjadi ronggeng. Ternyata aku salah. Orang-orang Dukuh Paruk

mengatakan bahwa Srintil masih harus menyelesaikan satu syarat lagi. Sebelum hal itu

terlaksana, Srintil tak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran.


Dari orang-orang Dukuh Paruk pula aku tahu syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh

Srintil bernama bukak-klambu. Berdiri bulu kudukku setelah mengetahui macam apa

persyaratan itu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana

pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat

menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati

virginitas itu.

Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan! Bajul buntung! pikirku.


Aku bukan hanya cemburu. Bukan pula sakit hati karena aku tidak mungkin

memenangkan sayembara akibat kemelaratanku serta usiaku yang baru empat belas

tahun. Lebih dari itu. Memang Srintil telah dilahirkan untuk menjadi ronggeng,

perempuan milik semua laki-laki. Tetapi mendengar keperawanannya disayembarakan,

hatiku panas bukan main. Celaka lagi, bukak-klambu yang harus dialami oleh Srintil

sudah merupakan hukum pasti di Dukuh Paruk. Siapa pun tak bisa mengubahnya, apa

pula aku yang bernama Rasus. Jadi dengan perasaan perih aku hanya bisa menunggu apa

yang akan terjadi.


Jauh-jauh hari Kartareja sudah menentukan malam hari Srintil harus kehilangan

keperawanannya. Untuk itu Kartareja sendiri harus mengeluarkan biaya. Tiga ekor

kambing telah dijualnya ke pasar. Dengan uang hasil penjualan itu dibelinya sebuah

tempat tidur baru, lengkap dengan kasur bantal dan kelambu. Dalam tempat tidur ini

kelak Srintil akan diwisuda oleh laki-laki yang memenangkan sayembara.


Sementara waktu suara calung lenyap dari Dukuh Paruk. Kartareja sedang giat membuat

persiapan pelaksanaan malam bukak-klambu itu. Dukun ronggeng itu rajin keluar Dukuh

Paruk untuk menyebarkan berita. Hanya dalam beberapa hari telah tersiar kabar tentang

malam bukak-klambu bagi ronggeng Srintil. Orang-orang segera tahu pula, Kartareja

menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki yang ingin menjadi

pemenang.


“Saatnya telah saya tentukan pada Sabtu malam yang akan datang,” kata Kartareja pada

suatu pagi di hadapan banyak laki-laki di pasar.


“Dan sampean meminta sekeping ringgit emas?”


“Ya. Kukira itu harga yang patut,” jawab Kartareja.


“Ah,” lenguh laki-laki yang bertanya tadi.


“E... Kenapa? Terlalu mahal? Ingat baik-baik. Pernahkah ada ronggeng secantik Srintil?”


“Itu benar. Srintil memang ayu dan kenes. Tetapi siapa yang memiliki sebuah ringgit

emas di Dukuh Paruk,”


“Oh, saya tak pernah bermimpi seorang laki-laki Dukuh Paruk akan memenangkan

sayembara. Jangankan ringgit emas, sebuah rupiah perak pun tak dimiliki oleh laki-laki

Dukuh Paruk. Aku tidak berharap mereka mengikuti sayembara.”


Berita tentang malam birahi itu cepat menyebar ke mana-mana, jauh ke kampung-

kampung di luar Dukuh Paruk. Banyak perjaka atau suami yang tergugah semangatnya.


Tetapi sebagian besar segera memadamkan keinginannya setelah mengerti apa syarat

untuk tidur bersama Srintil pada malambukak-klambu. Sebuah ringgit emas senilai

dengan harga seekor kerbau yang paling besar. Hanya beberapa pemuda yang merasa

dirinya sanggup mengalahkan tantangan itu.


Tiga hari sebelum Sabtu malam. Sebuah lampu minyak yang terang telah dinyalakan di

rumah Kartareja. Pintu sebuah kamar sengaja dibiarkannya terbuka. Dengan demikian

sebuah tempat tidur berkelambu yang masih baru bisa dilihat orang dari luar. Tutup

kasurnya putih bersih demikian pula bantalnya. Bagi semua orang Dukuh Paruk yang

biasa tidur di atas pelupuh bambu, pemandangan seperti itu sungguh luar biasa. Sore itu

banyak perempuan dan anak-anak Dukuh Paruk datang ke rumah Kartareja hanya dengan

tujuan melihat tempat tidur itu.


Aku sendiri ada disana . Tidak masuk ke dalam rumah, karena dari tempatku berdiri di

sudut halaman sudah dapat kulihat tempat tidur berkelambu itu. Bila orang-orang

memandangnya dengan kagum, aku melihat tempat tidur itu dengan masygul. Muak

bercampur marah.


Bagiku, tempat tidur yang akan menjadi tempat bagi Srintil melaksanakan malam bukak-

klambu , tidak lebih dari sebuah tempat pembantaian. Atau lebih menjijikkan lagi. Disana


dua hari lagi akan berlangsung penghancuran dan penjagalan. Aku sama sekali tidak

berbicara atas kepentingan birahi atau sebangsanya. Disana , di dalam kurung kelambu

yang tampak dari tempatku berdiri, akan terjadi pemusnahan mustika yang selama ini


amat kuhargai. Sesudah berlangsung malam bukak-klambu, Srintil tidak suci lagi. Soal

dia kehilangan keperawanannya, tidak begitu berat kurasakan. Tetapi Srintil sebagai

cermin tempat aku mencari bayangan Emak menjadi baur dan bahkan hancur berkeping.


Membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki, sama menjijikkannya

dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri itu. Aku muak. Aku tidak

rela hal semacam itu terjadi. Tetapi lagi-lagi terbukti seorang anak dari Dukuh Paruk

bernama Rasus terlalu lemah untuk menolak hal buruk yang amat dibencinya. Jadi aku

hanya bisa mengumpat dalam hati dan meludah. Asu buntung!


Masih dari tempatku berdiri, aku melihat Srintil keluar. Merah bibirnya karena Srintil

makan sirih. Rambutnya yang kelimis terjurai menutupi sebagian pundaknya yang mulai

berisi. Perempuan-perempuan serta anak-anak segera mengelilinginya di balai-balai.

Gumam pujian mulai didengungkan oleh para perempuan itu. Kulihat Srintil tertawa

riang. Apa yang salah bila gadis sebesar Srintil bersenang hati mendengar segala macam

pujian.


Melihat bagaimana cara para perempuan Dukuh Paruk memuji Srintil maka aku yakin

setiap diri mereka berharap kiranya anak perempuan mereka kelak seperti Srintil.

Menjadi ronggeng. Atau para perempuan itu menyesal mengapa kaki mereka pengkor,

atau pipi mereka tambun, atau bibir mereka seburuk bibir kerbau sehingga tak bakal

layak menjadi ronggeng. Tak tahulah!


Boleh jadi aku akan tetap melamun berang bila gerimis tidak turun. Tak kuduga gerimis

kali ini menguntungkan.Para perempuan dan anak-anak yang merubung Srintil segera

bangkit bergegas pulang ke rumah masing-masing. Aku sendiri hanya maju beberapa

langkah dan berteduh di emper rumah Kartareja. Srintil baru melihatku setelah aku

berada di bawah naungan emper itu.


“He? Engkau di situ, Rasus?” tanya Srintil. Nadanya bersukacita.


“Ya.”


“Sudah lama?”


“Sejak sebelum gerimis.”


"Mari masuk. Temani aku. Kartareja dan istrinya sedang pergi ke rumah kakekku,

Sakarya. Aku seorang diri sekarang.”


Srintil menarik tanganku.


Aku menurut. Kami duduk berdua di atas lincak. Srintil terus bergerak seperti kanak-

kanak. Ah, dia memang masih kanak-kanak. Usianya sebelas atau dua belas tahun. Meski


begitu Srintil menangkap suasana yang lesu pada diriku.


“He, kau seperti malas bercakap-cakap. Kau segan menemaniku di sini?”


“Tidak. Sama sekali tidak.”


“Tapi kau hanya berkata bila kutanya. Kenapa?”


“Tutup pintu kamar itu dulu.”


“Lho, kenapa?”


“Aku tak ingin melihat tempat tidur itu meski Kartareja memamerkannya buat semua

orang,” kataku agak ketus.


Srintil termangu sejenak. Tak usah lama berfikir rupanya Srintil mengetahui juga

mengapa aku berkata demikian. Naluri seorang perempuan. Lama kunanti tanggapan

Srintil. Tetapi mulutnya yang mungil dan merah masih terkatup. Dia hanya bangkit

memenuhi permintaanku menutup pintu kamar itu. Derit pintu bambu dan lenyap dari

pandanganku tempat tidur yang akan menjadi ajang Srintil melepaskan keperawanannya.


“Ya, Rasus aku tahu. Kau tak usah berkata banyak aku sudah tahu mengapa kau

membenci tempat tidur itu.”


“Hm?”


“Dan engkau tahu bahwa aku senang menjadi ronggeng, bukan?”


“He-eh.”


“Lalu?”


“Yah, aku hanya ingin bertanya padamu; bagaimana perasaanmu menghadapi saat Sabtu

malam itu?”


Aku tidak segera mendapat jawaban. Kulihat seorang gadis kecil sedang berfikir tentang

sesuatu yang baru baginya. Bukan hanya baru, melainkan juga sesuatu yang menjadi

salah satu tonggak sejarah biologisnya. Mungkin selama ini Srintil hanya terpukau oleh

janji Kartareja bahwa sebuah ringgit emas yang diberikan oleh laki-laki pemenang akan

menjadi miliknya. Kemampuan pikirannya hanya sampai di situ.


“Bagaimana?” tanyaku mengulang.


“Entahlah, Rasus. Aku tak mengerti,” jawab Srintil sambil menundukkan kepala.


“Tentu kau senang karena kau akan memiliki sebuah ringgit emas. Kikira begitu.”


“Aku tak mengerti, Rasus. Yang jelas aku seorang ronggeng. Siapa pun yang akan

menjadi ronggeng harus mengalami malam bukak-klambu. Kau sudah tahu itu, bukan?”


“He-eh.”


“Atau begini, Rasus. Bukankah kau telah disunat?”


“Sudah tiga tahun. Kenapa?”


Srintil diam. Dikibaskannya rambutnya ke belakang. Wajahnya menunduk. Kemudian

tanpa melihatku ronggeng itu berkata.


“Misalnya, Rasus. Misalnya. Engkau mempunyai sekeping ringgit emas.”


“Selamanya aku takkan pernah mempunyai sebuah ringgit emas,” jawabku cepat. “Aku

hanya mempunyai sebuah keris kecil warisan Ayah, dan satu-satunya milikku yang


berharga itu telah kuserahkan padamu. Kini engkau pasti tahu aku tak mempunyai apa-

apa lagi. Kau harus tahu hal itu, Srintil.”


Mata Srintil terarah lurus kepadaku. Tak lebih dari sepasang mata anak-anak. Aneh juga.

Dari pemilik sepasang mata itu aku mengharap terlalu banyak. Tetapi aku tak merasa


bersalah. Tidak. Karena pada saat itu misalnya, ketika Srintil menatapku tajam, aku

teringat Emak. Emakku yang mati dan mayatnya dicincang. Atau Emakku yang lari

bersama mantri keparat itu, dan sekarang barangkali berada di Deli, negeri khayali yang

berada di batas langit.


Kutoleh Srintil. Dia masih menatapku dengan cara seorang bodoh. Padahal yang

kuharapkan waktu itu adalah pernyataan Srintil bahwa ia tidak akan menempuh malam

bukak-klambu karena dia telah memutuskan tidak akan menjadi ronggeng. Ah, keinginan

gila yang mustahil terlaksana. Lucunya, aku menyadari hal itu sebaik-baiknya.


Suasana yang bisu membuatku tak betah. Srintil pun kulihat gelisah di tempatnya. Aku

tak tahu apalagi yang patut kuperbuat, atau layak kukatakan kepada Srintil. jadi aku

bangkit tanpa berucap barang sepatah kata dan berjalan ke arah pintu.


“Engkau mau ke mana, Rasus?” kata Srintil.


“Pulang.”


“Jadi engkau mau pulang?”


“Ya.”


“Jadi engkau mau pulang, Rasus? Di luar masih gerimis,” ujar Srintil di belakangku.


Aku terus berjalan. Lepas di halaman, kain sarung kututupkan ke atas kepala. Ketika

membalikkan badan kulihat Srintil masih berdiri di bawah atap emper. Sebenarnya aku

tidak meninggalkannya dengan sepenuh hati. Tetapi aku terus berjalan. Sampai di rumah

aku langsung merebahkan diri ke atas lincak.


Hujan turun makin lebat. Alam menghiburku dengan tiris lembut menyapu tubuhku yang

tergulung kain sarung. Aku tidur melingkar seperti trenggiling. Dengan demikian panas

tubuhku agak terkendali. Tidur di atas pelupuh, kala hari hujan. Kenangan yang tak

terlupakan bagi anak-anak Dukuh Paruk. Aku terlena, larut dalam perjalanan alam

pedukuhan kecil itu.


Jumat malam.


Kemarau sungguh-sungguh telah berakhir. Siang hari hujan turun amat lebat. Lapisan

lumpur yang telah berbulan-bulan mengeras seperti batu, kini terendam air. Sawah luas

yang mengelilingi Dukuh Paruk tergenang. Dukuh Paruk menjadi pulau. Hanya jaringan

pematang tampak membentuk kotak-kotak persegi yang sangat banyak. Tetapi tanah

pematang rapuh dan longsor bila terinjak kaki.


Burung bluwak, kuntul dan trintil muncul kembali. Selama kemarau mereka mengungsi

di tanah-tanah paya di muara Citanduy. Sebentar rumpun-rumpun bambu di Dukuh Paruk

akan ramai oleh berbagai burung air. Mereka berkembang-biak di sana seperti dilakukan

oleh nenek moyang mereka entah sejak berapa abad yang lalu.


Dukuh Paruk akan melewati bulan-bulan yang lembab. Lumut akan tumbuh pada

dinding bambu atau tiang kayu yang basah. Jamur akan tumbuh pada kayu mati atau

dahan yang lapuk. Cacing menjalar di emper-emper. Orong-orong membuat galur-galur

di bawah tanah, menerobos bawah dinding dan berakhir di bawah balai-balai. Kutu air

dan kudis akan kembali merajalela pada kaki dan tangan anak-anak Dukuh Paruk. Dan

orang-orang di sana akan menerimanya sebagai kebiasaan alami.


Selagi Dukuh Paruk berhiaskan genangan air di mana-mana, menjelang senja kelihatan

seorang pemuda sedang bergegas ke sana. Dower, pemuda itu, tidak mempedulikan

pematang panjang yang becek. Dia terus berjalan. Cekat-ceket bunyi telapak kakinya

ketika diangkat dari lumpur. Kain sarung tidak dipakainya melainkan disilangkannya di

pundak. Bila dipakai kain sarung Dower pasti akan belepotan.


Hanya satu hal yang memenuhi benak Dower. Segera sampai ke Dukuh Paruk dan


mengetuk pintu rumah Kartareja. Makin dekat ke pedukuhan itu Dower makin terbayang

akan sebuah tempat tidur berkelambu. Putih bersih dengan kasur dan bantal yang baru.

Dan yang paling penting; seorang perawan kencur yang terbaring di dalamnya.


Memenangkan sayembara bukak-klambu bukan hanya menyangkut renjana birahi.

Bukan pula hanya menyangkut sukacita mewisuda seorang perawan, melainkan juga

kebanggaan. Dower sungguh-sungguh berharap kelak orang akan bergunjing, “Tenyata

Dower bukan pemuda sembarang. Dialah orangnya yang memenangkan sayembara

bukak-klambu bagi ronggeng Srintil.”


Menginjak tanah Dukuh Paruk, hati Dower makin kacau. Hari sudah benar-benar gelap.

Lampu-lampu telah dinyalakan. Langit pekat meski hujan belum lagi turun. Selagi tanah

basah, jengkerik dan gangsir malas berbunyi. Orong-orong menggantikannya. Serangga

tanah itu menggetarkan sayapnya yang menimbulkan suara buruk dan berat. Katak dahan

berteriak-teriak. Tidak seperti kodok atau katak hijau, katak dahan bersuara dengan

selang waktu yang jarang.


Ada sebuah gardu ronda di perempatan jalan kecil di Dukuh Paruk. Dower mendengar

gumam beberapa pemuda dari dalam gardu itu. Seandainya Dower tahu. Pemuda-pemuda

dalam gardu itu sama seperti dirinya, datang dari luar Dukuh Paruk dalam kaitannya

dengan sayembara bukak-klambu. Namun mereka hanya ingin melihat perkembangan

apakah telah ada seorang pemuda datang memenuhi permintaan Kartareja akan sebuah

ringgit emas. Mereka sendiri tidak mempunyai uang sebanyak itu. Namun kesempatan

mereka mungkin terbuka bila tidak ada pemuda yang sanggup memenuhi syarat yang

ditentukan oleh Kartareja. Dalam hal terjadi demikian, diharapkan Kartareja akan

menurunkan tarifnya.


Tidak seperti malam-malam sebelumnya, rumah Kartareja sudah sepi sejak sore. Dukun

ronggeng itu telah mengusir anak-anak yang datang. Tetapi orang-orang tua tidak perlu

kena usir. Mereka, orang-orang Dukuh Paruk, telah maklum Kartareja sedang

menghadapi hajat penting, dan tidak ingin mengganggunya.


Sinar lampu mengenai tubuh Dower ketika dia mencapai halaman rumah Kartareja.

Pemuda itu berhenti sejenak. Dari sana Dower dapat melihat Kartareja sedang duduk

seorang diri, mengepul-ngepulkan asap rokoknya. Di samping makan sirih, kakek itu juga

perokok yang kuat.


Sesungguhnya Kartareja sedang gelisah. Namun perasaan itu tertutup oleh

ketenangannya. Sudah Jumat malam. Seorang pemuda pun belum juga datang memenuhi

harapannya, menyerahkan sekeping ringgit emas bagi keperawanan Srintil. “Alangkah

malu bila sayembara bukak-klambu yang kuselenggarakan tidak berhasil. Sia-sialah tiga

ekor kambing yang telah kujual,” pikir Kartareja seorang diri. Tetapi lamunan dukun

ronggeng itu terhenti ketika pintu depan berderit.


“Kula nuwun,” Dower mengucapkan salam.


“Mangga,” jawab Kartareja. Dijulurkannya lehernya sambil menyipitkan mata. Sinar

lampu membuat matanya silau. “Oh, mari masuk.”


Dower melangkah di bawah tatapan Kartareja. Lalu duduk. Berderit bunyi pelupuh

lincak yang didudukinya. Kartareja segera tahu tamunya datang dari jauh karena

mendengar nafas Dower yang terengah-engah.


“Engkau kelihatan lelah. Dari mana engkau datang, Nak?” tanya Kartareja membuka

percakapan.


“Dari Pecikalan, Kek. Namaku Dower.”


“Wah, Pecikalan? Alangkah jauh.”


“Yah, Kek. Itulah, jauh-jauh saya datang karena saya mendengar kabar.”


“Tentang bukak-klambu, bukan?”


“Benar, Kek.”


“Waktunya besok malam. Engkau sudah tahu akan syarat yang kuminta, bukan?” tanya

Kartareja tanpa melihat tamunya.


“Saya sudah tahu. Sebuah ringgit emas,” jawab Dower datar.


“Betul. Apakah sekarang kau telah membawanya?”


Dower tersipu. Dia tidak berani mengangkat muka. Kartareja melepas napas panjang.

Dalam hati dia mengeluh, karena belum juga muncul sebuah ringgit emas yang

diinginkannya.


“Wah, Kek,” kata Dower akhirnya. “Pada saya baru ada dua buah rupiah perak. Saya

bermaksud menyerahkannya kepadamu sebagai panjar. Masih ada waktu satu hari lagi.

Barangkali besok bisa kuperoleh seringgit emas.”


Kartareja tidak segera memberi tanggapan. Kecewa dia. Diisapnya rokoknya dalam-

dalam. Asap dihembuskannya jadi desah panjang. Namun Kartareja berfikir, dua buah


uang rupiah perak adalah jumlah paling banyak yang disanggupi oleh seorang calon

sampai pada saat itu.


“Jadi begitulah maksudmu, Nak?”


“Ya, Kek.”


“Baiklah. Uang panjarmu bisa kuterima. Tetapi besok malam kau harus datang

membawa sebuah ringgit emas. Kalau tidak, apa boleh buat. Kau kalah dan uang

panjarmu hilang. Bagaimana?”


“Kalau aku gagal memperoleh sebuah ringgit emas maka uang panjarku hilang?” tanya

Dower.


“Ya!” Jawab Kartareja singkat. Rona kelicikan mewarnai wajahnya. Dower termangu,

tampak berfikir keras.


“Kalau engkau berkeberatan, maka terserah. Silakan berfikir. Atau segera pulang ke

Pecikalan selagi malam belum larut. Aku akan menunggu pemuda lain, beberapa orang

yang akan segera tiba.”


Gertakan halus Kartareja mengena. Buktinya, Dower menjadi gelisah, lalu berkata,


“Baik, baik, Kek. Kuterima syarat itu. Nah, inilah uang panjar itu.”


Dower berdiri agar mudah merogoh saku celananya. Sesaat kemudian terdengar

kemerencing. Dua buah uang rupiah perak tergeletak di atas meja, berkilat-kilat terkena

sinar lampu. Kartareja meraupnya, lalu dimasukkannya ke dalam saku di ikat

pinggangnya. Pada saat itu muncul Srintil membawa baki berisi teko dan dua buah

cangkir. Di piring ada goreng ubi. Ketika meletakkan hidangan itu Srintil menggigit

bibir. Sekali pun dia tidak mengangkat muka ke arah Dower, membuat hati pemuda dari

Pecikalan itu malah penasaran. Kartareja tersenyum melihat Dower resah dalam

duduknya.


Aku mengenal dengan sempurna setiap sudut tersembunyi di Dukuh Paruk. Ketika

Kartareja bercakap-cakap dengan Dower aku mendengarnya dari balik rumpun pisang di

luar rumah. Jadi saat itu sudah kuperoleh gambaran pertama Dower-lah yang akan

memenangkan malam bukak-klambu. Aku belum mengenal perjaka Pecikalan itu. Tetapi

kebencianku kepadanya langsung melangit.


Segera terbayang olehku Dower memperlakukan Srintil secara tidak senonoh dalam

tempat tidur berkelambu itu. Pasti, sangat pasti, Dower tidak seperti aku yang selalu

bersikap hormat kepada ronggeng itu. Bertahun-tahun lamanya aku menyusun gambaran

sedikit-demi sedikit, sehingga terbentuk gambaran Emak secara hampir lengkap pada diri

Srintil. Maka Srintil mendapat tempat yang mulia dalam hidupku.


Sedangkan Dower tidak demikian. Dia akan merasa telah membeli Srintil. Dalam waktu

satu malam Srintil akan menjadi barang yang sudah terbeli. Dower akan

memperlakukannya sebagaimana dia suka. Bajingan tengik!


Dan aku meludah sengit.


Di langit tak sebuah bintang pun kelihatan. Secercah warna terang tampak di langit

sebelah barat. Pastilah bulan berada di balik sana. Keremangan yang dibuatnya mampu

memperlihatkan bayangan seekor kalong yang terbang perlahan ke selatan. Kirapnya

malas, namun pasti. Lepas dari bayangan bulan, kalong itu lenyap.


Perhatianku kembali kepada Dower ketika pintu depan rumah Kartareja berderit. Perjaka

Pecikalan itu keluar. Kukira dia akan segera berusaha menepati janji yang diucapkannya

di depan dukun ronggeng itu, mencari sekeping ringgit emas sampai dapat. Atau dia akan

kehilangan dua buah rupiah perak bila usahanya gagal.


Aku tak mengerti mengapa tiba-tiba aku memutuskan keluar dari tempat persembunyian

lalu dengan diam-diam mengikuti Dower dari belakang. Sambil berjalan berjingkat agar

tak diketahui oleh Dower, aku sudah berkhayal tentang perkelahian. Bagaimana

seandainya Dower langsung kutinju tengkuknya. Atau kutendang pinggangnya sehat

tenaga. Pokoknya aku ingin melumat perjaka Pecikalan yang akan menggagahi Srintil itu.


Tak kusangka keinginanku menyakiti Dower dapat terlaksana. Sampai dekat gardu

Dower berhenti, kemudian sumpah serapah keluar dari mulutnya. Aku tahu kemudian

tiga orang pemuda yang tadi berkumpul di gardu ronda melempar Dower dengan


gumpalan lumpur.


“Bajingan tengik! Siapa berani melempari aku?” seru Dower marah.


Tak ada jawaban. Bahkan lemparan-lemparan berikutnya menyusul, tepat mengenai

punggung Dower. Baju dan kainnya belepotan. Kemarahan pemuda Pecikalan itu makin

menjadi-jadi. Dia berbalik dan bertolak pinggang. Kini Dower menghadap ke arahku

kira-kira sepuluh langkah di depan.


“He! Kamu asu buntung. Kalau ingin berkelahi, ayo keluar! Ayo hadapi aku; Dower dari

Pecikalan!”


Masih belum ada jawaban. Aku bergerak ke samping, menghindar dari pandangan

Dower. Rasa ingin ikut menyakiti Dower muncul di hatiku. Maka aku menekuk kedua

kaki demi mencari sesuatu untuk kulemparkan kepadanya. Tanganku meraba sesuatu

yang mengonggok. Tahi sapi. Kotoran itu kuraup dengan tangan kanan, langsung

kulemparkan kepada Dower. Kudengar perjaka Pecikalan itu mengutuk habis-habisan.

Dia hendak melangkah ke depan. Tetapi batal karena dari arah belakang meluncur

gumpalan-gumpalan lumpur, makin lama makin seru. Akhirnya Dower tak bisa berbuat

lain kecuali menutup muka dengan kedua tangan agar matanya terhindar dari hujan

lumpur.


Tidak tahan menghadapi serangan gelap itu akhirnya Dower lari. Bukan main sakit

hatinya ketika dia mendengar beberapa pemuda terbahak-bahak. Dower berbelok ingin

mengejar para penyergapnya. Tetapi dia belum memahami lorong-lorong di Dukuh

Paruk. Dower kehilangan jejak. Hanya terdorong ingin membalas dendam maka Dower

terus berlari dalam gelap. Akhirnya, byur! Dower terjerumus masuk ke dalam sebuah

kubangan yang dalam. Sekali lagi terdengar suara gelak tawa tiga orang pemuda.

Sebaliknya Dower berteriak-teriak seperti orang kesurupan.


Tak ada yang peduli pada Dower yang menggapai-gapaikan tangannya dari dalam

kubangan itu. Ketika akhirnya ia berhasil naik, seluruh tubuhnya basah kuyup dan kotor.

Perjaka Pecikalan masih bertambah sakit hati karena dia mendengar para penyerang

menertawakannya.


Suara yang menghinakannya itu makin lama terdengar makin jauh. Dower tidak pernah

tahu aku masih berada di dekatnya. Maka aku masih sempat mendengar Dower

mengeluh. “Bajingan! Asu buntung!”


Hari Sabtu tiba. Hari yang sangat mengesankan karena batinku ternista luar biasa.

Kukira aku takkan pernah berhasil melukiskan pengalaman batinku secara memadai. Hal

ini mungkin karena aku tak mempunyai cukup kefasihan. Atau karena orang takkan bisa

percaya akan penderitaan batin seorang anak Dukuh Paruk yang bernama Rasus, yang

dalam hidupnya mempunyai emak hanya dalam angan-angan. Srintil, yang entah

bagaimana dalam banyak hal kuanggap sebagai jelmaan Emak, sore nanti akan dirusak.

Kukatakan begitu meski sesungguhnya tidak demikian. Bagiku, setelah Srintil dijual

dengan harga sebuah ringgit emas, dia bukan Srintil lagi, melainkan seorang ronggeng

Dukuh Paruk. Tidak lebih. Hanya seorang ronggeng Dukuh Paruk takkan dapat

kuandaikan sebagai diri Emak.


Serasa aku akan kehilangan emak buat kali kedua. Andaikan ada orang percaya akan

kegetiran yang melanda hatiku. Atau andaikan ada orang yang mau kuajak berbicara

tentang masalah ini, boleh jadi kesedihanku bisa terbagi. Tetapi hanya dirikulah yang

tahu dan merasakan segalanya. Bahkan aku begitu yakin Srintil tidak tahu persis

kemalangan apa yang kurasakan bila dia sudah terbeli dengan sebuah ringgit emas.

Seperti pernah dikatakannya kepadaku, Srintil lahir di Dukuh Paruk untuk menjadi

ronggeng. Maka dengan rela hati dia akan menjalani malam bukak-klambu, apa pula

dengan kemungkinan baginya memiliki ringgit emas.


Katakanlah pagi itu seperti biasa aku keluar melepaskan kambing-kambing. Tetapi

sesungguhnya binatang-binatang itu telah lama kutelantarkan. Pagi itu pun aku tak peduli

kambing-kambingku memasuki ladang orang. Aku sendiri duduk di pinggir kampung

memandang amparan sawah yang penuh air.


Di atasku, pada pucuk pohon sengon, hinggap tiga ekor burung keket. Satu jantan, satu

betina dan anak mereka yang selalu mengibas-ngibaskan sayap minta makan. Salah

seekor induk burung itu segera menukik ke bawah bila melihat capung atau belalang

terbang, kemudian hinggap lagi di tempat semula. Serangga tangkapan dihancurkannya

bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak mereka. Citra sebuah keluarga yang

utuh.


Kukira Emak pun akan berlaku seperti induk burung keket itu. Dia akan melindungiku,

mencarikan makan selagi aku masih kanak-kanak. Bersama Ayah, Emak akan

mengajakku bercengkerama seperti keluarga burung keket itu. Nah, hal itu hanya terjadi

dalam angan-angan. Seperti belasan anak Dukuh Paruk lainnya, aku telah yatim-piatu

sejak anak-anak. Keparat, malapetaka tempe bongkrek itu.


Kukira kicau burung keket serta bunyi air yang tumpah lewat punggung pematang akan

terus membawaku melamun bila Warta tidak datang mengusik.


“Nah. Kulihat kau lama sekali termenung di situ. Nenekmu tidak menanak gaplek pagi

ini?” ujar Warta. “Misalnya demikian apa salahnya kita mencari talas dan kita bakar di

sini?”


“Aku tak ingin makan,” jawabku tak peduli.


“Jadi?”


“Pergilah. Jangan ganggu aku.”


"Baru kali ini kudengar engkau mengusirku, Rasus. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya

sedang kaupikirkan.”


“Itu urusanku. Misalkan kuberi tahu, kau takkan dapat menolongku. Tapi aku takkan

mengatakan apa-apa kepadamu. Jadi, baik urusi kambingmu.”


“Wah, kalau begitu aku bisa menebak. Rasus, kau tak perlu mungkir. Kau sedang

termakan pekasih yang dipasang oleh Nyai Kartareja pada diri Srintil, bukan? Hayo, baik


mengaku! Kepadaku kau akan sia-sia menyimpan rahasia.”


Aku tertawa meskipun terdengar tawar. Tengik betul, Warta menebakku dengan jitu.

Melihat ulahku Warta tahu aku telah mengaku. Tawanya terdengar keras sekali.


“Oh kasihan kawanku ini. Kau senang akan Srintil, tetapi nanti malam ronggeng itu

dikangkangi orang. Wah...”


“Bangsat engkau, Warta.”


“Bagaimana? Bukankah aku berkata tentang kebenaran?”


“Ya. Tetapi kau jangan menambah sakit hatiku.”


“Rasus, kau boleh sakit hati. Kau boleh cemburu. Tetapi selagi kau tak mempunyai

sebuah ringgit emas, semuanya menjadi sia-sia.”


“Ya, kawan. Namun sesungguhnya kau dapat memberi sedikit hiburan padaku.

Bertembanglah. Seperti biasa.”


Tidak sulit membuat Warta mau bertembang bila orang mau menyediakan setumpuk

kata pujian baginya. Di antara sesama anak Dukuh Paruk, Warta dikenal mempunyai

suara paling bagus. Tembang kegemarannya juga menjadi kegemaran setiap anak di

pedukuhan itu, sebuah lagu duka bagi para yatim-piatu. Orang takkan menemukan siapa

penggubah lagu itu yang mampu mewakili nestapa anak-anak yang di dunia tanpa ayah

dan emak.


Lagu yang menjadi terkenal di Dukuh Paruk semenjak belasan anak kehilangan kedua


orang tua akibat racun tempe bongkrek sebelas tahun yang lalu.


Bedug tiga datan arsa guling

Padang bulan kekencar ing latar

Thenguk-thenguk lungguh dhewe

Angine ngidid mangidul

Saya nggreges rasaning ati

Rumasa yen wus lola

Tanpa bapa biyung

Tanpa sanak tanpa kadang

Urip sengsara tansah nandhang prihatin

Duh nyawa gondelana...


Pukul tiga dinihari, aku belum mau terlena. Bulan menabur cahaya di halaman, selagi

aku termangu seorang diri. Angin yang berembus ke selatan membuat hati semakin


merana. Beginilah awak yang telah sebatang kara. Tiada ayah-bunda, tiada sanak-

saudara. Hidupku yang papa selalu dirundung derita. Oh, nyawa bertahanlah kau di


badan...


Warta sudah beratus kali menembangkan lagu itu. Dia tidak lagi tertarik akan makna


liriknya. Hanya irama lagu itu yang kiranya akan tinggal abadi di hati Warta dan anak-

anak lain di Dukuh Paruk. Selesai menembangkan lagu itu Warta menoleh kepadaku. Dia


melihat aku menggigit bibir, dan mungkin mataku berkaca-kaca.


“Lho?” ujar Warta tak mengerti. “Apa pula arti semua ini?”


“Tidak apa-apa, Warta. Percayalah, sahabatku, tak ada yang salah pada diriku. Aku


terharu. Suaramu memang bisa membuat siapa pun merasa begitu terharu.”


“Hanya itu? Bagaimana dengan Srintil yang akan diperkosa nanti malam?”


Jangkrik!


Meski aku menanggapi kata-kata Warta dengan senyum, namun sesungguhnya hatiku

dibuatnya perih, sangat perih. Sehingga aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya umpatku

dalam hati, “Warta, kamu bangsat! Kau katakan Srintil akan diperkosa nanti malam?

Memang betul. Tetapi mengapa kaukatakan hal itu kepadaku?”


Kukira Warta memandangku dari belakang ketika aku berjalan meninggalkannya. Aku

tak peduli dan terus berjalan sepembawa kakiku. Perjalanan yang tanpa tujuan

membawaku sampai ke lorong yang menuju pekuburan Dukuh Paruk. Seharusnya aku


terus melangkah bila tidak kulihat seseorang berjalan merunduk-runduk di antara batang-

batang puring. Srintil! Aku tak mungkin salah, dialah orangnya.


Tak mengetahui aku membuntutinya, Srintil terus berjalan. Langkahnya berkelok

menghindari tonggak-tonggak nisan, atau pohon kemboja yang tumbuh rapat. Setelah

berbelok ke kiri, langkah Srintil lurus menuju cungkup makam Ki Secamenggala. Kulihat

Srintil jongkok, menaruh sesaji di depan pintu makam. Ketika bangkit dan berbalik,

ronggeng itu terperanjat. Aku berdiri hanya dua langkah di depannya.


“He, kau, Rasus?”


“Aku mengikutimu.”


“Aku disuruh Nyai Kartareja menaruh sesaji itu. Bukankah malam nanti...”


“Cukup! Aku sudah tahu malam nanti kau harus menempuh bukak-klambu,” aku

memotong cepat. Habis berkata demikian aku melangkah pergi. Tetapi Srintil menarik

bajuku.


“Rasus, hendak ke mana kau?”


“Pulang.”


"Jangan dulu. Jangan merajuk seperti itu. Kita bisa duduk-duduk sebentar di sini.”


Ternyata aku tak menolak ketika Srintil membimbingku duduk di atas akar beringin.

Tetapi baik Srintil maupun aku lebih suka membungkam mulut. Mestilah ronggeng kecil

itu merasa sedang menghadapi seorang anak laki-laki yang akan mengalami kekecewaan.

Srintil pasti tahu aku menyukainya. Jadi dia tahu pula bahwa malam bukak-klambu

baginya menjadi sesuatu yang sangat kubenci. Hanya itu. Atau, apakah aku harus

mengatakan secara jujur bahwa Srintil lebih kuhormati daripada seorang kecintaan?

Tidak. Aku tak mempunyai keberanian mengatakan hal itu kepadanya. Maka biarlah,

Srintil tetap pada pengertiannya tentang diriku secara tidak lengkap. Seekor serangga

kecil akhirnya membuka jalan bagi permulaan percakapan kami. Nyamuk belirik hinggap

di pipi Srintil. Perutnya menggantung penuh darah.


“Srin, tepuk pipimu yang kanan. Ada nyamuk.”


“Aku tak dapat melihatnya.”


“Tentu saja. Tetapi tepuklah pipi kananmu agak ke atas pasti kena.”


“Tidak mau. Engkau yang harus menepuknya.”


“Tanganku kotor.”


“Tidak mengapa. Hayo tepuklah!”


Aku patuh. Tangan kuayunkan. Meski dengan gerak gamang, nyamuk yang menjadi

lamban karena terlalu banyak mengisap darah itu kena.


Telapak tangan kutekan pada pipi Srintil. Ketika kubuka tergores setitik darah. Ada noda

merah pada pipi yang putih.


Sunyi dan sepi. Sepotong ranting kecil runtuh. Bunyi keletik terdengar ketika ranting itu

menimpa selembar daun. Seekor bengkarung muncul di hadapanku, dan berlari cepat

mengejar capung yang hinggap di tanah. Kelengangan berlanjut karena aku dan Srintil

membisu kembali. Angin bertiup lambat. Suara belalang kerik menyambutnya dari lereng

sempit di sebelah selatan pekuburan.


Entah Srintil. Tetapi aku dalam kelengangan pekuburan Dukuh Paruk merasa menjadi

sekedar seonggok benda alam. Tiada beda dengan batu-batu berlumut di hadapanku, atau

dengan berpuluh nisan cadas yang terpaku mati dan terserak memenuhi pekuburan itu.

Boleh jadi pada saat itu akal-budiku berhenti. Kehendak alami menggantikannya.


Aku tak bergerak sedikit pun ketika Srintil merangkulku, menciumiku. Napasnya

terdengar cepat. Kurasakan telapak tangannya berkeringat. Ketika menoleh ke samping

kulihat wajah Srintil tegang. Ah, sesungguhnya aku tidak menyukai Srintil dengan

keadaan seperti itu. Meski aku tidak berpengalaman, tetapi dapat kuduga Srintil sedang

dicekam renjana birahi. Tanpa melepas lingkaran tangannya di pundakku, Srintil menoleh

sekeliling. Dia was-was ada orang lain di sekitar tempat itu. Sebenarnya Srintil tak usah

terlalu curiga. Pohon-pohon puring dan kemboja yang mengelilingi pekuburan Dukuh

Paruk menjadi pagar yang sangat rapat.


Srintil melepaskan rangkulannya. Kemudian aku mengerti perbuatan itu dilakukannya

agar Srintil dapat membuka pakaiannya dengan mudah.


Aku sering melihat perempuan mandi telanjang di pancuran. Jadi aku sudah tahu beda

tubuh laki-laki dan tubuh perempuan. Tetapi yang kulihat saat itu adalah gambaran

perempuan yang utuh. Hanya tidak seperti perempuan dewasa, dada Srintil rata,

pinggangnya rata.


Bahwa Srintil mengharap aku juga akan membuka pakaian, sudah kumengerti.

Andaikata aku adalah Darsun atau Warta, semuanya sudah kulakukan. Malah aku

menjadi pihak pertama yang mengambil prakarsa. Nah, aku bukan Darsun, bukan pula

Warta. Aku Rasus, anak yang merasa paling malang karena Emak lenyap tanpa

kepastian. Emak mati oleh racun tempe bongkrek kemudian mayatnya dicincang, atau

emak masih hidup dan meninggalkan aku, lari bersama mantri keparat itu. Tidak pasti

mana yang benar. Dan ketidakpastian itu selalu membuatku hampir gila.


Rasanya, sebagai anak laki-laki tak ada yang salah pada tubuhku. Melihat Srintil

telanjang bulat di hadapanku, aku teringat kambing jantanku bila sedang birahi. Jantung

memompa darahku ke segala penjuru. Pada bagian organ tertentu, arteri begitu padat

berisi darah hingga menggembung dan menegang. Kehendak alam terasa begitu perkasa

menuntutku bertindak.


Srintil menarik tanganku.


Kupandangi wajahnya yang merona merah. Kupandangi matanya yang berkilat-kilat.

Kupandangi pucuk hidungnya dengan bintik-bintik keringat di pucuknya. Kemudian

perlahan semua yang tertangkap oleh lensa mataku bergoyang, lalu membaur. Bayangan

sosok Srintil melenyap. Yang muncul menggantikannya adalah halimun.


Aku percaya; hanya aku yang sejak anak-anak mengkhayalkan demikian dalamnya

tentang seorang emak karena aku sangat ingin melihatnya. Khayalan demikian yang

hampir sepanjang usia, akhirnya mampu mendatangkan ilusi; bahwa yang berdiri

telanjang di depanku bukan Srintil, bukan pula ronggeng Dukuh Paruk, melainkan

perempuan khayali yang melahirkan diriku sendiri. Disana , di bagian dada kulihat


sepasang puting di mana aku menetek hampir selama dua tahun. Disana , di balik pusar,

aku pernah bersemayam selama sembilan bulan dalam rahimnya. Dan ketika aku melihat

jalan yang kulewati ketika lahir, mataku berkunang-kunang. Badanku basah oleh keringat

dingin. Kemudian aku tak bisa berbuat lain kecuali menutup muka dengan dua telapak

tangan.


“Rasus, kau tak mau?” tanya Srintil dengan suara hampir tak kudengar. “Takkan ada

orang melihat kita di sini.”


“Srin, ini tanah pekuburan. Dekat dengan makam Ki Secamenggala pula. Kita bisa

kualat nanti,” jawabku. Dalih yang sangat gemilang mendadak muncul di otakku.


Kulihat Srintil termangu. Napasnya masih memburu. Rona wajahnya berubah. Terkesan

rasa kecewa. Ronggeng Dukuh Paruk itu tetap berdiri seperti batu-batu nisan di

belakangnya. Tanpa gerak.


“Kita tak bisa berbuat sembrono di tempat ini,” kataku sambil membenahi pakaian

Srintil.


“Ya, tetapi kau sungguh bangsat.”


“Maafkan aku, Srin. Sungguh! Aku minta engkau jangan marah kepadaku,” kataku

menirukan cara seorang kacung yang minta belas-kasihan kepada majikannya.


Dengan sabar kutunggu sampai Srintil tenang kembali. Mukanya yang tegang perlahan-

lahan kembali seperti biasa.


“Ya, Rasus. Aku tidak marah.”


“Begitulah seharusnya. Apalagi bila kita mengingat ceritera itu.”


“Kau benar. Untung kau memperingatkan aku. Kalau tidak, entah apalah jadinya.”


Ceritera yang kumaksud adalah sebagian dongeng yang hanya dimiliki oleh Dukuh

Paruk. Konon menurut dongeng tersebut pernah terjadi sepasang manusia mati di

pekuburan itu dalam keadaan tidak senonoh. Mereka kena kutuk setelah berjinah di atas

makam Ki Secamenggala. Semua orang Dukuh Paruk percaya penuh akan kebenaran

ceritera itu. Kecuali aku yang meragukannya dan mencurigainya hanya sebagai salah satu

usaha melestarikan keangkeran makam moyang orang Dukuh Paruk itu.


Tak kusadari betul berapa lama aku berdua Srintil berada di dalam kelengangan

pekuburan Dukuh Paruk. Dari tempatku duduk aku tak melihat matahari. Kerimbunan

beringin menghalanginya. Meski tak tahu hendak berbuat apa, kukira kami masih akan

tinggal lama di pekuburan itu. Tetapi aku mendengar sayup-sayup orang memanggil. Aku

tak lupa, itulah suara Nyai Kartareja.


“Aku harus pulang, Rasus. Nyai Kartareja memanggilku. Sudah terlalu lama aku pergi.”


Hanya anggukan kepala yang bisa kuberikan sebagai tanggapan. Srintil bangkit,

kemudian berjalan berkelok-kelok menghindari tonggak-tonggak nisan. Rumpun-rumpun

puring bergoyang tersibak oleh Srintil yang berjalan cepat. Kupu-kupu berterbangan dari

pohon kemboja yang sedang berbunga. Aku berdiri memandang Srintil yang tampak dan

hilang terhalang pepohonan. Sampai di tempat terbuka tampaklah ronggeng itu berlari.

Rambutnya terburai ke belakang. Ada sesuatu terasa lenyap dari hatiku, dan aku tak tahu

benar apakah itu.


Sore hari paling getir yang pernah kualami. Pulang dari pekuburan aku tidak masuk ke

rumah. Nenek yang memanggil-manggil karena hidangan bagiku terbengkalai sejak siang

tak kuhiraukan. Aku duduk dekat kandang kambing memperhatikan burung-burung

bluwak yang pulang ke pucuk-pucuk bambu di Dukuh Paruk. Atau lengkung bianglala di

langit sebelah barat. Pagelaran alam yang damai dan indah. Tetapi aku tidak bisa

menikmatinya. Sebuah sisi di hatiku yang mampu menangkap bentuk-bentuk keindahan


tertutup oleh rasa gelisah karena beberapa jam mendatang Srintil bukan lagi Srintil.


Aku sadar betul diriku terlalu kecil bagi alam, bahkan bagi Dukuh Paruk yang sempit itu.

Maka segalanya berjalan seperti biasa. Kusaksikan matahari tenggelam. Puluhan ekor


kampret dan kalong kcluar mendaulat langit Dukuh Paruk menggantikan burung layang-

layang dan burung-burung lainnya. Pelita-pelita kecil mulai dinyalakan menerangi


beranda-beranda yang berbatas dinding bambu. Nyamuk dan agas terbang berputar-putar

mengelilingiku. Hari benar-benar telah menjadi gelap, dan aku bergerak masuk ke rumah.


Dukuh Paruk seperti hendak berangkat tidur. Anak-anak tak satu pun kelihatan. Bahkan

suara mereka tiada lagi terdengar. Hanya sesekali terdengar keributan kecil di kandang

kambing. Mereka gelisah oleh sengatan nyamuk. Atau mereka melihat sepasang mata

yang berkilau kebiru-biruan dalam gelap; mata seekor kucing liar.


Kedua puluh tiga rumah di Dukuh Paruk sudah kelihatan sepi, kecuali rumah Kartareja.

Di rumah dukun ronggeng itu sudah beberapa malam lampu besar dinyalakan. Nyai

Kartareja telah selesai mendandani Srintil dengan kain dan baju baru. Rambutnya

disanggul. Kartareja menyalakan pedupaan, yang diletakkannya di sudut halaman.

Sebuah gayung dengan tangkainya yang tertanam di dalam tanah juga ada di sana. Celana

kolor bekas, kutang bekas serta pakaian dalam lainnya dilemparkan ke atas genting.

Selesai dengan pekerjaan itu, Kartareja berdiri di tengah halaman dengan wajah menatap

langit. Dukun ronggeng itu sedang melakukan ritus penangkal hujan.


Aku sedang duduk di atas lincak di beranda. Gelap, karena aku malas menyalakan

lampu. Dari jalan sempit yang menuju rumah Kartareja kudengar lenguh seekor kerbau.

Malam hari ada orang menuntun kerbau, adalah hal yang tidak biasa terjadi di Dukuh

Paruk. Apalagi di pedukuhan itu tak seorang pun mampu memelihara ternak tersebut.

Ketika melewati depan sebuah rumah iring-iringan itu tampak jelas. Kukenali betul siapa

penuntun kerbau itu: Dower. Seorang perjaka dari kampung Pecikalan menuntun seekor

kerbau menuju rumah Kartareja. Segera kuduga hal ini bersangkut-paut dengan acara

bukak-klambu malam ini. Kain sarung kusambar dari sampiran, lalu aku berjalan

mengendap ke rumah dukun ronggeng itu dari arah belakang. Sampai di sana kulihat

ternak besar itu telah tertambat di samping rumah Kartareja. Seperti malam kemarin, aku

ingin mendengarkan percakapan antara Kartareja dan Dower. Maka aku berjingkat ke

emper samping. Dari celah dinding bambu aku mengintip ke dalam. Dower dengan

bajunya yang baru duduk di hadapan tuan rumah. Srintil tidak kelihatan. Namun aku

mendengar bisik-bisik antara Nyai Kartareja dengan ronggeng itu.


Sambil mengusap wajahnya yang berkeringat, Dower membuka pembicaraan.


“Aku datang lagi, Kek. Meski bukan sekeping ringgit emas yang kubawa, kuharap

engkau mau menerimanya.”


“Lho. Bukan sebuah ringgit emas?” tanya Kartareja.


“Bukan, Kek.”


“Apa? Ringgit timah?”


“Seekor kerbau betina yang besar. Binatang itu paling tidak bernilai sama dengan sebuah

ringgit emas,” kata Dower menerangkan. Namun Kartareja menyambutnya dengan

senyum kecut, bahkan menyepelekan. Dower menjadi gelisah dalam duduknya.


“Tetapi ringgit emas bisa masuk saku celana. Bagus, tidak kotor dan aku takkan

disusahkannya dengan urusan kandang, rumput serta bau busuk,” ujar Kartareja sambil

membuang muka.


“Kau memang benar, Kek. Tetapi bila dua buah rupiah perak yang kujadikan panjar

menjadi milikmu, kukira pemberianku cukup, lebih dari cukup. Bagaimana?”


Kartareja tidak mengubah roman muka meski dalam hati dia merasa menang. Seekor

kerbau betina yang besar ditambah dengan dua keping rupiah perak. Dukun ronggeng itu

terbahak dalam hati. Hanya karena Kartareja sudah amat berpengalaman maka dia dapat

mengendalikan perasaannya.


“Tetapi bagaimana juga kau tak bisa kuanggap telah mencukupi syarat yang kutentukan.

Seekor kerbau dan dua buah rupiah perak tidak sama dengan sebuah ringgit emas.”


“Jadi engkau menolak, Kek?” tanya Dower gelisah.


“Ya. Kecuali...”


“Kecuali apa?” potong Dower cepat.


“Kecuali kau mau hanya menjadi cadangan. Bila sampai tengah malam nanti tak ada

orang lain membawa ringgit emas kepadaku, maka kaulah pemenangnya. Kalau kau

menolak, silakan terima kembali dua rupiah perak ini. Bawalah pula kerbaumu itu.”


Dower tidak menyangka Kartareja akan menolak dengan kata-kata sekeras itu. Perjaka

Pecikalan tergagap. Bukan main kecewa hatinya. Dower merasa telah melakukan segala

usaha agar bisa memenangkan sayembara bukak-klambu, tidur semalam-malaman di atas

tempat tidur empuk bersama ronggeng Dukuh Paruk yang masih perawan. Teringat

kembali oleh Dower bagaimana dia mendongkel lemari milik orang tuanya untuk

mencuri uang rupiah perak itu. Tentu Dower teringat pula pengalaman siang tadi. Dengan

gemilang dia berhasil mengecoh ayahnya. Dari sawah kerbau milik ayahnya yang paling

besar dituntun pulang. Bukan dimasukkannya ke dalam kandang, melainkan terus

dibawanya ke Dukuh Paruk. Kini Dower merasa segala akal busuknya belum tentu

membuahkan hasil. Bahkan bayangan kegagalan muncul di depan matanya. Dalam hati,

Dower mengutuk Kartareja dengan sengit. “Si Tua Bangka ini sungguh-sungguh tengik!”


Dari tempat gelap di balik dinding aku bisa merasakan kekakuan antara Dower dan

Kartareja. Di antara keduanya tidak terjadi percakapan lebih lanjut. Dower merasa berat

menerima syarat baru yang dikatakan oleh Kartareja. Sebaliknya dukun ronggeng itu

tidak hendak mundur dari pendiriannya.


Kebekuan di beranda rumah Kartareja berakhir. Di halaman kelihatan seorang muda


datang dengan sepeda berteromol. Dower langsung tahu siapa pemuda itu. Dari suara

sepedanya Dower telah memastikan kedatangan Sulam. Hati pemuda Pecikalan resah

karena dia tahu seorang saingan tangguh telah datang. Sebaliknya, Kartareja tersenyum.

Dia juga kenal siapa Sulam adanya; anak seorang lurah kaya dari seberang kampung.

Meski masih sangat muda Sulam dikenal sebagai penjudi dan berandal. Seorang seperti

Kartareja tidak merasa perlu mencari orang-orang alim. Dia hanya memerlukan sebuah

ringgit emas sebagai nilai keperawanan Srintil.


Sulam melangkahi ambang pintu dengan caranya sendiri. Ucapan salam tak perlu

baginya. Kebanggaan menjadi anak seorang lurah dibawanya ke mana-mana. Tetapi

Sulam berhenti dan tertegun sejenak ketika dilihatnya seorang pemuda lain sudah duduk

di hadapan Kartareja. Saling tatap antara Dower dan Sulam terjadi sejenak. Melalui sorot

mata masing-masing mereka saling mengejek.


“Ada anak Pecikalan di sini?” kata Sulam angkuh. Sebelum tuan rumah menjawab,

Dower menyahut lebih dahulu.


“Ya! Mengapa? Aku telah menyerahkan seekor kerbau dan dua buah uang rupiah perak.

Semua itu bernilai lebih dari pada sebuah ringgit emas,” kata Dower bangga. Keterangan

ini membuat Sulam penasaran. Dia tidak percaya.


“Betul kata anak Pecikalan ini, Kek?” tanya Sulam kepada Kartareja. Kakek itu tidak

segera memberi jawaban. Tanpa melihat kepada Sulam maupun Dower, kemudian

Kartareja berkata.


“Dower tidak berbohong. Tetapi duduklah dulu. Kau belum mengatakan maksud

kedatanganmu ke rumah ini.”


“Lho. Kau menyelenggarakan bukak-klambu malam ini, bukan?” tanya Sulam masih

dengan caranya yang angkuh.


“Betul.”


“Nah, mengapa kau bertanya maksud kedatanganku. Kaukira aku akan datang kemari

bila kau tidak menjamuku dengan ronggeng itu?”


“Baiklah. Bila demikian katamu, pasti kau sudah siap dengan sebuah ringgit emas,” ujar

Kartareja.


“Sebuah pertanyaan yang menghina, kecuali engkau belum mengenalku. Tentu saja aku

membawa sebuah ringgit emas itu. Bukan rupiah perak, apalagi seekor kerbau seperti

anak Pecikalan ini,” ujar Sulam sambil melirik ke arah Dower. Yang dilirik tersengat

hatinya lalu membalas keras.


“Sulam! Kau boleh pongah kepada siapa pun tetapi jangan kepadaku. Yang hendak

kuserahkan kepada Kartareja lebih mahal daripada sekedar sebuah ringgit emas. Dan kau

Kartareja! Alangkah dungu bila kau menolak pemberianku dan menerima pemberian

Sulam.”


“Eh? Engkau marah? Kaulah yang dungu! Kartareja hanya meminta ini sebagai syarat,

bukan yang lain-lain, apa pun bentuknya,” ujar Sulam sambil membantingkan uang

logam kuning ke atas meja. Kemilau cahayanya.


“Berilah lebih banyak bila kau memang kaya,” tantang Dower.


“Bila sejak semula Kartareja menghendaki lebih banyak, dua ringgit emas misalnya,

pasti kupenuhi. Kau anak Pecikalan jangan banyak cakap. Pulanglah! Gembalakan

kerbaumu di sawah.”


“Sulam. Jangkrik kamu!”


Dua pemuda itu bangkit dan saling pandang dengan sinar mata kemerahan. Baik Sulam

maupun Dower sudah mengepalkan tinju. Tetapi Kartareja tetap tenang. Dia hanya

melepaskan rokok dari bibir.


“Sabarlah, Anak muda. Duduklah di tempat masing-masing. Kita akan berbicara baik-

baik.”


“Aku hanya mau duduk kembali setelah anak Pecikalan ini enyah dari sini,” seru Sulam

keras.


“Jangan suruh aku duduk kecuali kau sudah mengakui pemberianku lebih banyak

daripada pemberian Sulam. Kartareja, kau jangan bodoh!”


Melihat ketegangan semakin menjadi-jadi, Kartareja bangkit dan berdiri di antara kedua

tamunya. Nyai Kartareja keluar. Srintil muncul sebentar di pintu lalu surut kembali.

Kedua pemuda yang sedang bersitegang sempat melihatnya. Aneh. Setelah melihat Srintil

kemarahan Dower dan Sulam mereda.


“Oh, kalian bocah bagus,” kata Nyai Kartareja. “Jangan bertengkar di sini. Aku khawatir

tetangga nanti datang karena mendengar keributan. Ayo bocah bagus, duduklah. Kalau

kalian terus berselisih, pasti Srintil merasa takut. Bagaimana bila nanti dia tidak bersedia

menjalani bukak-klambu?”


Oleh caranya yang khas gaya seorang mucikari, Nyai Kartareja dapat menenangkan

Sulam dan Dower. Keduanya duduk kembali, masing-masing dengan wajah kecut.

Hening. Kartareja duduk termangu. Dahinya berkerut-kerut, membuktikan ada sesuatu

yang sedang dipikirkannya. Kemudian kakek itu bangkit berdiri. Kata-katanya terdengar

pelan penuh wibawa.


“Kalian datang membawa persoalan ke rumah ini. Kalau kalian tidak ingin aku

membatalkan rencana, beri kami kesempatan memecahkan persoalan itu. Hendaknya


kalian mau diam sebentar di tempat masing-masing. Jangan mencoba bertengkar kembali.

Aku hendak bermusyawarah sebentar di dalam.”


“Ya, kalian harus menurut. Ingat, Srintil masih sangat muda. Dia tidak biasa mendengar

keributan,” sambung Nyai Kartareja.


Kakek dan nenek itu masuk ke dalam meninggalkan kedua tamunya yang masih

membisu di atas lincak. Antara keduanya sering terjadi saling curi pandang. Tidak lebih.

Mereka termakan oleh gertak Kartareja yang mengancam akan membatalkan malam

bukak-klambu.


Di ruang dalam suami-istri itu tidak melihat Srintil. Tetapi mereka tidak berpikir jauh.

Paling-paling Srintil sedang tertelungkup di dalam biliknya dengan hati berdebar-debar.

Bila demikian Nyai Kartareja dapat memahami perasaan gadis itu. Dia masih perawan.


“Ambil dua cangkir,” perintah Kartareja kepada istrinya.


“Kau mau apa?”


“Lihatlah nanti.”


Kartareja mengeluarkan botol-botol dari lemari. Sebuah masih penuh berisi ciu. Sebuah

lagi hanya berisi seperempatnya. Isi botol yang kedua ini ditambah dengan air tempayan

hingga penuh. Kepada istrinya yang datang membawa dua buah cangkir, Kartareja

memerintahkan menghidangkan minuman keras itu kepada Sulam dan Dower.


“Jangan keliru! Yang asli buat Sulam. Lainnya buat Dower,” kata Kartareja. Istrinya

tersenyum.


Walaupun tidak selicik Kartareja, namun perempuan itu sudah dapat menduga ke mana

maksud tindakan suaminya.


Bau alkohol tercium oleh Sulam dan Dower. Kegelisahan dan minuman keras. Dua hal

yang ditemui menjadi sahabat di mana-mana. Baik Sulam maupun Dower ingin

secepatnya mereguk isi botol yang disodorkan oleh Nyai Kartareja. Apalagi setelah

perempuan itu berkata menantang. “Bocah bagus yang paling gagah adalah siapa yang

lebih dulu menghabiskan minuman keras ini.”


“He, Nyai. Tetapi mengapa kau hanya menyediakan sebotol buatku? Tambah lagi barang

dua-tiga botol. Kau jangan harap akan ada sisa minuman di hadapanku nanti.”


Tidak berbeda gairahnya dengan Sulam, Dower menarik cangkir dan botol yang tersedia

baginya. Betapapun pemuda Pecikalan ini tak ingin disebut sebagai bocah bagus kedua.

Dalam hati Dower berkata, dirinya bukan anak kecil yang akan muntah bila

kerongkongan tersiram minuman keras.


Sulam telah mereguk isi cangkir pertama. Tanpa memperdulikan urat-urat tekaknya yang

mengerut, dia meneguk pula isi cangkir kedua. Dan seterusnya. Hanya dalam beberapa

saat sebotol ciu keras sudah mengendap dalam lambungnya. Mula-mula Sulam merasa

kulit wajahnya terjerang. Panas. Telinga berdenging. Badan terasa ringan. Pandangan

mata membaur. Lama-kelamaan dunia jungkir-balik di hadapannya. Tetapi Sulam merasa

tenaganya bertambah berlipat ganda.


Bersama suami-istri Kartareja, Dower yang sama sekali tidak mabuk ikut menyaksikan

Sulam yang mulai mengigau. Dalam dunia khayalnya Sulam melihat beribu bintang jatuh

dari langit. Telinganya mendengar suara tembang asmara. Di hadapannya muncul Srintil

mengajaknya bertayub. Bau ciu yang menguap dari mulut sendiri dirasakannya sebagai

wewangian yang dikenakan oleh ronggeng Dukuh Paruk itu. Tergugah birahi Sulam.

Terhuyung-huyung dia bangkit. Di tengah beranda dia mulai berjoget. Nyai Kartareja

yang berdiri di dekatnya tidak tampak oleh Sulam sebagai seorang nenek-nenek.

Perempuan tua itu kelihatan oleh Sulam sebagai Srintil yang sedang mengajaknya

bertayub.


Oleh suaminya Nyai Kartareja disuruh melayani Sulam yang sedang hilang ingatan. Soal

bertayub tak usah ditanyakan kepada istri dukun ronggeng itu. Dia sangat

berpengalaman. Jadilah. Teringat masa mudanya, maka Nyai Kartareja melayani Sulam

dengan sepenuh hati. Dia membiarkan dirinya dibawa berjoget, bahkan diciumi oleh

Sulam.


Renjana yang menguasai Sulam tidak berlangsung lama. Ciu telah mutlak menguasai

semua organ tubuhnya. Gerakannya makin lamban, makin goyah. Ucapan cabul masih

sempat keluar dari mulut Sulam sebelum kedua lututnya terlipat, roboh dalam pelukan

Nyai Kartareja. Oleh dukun ronggeng yang dibantu Dower, Sulam diangkat dan

dibaringkan di atas lincak. Seekor kambing jantan telah dikalahkan oleh ciu dan tipu

daya.


“Beres,” kata Nyai Kartareja dengan napas tersengal-sengal.


“Ya, Nyai. Sekarang sudah beres,” jawab Kartareja.


“Engkau tidak mabuk, bukan?” tanya Nyai Kartareja kepada Dower.


“Tidak, Nek. Tidak.”


“Nah! Tunggu apa pula engkau ini?”


“Ah, apa maksudmu?” tanya Dower bingung.


“Si Dungu dari Pecikalan. Engkau tak mengerti aku bersusah payah membuat Sulam

mabuk? Sekarang kau kumenangkan.”


“Jadi? Jadi?”


“Ya. Kau boleh tidur bersama Srintil sekarang. Tetapi waktu terbatas sampai Sulam

tersadar. Tahu?”


“Ya, ya. Aku sudah tahu.”


Terdengar suara derit ketika Dower menutup pintu bilik yang berisi tempat tidur

berkelambu itu. Sepi. Suami-istri Kartareja masuk ke bilik mereka sendiri. Di sana

pasangan tua itu bergurau. Sebuah ringgit emas, dua rupiah perak dan seekor kerbau

sudah hampir di tangan./bp/


***


Siapa yang akan menyalahkan Kartareja bila dukun ronggeng itu merasa telah menang


secara gemilang. Siapa pula yang akan menyalahkan Dower bila dia kelak berteriak-

teriak bahwa dirinyalah yang telah mewisuda ronggeng Srintil. Sesuatu telah terjadi di


belakang rumah Kartareja sebelum Dower menyiapkan kelambu yang mengurung Srintil.

Hanya aku dan ronggeng itu yang mengetahui segalanya.


Waktu itu aku masih mengintip di emper samping ketika terdengar pertengkaran mulut

antara Dower dan Sulam. Sesaat kemudian aku melihat seseorang keluar dari pintu

belakang lalu jongkok di bawah pohon pisang. Dari sosok tubuhnya yang kecil aku

memastikan Srintil-lah yang keluar. Dengan berjalan berjingkat kudekati dia.


“Srintil?” tegurku dengan suara berbisik. “Jangan terkejut. Aku Rasus.”


“Oh!” seru Srintil tertahan. Dia cepat bangkit merangkulku sekuat tenaga. “Rasus.

Dengar, mereka bertengkar di luar. Aku takut, sangat takut. Aku ingin kencing!”


“Sudah kencing?”


“Sudah. Tetapi aku takut. Rasus, kau sungguh baik. Kau ada di sini ketika aku sedang

diperjual-belikan.”


“Ya.”


Masih merangkulku kuat-kuat Srintil mengisak. Kubiarkan dia karena aku pun tak tahu

apa yang harus kuperbuat. Kurasakan tubuh Srintil hangat dan gemetar.


“Aku benci, benci. Lebih baik kuberikan padamu. Rasus, sekarang kau tak boleh

menolak seperti kaulakukan tadi siang. Di sini bukan pekuburan. Kita takkan kena kutuk.

Kau mau, bukan?”


Sepatahpun aku tak bisa menjawab. Kerongkonganku terasa tersekat. Karena gelap aku

tak dapat melihat dengan jelas. Namun aku merasakan Srintil melepaskan rangkulan,

kemudian sibuk melepaskan pakaian.


Tidak beda dengan pengalaman tadi siang di pekuburan Dukuh Paruk. Hanya ini

segalanya berlaku dalam gelap. Aku tidak dapat melihat sosok tubuh Srintil dengan jelas,

meski aku yakin saat itu dia sudah telanjang bulat.


Aku percaya, suasana gelap dapat mengubah nilai yang berlaku pada pribadi-pribadi.

Orang berpikir lebih primitif dalam suasana tanpa cahaya. Dan sebuah perilaku primitif

memang terjadi kemudian antara aku dan Srintil. Ilusi akan hadirnya Emak saat itu tak


muncul di hatiku. Segalanya terjadi. Alam sendiri yang turun tangan mengguruiku dan

Srintil. Boleh jadi Srintil merasakan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi entahlah, karena

aku hanya merasa telah memperoleh sebuah pengalaman yang aneh.


Tidak lama. Kubantu Srintil mengenakan kembali pakaiannya. Kemudian dia kuantar

sampai ke pintu. Dengan mengintip lewat celah dinding dapat kulihat Srintil membuka

klambu dan rebah tertidur di sana. Aku sendiri pulang dengan berbagai perasaan

bercampur-aduk di hati.


Kelak Srintil berceritera kepadaku bahwa dia segera terjaga kembali ketika Dower

membangunkannya dengan dengus napas lembu jantan. Srintil tidak mengatakan apa

yang dialaminya kemudian sebagai suatu perkosaan. Dia hanya berkata, sungguh tidak

mudah menempuh syarat menjadi seorang ronggeng di Dukuh Paruk.


Setelah Dower keluar Srintil mendengar Nyai Kartareja berkata kepada pemuda

Pecikalan itu.


“Kau telah memperoleh hadiah sayembara bukak-klambu. Dua rupiah perak serta kerbau

itu sah menjadi milik kami. Engkau puas, bukan?”


Dower hanya tersenyum. Tercapai sudah keinginannya memperoleh sebutan sebagai

pemuda yang mewisuda ronggeng Srintil. Virgin atau tidak virgin ronggeng yang

ditidurinya, menjadi naif Dower.


“Nek, aku mau pulang sekarang,” katanya kemudian.


“Pulang? Nanti dulu!” jawab Nyai Kartareja. “Bila nanti Sulam terjaga dan tidak

melihatmu lagi di sini, dia akan merasa curiga. Tahu?”


“Ya. Oh rupanya kalian pasangan tua bangka yang licik dan tengik. Baiklah, aku mau


tidur di sini. Aku pun telah lelah dan ngantuk.”


Suasana di rumah Kartareja sunyi kembali meskipun suami-istri dukun ronggeng itu

tidak tidur. Srintil sendiri terbaring gelisah. Pelupuh lincak berderit-derit karena Dower

belum dapat memejamkan mata. Tetapi tak berapa lama kemudian segalanya diam.

Dower yang lelah dan lemas segera pulas.


Tengah malam Nyai Kartareja masuk ke bilik Srintil. Kelambu dibuka. Dengan sinar

pelita di tangannya perempuan itu melihat mata Srintil yang masih terbuka. Dengan gaya

memanjakan, Nyai Kartareja membelai rambut Srintil.


"Dua keping rupiah perak dan seekor kerbau besar telah menjadi milikmu. Kau sudah

menjadi anak yang kaya. Engkau merasa senang, bukan?” Srintil mengangguk walaupun

perutnya terasa sakit.


“Dan engkau masih akan menerima sebuah ringgit emas. Mau, bukan? Nanti bila Sulam

terjaga, dia akan masuk kemari.”


Mata Srintil terbuka lebar-lebar. Suaranya serak ketika dia bertanya kepada Nyai

Kartareja.


“Jadi aku harus melayani Sulam pula?”


“Tak mengapa, bukan? Engkau akan menjadi satu-satunya anak yang memiliki ringgit

emas di Dukuh Paruk ini.”


“Tetapi perutku sakit, Nek. Amat sakit.”


“Aku pernah mengalami hal seperti itu. Bocah ayu, percayalah padaku. Semuanya tak

mengapa kaulakukan. Ingat, sebuah ringgit emas! Istirahatlah sekarang selagi Sulam

masih mendengkur.”


Srintil mengisak seorang diri. Baginya alangkah lambat waktu berjalan. Dia ingin hari

segera menjelang pagi. Dia ingin segera menemukan dirinya telah selesai menjalankan

bukak-klambu. Tak terpikirkan lagi soal ringgit emas atau lainnya. Yang dirasakannya

sekarang adalah perutnya yang bagai teriris-iris. Ronggeng itu tak akan menghentikan

tangis karena binatang jantan lainnya akan segera datang menyingkap kelambu dan

mendengus.


Di luar gerimis turun. Sesungguhnya Srintil hampir terlena bila tidak mendengar derit

lincak di beranda. Sulam menggeliat lalu melenguh. Semula Sulam akan kembali

memejamkan mata. Tetapi tiba-tiba mata pemuda itu terbuka selebar-lebarnya, lalu

bangkit. Dia duduk termangu seperti orang sedang bingung.


Nyai Kartareja keluar dari biliknya, melangkah mendekati Sulam.


“Oh, bocah bagus. Engkau sudah bangun?” tanya Nyai Kartareja semanis seorang ibu.


“Jam berapa sekarang, Nek?” kata Sulam sambil menggosok mata dengan punggung

tangan.


“Ah, masih sore,” tipu perempuan itu pula.


Ketika Sulam sadar betul apa tujuannya datang ke Dukuh Paruk, dia berkata sambil

bangkit berdiri.


“Jadi bagaimana ini. Bagaimana urusan tadi?”


“Oh tenanglah, Bocah bagus. Lihat, anak Pecikalan itu masih tertidur nyenyak. Engkau

jadi pemenang. Srintil menunggumu sekarang.”


“Ha? Di mana Srintil?” tanya Sulam bersemangat.


“Lho! Dia di dalam kelambu. Ayo, cepat. Jangan menunggu Dower terbangun.”


“Oh ya. Ya. Tetapi nanti dulu, Nek. Aku ingin kencing.”


Entah sampai kapan pemukiman sempit dan terpencil itu bernama Dukuh Paruk.


Kemelaratannya, keterbelakangannya, penghuninya yang kurus dan sakit serta sumpah-

serapah cabul menjadi bagiannya yang sah. Keramat Ki Secamenggala pada puncak bukit


kecil di tengah Dukuh Paruk seakan menjadi pengawal abadi atas segala kekurangan di

sana. Dukuh Paruk yang dikelilingi amparan sawah berbatas kaki langit, tak seorang pun

penduduknya memiliki lumbung padi meski yang paling kecil sekali pun. Dukuh Paruk

yang karena kebodohannya tak pernah menolak nasib yang diberikan alam.


Yang Mahaperkasa mencipta diriku dari intisari tanah Dukuh Paruk. Ketika aku mulai

mengerti bahwa diriku hidup, di dekatku ada seorang nenek, sebuah kandang berisi tiga

ekor kambing dan sekeranjang gaplek di sudut rumah kecil. Anak-anak sebaya

memanggil perempuan yang terdekat dengan sebutan emak. Tetapi perempuan tua yang

paling dekat denganku menolak bila kusebut demikian. “Panggil aku nenek,” katanya.

Pernyataan itu adalah tanda-tanya besar pertama yang menindih hatiku. Untung, di

Dukuh Paruk ada sekian belas anak yang seperti aku. Warta dan Darsun bahkan aku

kemudian tahu pula, Srintil juga tidak mempunyai emak. Ayah juga tak pernah kulihat

sejak aku lahir. Tetapi aku tidak begitu merisaukannya. Jangan salahkan diriku karena

aku tak tahu mengapa terjadi perasaan demikian.


Ceritera tentang malapetaka tempe bongkrek itu mulai terekam di hatiku sejak usiaku

lima atau enam tahun. Nenek dan orang-orang lainnya berceritera sebagian-sebagian,

sehingga bila kusambung akan tersusun kisah sebuah peristiwa kematian massal secara

lengkap. Termasuk di dalamnya keterangan yang sepotong-sepotong tentang Emak. Ah,


aku takkan mengulanginya lagi. Keterangan tentang Emak hanya berbekas sebagai

deraan batin yang berkepanjangan.


Dalam hatiku ada sebuah sisi yang kosong. Seharusnya ada Emak di sana. Aku yang

mengharuskannya demikian, namun tidak pernah menjadi kenyataan. Kekosongan yang

berkembang bersama pertumbuhanku sejak masa kanak-kanak, menciptakan kegersangan

dan kegelisahan. Kehausan melihat serta memiliki Emak telah membuat noda dalam

hidupku.


Tetapi Dukuh Paruk dan orang-orangnya disana tak ada yang mengerti diriku yang sakit.

Memang Dukuh Paruk memberi kesempatan kepadaku mengisi bagian hati yang kosong

dengan seorang perawan kecil bernama Srintil. Tidak lama, sebab sejak peristiwa malam

bukak-klambu itu Srintil diseret ke luar dari dalam hatiku, Dukuh Paruk bertindak

semena-mena kepadaku. Aku bersumpah takkan memaafkannya.


Jadi ketika Dukuh Paruk bergembira-ria dengan suara calung dan joget Srintil yang telah

resmi menjadi ronggeng, aku malah mulai membencinya. Pengikat yang membuatku

mencintai Dukuh Paruk telah direnggut kembali. Aku tidak lagi mempunyai cermin

tempat aku mencari bayang-bayang Emak. Sakitku terasa lebih perih daripada saat aku

belum mengenal Srintil.


Salah seekor kambing kutuntun ke luar Dukuh Paruk pada suatu pagi. Sebelum

berangkat aku berkata kepada Nenek, aku akan mencari paman di luar kampung dan

mungkin tidak kembali lagi. Nenek menangis. Terbata-bata Nenek meminta agar aku

tetap tinggal. “Siapa yang akan mengurusiku bila aku sakit dan mati,” katanya.


Nenek menjadi korban balas dendamku terhadap Dukuh Paruk. Dia kutinggalkan

bersama beberapa ekor kambing. Biarlah. Nenek adalah milik Dukuh Paruk. Kukira

Dukuh Paruk tetap mengakui Nenek sebagai warga sampai dia bergabung dengan Ki

Secamenggala di pekuburan.


Kambing kujual di pasar. Dengan uang penjualan itu aku hidup beberapa hari di warung-

warung. Perpindahanku dari warung satu ke warung lainnya terjadi bila kudengar seorang


pengunjung berceritera tentang malam bukak-klambu yang baru diselenggarakan di


Dukuh Paruk.


Perkenalanku dengan pedagang singkong di pasar memungkinkan aku mendapat upah.

Di Dukuh Paruk setiap anak berkenalan dengan singkong sejak lahir. Maka pedagang itu

terkesan betapa cepat aku mengupasi barang dagangannya. Selain mendapat upah buat


makan sehari-hari, aku menemukan sebuah tempat yang teduh untuk menggelar karung-

karung. Itulah tempat tidur yang kupakai selama berbulan-bulan.


Dawuan, tempatku menyingkir dari Dukuh Paruk, terletak di sebelah kota kecamatan.

Akan terbukti nanti, pasar Dawuan merupakan tempat melarikan diri yang tepat. Di sana

aku dapat melihat kehadiran orang-orang dari perkampungan dalam wilayah kecamatan

itu. Tak terkecuali orang-orang dari Dukuh Paruk. Pasar Dawuan menjadi tempat kabar

merambat dari mulut ke telinga, dari telinga ke mulut dan seterusnya. Berita yang terjadi

di pelosok yang paling terpencil bisa didengar di pasar itu.


Jadi aku seperti masih tinggal di Dukuh Paruk laiknya.


Aku mendengar segala hal yang terjadi di pedukuhan itu, tanpa kehadiranku di sana.

Dukuh Paruk telah menemukan kembali keasliannya, dengan munculnya kelompok

ronggeng di bawah asuhan dukunnya yang terkenal, Kartareja. Keinginan Sakarya

maupun Kartareja agar Srintil menjadi ronggeng tenar, telah terlaksana. Boleh jadi benar

kata kedua orang tua itu, keris kecil yang kuberikan kepada Srintil ikut andil dalam

ketenaran Srintil. Entahlah.


Di pasar Dawuan pula suatu kali aku dapat melihat Srintil yang datang berbelanja

dengan Nyai Kartareja. Sebelum ronggeng itu mendekat aku telah tahu kehadirannya dari

celoteh orang-orang di pasar itu.


“Itu dia, ronggeng Dukuh Paruk. Srintil memang cantik.”


“He! Betulkah di Dukuh Paruk ada gadis dengan kulit bersih, betis montok tanpa

kurap?”


“Srintil itulah buktinya. Wah, alangkah cepat besar dia.”


“Ah, jangan bodoh. Bau keringat laki-laki membuat setiap anak perempuan menjadi

cepat dewasa.”


“Lihat. Baru beberapa bulan menjadi ronggeng sudah ada gelang emas di tangan Srintil.

Bandul kalungnya sebuah ringgit emas pula,” kata seorang perempuan penjual sirih.


“Kau sudah tahu dari mana ronggeng itu memperoleh bandul kalung seberat dua puluh

lima gram. Tetapi kau pasti belum tahu siapa yang memberi Srintil sebuah kalung,” ujar

perempuan lainnya.


“Dari lurah Pecikalan yang menggendaknya?”


“Salah. Lurah Pecikalan telah mengganti atap ilalang rumah Sakarya dengan seng. Dia

tidak memberi kalung kepada ronggeng itu.”


“Jadi siapa?”


“Le Hian! Itu Cina yang mempunyai kilang ciu tersembunyi di tengah kebun pisang.

Lihatlah, sebentar lagi Srintil akan memakai subang berlian. Atau akan memakai gelang

rangkap.”


“Ah, kau seperti tahu segala urusannya?”


“Mengapa tidak. Ada seorang siren wedana sedang menggendaknya. Bahkan kudengar

istri siten itu sudah menuntut cerai kepada suaminya.”


“Alangkah ampuh pekasih suami-istri Kartareja. Engkau harus mempercayainya

sekarang,” ujar tukang sirih itu pula.


“Ah, tanpa pekasih pun orang akan senang tidur bersama Srintil. Maka aku bisa

memahami bila Sulam rela kehilangan sebuah ringgit emas untuk memperoleh

keperawanan ronggeng itu,” kata orang laki-laki penjual tikar dari tempatnya.


Aku terperanjat mendengar kata-kata lelaki itu. Orang lain mengatakan Sulam-lah

orangnya yang mewisuda Srintil. Aku yakin pula Dower dengan caranya sendiri

menyatakan sebagai orang pertama yang tidur bersama ronggeng Dukuh Paruk. Rupanya

rahasia belum lagi bocor; hanya aku berdua Srintil yang mengetahui segalanya. Tetapi

kejadian di belakang rumah Kartareja itu tidak memberiku kesan yang indah. Aku

melakukannya sebagai tindakan spontanitas belaka.


Srintil sudah memasuki arena pasar.


Aku bersembunyi di balik onggokan singkong dan karung-karung. Semua pedagang di

pasar memperlakukan Srintil sebagai orang istimewa. Penjual pakaian menawarkan baju

merah saga dengan harga luar biasa tinggi. Kalau tidak dicegah oleh pengiringnya, Nyai

Kartareja, Srintil akan membayarnya. Tanpa menawar. Penjual benda manik-manik

mengangkat dagangannya. Sebuah cermin ditawarkannya kepada Srintil. Kali ini Nyai

Kartareja tidak menghalangi ronggeng itu membeli kaca itu bersama beberapa bungkus

pupur dan minyak wangi.


Seorang perempuan tua berlari-lari dari arah belakang. Kepada Srintil disodorkannya

sehelai kutang.


“Aduh, wong ayu. Pakai kutang ini. Dadamu sudah kelihatan montok.”


“Berapa harganya, Nek?” tanya Srintil.


“Aku tak ingin berjualan kepadamu. Silakan pakai. Aku setiap saat berdiri di pinggir

arena bila kau sedang menari. Engkau pasti tidak tahu, bukan?”


Srintil membalasnya dengan tawa yang manja. Dipilihnya sebuah kutang berwarna

kuning menyolok, lalu diberikannya kepada Nyai Kartareja untuk dibawa. Bukan hanya

penjual kutang itu yang memberikan dagangannya dengan cuma-cuma kepada Srintil.

Masih banyak lagi. Seorang perempuan penjual buah memberikan mangga-mangga yang

masak dengan pengantar, “untuk penyegar bagimu yang terlalu banyak melek di malam

hari.” Tukang jamu cepat-cepat meramu dagangannya. “Supaya otot-ototmu tetap kenyal.

Laki-laki memang kurang ajar. Dia membenci apa-apa yang kendur!”


Bila para perempuan kelihatan tulus ikhlas memanjakan Srintil, tidak demikian dengan


para lelaki. Pak Simbar, penjual sabun di pasar Dawuan berkata dengan mata bersinar-

sinar kepada Srintil. “Eh, wong kenes, wong kewes. Aku tahu di Dukuh Paruk orang


menggosok-gosokkan batu ke badan bila sedang mandi. Tetapi engkau tak pantas

melakukannya. Mandilah dengan sabun mandiku. Tak usah bayar bila malam nanti

kaubukakan pintu bilikmu bagiku. Nah, kemarilah.” Berkata demikian, tangan Pak

Simbar menjulur ke arah pinggul Srintil. Aku melihat dengan pasti, Srintil tidak

menepiskan tangan laki-laki itu. Bangsat!


Babah Pincang yang duduk hampir tenggelam di tengah dagangannya ikut berbicara.

Juga dengan wajah beringas dan mata berkilat.


“Nah. Aku punya sandal kulit. Mulah. Balang baik. Na, kamu olang tida pantas

beltelanjang kaki. Betismu bagus. Bayal sandalku. Nanti aku juga mau bayal kalau aku

tidul di Dukuh Paluk.”


Seperti juga Pak Simbar, Babah Pincang juga gatal tangan. Bukan pinggul Srintil yang

digamitnya, melainkan pipinya. Kali ini pun Srintil tak berusaha menolak. Bangsat lagi!


Onggokan singkong dan karung-karung tetap menyembunyikan diriku dari pandangan

Srintil sampai ronggeng itu keluar dari pasar. Di belakangnya, Nyai Kartareja membawa

keranjang yang sarat dengan barang belanjaan. Mata semua laki-laki memandang ke

sana: ke pinggul atau betis Srintil. Atau tengkuknya yang putih di bawah rambut hitam

yang tersanggul halus. Seruan cabul terdengar dari sudut-sudut pasat Dawuan. Terkadang

Srintil menoleh ke belakang dengan lirikan yang mengundang birahi. Sementara para

perempuan bergumam sambil berpura-pura sibuk dengan dagangan masing-masing.


Terdengar bunyi lonceng sado dan derap kaki kuda. Srintil bersama Nyai Kartareja

meninggalkan pasar Dawuan. Sado akan mengantarkan mereka sampai ke ujung

pematang. Srintil dan pengiringnya akan berjalan di atas pematang itu sampai ke Dukuh

Paruk. Selama setengah jam keduanya akan disiram terik matahari tanpa sebatang pohon

pun meneduhi.


Di sarangku di balik onggokan singkong itu, aku masih mengenangkan Srintil. Bukan

dalam kenangan yang utuh dan melambung indah, melainkan dalam gambaran yang

mulai pudar. Srintil telah menjadi dirinya sendiri, dalam kedaulatan yang sulit kugugat.

Dia dengan sadar dan bangga menjadi ronggeng dan sundal, dua predikat yang tiada

beda. Aku tahu betul Srintil berhak mencari sebutan apa pun yang dia sukai. Apalagi

Dukuh Paruk akan hambar tanpa calung dan ronggeng.


Memang dengan penampilan Srintil yang sekarang, aku mulai mendapat kesulitan

memperoleh secuil gambaran Emak pada dirinya. Emak memang perempuan Dukuh

Paruk. Sekali pun aku tak pernah membayangkan Emak bukan menjadi bagian

pedukuhan terpencil itu. Jadi Emak, seperti para perempuan Dukuh Paruk, tidak

mengharamkan persundalan. Dia, meski hanya hidup dalam angan-anganku, bukan

perempuan suci seperti yang kelak kubaca dalam buku-buku dongeng. Tetapi demi rahim

yang pernah membungkusku, aku tak tega membayangkan Emak sebagai perempuan

yang selalu ramah terhadap semua laki-laki. Yang tak pernah menepis tangan laki-laki

yang menggerayanginya. Tidak. Betapapun aku tak mampu berkhayal demikian.


Pasar Dawuan sedikit demi sedikit merenggangkan hubunganku dengan Srintil. Bukan

hanya dalam arti lahir, terlebih-lebih dalam arti batiniah. Pasar Dawuan juga ternyata

memberikan cakrawala luas padaku tentang banyak hal. Dulu, dunia bagiku adalah

Dukuh Paruk dengan sumpah serapahnya, dengan kemelaratannya dan dengan

kecabulannya yang sah. Sampai hari-hari pertama aku menghuni pasar Dawuan, aku


menganggap nilai-nilai yang kubawa dari Dukuh Paruk secara umum berlaku pula di

semua tempat.


Ternyata tidak demikian. Pengalamanku dengan Siti akan membuktikannya. Lebih dari

itu, karena Siti secara tidak langsung mengajariku bahwa dunia perempuan takkan

terwakili oleh Srintil seorang.


Siti, seorang gadis seusia Srintil. Setiap pagi dia membeli singkong di pasar Dawuan.

Ibunya menjadi penjual berjenis-jenis makanan yang terbuat dari umbi akar tersebut. Ibu

Siti tidak berjualan di pasar itu. Tetapi di pasar Dawuan, orang dengan mudah mendapat

segala macam keterangan. Demikian, maka aku tahu banyak tentang Siti dan ibunya.


Karena setiap pagi aku melayani Siti, maka aku mulai menyenanginya. Sikapnya yang

malu-malu dan hampir menutup diri sering merangsang diriku untuk menggodanya.

Sekali waktu aku tak berhasil mencegah tanganku yang lancang. Kerudung yang selalu

menutupi kepala Siti kusingkapkan. Putih pipinya dan keindahan tengkuknya tak bertirai

lagi. Tak ayal tanganku bergerak mencubit pipi putih itu.


Sedikit pun aku tak merasa bersalah berbuat demikian. Dukuh Paruk sepanjang usiaku

mengatakan perkara mencubit pipi sama sekali tidak tabu, apalagi dosa. Kata ‘dosa’

sendiri baru kudengar setelah aku meninggalkan Dukuh Paruk. Tetapi karena

kelancangan tangan itu aku mendapat pengalaman baru yang getir. Setelah kucubit

pipinya, Siti membeliakkan mata. Pipinya merah rona. Gadis itu terpaku sejenak dengan

tatapan mata menghunjam jantungku. Mula-mula aku senang karena dengan pipi merah

itu Siti bertambah cantik. Namun aku jadi terkejut ketika Siti berlari dengan

melemparkan singkong yang telah dibelinya.


Kejadian itu memancing tawa orang-orang di sekelilingku. Aku terpaku karena heran

dan terkejut. Hanya mencubit pipi. Apa yang luar biasa dalam perilaku sepele itu?

Bukankah di Dukuh Paruk aku sudah mencium pipi Srintil dan dia sama sekali tidak

marah, bahkan tertawa manja?


“He, jangan samakan Siti dengan gadis-gadis Dukuh Paruk. Dia marah karena

menganggap kau memperlakukannya secara tidak senonoh,” kata seseorang, entah siapa


karena aku tak berani mengangkat muka.


“Lihat-lihatlah bila hendak menggoda seorang gadis, Rasus!” kata seorang lainnya. “Di

sini memang pasar. Perempuan yang datang berbelanja kemari tidak semua berasal dari

Dukuh Paruk. Seorang sundal pun, bila dia bukan perempuan Dukuh Paruk, akan marah

bila tersentuh pipinya di depan orang banyak. Meski hanya berpura-pura, namun

demikianiah adanya.”


Masih banyak celoteh lain yang kudengar. Tetapi aku tak bisa memperhatikan semuanya.

Aku sedang terlanda masuknya nilai baru ke dalam hati, bahwa soal mencubit pipi di luar

Dukuh Paruk bisa mendatangkan urusan. Lain benar keadaannya dengan Dukuh Paruk.

Di sana, seorang suami misalnya, tidak perlu berkelahi bila suatu saat menangkap basah

istrinya sedang tidur bersama laki-laki tetangga. Suami tersebut telah tahu cara bertindak

yang lebih praktis; mendatangi istri tetangga itu dan menidurinya. Habis segala urusan!

Tanah airku yang kecil itu hanya mengajarkan pengertian moral tanpa tetek-bengek.

Buktinya, siapa anak siapa tidak pernah menjadi nilai yang kaku dan pasti, oleh

karenanya tidak pernah menimbulkan urusan. Di sana, di Dukuh Paruk, aku juga tahu ada

obat bagi perempuan-perempuan mandul. Obat itu bernama lingga; kependekan dua kata

- yang berarti penis tetangga. Dan obat itu, demi arwah Ki Secamenggala, bukan barang

tabu apalagi aneh. Tetapi mengapa hanya karena aku mencubit pipi Siti, orang-orang

menertawakanku?


Ah. Biarlah, bagaimana juga aku yang harus mengalah, dengan mulai belajar menerima

kenyataan, bahwa di luar tanah airku yang kecil berlaku nilai-nilai yang lain. Banyak

sekali. Misalnya kata umpatan “asu buntung”, yang bisa didengar setiap menit di Dukuh

Paruk tanpa akibat apa pun, merupakan kata penghinaan paling nista di luar pedukuhan

itu.


Pengalaman malam hari dengan perempuan-perempuan pasar Dawuan juga memperluas

cakrawalaku. Gadis-gadis warung di sekeliling pasar Dawuan kebanyakan senang

bergurau dengan para lelaki. Ulahnya tidak jauh berbeda dengan perempuan Dukuh

Paruk. Beberapa di antaranya mau menerima uangku dan tidak berkeberatan kubawa

pergi.


Tokh tidak semuanya demikian. Yang tercantik di antara mereka selalu menutup diri di

samping ayahnya. Dia bersembahyang, sesuatu yang baru kulihat di luar Dukuh Paruk.


Gadis-gadis lain berbisik kepadaku agar jangan mencoba menggoda si alim itu. Kata

mereka, hanya laki-laki bersembahyang pula bisa berharap pada suatu saat bisa

menjamahnya. Itu pun bila telah terjadi ikatan perkawinan yang sah. Pelanggaran atas

ketentuan itu adalah dosa besar. Nah, Rasus dari Dukuh Paruk belum mampu memahami

semuanya. Perkawinan yang sah, dosa besar, merupakan ungkapan yang baru kudengar.

Terserah pada sejarahku nanti apakah aku bisa menghayati pengertian itu atau aku akan

tetap didikte oleh nilai-nilai yang kukenal sejak di Dukuh Paruk.


Makin lama tinggal di luar tanah airku yang kecil, aku makin mampu menilai kehidupan

di pedukuhan itu secara kritis. Kemelaratan di sana terpelihara secara lestari karena

kebodohan dan kemalasan penghuninya. Mereka hanya puas menjadi buruh tani. Atau

berladang singkong kecil-kecilan. Bila ada sedikit panen, minuman keras memasuki

setiap pintu rumah. Suara calung dan tembang ronggeng menina-bobokkan Dukuh Paruk.

Maka benar kata Sakarya, bagi orang Dukuh Paruk kehidupan tanpa calung dan ronggeng

terasa hambar. Calung dan ronggeng pula yang memberi kesempatan mereka bertayub

dan minum ciu sepuas-puasnya.


Pengenalanku atas dunia perempuan di luar Srintil juga membawa perubahan.


Kedudukannya sebagai idola serta cermin di mana aku mencari bayangan Emak lama-

lama surut dan akhirnya lenyap sama sekali.


Sosok Emak yang kulukis dalam angan-angan selama bertahun-tahun, dengan berat hati

harus kumusnahkan. Dulu aku begitu yakin Emak mempunyai cambang halus di pipi

seperti Srintil. Atau lesung pipit di pipi kiri. Suaranya lembut dan sejuk dengan senyum

yang menawarkan duka seorang anak yang selalu merindukannya. Kulitnya putih,

dadanya subur di mana selama dua tahun aku bergantung menetek dan bermanja.


Sungguh. Meski berat sekalipun gambaran tentang diri Emak harus kuhancurkan dan

menggantikannya dengan citra yang lain. Maka dalam pikiranku sudah kunyalakan api

pada setumpuk kayu bakar. Kubayangkan seorang perempuan kulemparkan dengan

tanganku sendiri ke atas kobaran api itu. Perempuan yang mempunyai segala gambaran

keagungan itu hangus dan lenyap dimakan api.


Sebagai gantinya muncul perempuan lain dengan ciri-ciri khas Dukuh Paruk. Rambut

kusut dengan ujung kemerahan. Wajah lesu dan pucat karena sehari-hari tidak cukup

makan. Sepasang tetek dengan puting hitam, hanya subur pada waktu panen. Sepasang


telapak kaki yang lebar dengan endapan daki melapisinya. Kata-katanya kasar dengan

selingan serapah cabul. Itulah gambar seorang perempuan Dukuh Paruk, gambaran yang

lebih masuk akal. Aku harus mulai belajar menerima kenyataan bahwa sebagai

perempuan Dukuh Paruk Emak memiliki ciri-ciri seperti itu pula. Seorang mantri yang

mau membawa lari perempuan seperti itu pastilah ada kelainan pada dirinya. Kalau tidak

sinting pastilah dia seorang laki-laki bajul buntung!


Nah, aku sudah mulai mempunyai gambaran seorang emak. Meski buruk, tetapi

bayangannya mudah kuperoleh pada hampir semua perempuan Dukuh Paruk. Atau

semua perempuan yang berbelanja atau berjualan di pasar Dawuan. Memang, Srintil tetap


tak bisa kulupakan. Kenangan bersamanya karena aku mengenalnya sejak masa kanak-

kanak, tidak mungkin hilang dengan mudah. Tetapi kedudukannya dalam jiwaku, sedikit


demi sedikit bergeser ke tempat yang lebih wajar. Boleh jadi kelak pada suatu saat aku

merindukannya, kemudian mencarinya atas panggilan birahi. Siapa tahu pada suatu saat

ada uang dalam jumlah cukup dalam sakuku. Tidak pernah kudengar seorang ronggeng

menolak kehendak laki-laki yang akan memberinya uang, apalagi dalam jumlah banyak.


Bagaimana aku telah berhasil mendudukkan Srintil dalam kehidupanku secara

semestinya terbukti ketika beberapa bulan kemudian aku bertemu kembali di pasar

Dawuan. Sikap orang-orang pasar masih biasa. Ronggeng memang seorang perempuan

milik umum terutama bagi laki-laki. Bila Pak Simbar atau Babah Pincang berani

menggoda Srintil mengapa aku tidak. Aku tidak malu diketahui oleh Srintil sebagai

penjaga singkong milik orang lain. Tangan dan bajuku kotor. Di pasar aku tidak pernah

mandi kecuali kalau aku sedang tidak malas pergi ke sungai.


Maka ketika orang-orang menyambut kedatangan ronggeng Dukuh Paruk itu, aku pun

mendekat. Tanpa canggung sedikit pun Srintil kubimbing ke tempat yang lebih longgar.

Tak kupedulikan seruan maupun tatapan orang orang sekeliling.


“Kau tidak lupa padaku, Srin?”


“Heh! Tentu kau masih bernama Rasus.”


“Kau juga tidak lupa kejadian pada suatu malam di belakang rumah Kartareja?”


“Jangkrik! Jangan keras-keras. Ya, aku tak melupakan ulahmu yang tolol dan konyol

itu.”


“He-he. Tetapi aku ingin mengulanginya.”


“Kampret, jangan keras-keras. Atau kalau kau ingin membual banyak-banyak, mari kita

beli cendol. Di warung itu kelihatan sepi.”


“Nah, ayolah. Bersama seorang ronggeng, perut akan terjamin bukan?”


“Sudahlah. Kau jangan nyinyir seperti Nyai Kartareja.”


Beberapa orang berseru macam-macam ketika melihat aku menggandeng Srintil ke luar

pasar menuju warung cendol. Semua tidak kuambil peduli. Apalagi Srintil sendiri yang

membungkam mulut-mulut usil itu.


“Kalian orang-orang pasar, jangan iri hati. Rasus adalah teman lama dari Dukuh Paruk.

Atau bila kalian tetap merasa iri, tunggulah di sini. Nanti kalian akan mendapat giliran.”


Srintil pernah menyerahkan diri kepadaku di tempat gelap di belakang rumah Kartareja.

Bagiku kejadian itu hampir tak berkesan. Karena waktu itu Srintil bukan hanya sekedar

seorang ronggeng. Lagipula waktu itu kuanggap penyerahan Srintil sebagai imbalan

penyerahan keris kecil yang kulakukan kepadanya.


Di warung cendol itu terbukti pengertianku salah. Dari cara Srintil berbicara, dari

caranya duduk di sampingku dan dari sorot matanya, aku tahu Srintil mencatat kejadian

di belakang rumah Kartareja itu secara khusus dalam hatinya. Maka aku terpaksa percaya


akan kata-kata orang bahwa peristiwa penyerahan virginitas oleh seorang gadis tidak

akan dilupakannya sepanjang usia. Juga aku jadi percaya akan kata-kata yang pernah

kudengar bahwa betapapun ronggeng adalah seorang perempuan. Dia mengharapkan

seorang kecintaan. Laki-laki yang datang tidak perlu mengeluarkan uang bila dia menjadi

kecintaan sang ronggeng.


“Rasus, kau menghilang dari Dukuh Paruk sejak kejadian malam hari di belakang rumah

Kartareja. Jangkrik! Aku sungguh tak mengerti mengapa kau bertindak demikian.”


Jika Srintil mengajukan pertanyaan seperti itu beberapa bulan yang lalu, aku akan sulit

mencari jawabnya. Kalaupun aku menemukannya, pastilah muluk, karena aku masih

menghubungkan Emak dengan diri Srintil. Tetapi di warung cendol itu mulutku dengan

lancar memberikan jawaban kepada Srintil.


“Karena engkau telah sah menjadi ronggeng. Selamanya aku tak ingin bertemu lagi

denganmu kecuali aku mempunyai uang.”


“Jadi begitukah rupanya, Rasus?”


“Ya, mengapa?”


“Apakah waktu itu aku juga minta uang kepadamu?”


Srintil menundukkan kepala ketika mengucapkan kata-kata itu. Sebelum aku bisa

membuka mulut, Srintil bangkit meninggalkanku. Aku terpana dan hanya mampu melihat

dia mengangkat keranjang belanjaannya ke atas sado. Ketika sais membunyikan cambuk

buat melarikan kuda, hatiku yang terlecut.


Aneh, ternyata selama setahun penuh aku belum juga menginjakkan kaki ke Dukuh

Paruk. Bagiku, bila mendengar Nenek masih mengiris-iris singkong untuk dibuat gaplek


serta pergi ke tanah kosong buat menggembala kambing, itu sudah cukup. Pasar Dawuan

selama satu tahun itu sekali-sekali menjadi tempat pertemuanku dengan Srintil.

Terkadang Srintil mengajakku ke sebuah rumah tidak jauh dari pasar Dawuan. Meskipun

Srintil selalu marah bila disebut sundal, tetapi dia tahu betul setiap rumah yang bisa

disewa untuk perbuatan cabul. Dia membuktikan kata-katanya bahwa dariku dia tidak

mengharapkan uang. Bahkan suatu ketika dia mulai berceloteh tentang bayi, tentang

perkawinan.


Lucu.


Seorang ronggeng berceloteh tentang perkawinan, tentang seorang bayi. Sebagai anak

Dukuh Paruk sejati, aku langsung bisa mencurigainya. Aku tahu benar perkawinan di

Dukuh Paruk bukan barang muluk, apalagi kudus, maka para perempuan di sana tak perlu

memujanya. Perkawinan dalam urusannya dengan kepentingan hayati bisa didapat

dengan mudah, apalagi bagi Srilitil yang cantik. Bila Srintil menginginkan seorang bayi,

mengapa dia cemas? Bukankah berpuluh lelaki telah menabur benih?


Orang-orang di luar Dukuh Paruk tidak mengerti di mana letak persoalannya. Betapapun

perempuan Dukuh Paruk hidup dalam dunianya yang tersendiri, naluri mereka yang ingin


beroleh keturunan sama dengan perempuan-perempuan lain. Mereka membenci kambing-

kambing yang tak bisa beranak, apapula terhadap diri yang mandul. Mereka merasa


mengemban amanat suci Ki Secamenggala agar keturunan moyang orang Dukuh Paruk

itu tidak punah termakan malapetaka maupun kemelaratan. Hal ini berarti: bayi. Aku

menduga keras Srintil mulai dihantui kesadaran bahwa Nyai Kartareja telah memijit

hingga mati indung telurnya, peranakannya. Suami-istri dukun ronggeng itu merasa perlu

berbuat demikian sebab hukum Dukuh Paruk mengatakan karir seorang ronggeng terhenti

sejak kehamilannya yang pertama. Kukira Srintil mulai sadar kemandulan adalah hantu

mengerikan yang akan menjelang pada hari tua. Atau Srintil telah mendengar riwayat

para ronggeng yang tak pernah mencapai hari tua karena keburu dimakan rajasinga atau

penyakit kotor lainnya.


Entahlah.


Yang jelas celoteh Srintil tentang bayi dan perkawinan hanya kuanggap sebagai

ungkapan perasaan secara emosional, tanpa suatu alasan yang mendukungnya. Lagipula

aku merasa rendah diri karena Srintil telah menjadi ronggeng yang benar-benar kaya.


Namun seandainya benar keinginan Srintil memperoleh seorang bayi terdorong

ketakutannya menghadapi hari tua, aku tak bisa berbuat lain kecuali iba. Sangat iba!


Tahun 1960 wilayah kecamatan Dawuan tidak aman. Perampokan dengan kekerasan

senjata sering terjadi. Tidak jarang para perampok membakar rumah korbannya. Aku

yang selalu tidur di sudut pasar Dawuan mulai merasa takut. Mulai terpikir olehku

apakah sudah tiba saatnya bagiku kembali ke Dukuh Paruk? Aku berharap para perampok

tidak tertarik pada pedukuhan itu karena letaknya yang berada di tengah sawah. Menurut

perhitunganku, andaikata terjadi perampokan di sana polisi gampang mengepungnya.


Ternyata hingga dua tahun berikutnya aku belum juga datang melihat Dukuh Paruk.

Bahkan aku meninggalkan pasar Dawuan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain,

bersama sekelompok tentara di bawah pimpinan Sersan Slamet.


Kelak akan terbukti nasib mengubah kehidupanku secara ajaib. Dimulai pada suatu sore

di depan pasar Dawuan. Pasar begitu sepi. Apalagi perampokan makin hari makin sering

terjadi. Sebuah truk penuh tentara berhenti. Kira-kira dua puluh orang tentara turun,

masing-masing dengan topi baja dan bedil. Banyak anak-anak menyingkir melihat

kedatangan para tentara itu. Mereka terutama takut kepada bedil.


Aku sendiri berdiri dan memandang dari jauh di depan gerbang pasar. Kulihat seorang

tentara, yang kemudian kukenal sebagai Sersan Slamet, mencari seseorang untuk

membantu menurunkan peti-peti serta barang-barang lainnya. Dia tidak melihat seorang

pun kecuali aku. Jadi lambaian tangannya kemudian diarahkannya kepadaku.


Tak ada anak Dukuh Paruk yang tidak gemetar menerima panggilan seorang tentara.

Aku hampir melangkah surut bila Sersan Slamet tidak mengulangi lambaiannya. Bahkan

kulihat senyumnya yang kemudian mengurangi ketakutanku.


“Siapa namamu?” tanya Sersan Slamet. Gayanya ramah kebapakan.


“Rasus.”


“Bila tidak sedang sibuk kuminta kau mau membantu kami.”


“Tidak. Aku tidak mempunyai kerja saat ini,” kataku masih dengan rasa takut tersisa di

hati.


“Jadi kau mau membantu kami?”


Aku mengangguk.


“Baik Marilah mulai. Angkut peti-peti itu ke rumah sana. Nanti ada upah tersedia

bagimu.”


Pekerjaan kumulai. Peti-peti logam serta barang berat lainnya kuangkat di atas pundak

dan kubawa ke sebuah rumah batu yang ternyata telah dipersiapkan sebagai markas

tentara. Dari rasa takut lambat laun berubah menjadi rasa bangga. Seorang anak Dukuh

Paruk bekerja dalam kelompok tentara. Meski pakaianku tidak seragam dengan mereka,

tetapi aku berjalan beriring dengan mereka. Bahkan aku sudah berbicara dengan

pemimpin mereka, Sersan Slamet. Aku telah berkenalan dengan seorang tentara.


Karena merasa bangga bekerja dengan sekelompok tentara maka aku mampu

mengeluarkan tenaga lebih dari biasanya. Bila mereka mengangkat peti itu satu-satu, aku

mengangkatnya sekaligus dua buah di pundakku. Dalam waktu sekian menit mereka

hanya bisa membawa sebuah barang dari truk ke markas. Tetapi dalam waktu sama aku

telah dua kali hilir-mudik. Rupanya Sersan Slamet mencatat hal ini.


Setelah semua barang selesai dibawa ke markas itu, aku minta diri hendak pulang ke

sarangku di pasar Dawuan. Sersan Slamet menahanku. Aku dimintanya lebih lama

membantunya. Maka rumah kosong yang hendak jadi markas itu kusapu. Ketika aku

sedang bekerja Sersan Stamet memberiku sepasang pakaian tentara bekas. Aku diminta


segera mengenakannya. Jadilah aku berseragam hijau.


Aku mengira sepasang pakaian bekas yang sudah bertisik di sana-sini itu adalah upah

yang dijanjikan Sersan Slamet sesaat aku mulai bekerja. Rupanya tidak demikian. Sersan

itu telah menjeratku agar aku mau bekerja menjadi kacung yang harus melayani diri serta

seluruh anggota pasukannya. Untung, aku tidak bersangkut-paut dengan para gerombolan

yang sering mengacau wilayah Dawuan. Bayangkan bila aku seorang anggota

gerombolan, atau setidaknya seorang mata-mata mereka yang kuketahui banyak di antara

penduduk, maka keputusan Sersan Slamet mengangkatku menjadi pelayannya sungguh

suatu kesalahan besar.


Menjelang sore semua yang harus kukerjakan telah beres. Sersan Slamet menyuruhku

duduk. Di hadapan beberapa tentara lain, sersan itu menanyaiku.


“Rasus, dengan pakaian itu engkau telah pantas menjadi seorang tobang. Kami

memerlukan seseorang untuk melayani kami dalam tugas. Tentu saja bila kau bersedia

memikul tugas itu kelak kau akan menerima gaji. Bagaimana?”


Jawaban apa pun tidak bisa segera kuberikan. Tetapi dalam hati aku bersorak-sorai. Bila

tawaran itu kuterima, maka pasti aku akan menjadi anak Dukuh Paruk pertama yang

berseragam hijau, berbicara dalam bahasa Indonesia, lagipula menerima gaji. Bukan main

hebat! Srintil akan melihat seorang yang pernah dikenalnya bernama Rasus berseragam

tentara, meski tanpa pangkat. Sakarya dan Kartareja yang telah menciptakan Srintil

menjadi seorang ronggeng sehingga aku kehilangan bayangan Emak, akan terbata-bata

bila suatu saat kudatangi. Rasakan dia.


“Lho. Engkau tetap diam, Rasus. Engkau menolak atau hanya bingung memikirkan

tawaranku?” tanya Sersan Slamet.


“Tidak demikian, Pak. Aku hanya merasa sangsi apakah aku dapat memenuhi syarat

untuk memikul tugas yang akan kuterima itu,” kataku merendah.


“Siapa saja yang mempunyai cukup tenaga serta kejujuran, dapat melaksanakan tugas

sebagai tobang. Tentang tenaga, aku sudah merasa pasti engkau memilikinya dengan

cukup. Kejujuranmu sudah terpancar dari wajah dan sinar matamu sendiri. Jadi aku

merasa pasti pula engkau mampu menjadi seorang tobang.”


“Kalau demikian penilaian Sersan, maka aku hanya menurut,” jawabku tanpa

mengangkat muka.


“Katakan; ya! Kami tentara. Kami memerlukan ketegasan dalam setiap sikap,” kata

Sersan Slamet tegas. Tetapi dari nadanya aku tak menangkap kekerasan.


“Ya. Tawaran itu kuterima!”


“Bagus. Engkau mulai berbicara seperti seorang tentara.”


“Tetapi...”


“Tetapi? Tentara tak pernah berbicara ‘tetapi’ bila keputusan telah diambil.”


“Singkong-singkong yang selama ini kujaga harus secara tegas dan pasti kuserahkan

kembali kepada pemiliknya. Seperti tentara, seorang tobang harus tegas!”


Pada hari-hari pertama menjadi tobang, banyak hal baru yang kurasakan. Siang hari aku

mencuci pakaian-pakaian tentara, melap sepatu-sepatu. Urusan dapur menjadi bagianku

pula. Aku melakukan bagian ini dengan senang hati karena di samping memasak aku

berkesempatan pergi berbelanja ke pasar Dawuan. Di sana aku pamer dengan baju

seragam. Semua orang yang pernah mengenalku di pasar itu memujiku. Bahkan pemilik

singkong yang pernah beberapa belas bulan menjadi majikanku, tak berani memanggilku

dengan nama, melainkan dengan sebutan “mas tobang”. Aku berharap Srintil secepatnya

mengetahui perubahan diriku lalu datang berbelanja ke pasar Dawuan. Sayang belum satu


pun orang Dukuh Paruk kujumpai di pasar itu.


Sebulan sejak kedatangan pasukan tentara tak terdengar peristiwa perampokan di

wilayah Dawuan. Meskipun tentara tetap siaga dan berpatroli di malam hari, tetapi

setidaknya aku merasakan suasana yang tenang di antara mereka. Hubunganku dengan

Sersan Slamet lebih dapat dikatakan sebagai hubungan pribadi daripada sebagai

hubungan antara seorang tobang dan seorang sersan. Dia banyak bertanya tentang diriku,

asal-usulku bahkan sekolahku. Dia mengajariku menulis dan membaca setelah

mengetahui aku tak pernah bersekolah. Berbagai kisah diceriterakan kepadaku. Tetapi

yang kusenangi adalah kisah seorang tentara pelajar yang karena keberaniannya dapat

membunuh tiga serdadu musuh dalam suatu pertempuran. Pada umumnya Sersan Slamet

bersikap lembut kepadaku. Tetapi jiwa tentaranya harus muncul juga. Misalnya beberapa

hari setelah aku bergabung dengan pasukannya, dia pernah berkata. “Sebagai seorang

tobang segala sesuatu yang kauketahui di sini menjadi rahasia penting. Kau harus

menjaganya sekuat tenaga. Dengan orang luar kau hanya dibenarkan berbicara

seperlunya. Kalau kuketahui kau melakukan kesalahan, aku sendiri yang akan

menghukummu. Bila perlu dengan pestolku!”


Berbagai pengetahuan takkan pernah kudapat bila aku tak berkesempatan mengenal

Sersan Slamet. Hanya dua bulan aku belajar membaca dan menulis. Sesudah itu aku

mulai berkenalan dengan buku-buku, dari buku ceritera wayang, buku sejarah sampai

buku-buku yang berisi pengetahuan umum. Seluk-beluk senjata juga kuperoleh dari

sersan yang baik itu. Dari namanya seperti Pietro Beretta, Parabellum, Lee Enfield,

Thomson dan sebagainya.


Cara bongkar pasang dan penggunaannya pun diajarkan oleh Sersan Slamet kepadaku.

“Siapa tahu pada saat yang kritis kau harus ikut memegang senjata dalam pertempuran,”

kata sersan itu sambil tersenyum. Boleh jadi Sersan Slamet tidak tahu hatiku melambung

sampai ke langit karena mendengar ucapannya. Andaikata Emak mendengar kata-kata

itu!


Suatu pagi kudengar Sersan Slamet berkata kepada bawahannya. Bahkan aku pun

dipanggilnya mendekat.


“Sampai hari ini kiriman bahan makanan belum juga tiba. Padahal persediaan sudah

menipis. Kita membutuhkan daging segar. Terus-menerus memakan daging dan makanan


kaleng tidak baik untuk lambung kita. Jatah untuk pembeli daging segar sudah habis. Kita

putuskan berburu babi atau kijang di hutan.”


“Berita bagus,” kata kopral Pujo, “aku ikut.”


“Tidak. Kopral tinggal di sini dan kuserahi tanggung jawab. Aku hanya memerlukan dua

orang serta Rasus sebagai penunjuk jalan.”


Bila Kopral Pujo bersuka-ria mendengar berita itu, apalagi aku yang bahkan akan

diajaknya serta. Berburu bersama tiga orang tentara ke hutan. Orang kampung akan

melihat Rasus berjalan beriringan dengan tentara. Mereka akan melihat Rasus

mengenakan baju hijau. Pasti mereka akan bergumam. Anak Dukuh Paruk yang satu itu

memang luar biasa, dapat menjadi tentara. Apalagi bila aku dapat dipercaya memanggul

bedil. Pasti akan berlipat kekaguman orang kampung padaku. Dalam perjalanan pulang

aku akan memanggul sendiri hasil buruan. Babi atau kijang.


Tak pernah kuimpikan sebelumnya bahwa suatu pengalaman yang amat luar biasa

kuperoleh dalam kesempatan berburu itu. Bukan dengan binatang buruan, bukan pula

dengan gerombolan perampok yang bersembunyi di hutan.


Kira-kira jam delapan kami berangkat dan Dawuan. Di punggungku ada ransel berisi

perbekalan. Di pinggangku yang sebelah kiri tergantung termos dan pinggang kanan

terselip pisau belati bersirung. Aku merasa diriku luar biasa gagah saat itu. Benar,

sepanjang perjalanan ke hutan semua orang yang kebetulan berpapasan denganku

bersama tiga orang tentara berdiri sesaat hanya untuk mengagumi seorang anak Dukuh

Paruk. Anak-anak kecil segera bersembunyi, meski mereka kupanggil dengan bahasa ibu.


Sampai di hutan, perburuan langsung dimulai. Dalam hal ini aku kecewa karena tiga

orang tentara yang kuiringkan sama sekali tak berpengalaman dalam hal berburu. Celeng

sama sekali tak terlihat barang seekor. Kijang memang terlihat tetapi Sersan Slamet yang

menjadi algojo gagal menembak sasarannya. Sampai sore hari ketika perburuan

dihentikan, para pemburu hanya kehilangan dua peluru. Satu unruk menembak kijang

yang ternyata tak mengena. Satu lagi untuk menembak seekor ular sanca sebesar paha

yang bergelung di atas pohon.


Jadi di tengah hutan itu aku mempunyai pekerjaan menguliti seekor ular besar,

memotonginya pendek-pendek, kemudian memasukkannya dalam tiga buah ransel.

Sesungguhnya aku tak menyukai pekerjaan semacam itu. Tetapi demi Sersan Slamet

segalanya kulakukan, meski beberapa kali aku hampir muntah. Bau anyir dan sengak

menggelitik lambung dan mengaduk-aduk isinya.


“Selesaikan pekerjaanmu,” kata Sersan Slamet. “Aku mau tidur barang sebentar. Cepat

bangunkan aku bila kau melihat sesuatu yang mencurigakan.”


“Celeng atau kijang?” ujarku bergurau. Sersan Slamet hanya tersenyum lalu merebahkan

diri di bawah pohon. Kedua tentara lain malah sudah tak bergerak-gerak lagi, tertidur

pulas.


Sesungguhnya aku sangat ahli dalam hal mengupas singkong. Tetapi perkara menguliti

seekor ular yang hampir empat meter panjangnya baru sekali itu kulakukan. Untung,

sebelum pergi tidur Sersan Slamet memberikan petunjuknya. Kepala ular kuikat dengan

tali. Ujung tali yang lain kuikatkan pada sebatang pohon. Pada lehernya kubuat irisan

melingkar. Dari irisan itu kulit ular kukupas ke belakang. Tenagaku hampir terkuras habis

untuk menarik kulit ular itu. Hasilnya adalah sebuah kantung panjang yang terbalik.

Pekerjaan selanjutnya tidak memeras banyak tenaga. Ternyata banyak daging ular yang

harus kubuang. Dua buah ransel sudah penuh. Ransel ketiga untuk diisi dengan kulit

binatang itu.


Semuanya selesai sudah.


Aku bangkit berdiri untuk memutar tulang punggung. Sepi. Sersan Slamet dan dua orang

anggotanya masih terlelap. Aku tidak mempunyai keberanian membangunkan ketiga

anggota tentara itu. Maka aku hanya duduk berdiam diri dalam kelengangan hutan yang

terasa bertambah hening tanpa kehadiran angin. Setiap kali kutoleh ke belakang tampak

tiga sosok tubuh yang tetap nyenyak. Heran. Dalam keadaan tidur sedikit pun tak tampak

keperkasaan seorang tentara.


Ketika kupandangi tiga pucuk bedil yang dibiarkan tersandar oleh majikannya, tiba-tiba

muncul ilham gemilang. Sampai kapan pun aku tak bisa mengerti mengapa ilham itu

datang pada saatnya yang amat sangat tepat. Kedatangannya akan terbukti nanti mampu

mengakhiri derita panjang yang menista hidupku selama bertahun-tahun.


Ketiga bedil itu masih tersandar di tempatnya. Selagi Sersan Slamet bersama dua

rekannya pulas, aku bisa menggunakan salah sebuah bedil mereka untuk kepentinganku


sendiri. Aku mempunyai musuh bebuyutan yang meski hanya merajalela dalam angan-

angan, sudah sekian lama aku ingin menghancurkan kepalanya hingga berkeping-keping:


mantri yang telah membawa Emak melarikan diri entah ke mana. Ketika datang

kesempatan buat menghancurkan kepala mantri itu, mengapa aku tidak segera bertindak?


Cepat! Jangan tunggu sampai ketiga orang tentara itu terjaga. Bayar kesumatmu

sekarang juga! Demikian sebuah suara terdengar jelas dalam hatiku sendiri.


Aku patuh. Tindakan pertama, kucari sebongkah batu cadas sebesar kepala. Kuangkat

dia ke atas sebuah tonggak kayu. Dengan pisau belati batu cadas itu kuukir. Ada gambar

mata, hidung dan bibir. Tak kulupakan kumis panjang yang melintang. Sehelai daun jati

kuletakkan di atas batu cadas itu. Maka lengkaplah kepala mantri keparat yang telah

mencuri Emak. Mantri yang menurut ceritera Nenek selalu berkumis dan memakai topi

gabus.


Dari jarak beberapa langkah aku menatap hasil rekaanku. Tak salah lagi. Itulah mantri,

musuh bebuyutanku. Bajingan tunggulah balas dendamku beberapa detik lagi.


Kulihat kiri-kanan. Sepi. Hanya seekor dadali terbang melintas di langit. Biarlah dia

menjadi saksi tunggal atas perbuatan yang akan kulakukan. Aku akan membayar dendam.

Dengan berjingkat aku mencapai salah sebuah bedil itu. Sebuah Lee Enfield. Tanganku

gemetar ketika mengangkatnya. Bukan karena aku baru kali pertama menjamah sebuah

senjata api. Bukan. Sudah kukatakan aku mengenal berbagai jenis senjata sejak aku

bergabung dengan Sersan Slamet. Tanganku gemetar karena gejolak dalam hatiku

sendiri. Gemetar karena rasa kesumat yang sesaat lagi akan terlampiaskan.


Pelan, pelan sekali aku melangkah mundur. Aku takut salah seorang dari ketiga tentara

itu bangun. Bila sampai terjadi demikian gagallah rencanaku membalas dendam kepada

mantriku yang keparat, Kemudian aku berbalik. Demikian maka aku berdiri beberapa

langkah di depan kepala mantri. Aku kembali membuat gerakan yang begitu pelan, ketika

aku menarik handel untuk mengokang bedil di tanganku. Lirih sekali sehingga kuharap

kuman yang berada di telapak tanganku tak mendengar bunyi pegas yang kurentang.


Denyut jantungku ternyata mampu menggerak-gerakkan ujung laras bedil yang telah

tertuju lurus pada sasaran. Kepala mantri itu! Maka aku masih menunggu sampai

jantungku sedikit lebih tenang.


Saat telah tiba.


Bedil kembali kuarahkan kepada sasaran. Kubayangkan bagaimana seorang anggota

regu tembak berdiri menunaikan tugas menembak mati seorang musuh. Dialah yang

kutiru. Picu kutarik. Ledakan dendam membuat gerak telunjuk kananku menjadi kuat dan

pasti. Aku hampir tidak mendengar letupan karena seluruh indera terpusat kepada kepala

mantri yang hancur dan terlempar ke belakang. Topi gabusnya terbang entah ke mana.


Ya Tuhan! Detik berikutnya aku mendengar Sersan Slamet dan kedua temannya

terbangun. Sedetik lagi aku mendengar hardikan yang amat keras disusul sebuah telapak

tangan mendarat di pipiku. Bedil di tangan direnggutkan dengan begitu kasar.


Tetapi aku tidak pedulikan semuanya. Aku sedang menikmati kepuasan batin yang amat

sangat. Mantriku telah mati. Kepalanya hancur sampai tak mungkin orang mengenalinya

kembali. Tidak kupedulikan ketiga tentara yang kemudian berdiri bingung, aku maju


hendak melihat hasil tembakanku. Luar biasa. Kepala mantri tinggal menjadi kepingan-

kepingan kecil. Seorang lelaki dengan kepala hancur seperti itu takkan bisa membawa


lari Emak. Sejak saat itu dia sudah menjadi bangkai. Emak telah kubebaskan. Dia akan

kuajak kembali ke Dukuh Paruk sekarang juga. Aku menang, menjadi putera paling

perkasa yang berhasil gemilang membebaskan Emak tercinta dari genggaman setan.


Kukira kesadaran sedang kembali kepada diriku ketika aku berdiri kaku menghadap tiga

orang tentara yang memandangku dengan heran. Badanku basah oleh keringat dingin.


Tangan dan kakiku gemetar. Tetapi aku berusaha membuat langkah pertama ke arah


Sersan Slamet. Sayang aku tak sampai ke tujuan. Kulihat segalanya berputar jungkir-

balik. Apa yang terjadi kemudian aku tak mengetahuinya lagi.


Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Ingatan pertama yang kurasakan adalah ketika

Sersan Slamet menuangkan kopi hangat dari termosnya ke dalam mulutku. Kemudian

dari mulut yang belum sepenuhnya terkendali masih terlontar kata-kata, “Mak, kau sudah

bebas sekarang. Mari pulang!”


“Ya, kau sudah sadar. Kita akan segera pulang,” ujar Sersan Slamet. Kata-kata itu

membuatku lebih tersadar.


“Oh, Sersan. Aku telah membuat kesalahan. Aku mohon maaf,” kataku sambil bangkit

duduk.


“Aku harus mengerti lebih dulu mengapa semua ini kaulakukan. Kau sudah bisa

menerangkannya sekarang?”


“Maaf, Sersan, aku tak bisa menerangkannya sekarang. Atau hukumlah aku. Kesalahan

telah kuperbuat dengan meledakkan sebuah peluru dengan maksud yang sukar Sersan

mengerti. Sungguh, Sersan, aku rela menerima hukuman apa pun.


“Baik. Mari kita pulang. Tetapi kau harus berjanji nanti akan memberikan keterangan

sejelas-jelasnya kepadaku.”


“Terima kasih, Sersan. Saya berjanji.”


“Bagaimana dengan ular sanca?”


“Sudah selesai. Tinggal membawanya dalam tiga buah ransel.”


“Kau merasa sudah cukup kuat?”


“Sudah.”


“Ambil pikulan. Hukuman pertama bagimu adalah mengangkat ketiga ransel itu, seorang

diri.”


Kepada teman-temannya di markas, kedua tentara yapg ikut berburu mengatakan aku

kemasukan setan di hutan. Maka beberapa orang meminta keterangan langsung

kepadaku, dan aku hanya cukup mengiyakan. Tetapi kepada Sersan Slamet di kamarnya

kukatakan dengan panjang lebar mengapa aku menembak segumpal cadas itu. Pak Sersan

mengerti tentang alasan yang kukatakan itu.


“Maka aku sungguh minta maaf, Sersan.”


“Hanya kali ini kau kumaafkan. Kali lain tidak. Untung aku dapat memahami

penderitaan batinmu karena selama hidup engkau belum pernah melihat ibumu. Kalau

tidak hukuman yang akan kauterima cukup berat. Bayangkan, mengambil dan

menggunakan bedil. Bahkan seorang tentara harus memenuhi syarat tertentu agar

dibenarkan berlaku demikian.”--/bp/


***


Kehadiran tentara di Dawuan tidak selamanya dapat mencegah perampokan di wilayah

kecamatan tersebut. Bahkan di beberapa kampung para perampok semakin berani.

Pembunuhan terhadap para korban mulai berani mereka lakukan. Usaha mengatasi

masalah itu ternyata bukan tugas mudah bagi Sersan Slamet bersama anak buahnya.

Patroli malam hari tidak berhasil menangkap seorang perampok pun. Sebaliknya seorang

anggota tentara tewas dan seorang lainnya terluka ketika segerombolan perampok

mencegat satuan patroli malam.


Sersan Slamet mengganti taktik. Anggotanya dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil


dengan anggota dua sampai tiga orang. Setiap kelompok bertugas mengawasi rumah-

rumah penduduk yang diduga menyimpan emas permata. Orang-orang inilah yang selalu


menjadi sasaran perampokan. Satuan kecil itu meninggalkan posnya di Dawuan secara

menyamar dan sudah siap di tempat tugas ketika matahari terbenam.


Namun karena jumlah anggota yang terbatas, aku terpaksa ikut menjadi anggota satuan,

meski aku belum mendapat kepercayaan memegang senjata. Bersama Kopral Pujo aku

mendapat bagian mengawasi Dukuh Paruk. Karena aku sangat mengenal pedukuhan itu,

kata Sersan Slamet memberi alasan. Di Dukuh Paruk ada tersimpan emas. Di mana lagi

kalau bukan di rumah Srintil. Maka aku menerima tugas bersama Kopral Pujo dengan

senang hati, meski terbersit ketakutan akan bertemu langsung dengan para perampok itu.


Setiap hari sebelum matahari terbenam, aku berangkat ke Dukuh Paruk. Kopral Pujo

menyembunyikan bedilnya dalam gulungan kain sarung. Dia sendiri tidak mengenakan

seragam tentara, bahkan tanpa alas kaki. Aku hanya bersenjata sebuah lampu senter.

Kami usahakan agar kedatangan kami tidak diketahui oleh orang Dukuh Paruk sendiri.

Tempat yang kami pakai sebagai tempat mengintai terletak di ujung pematang yang

menghubungkan Dukuh Paruk dengan dunia luar. Bila sampai fajar tak terjadi sesuatu,

kami pulang ke Dawuan. Biasanya kami langsung tidur sepanjang pagi.


Sesungguhnya aku tidak berharap, sesuatu akan menimpa Dukuh Paruk. Betapapun dia

adalah tanah airku yang kecil. Tetapi pada malam kesembilan, ketika cahaya bintang

mampu menerangi pedukuhan itu, dari tempat pengintaian kulihat sinar lampu senter

mendekat. Kubuka

mataku lebar-lebar. Empat lima orang sedang berjalan beriring di atas pematang. Sinar

bintang-bintang memungkinkan mataku melihat kelima orang itu masing-masing

membawa benda panjang. Tak salah lagi, bedil.


“Aduh, Kopral. Akhirnya mereka datang juga,” kataku berbisik.


“Berapa? Mataku kurang awas.”


“Lima. Semuanya bersenjata. Kita hadapi mereka?”


“Seharusnya begitu. Tetapi jangan gila. Hanya ada sepucuk senjata pada kita. Pada

mereka ada lima bedil.”


“Jadi bagaimana? Keputusan harus segera kita ambil.”


“Nanti dulu. Aku mau kencing.”


Mengecewakan. Kopral Pujo tidak lebih berani daripadaku. Pada saat itu dia tidak bisa

mengambil keputusan. Jadi akulah yang mengambil prakarsa.


“Kita perlu bantuan. Kopral tetap di sini. Aku akan berlari secepatnya ke Dawuan.

Dalam dua puluh menit kuharap aku sudah kembali bersama Sersan Slamet.”


“Terlalu lama. Mana sentermu. Aku akan memberi isyarat ke markas.”


“Tetapi dari tempat ini isyarat itu takkan terlihat oleh Sersan Slamet. Kopral harus lari

sampai ke pertengahan pematang.”


“Tak mengapa.”


“Nah inilah senter yang Kopral minta. Aku juga akan meninggalkan tempat ini

mengikuti para perampok itu dari belakang.”


“Ya.”


“Hati-hati. Kopral jangan salah tembak nanti.”


“Ya.”


Selagi Kopral Pujo lari ke tengah pematang, aku mengendap mengikuti para perampok

yang baru beberapa menit lewat di dekat tempat pengintaian. Benar dugaanku, mereka

tidak mendatangi rumah Kartareja di mana Srintil tinggal, melainkan ke rumah Sakarya.

Dengan atap seng pemberian lurah Pecikalan, rumah Sakarya kelihatan paling menonjol

di Dukuh Paruk.


Kulihat dua orang perampok tetap tinggal di luar, satu di belakang dan lainnya di

halaman rumah. Tiga lainnya masuk ke beranda setelah membuka pintu dengan

tendangan kaki. Sakarya yang terkejut, langsung mengerti apa yang akan terjadi. Kakek

Srintil itu keluar. Di ruang tengah dia berhadapan dengan tiga orang yang mengacungkan

senjata kepadanya. Nyai Sakarya yang menyusul suaminya keluar langsung tersimpuh di

tanah.


“Ini rumah ronggeng Srintil, bukan?” bentak salah seorang perampok kepada Sakarya.

Yang dibentak menggigil ketakutan.


“Aku memang kakek Srintil. Tetapi dia tidak di sini lagi sekarang,” jawab Sakarya

dengan bibir gemetar. Salah seorang perampok menampar orang tua itu sampai

terhuyung. Lainnya menggeledah ke seluruh sudut rumah. Tak menemukan Srintil


maupun hartanya, para penjahat kembali berlaku kasar kepada Sakarya.


“Katakan di mana Srintil tinggal! Jangan membuang waktu. Bedilku bisa meledak setiap

saat.”


“Jangan, jangan. Akan kukatakan, Srintil tinggal di rumah Kartareja, tiga rumah ke timur

dari sini. Tetapi jangan kalian apa-apakan dia. Sungguh. Srintil cucu tunggal kami. Ambil

hartanya, tapi jangan cederai dia.”


“Itu urusanku. Kamu jangan mengajari kami.”


Sebelum meninggalkan rumah Sakarya para perampok membuat orang tua itu pingsan.

Pukulan di kepala dengan menggunakan lampu senter sudah cukup. Kemudian kelima

penjahat bersama-sama menuju rumah Kartareja. Dukun ronggeng itu sudah mendengar

kegaduhan di rumah Sakarya. Barang-barang emas miliknya dan milik Srintil

disembunyikannya di dalam abu tungku.


Seperti ketika datang ke rumah Sakarya, maka dua orang perampok tetap tinggal di luar

rumah. Aku berada di balik pohon hanya beberapa langkah dengan salah seorang di

antara mereka. Kudengar pintu yang didobrak. Suara-suara menghardik dan suara-suara

pukulan. Sesaat berikutnya kudengar jerit Srintil. Aku mengutuk sengit mengapa Kopral

Pujo belum juga muncul. Karena tidak sabar menunggu, maka timbul keberanianku.


Penjahat yang berdiri di belakang rumah kelihatan gelisah. Aku mencari sesuatu di

tanah. Sebuah batu sudah cukup. Tetapi yang kutemukan sebatang gagang pacul. Ketika

perampok itu membelakangiku, aku maju dengan hati-hati. Pembunuhan kulakukan

untuk kali pertama. Aku tidak biasa melihat orang terkapar di tanah. Aku belum pernah

melihat bagaimana seorang manusia meregang nyawa. Pengalaman pertama itu membuat

aku gemetar. Dan siap lari andaikata tidak tertahan oleh keadaan. Aku mendengar

langkah mendekat. Cepat aku mengambil senjata milik orang yang sudah kubunuh.

Sebuah Thomson yang tangkainya sudah diganti dengan kayu buatan sendiri. Tak

mengapa. Senjata yang telah terkokang itu kugunakan untuk pembunuhan kali kedua.


Sesudah itu aku benar-benar merasa takut. Aku lari dan berbalik sesaat untuk

menghujani rumah Kartareja dengan peluru yang masih tersisa. Kemudian aku berlari

kembali. Sampai di sawah aku bertiarap di balik pematang. Thomson itu telah

tersembunyi di dalam sebuah parit.


Ketika dalam keremangan kulihat empat sosok tubuh berlari ke arah pedukuhan, aku

mengerti Kopral Pujo sudah datang membawa bantuan.


“Tunggu, aku Rasus.”


“He, di mana mereka?” tanya Sersan Slamet.


“Di rumah Kartareja. Cepat. Dua di antara mereka telah kubunuh,” kataku dengan

menggigil.


Sersan Slamet mengatur siasat. Dia menyuruh tiga anak buahnya memasuki Dukuh

Paruk dengan tugas mengusir para penjahat keluar. Dengan Thomson-nya Sersan Slamet

akan mencegat mereka di tepi sawah.


Terdengar letupan-letupan ramai. Para perampok termakan oleh siasat Sersan Slamet.

Mereka lari ke luar rumah Kartareja. Satu orang tertembak oleh Kopral Pujo. Satu orang

lolos, tetapi senjata Sersan Slamet berhasil membunuh seorang lainnya.


Setelah suasana sepi Sersan Slamet mengajakku melihat rumah Kartareja. Kopral Pujo

dan dua temannya sudah di sana. Dengan lampu senter kucari Thomson bertangkai kayu

yang tadi kulempar ke dalam parit. Kupanggul dia dengan gagah. Di belakang rumah

Kartareja aku berhenti. Kepada Sersan Slamet kutunjukkan dua mayat. Tetapi aku hampir

muntah melihat darah begitu banyak. Sebuah senjata lagi tergeletak dekat salah seorang

mayat.


Ketika aku dan Sersan Slamet masuk, Kartareja sedang menggigil di depan Kopral Pujo.

Istrinya duduk termangu. Srintil terbelalak melihat aku membawa bedil, schingga dia

ragu-ragu mendekat. Dari keterangan Kartareja diketahui perampok hanya berhasil

membawa perhiasan yang pada saat itu dikenakan Srintil; sepasang subang, dua cincin

dan seuntai kalung. Kartareja menyuruh Srintil tetap mengenakan perhiasan itu untuk

melindungi perhiasan lain yang lebih mahal dari jarahan para perampok.


Orang-orang Dukuh Paruk keluar dan berkumpul di rumah Kartareja. Dengan obor

mereka disuruh oleh Sersan Slamet mengumpulkan empat mayat. Di hadapan orang

banyak Sersan Slamet memujiku sebagai seorang pemberani. Tentara itu tidak tahu aku

paling takut melihat darah. “Rasus sangat pantas menjadi tentara. Saya akan berusaha

agar dia diangkat secara resmi menjadi anggota kesatuan saya,” kata Sersan Slamet yang

disambut dengan gumam orang-orang Dukuh Paruk.


Empat mayat akan ditanam besok pagi untuk dikenali dulu identitasnya. Tengah malam

Sersan Slamet bersama dua anggotanya pulang ke Dawuan. Aku berdua Kopral Pujo

tetap tinggal di Dukuh Paruk.


Srintil mengikutiku ketika aku berjalan menuju rumah Nenek. Ah, semakin tua nenekku.

Kurus dan makin bungkuk. Kasihan, Nenek tidak bisa banyak bertanya kepadaku.

Linglung dia. Tetapi aku merangkulnya sambil berseru berulang-ulang menyebut namaku

sendiri. “Aku Rasus, Nek.”


“Eh, jadi kamu si Rasus?”


“Ya, Nek.”


“Kau sudah makan?”


“Sudah. Sudah.”


“Jadi kamu mau tidur di sini?”


“Ya, Nek. Malam ini Nenek kutemani. Sekarang berbaringlah kembali. Ayo kubantu.”


Selagi orang-orang Dukuh Paruk mengerumuni rumah Kartareja, aku duduk berdekatan

dengan Srintil di beranda rumah nenekku sendiri. Pernah kubaca dongeng tentang

seorang pahlawan yang pulang dari peperangan dan kembali disambut oleh seorang

puteri jelita. Aku mengumpat habis-habisan mengapa dongeng semacam itu sempat

singgah dalam ingatan. Ketika duduk berdua Srintil itu aku memang merasakan kepuasan

yang amat sangat. Bukan oleh kenyataan bahwa Srintil tak habis-habisnya memujiku atau

karena dia berserah diri sepenuhnya kepadaku. Bukan pula oleh pembunuhan atas dua

orang manusia yang telah kulakukan malam itu. Jiwaku terlalu lemah buat menghadapi

perbuatan semacam itu, meski mereka yang kubunuh adalah perampok-perampok. Dalam

hati aku bersumpah, perbuatan mencabut nyawa takkan pernah kulakukan lagi baik

terhadap orang jahat, apalagi terhadap orang-orang biasa.


Bukan. Kepuasan itu telah berkembang sejak beberapa hari yang lalu ketika kepala

mantri kutembak hancur di tengah hutan. Orang lain akan mengatakan perbuatanku itu

tidak lebih dari ulah seorang bocah ingusan yang tidak bermakna apa pun kecuali hanya

mengundang tawa. Ya, aku tidak berharap orang lain percaya bahwa aku telah

menghukum mati musuh yang telah bertahun-tahun mengusik, bahkan membuat teror

berkepanjangan dalam kehidupan batinku. Katakanlah, tak seorang pun mempunyai

kepentingan dalam urusan sepele itu, urusan yang tolol dan sinting.


Tetapi aku merasa dengan pasti beban batin yang selalu menindih di hati sebagian besar

telah hilang. Kemungkinan kebenaran ceritera bahwa Emak melarikan diri bersama

mantri sama sama sekali. Jadi Emak, yang sudah kuyakini tidak sedikit pun mirip Srintil,

memang mati termakan racuntempe bongkrek. Mayatnya kemudian dipakai dalam

penyelidikan medis untuk mengetahui segala tetek-bengek tentang racun bongkrek. Bila

aku telah meninggalkan nilai-nilai asli Dukuh Paruk, tentulah aku bisa mengatakan mayat

Emak telah diabdikan untuk kepentingan kemanusiaan. Aku rela sudah, Emak dikubur di

suatu tempat entah di mana. Tokh aku sudah tahu, duniaku sudah jauh lebih luas daripada

sekedar pemukiman sempit yang terpencil, Dukuh Paruk.


Pagi hari ketika semua orang Dukuh Paruk sibuk dengan empat mayat penjahat, aku

sengaja tidak keluar dari rumah Nenek. Srintil yang lekat sejak malam hari tak mau

berpisah, kecuali ketika dia pulang sebentar buat mengambil beras. Ronggeng itu cukup

arif karena dia tahu di rumah Nenek hampir sepanjang tahun tidak tersimpan beras meski

hanya segenggam. Srintil menanak nasi dan merebus air buat aku dan Nenek. Dia juga

membuat telur dadar, makanan paling mewah yang sangat jarang dibuat orang di

pedukuhan kecil itu. Pagi itu, bahkan selama beberapa hari kemudian, Srintil

menyediakan diri menjadi istriku. Bukan hanya aku yang dimanjakannya secara

berlebihan, melainkan juga Nenek. Perempuan pikun itu pasti merasa mendapat saat yang

paling menyenangkan sepanjang usianya.


Melalui Kopral Pujo yang hari itu pulang kembali ke markasnya di Dawuan aku

menitipkan pesan kepada Sersan Slamet. Aku minta ijin beristirahat barang empat-lima

hari. “Mencari seseorang yang bisa menjaga Nenek yang sudah sangat renta,” begitu

pesanku. Ternyata usahaku menemukan seseorang itu sangat mudah. Aku terkejut ketika

menyadari semua orang di tanah airku yang kecil itu siap memenuhi segala keinginanku.


“Soal nenekmu, jangan kaurisaukan benar. Kami akan menjaganya baik-baik. Kami

sungguh sadar dari dirinyalah lahir seorang cucu, seorang bocah bagus yang telah

berhasil membunuh dua orang penjahat,” kata Kartareja sambil mengacungkan ibu jari

kepadaku. “Dan aku sanggup memberinya makan, karena aku sudah mempunyai padi

sekarang,” tambahnya.


"Jangkrik!” sahutku dalam hati. “Kamu si Tua Bangka telah menjadi kaya dengan cara

memperdagangkan Srintil.”


“Jadi, apakah engkau akan segera kembali ke markas, cucuku wong bagus?” tanya

Sakarya.


“Ya, esok hari, Kek,” jawabku.


“Lho, jadi engkau tidak akan tinggal kembali di Dukuh Paruk ini?” tanya seorang

perempuan, entah siapa dia.


“Ah, itu tak mungkin. Rasus sudah menjadi tentara. Kau tak melihat bedil yang

tergantung di tiang kayu itu?” ujar perempuan lainnya.


“Aku harus segera bergabung kembali dengan Sersan Slamet. Dia beserta anak-anak

buahnya sangat membutuhkan tenagaku. Wilayah kecamatan Dawuan belum aman,

bukan?” kataku yang segera disambut dengan anggukan-anggukan kepala.


Malam terakhir di Dukuh Paruk aku hampir gagal memejamkan mata hingga pagi hari.

Sepanjang malam itu aku menghadapi ulah seorang perempuan yang sedang dituntut oleh

nalurinya. Seorang perempuan yang ingin kuanggap tanpa sebutan apa pun, baik sebutan

ronggeng atau sebutan perempuan Dukuh Paruk. Srintil hanya ingin disebut sebagai

seorang perempuan utuh. Dia sungguh-sungguh ingin melahirkan anakku dari rahimnya.

Dia ingin aku tetap tinggal bersamanya di Dukuh Paruk, atau ikut bersamaku, pergi

bergabung dengan kelompok Sersan Slamet.


“Bila kau ingin bertani, aku mampu membeli satu hektar sawah buat kaukerjakan. Bila

kau ingin berdagang, akan kusediakan uang secukupnya,” pinta Srintil di tengah malam

yang amat sepi.


“Srin, aku belum berfikir sedemikian jauh. Atau aku takkan pernah memikirkan hal

semacam itu. Lagipula aku masih teringat betul kata-katamu dulu bahwa kau senang

menjadi ronggeng,” jawabku.


“Eh, Rasus. Mengapa kau menyebut hal-hal yang sudah lalu? Aku mengajukan

permintaanku itu sekarang. Dengar Rasus, aku akan berhenti menjadi ronggeng karena

aku ingin menjadi istri seorang tentara; engkaulah orangnya.”


Masih segudang alasan dan janji yang diucapkan Srintil padaku. Sebagai laki-laki usia

dua puluh tahun aku hampir dibuatnya menyerah. Tetapi sebagai anak Dukuh Paruk yang

telah tahu banyak akan dunia luar, aku mempunyai seribu alasan untuk dipertimbangkan,

bahkan untuk menolak permintaan Srintil. Srintil boleh mendapatkan apa-apa dariku

selain bayi dan perkawinan. Aku tahu hal ini sudah cukup memadai bagi seorang


perempuan Dukuh Paruk. Permintaan Srintil yang berlebihan pasti hanya didorong

keinginan sesaat yang kebetulan sejalan dengan nalurinya sebagai perempuan.


Menjelang fajar tiba, kudengar burung sikatan mencecet di rumpun aur di belakang

rumah. Keletak-keletik bunyi tetes embun yang jatuh menimpa daun kering. Kudengar

dengung kumbang tahi yang terbang menuju arah asal bau tinja yang berserakan di

pedukuhanku yang kecil. Rengek bayi tetangga dan keributan kecil di kandang ayam.

Keretek tahi kambing yang tercurah ke atas geladak kandangnya. Dan kelepak sayap

kampret di antara daun jambu di samping rumah.


Perlahan-lahan aku bangun. Lirih sekali. Aku tidak menghendaki terdengar derit pelupuh

bambu yang dapat membangunkan Srintil. Dia masih lelap karena lelah. Malam itu Srintil

terlalu banyak mengeluarkan keringat. Seperti dulu, Srintil bertambah cantik dan teduh

bila sedang tidur. Dengan hati-hati kubenahi kainnya yang acak-acakan. Ketika Srintil

menggeliat, kuelus dia seperti aku sedang mengelus seorang anak kecil. Tidak lama aku

berdiri menatap ronggeng Dukuh Paruk itu. Aku tidak ingin sesuatu yang berbau

sentimental menahan keberangkatanku.


Di dalam bilik lain kulihat Nenek, tidur miring dan agak melingkar. Sinar pelita kecil

memungkinkan aku melihat gerak paru-parunya. Pelan sekali. Ah, nenekku. Mengapa

bukan sejak dulu aku mencari gambar wajah Emak pada kerentaanmu? Oh, tidak, tidak.

Aku sudah mendapat pelajaran. Berusaha mencari gambaran Emak yang selama ini

kulakukan hanya membuahkan hasil keresahan. Kekeliruan semacam itu takkan pernah

kuulangi. Maka kutatap garis-garis kerentaan pada wajah Nenek secara damai. Kemudian

ke bawah bantal kusisipkan semua uang yang ada di sakuku.


Aku berbalik. Tak kulupakan aku sudah menjadi tentara meski tanpa pangkat. Jadi watak

ragu harus kulenyapkan.


Selesai mengenakan pakaian seragam, kusambar bedil yang tergantung di atas balai-balai

di bilikku. Srintil masih lelap disana , tetapi aku hanya melihatnya sejenak. Langit di

timur mulai benderang ketika aku melangkah ke luar. Belum seorang pun di Dukuh Paruk

yang sudah kelihatan. Langkahku tegap dan pasti. Aku, Rasus, sudah menemukan diriku

sendiri. Dukuh Paruk dengan segala sebutan dan penghuninya akan kutinggalkan. Tanah

airku yang kecil itu tidak lagi kubenci meskipun dulu aku telah bersumpah tidak akan

memaafkannya karena dia pernah merenggut Srintil dari tanganku. Bahkan lebih dari itu.


Aku akan memberi kesempatan kepada pedukuhanku yang kecil itu kembali kepada

keasliannya. Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberi sesuatu

yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: ronggeng!


Sampai di tengah pesawahan aku menoleh ke belakang. Aku tersenyum sendiri, lalu

bergegas meneruskan perjalanan. Dengan memanggul bedil, rasanya aku gagah. Tetapi

sebenarnya perasaan itu muncul bukan karena ada sebuah bedil di pundak, melainkan

karena aku telah begitu yakin mampu hidup tanpa kehadiran bayangan Emak. Di

belakangku Dukuh Paruk diam membisu. Namun segalanya masih utuh disana ; keramat

Ki Secamenggala, kemelaratan, sumpah-serapah, irama calung dan seorang ronggeng.


TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Genosida: Tragedi Kemanusiaan yang Mengguncang Dunia

Bug Bounty IDN Bootcamp